The Legend of Sun Knight V1C2: “Dengan Anggun, Santai, dan yang Terpenting, Berkulit Indah”

Legenda Kesatria Surya Volume 1: Sebuah Perkenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh: 御我 (Yu Wo)


Peraturan Kedua Kesatria Surya: “Dengan Anggun, Santai, dan yang Terpenting, Berkulit Indah” – diterjemahkan oleh amusement

Karena kami telah berhasil menyelesaikan misi untuk meyakinkan raja agar berhenti menaikan pajak, aku dan Storm mendapatkan liburan selama beberapa hari.

Tapi mungkin saja sang Paus hanya tidak tahan melihat mata Storm yang saat ini bengkak sebesar telur ayam, mengaburkan pengelihatannya sampai ke titik dimana ia terus-terusan menabrak pilar saat berjalan… (Atau mungkin dia hanya tidak mau melihat ada pilar yang rusak – sekadar informasi, semua pilar di kuil adalah karya seni ukiran dan harganya sangat mahal) …yang membuatnya meliburkan kami.

Saat kami diperbolehkan pergi, Storm langsung berbalik dan pergi dari Benteng Cahaya, melesat ke area para kesatria – Kuil Suci.

Alasannya? Masih ada wanita yang melayani sebagai pendeta di Benteng Cahaya, tapi tidak ada wanita di antara para kesatria Kuil Suci.

Bagi seseorang yang matanya bengkak sebesar telur ayam, bahkan jika pendeta wanita di benteng cahaya semuanya secantik bidadari, bermain mata dengan mereka pasti bukan persoalan yang mudah.

Storm pergi seperti angin topan, tapi meskipun aku sendiri juga tidak sabar untuk memulai liburanku, aku tidak punya pilihan lain selain pergi dengan anggun, berjalan dengan kecepatan kura-kura.

Seperti yang diketahui semua orang, dari semua kesatria yang ada, Sun Knight adalah yang teranggun dan tidak peduli apa yang dilakukannya, dia tidak akan pernah kehilangan keanggunannya.

Aku masih ingat betapa aku mengagumi guruku dulu; tidak peduli apakah dia berdiri, naik, turun, berlari, atau kabur, dia selalu anggun.

Faktanya, suatu hari, aku sedang ingin memakai toilet, tapi lupa mengetuk pintu. Aku membukanya secara tiba-tiba, hanya untuk melihat guruku yang sedang berjongkok di dalam dengan benda hitam yang masih menggantung dalam posisi sulit…

Guruku menyunggingkan senyuman brilian khas Sin Knight, lalu menyelesaikan apa yang harus diselesaikan dengan elegan sebelum mengelap pantatnya dengan tisu. Dengan sangat elegan ia memakai celananya, lalu dengan anggun mengangkat kerahku, sebelum menghajarku – dengan anggun.

Guruku sering bilang, “Nak, kau harus tahu, bahkan ketika jatuh, Sun Knight tetap harus jatuh dengan anggun!”

Aku tidak tahu apakah dia sedang membalas dendam karena gara-gara aku dia terpaksa menggunakan toilet dengan sebegitu anggunnya, tapi untuk sebulan penuh aku sering sekali terjatuh sampai aku mampu – kapanpun, dimanapun, tidak peduli setiba-tiba dan semengejutkan apapun – jatuh dengan keanggunan yang tiada tara.

Di lain waktu, hanya dengan terjatuh, aku bahkan membuat seorang ratu dari kerajaan lain menyumbangkan sepuluh ribu dukat emas kepada Kuil Dewa Cahaya untuk “biaya pengobatan”-ku.

Tetapi, sejak saat itu aku tidak berani berdiri dekat-dekat bendahara kuil, karena kapanpun aku melakukannya, selalu ada sebuah tangan yang mengintai di belakangku, siap mendorongku dari atas tangga…

Tapi selain harus jatuh dan melakukan sebuah tugas yang agak menyusahkan untuk memastikan kalau pintu sudah terkunci setiap kali aku memakai toilet, berjalan dengan anggun memiliki keuntungannya sendiri.

Contohnya, sikap anggun dapat memberikanku alasan untuk bergerak lambat… dan gerakan lambat adalah sesuatu yang sangat berguna saat berjalan dalam Benteng Cahaya, karena itu  mengizinkanku merekam pendeta-pendeta wanita yang cantik dari sudut mataku.

Ya, kau tidak salah dengar. Bukan “melihat” atau “mengintip”, tetapi “merekam”!

Karena semua orang tahu, bahwa Sun Knight telah bersumpah untuk mendedikasikan seluruh hidupnya kepada Dewa Cahaya; dia adalah kesatria yang paling setia!

Karena itu, Sun Knight benar-benar tidak tertarik sama sekali pada wanita!

Bahkan jika ada seorang wanita berdiri disampingnya dengan wajah secantik bidadari, lekuk tubuh indah, dan sedang telanjang bulat, Kesatria Surya bahkan tidak akan menoleh sedikit pun untuk setidaknya meliriknya. Dia hanya akan tetap melihat lurus ke depan, benar-benar tidak terpengaruh oleh keberadaannya!

Kawan, jika kau adalah seorang lelaki, apakah kau pikir itu adalah hal yang mungkin untuk dilakukan?

Ya, tentu saja! Tidak menggerakan bola matamu dan menatap lurus ke depan – itulah jawaban yang paling benar.

“Nak, kau sudah empat belas tahun, sudah saatnya untk mengajarimu cara melihat wanita.”

“Tapi guru, bukannya kau sudah mendedikasikan diri kepada Dewa Cahaya dan tidak tertarik pada wanita?”

“Nak, aku mungkin sudah mendedikasikan diri kepadaNya sebagai kesatria untuk dipakai, tapi Dewa Cahaya tidak mendedikasikan diriNya untuk kupakai, jadi aku harus mencari wantia biasa jika aku ingin ‘pakai’.”

“…”

“Nak, dengar aku. Sebagai Sun Knight, bahkan jika orang disampingmu adalah wanita telanjang yang sangat cantik, kau tetap harus melihat lurus ke depan. Untuk mencapai level itu, kamu harus belajar memfokuskan pandangan ke depan, lalu dengan menggunakan pengelihatan perifermu, rekamlah informasi itu ke dalam otakmu. Kamu boleh mengeluarkan informasi tersebut saat kamu kembali ke kamarmu dan pandangilah sepuasnya!”

Whoa… Yang baru saja lewat dari kiri cantik juga, rekam!

Whoooa, yang di kanan itu anak baru? Sepertinya aku belum pernah melihatnya, rekam!

“Sun!”

Aku menghentikan langkahku dan berbalik dengan anggun untuk melihat ke arah orang yang barusan memanggilku. Namun, sebenarnya dalam hati aku hampir tergoda untuk mengumpat. Sial, untuk apa kau memanggilku? Aku belum selesai merekam anak baru itu!

“Saudara Ice, semoga kasih Dewa Cahaya menghangatkan ekspresi dinginmu.”

Dia adalah Ice Knight, salah satu dari kesatria-kesatria suci yang tidak berpihak padaku.

Kau bertanya kenapa aku bilang begitu?

Seperti yang diketahui semua orang, Dua belas Holy Knight terbagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah fraksi “lembut dan baik hati” yang dipimpin olehku, dan yang satunya lagi adalah fraksi “kejam dan berhati dingin” yang dipimpin oleh Judgment Knight. Sudah jelas kalau orang baik hati dan orang kejam tidak dapat berteman baik, dan mereka selalu bertikai begitu ada kesempatan.

“Sun, kau seharusnya mencontoh kekejaman Dewa Cahaya, bukannya mengalah kepada raja inkompeten itu.”

Tidak ada emosi apapun di wajah Ice, tapi itu bukan karena dia membenciku. Seperti yang diketahui semua orang, ekspresi Ice Knight selalu dingin; meskipun matahari di langit turun dan bersinar tepat di atas kepalanya, panas matahari tetap tidak dapat melelehkan ekspresi dinginnya itu.

“Kebajikan Dewa Cahaya telah menyadarkanku bahwa bahkan pendosa sekalipun dapat bertobat dan memulai hidup baru, dan aku tidak dapat menyerah setiap ada kesempatan untuk menyelamatkan jiwa mereka.”

Ekspresi sedih namun penuh kasih timbul di wajahku. Dalam hati, aku menguap – keras-keras. Ice Knight bukan orang yang bawel, jadi berdasarkan “pertemuan-pertemuan” kami di masa lalu, dia hanya perlu melontarkan beberapa kalimat lagi dan itu sudah cukup.

“Pendosa harus dihukum. Mereka tidak berhak untuk menebus dosa mereka!” Setelah selesai berbicara, Ice berbalik dan pergi, tidak memberikanku kesempatan untuk membalas.

Itu yang kusuka darinya!

Ice Knight bahkan lebih membenci argumentasi daripada diriku sendiri, tapi karena itu yang diharapkan semua orang dari kami, dia akan, dengan terpaksa, mengatakan beberapa kalimat untuk menjaga penampilan.

Dan lagi, seperti yang diketahui semua orang, kepribadian Ice Knight memang sedingin es, jadi bukan hanya tidak berekspresi, dia juga tidak suka berbicara. Jadi, tindakan seperti pergi tiba-tiba benar-benar sesuai dengan karakternya.

Tapi meskipun kami harus selalu bertengkar setiap kali kami bertemu, hubungan kami sebenarnya tidak buruk. Dia, yang ahli dalam bidang sihir es, selalu membuatkan semangkuk es serut untuk kunikmati setiap kali cuaca panas.

Tentu saja, untuk menjaga penampilan tentang “permusuhan” kami, dia akan selalu memulai pembukaannya dengan sebaris kalimat argumen terlebih dahulu. Lalu, saat aku sudah siap mental, dia akan melemparkan sebuah mangkuk untuk kutangkap, lalu bertengkar denganku beberapa kalimat sebelum melemparkan setoples selai blueberry buatannya kepadaku. Terakhir, dia akan “menyerang” dengan menembakan sihir tipe es kepadaku, mengirimkan setumpuk es serut ke arahku, yang mendarat di atas kepala, wajah, tubuh, dan mangkuk di tanganku…Ah! Sangat sejuk dan nyaman!

Setelah itu, aku akan mempunyai semangkuk es serut blueberry untuk dinikmati, dan gambaran tentang “permusuhan” kami tetap terjaga.

Karena itulah aku sangat menyukai pria ini. Sayangnya, aku berasal dari fraksi “lembut dan baik hati” sementara dia berasal dari fraksi “kejam dan berhati dingin”, dan seperti yang diketahui semua orang, kami tidak mungkin berteman, jadi kami hanya bisa menjadi “teman yang bukan teman”.

Bicara soal teman, kupikir sebaiknya aku pergi dan mengunjungi “teman baik”-ku, Earth Knight, sebelum pergi berlibur.

Seperti yang diketahui semua orang, Earth Knight sangat setia dan lugu. Dia bertubuh tinggi dan memiliki fisik yang menawan, tetapi sangat pemalu saat berbicara, bahkan kadang-kadang dia akan terbata-bata.

“M-maaf, aku tidak terbiasa bicara dengan wanita…” ujar Earth Knight, dengan malu-malu menundukan kepalanya saat pipinya memerah.

Aku membuka pintu kamar Earth tepat pada saat dia mengatakan kalimat itu untuk ketiga puluh satu atau ketiga puluh dua kalinya kepada gadis ketiga puluh satu atau ketiga puluh dua yang pernah terlihat bersamanya.

Pada saat itulah Earth memelototiku diam-diam untuk ketiga puluh satu atau ketiga puluh dua kalinya. Sorot matanya sangat mengancam, tapi masih ada senyum bodoh itu di wajahnya saat dia menyapaku, “Sun, k-kau sudah kembali.”

“Iya, berkat dan dukungan Dewa Cahaya, nasib baik berpihak kepada Sun, sehingga Sun tidak gagal dalam misi, dan telah menyalurkan keinginan Dewa Cahaya, yang telah disampaikan kepada Sun oleh sang Paus.”

“Oh, begitu. Hohoho, selamat ya! Apa kau memerlukan sesuatu?” tanya Earth Knight.

Meskipun dia tertawa seperti orang bodoh, ada ketidak sabaran dalam sorot matanya, yang tidak lolos dari perhatianku.

“Karena bimbingan mulia dari Dewa Cahaya, aku telah datang untuk menyapamu, Earth, sahabatku. Sang Paus telah merasakan bahwa tugas-tugas sudah tak lagi membuatku mengalami kebaikan sang Dewa Cahaya, oleh karena itu aku akan mengikuti ajaran Dewa Cahaya di bawah langit yang luas.”

Maksudnya, aku, sang Sun Knight, akan pergi berlibur!

Aku benar-benar melihat “F***! Jika kau mau liburan, cepat pergi sana!” dalam sorot mata Earth. Sementara itu. Wanita di sampingnya mematung di sana, memelototiku – aku berani bertaruh kalau dia tidak mengerti apa saja yang baru saja kukatakan. Perkataanku mustahil dimengerti kecuali bagi orang-orang yang sudah mengenalku selama lebih dari tiga tahun.

Itu juga alasan utama kenapa aku tidak punya pacar, karena setiap kali aku mencoba berbicara kepada cewek yang kusukai, dia akan berpikir kalau aku sedang menceramahinya, lalu buru-buru pergi sambil meninggalkan uang untuk persembahan sebelum kabur

“Itu bagus, kau bisa berlibur.”

Earth masih menghadapku dengan senyum bodoh itu, wajah itu dengan ekspresi naïf yang telah menipu hanya Tuhan yang tahu berapa banyak cewek.

Dibandingkan dengan Storm, yang setiap hari memberikan kedipan genit kepada setiap cewek sampai otot matanya kram tapi kemungkinan besar masih perjaka, Earth adalah penjahat mesum yang asli yang berhasil menghindari reputasi sebagai orang bejat. Karena seperti yang diketahui semua orang, Earth Knight sangat setia, jujur, dan tulus, bagaimana mungkin dia adalah orang yang cabul?

Itu tidak dapat dibayangkan! Sama tidak terbayangkannya dengan pemikiran tentang Sun Knight adalah pemabuk ulung!

Meskipun aku telah melihat tiga puluh satu atau tiga puluh dua cewek yang berbeda di kamarnya, orang ini masih saja menempati urutan pertama dalam polling tahunan untuk “Pria yang Paling Diinginkan Wanita Sebagai Suami” setiap tahun.

Meskipun aku lebih cakep dari Earth, punya jabatan lebih tinggi darinya, dan punya gaji lebih besar pula, namaku tidak pernah sekalipun muncul dalam polling “Pria yang Paling Diinginkan Wanita Sebagai Suami”, karena seperti yang diketahui semua wanita, sang Sun Knight hanya mencintai Dewanya, bukan wanita.

F***!

Karena inilah aku membencinya.

Secara kebetulan – atau kemungkinan besar karena aku selalu membuka pintu tepat saat dia berusaha merayu cewek ke kamarnya – Earth juga membenciku.

Tetapi, seperti yang diketahui semua orang, Sun Knight dan Earth Knight adalah teman baik… jadi kami berdua tidak punya pilihan lain selain menjadi “teman baik yang saling membenci!”

Aku memperlihatkan senyuman berkilau hasil latihanku selama sepuluh tahun. Dalam sekejap, wajah cewek itu memerah, dan meskipun dia mau menunduk dan pura-pura malu, dia tidak bisa mengalihkan matanya dari wajahku.

Meskipun aku tidak pernah berhasil masuk ke polling “Pria yang Palng Diinginkan Wanita Sebagai Suami”, aku tetap menguasai posisi pertama polling “Pria Tampan Sejagat Raya”. Bukan masalah bagiku untuk membuat wanita melupakan pria yang paling diinginkannya untuk dijadikan suami!

“Sun, bukannya kamu mau pergi berlibur?” Earth memelototiku dengan ganas, tapi nada bicaranya masih sangat tulus dan setia saat dia berbicara – kemampuannya untuk berakting dapat menyaingi kemampuanku tersenyum! “Cepat pikirkan apa yang ingin kau lakukan; liburanmu akan berakhir sebelum kau menyadarinya.”

Aku menghela napas. “Ini pasti Dewa Cahaya yang berbicara melaluimu, Earth, untuk mengingatkan Sun untuk cepat pergi ke dunia yang luas dan merasakan kehendak Dewa Cahaya. Sun akan menahan sakitnya perpisahan dan mengucapkan selamat tinggal kepadamu, Earth.”

Pergi sana!

Meskipun aku bisa melihat kalimat itu menyala di mata Earth, wajahnya benar-benar terlihat seperti seakan-akan dia benar-benar menantikan kepulanganku. Dengan nada bersungguh-sungguh, dia berkata, “Aku menantikan kedatanganmu kembali, teman.”

Hahaha! Sambil memasang senyum, aku mengangguk dan menutup pintu dengan semangat. Melihat cewek tadi yang sangat terpesona olehku sampai-sampai matanya berubah menjadi hati, usaha Earth untuk menipu gadis itu pasti gagal, hahaha!

Mencegah seseorang untuk bermesraan dengan wanita selalu membuatku senang. Bagus sekali, sepertinya liburanku berawal dengan baik.

Oh tidah! Tunggu; aku belum bisa mulai liburan.

Walaupun barusan kubilang kalau hubunganku dengan Ice Knight cukup baik, dari semua Dua belas Holy Knight, bukan dia yang paling dekat denganku. Sebelum aku mulai liburan, kurasa aku harus menemui sahabatku yang sebenarnya, kalau tidak, dia akan menuduhku “melupakkan teman saat melihat keindahan…”1 yaitu, karena melihat orang lain punya cewek cantik, seseorang buru-buru mencoba merebut kebahagiaan orang itu, dan melupakan temannya sendiri.

Menurut berita yang kudengar, sepertinya tingkat kriminalitas yang membutuhkan pengadilan sedang tinggi, jadi sepertinya aku bisa menemuinya kalau aku menunggu di toilet dalam kompleks Judge.

Seperti yang telah kuperkirakan, aku paru saja membawa dua buah kursi dan sebaskom air ke toilet dan duduk dengan anggun di atas kursi di samping toilet jongkok selama tidak lebih dari tiga menit saat seorang kesatria dengan rambut hitam, mata hitam, dan seragam kesatria hitam mendorong pintu dengan tergesa-gesa. Setelah masuk, dia langsung bergegas maju, berlutut, dan muntah-muntah dengan berisik.

Saat aku duduk dengan elegan di atas kursi dan menunggunya selesai muntah, sepertinya lebih baik aku memperkenalkannya kepada kalian. Orang triple-hitam ini (rambut hitam, mata hitam, baju hitam) adalah “sahabatku yang bukan temanku”, yang kebetulan adalah pemimpin fraksi “kejam dan berhati dingin”: Judgment Knight2.

Seperti yang diketahui semua orang, kesatria paling menakutkan dan paling kejam dari Dua belas Holy Knight, orang yang namanya bisa kau pakai untuk menakut-nakuti anak umur tiga tahun, membuat mereka menangis, atau bahkan tidak berani tidur waktu malam, tidak lain tidak bukan adalah Judgment Knight, yang bertugas mengadili para kriminal.

Karena aku adalah pemimpin fraksi ‘lembut dan baik hati’ dan dia bos dari fraksi ‘kejam dan berhati dingin’, kami berdua adalah musuh bebuyutan.

Aku selalu bilang,“Dewa Cahaya yang pemurah akan mengampuni dosamu.

Dia selalu bilang,”Dewa Cahaya yang kejam akan menghukum mu karena dosamu.”

Dari sini kau bisa melihat bahwa Dewa Cahaya pasti punya kepribadian ga– maksudku, ketuhanan ganda!

Tongkat yang bengkok akan memiliki bayangan yang bengkok, jadi kesatria di bawahNya semuanya agak aneh.

Saat pertama kali dia menginterogasi seorang kriminal, dia, yang seharusnya adalah Judgment Knight yang kejam dan menakutkan, lari ke toilet dan muntah tepat saat dia selesai menginterogasi.

Walaupun itu bukan hal yang aneh, karena dia baru tiga belas tahun saat dia pertama kali berlatih interogasi. Sangat normal bagi anak tiga belas tahun untuk tidak tahan melihat pencambukan dengan semua darah itu.

Aku masih ingat hari pertama dia latihan interogasi; guruku menyuruhku ikut untuk melakukan latihan berdebat pertamaku dengan calon Judgment Knight.

Saat aku melihat pemerkosa itu tergantung di salib, babak belur sampai tidak bisa dikenali, ada perasaan puas di hatiku.

Dasar Bajingan!

Tahu tidak kalau Sun Knight Cuma bisa mencintai Dewa Cahaya dan bukan wanita seumur hidup? Tahu tidak kalau gara-gara cara bicara Sun Knight aku mustahil punya cewek seumur hidup?

Kau, kau kriminal, benar-benar berani menggunakan cara kotor untuk dapat cewek! Ini membuatku sangat (iri)…sangat kesal! Sampah sepertimu pantas dicambuk bahkan setelah mati!

Tepat waktu aku sedang memikirkan hal seperti bagaimana mencambuk mayat dst, guruku menyenggolku diam-diam, mengingatkanku pada tujuan awal. Oh, iya; aku kesini untuk latihan berdebat dengan calon Judgment Knight.

Aku cepat-cepat memasang ekspresi penuh-kasih-namun-sedih ala Sun Knight, sambil berseru,”Ini terlalu kejam! Bagaimana bisa kau menggunakan metode seperti ini untuk memperlakukan anak Dewa Cahaya? Bahkan jika ia seorang kriminal, dia masih mungkin bertobat! Dewa Cahaya yang penuh kasih pasti tidak akan memaafkan kebrutalan ini!

Aku berhasil! Aku sudah memulai argumentasi; sekarang giliranmu.

Aku berbalik kepada guruku. Melihat senyum puasnya, aku tahu kalau aku telah memulai argumentasi dengan baik.

Judgment Knight kecil berambut hitam, bermata hitam, dan berpakaian hitam itu tidak mengatakan apa-apa dalam waktu yang lama, tetapi, dan aku bersumpah aku melihatnya menyalahkan diri sendiri dan melihat penyesalan di matanya, dan juga kilauan air mata saat aku mengkritiknya.

Lalu, dengan mata berair, dia meronta dari pegangan gurunya dan mendorongku ke samping saat dia berlari sambul menutup mulutnya dengan tangan.

“Nak, apakah kau tidak akan pergi dan mengikutinya, untuk mengajarkannya kasih Dewa Cahaya?” kata guruku sambil menepuk punggungku.

Apa? Aku masih harus berdebat dengannya? Kupikir itu tidak baik, dia bahkan sudah menangis…

“Jangan lupa bawa sapu tangan, air bersih, dan dua kursi jongkok.” Setelah memberikanku instruksi aneh itu, guruku berbalik dan mulai berdeat dengan musuh bebuyutannya, Judgment Knight, secara verbal melemparkan “kasih” dan “kekerasan” kepada satu sama lain.

Meskipun aku masih ragu-ragu, aku tidak berani melanggar perintah guruku, jadi aku cepat-cepat mencari sebaskom air. Aku sudah punya sapu tangan, jadi dengan mengapit dua buah kursi di tanganku, aku pergi untuk mencari calon musuh bebuyutanku.

Pada akhirnya, aku menemukannya di dalam toilet di samping kompleks Judgment. Dia tengah memuntahkan seluruh isi perutnya, dan tetap terus muntah meskipun tidak ada apapun yang bisa dimuntahkan lagi.

Aku berdiri mematung disana, menunggu. Saat kakiku mulai capek, aku ingat kursi yang kubawa tadi. Aku melangkah untuk mengoper sebuah kursi kepada musuh bebuyutanku, lalu menempatkan satunya lagi dibawah pantatku sendiri.

Aku masih menunggu untuk beberapa lama, sampai akhirnya, dia berhenti muntah.

Melihat penampilannya yang berantakan, aku secara otomatis menyerahkan sapu tangan dan baskom air kepadanya. Dia juga menerimanya dengan kaku dan mulai membersihkan diri.

Sapu tangan, kursi jongkok, dan air semuanya sudah terpakai… aku tiba-tiba menyadarinya. Mungkinkah guruku dulu juga duduk di toilet ini, menonton musuh bebuyutannya muntah-muntah?

Saat calon Judgment Knight akhirnya selesai muntah, dia mencuci bersih sapu tangan itu dan mengembalikannya kepadaku tanpa bicara. Dia tidak bilang terima kasih kepadaku karena dia tidak bisa mengatakannya; sang Sun Knight dan sang Judgment Knight adalah musuh abadi yang mewakili gambaran Dewa Cahaya yang sangat berbeda. Karena itu, kami benar-benar tidak mungkin berteman!

Kami berdua hanya duduk disana, mengawasi satu sama lain tanpa bicara. Aku tidak berniat menceramahinya lagi dengan kasih Dewa Cahaya, dan dia tidak berminat menggunakan kekejaman Dewa Cahaya untuk menghadapiku.

Sejak saat itu, kami berdua sering melakukan “perkelahian” kami tentang kasih dan kekejaman Dewa Cahaya dalam toilet ini. Aku sering membawakannya sebaskom air, kursi jongkok, dan sapu tangan ke toilet dan menunggunya disana. Sebagai gantinya, dia akan selalu menyiapkan teh dan kue kering sebelum memulai interogasi, lalu membawanya ke toilet waktu dia kabur kesana setiap selesai interogasi.

Kau pasti tahu kalau orang biasanya lapar habis muntah-muntah.

Tetapi, kue kering yang dibawanya itu selalu tipe yang sangat manis sampai-sampai orang mengira kalau itu gula murni – tipe yang dibencinya, tapi sangat kusukai.

Nah, sepertinya Judgment Knight akhirnya selesai muntah. Seperti yang sudah-sudah, aku menyerahkan sebaskom air dan sapu tangan kepadanya, lalu dia mulai berdih-bersih dengan hati-hati, bahkan saat dia berkata,“Kau sudah tidak repot-repot memusingkan tentang pengadilan para kriminal untuk waktu yang lama, Sun. Kukira kau akhirnya mengerti kalau hanya kekejaman Dewa Cahaya yang dapat menghentikan kriminalitas mereka.”

Aku mengerti maksud perkataannya. Teman baikku sedang komplain karena aku sudah lama tidak datang dan mengobrol dengannya.

“Kasih Dewa Cahaya tidak hanya ada dalam Kuil saja. Istana pun memerlukan cahaya kasih, dan dari pada semua orang, Yang Mulia Raja haus akan pengajaran Dewa Cahaya.”

Artinya aku diutus untuk “mengajar” si raja gendut.

“Yang Mulia Raja pasti memperlakukanmu dengan buruk. Hanya kekejaman Dewa Cahaya yang dapat menyadarkannya akan bahaya yang dihadapinya.”

Pasti sangat sulit, menghadapi raja gendut itu. Judgment memberikan tatapan bersimpati kepadaku.

“Lewat kerja keras Storm Knight, Yang Mulia Raja dapat merasakan dan mengerti kasih Dewa Cahaya.”

Kalau bukan karena Storm, raja gendut itu tidak akan menyerah dan menurunkan pajak.

“Storm Knight pasti sangat menyesal karena tidak mengajarkan kekejaman Dewa Cahaya kepada seluruh penjuru istana; apakah matanya tidak dapat melihat semua kejahatan dalam istana?”

Dia pergi ke dalam istana, yang penuh dengan wanita… Apakah matanya baik-baik saja?

“Dia menggunakan matanya untuk menyaksikan kejahatan dalam istana, dan meskipun itu sangat menyakitkannya, dia tetap mengampuni mereka dengan kasih Dewa Cahaya.”

Dia hampir buta.

“Semoga Dewa Cahaya mengampuninya karena melihat kejahatan tapi tidak member hukuman.”

Kasihan… Semoga matanya cepat sembuh.

“Sang Paus telah menyampaikan dukungan Dewa Cahaya kepada kami. Cahaya mentari yang hangat di luar akan menyinari matanya yang pemurah selama tiga hari, dan Sun telah sangat beruntung karena bisa meraskan kasih Dewa Cahaya bersamanya.”

Dia cuti selama tiga hari, begitu juga denganku.

“Semoga cahaya matahari siang yang terik membuat kalian menyadari kekejaman Dewa Cahaya yang berapi-api. Kemanapun kau pergi, kekejaman Dewa Cahaya akan menyertaimu.”

Selamat bersenang-senang! Kamu mau pergi kemana?

“Kasih Dewa Cahaya menyinari seluruh bumi, bahkan jika itu adalah kamar Sun Knight ini.”

Aku akan meringkuk di kamarku seperti kura-kura.

Judgment akhirnya menyerah dan membiarkan sebuah cengiran muncul di wajah dingin dan tegasnya itu. Dia menggelengkan kepalanya, masih tersenyum, lalu mengeluarkan sepotong kue kering dan menyerahkannya kepadaku. “Semoga suatu hari nanti kau akan menerima kekejaman Dewa Cahaya.”

“Dan semoga kau juga belajar menerima kebaikan Dewa Cahaya.”

Aku mengambil kue kering itu dan menggigitnya. Yum, rasa blueberry, sangat enak.

Seperti yang kukatakan kepada Judgment Knight saat kami membicarakan liburanku, aku berencana menetap di kamar dan tidur… Hey, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak percaya kalau aku benar-benar akan tinggal dalam ruangan dan tidur?

Apa? Pergi cari cewek?

Jangan bodoh; aku tidak berniat membantu mengumpulkan uang untuk kuil! Jadi, aku benar-benar tidak berminat mencari cewek yang kusukai cuma untuk membuat mereka mengira aku sedang menceramahi mereka dan melemparkan uang sumbangan kepadaku sbelum kabur!

Eh? Bukannya aku pemabuk ulung? Pergi minum-minum di bar?

Kau pasti sudah gila!

Kau sudah lupa siapa aku?

Aku sang Sun Knight, oke?! Bagaimana mungkin Sun Knight, yang pingsan setelah gelas ketiga, bisa pergi ke bar?

Kau pikir aku bukan Sun Knight hanya karena aku sedang cuti?

Guruku sering bilang,”Sekali menjadi Sun Knight, seseorang harus terus tersenyum sampai mati.”

Bahkan ketika aku sedang berlibur, aku tetap Sun Knight; yang berubah cuma statusku yang menjadi Sun Knight yang sedang berlibur.

Bahkan ketika aku sedang berlibur, senyum di wajahku harus tetap secerah matahari.

Bahkan ketika aku sedang berlibur, aku tetap harus menyebutkan kasih Dewa Cahaya sekali setiap tiga kalimat dalam percakapan.

Bahkan ketika aku sedang berlibur, saat aku melihat cewek cantik aku tetap harus menggunakan pengelihatan periferku untuk merekamnya.

Karena itu, aku lebih memilih meringkuk di kamar dan tidur. Disana, ekspresiku bisa sekecut yang kumau dan jika tidak ada hal lain yang bisa kulakukan, aku bebas berteriak,”Pergilah ke neraka, raja gendut!” setelah itu aku bisa menghabiskan tenaga untuk mengumpulkan rekaman cewek-cewek dalam otakku dan menggunakan mereka untuk bermacam-macam fantasi XX dan OO…

Setelah itu aku bisa, sambil berfantasi tentang cewek cantik, membuka pintu rahasia di bawah ranjangku lalu masuk ke gudang anggur untuk minum beberapa gelas anggur yang dibuat oleh Sun Knight generasi sebelumnya – atau generasi sebelumnya, atau sebelumnya lagi. Dan juga, untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada Sun Knight-Sun Knight sebeumnya, dan juga untuk menguntungkan Sun Knight berikutnya, aku harus pergi ke dapur dan mengambil beberapa buah apel.

Guruku sering bilang, “Nak, tidak masalah kalau kamu tidak bisa berpedang, karena hal terburuk yang bisa terjadi hanya mati muda.

“Tidak masalah kalau kamu susah mempelajari holy magic, karena kemungkinan terburuknya hanya kau tidak bisa menyembuhkan luka pasienmu, dan saat itu terjadi kau hanya perlu mendoakannya dan berharap kalau dia akan cepat pergi menemui Dewa Cahaya.

“Tapi kamu harus mempelajari seni membuat minuman dengan baik! Kalau tidak, bahkan waktu kamu sudah kembali kepada Dewa Cahaya, Sun Knight generasi-generasi berikutnya akan mengutukmu karena kekurangan anggur bagus untuk entah berapa generasi!”

Guruku paling ahli membuat wine anggur, jadi aku punya segudang penuh wine anggur untuk kuminum. Aku sendiri paling ahli membuat wine apel, jadi muridku akan mempunyai segudang penuh wine apel untuk diminum.

Tetapi, karena aku terlalu banyak mengambil apel, penjaga kantin selalu menyajikan apel untuk hidangan penutupku…

Jadi perasaanku kepada apel kurang lebih sama dengan perasaanku kepada Earth Knight; aku adalah Sun Knight penggemar apel yang membenci apel!

Karena aku tidak mau tersenyum!

Karena aku tidak mau bilang “kasih Dewa Cahaya!”

Karena aku tidak mau melihat apel!

Jadi kupikir aku hanya akan meringkuk seperti kura-kura di kamar, tidur, dan menjalani perawatan kulit saat aku melakukannya.

Apa? Kau bilang kenapa seorang cowok perlu perawatan kulit?

Kawan, kau benar-benar tidak mengerti… Seperti yang diketahui semua orang, Sun Knight adalah cowok cakep dengan rambut keemasan, mata biru, dan kulit yang sangat cantik sampai-sampai dia terlihat berkilauan!

Demi menjadi cowok tampan dengan kulit yang sangat cantik sampai ia terlihat berkilauan, setiap Sun Knight tanpa terkecuali telah menjadi ahli dalam membuat krim dan masker pemutih kulit. Tetapi, aku percaya kalau aku pasti adalah yang paling ahli di antara mereka semua.

Meskipun aku dipanggil Sun Knight, sebenarnya aku benci berada di bawah sinar matahari karena kulitku sangat mudah terbakar. Setiap kali aku menghabiskan waktu di bawah sinar matahari, aku harus memakai masker tubuh semalaman untuk mengembalikan warna kulitku.

Sementara itu, aku juga bereksperimen dengan berbagai masker tubuh untuk membuat kulitku yang gampang coklat ini tetap mulus bahkan waktu aku menghabiskan waktu seharian berkelahi di bawah matahari.

Sekarang ini, masker tubuh yang paling efektif dari hasil percobaanku menggunakan campuran susu asam dengan sepuluh tetes lemon, ekstrak dari tiga puluh kuntum mawar, ekstrak sepuluh tangkai lavender, dan sedikit tepung. Setelah ramuannya siap, aku akan mengoleskannya ke seluruh tubuh, memanaskan air, lalu menggunakan uapnya untuk menguapi tubuhku selama satu jam.

(Catat kalau aku, sang Sun Knight, sudah sering melakukan ini; jangan mencobanya kalau kau bukan seorang kesatria!)

Campuran ini menjamin kalau setelah berjemur seharian, kulit seseorang akan tetap seputih susu, dengan sedikit warna kuning telur.

Tetapi sejujurnya, aku curiga kalau Sun Knight generasi pertama adalah seorang albino!

Kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa berada di bawah sinar matahari seharian, berlatih, bertempur, mendengarkan ceramah raja, dll, dan entah bagaimana tetap bisa meninggalkan image sialan tentang cowok ganteng berkulit putih untuk diketahui semua orang?

Tidak peduli apakah Sun Knight pertama adalah albino atau bukan, aku tidak punya pilihan lain selain membuka baju dan menguapi tubuhku setiap minggu.

Tapi ada satu hal yang lebih jahat dari apel dan Earth Knight: setiap aku membuka baju, menggelontorkan masker di seluruh tubuhku, dan baru saja berniat menguapi diriku sendiri, biasanya seseorang akan muncul tiba-tiba, mengetuk pintu kamarku…

Tok-tok-tok!

Lihat? Sial, itu pasti sebuah kutukan!

Aku sudah hampir terbiasa.

“Bolehkah aku bertanya siapa yang sedang berada di balik pintu ini, yang telah, karena bisikan lembut Dewa Cahaya, telah diingatkan untuk datang dan mencari Sun, untuk membicarakan kasih Dewa Cahaya?”

Dia sebaiknya mencariku untuk urusan penting, kalau tidak aku akan mengerok semua masker dari tubuhku dan mencekokinya dengan itu!

“Ini aku, Leaf. Untung saja kau disini, Sun. Cepat datang; sebuah makhluk undead telah muncul di kota!”

Leaf Knight? Dari semua kesatria di fraksi “lembut dan baik hati”, dia adalah salah satu dari orang langka yang benar-benar kusukai.

Alasannya karena dia adalah orang yang benar-benar baik.

“Tolong tunggu sebentar, saudara Leaf. Dengan dorongan dari Dewa Cahaya. Sun telah merasakan bahwa ia harus menghadapi dunia dengan penampilan bersih.”

Semendesak apapun situasinya, kau tetap harus membiarkanku melepaskan masker tubuh dan memakai baju dulu!

Kalau tidak, waktu aku muncul, susah memastikan kalau semua orang tidak akan menyerangku lebih dulu dari pada undead itu… Sekarang ini, penampilanku sangat mirip mayat hidup yang masih membusuk!

“Tentu, tidak usah terburu-buru, Sun. Aku akan pergi dan membantu menyibukan undead itu. Jangan khawatir, aku akan membiarkanmu membunuhnya!”

Tentu saja, setelah dia selesai bicara, aku mendengar langkah kaki Leaf Knight yang terburu-buru saat dia pergi dengan tergesa-gesa.

Lihat, dia adalah orang yang sangat baik! Kalau dia adalah seorang wanita aku akan berkata dengan lembut kepadanya,”Kau benar-benar orang yang baik!”

Seperti yang diketahui semua orang, hal yang paling dibenci Sun Knight tidak lain tidak bukan adalah makhluk undead. Makhluk kegelapan seperti itu benar-benar bertentangan dengan prinsip Dewa Cahaya, dan karena elemen kegelapan mereka dan sang Sun Knight, yang berpihak kepada cahaya, sangat bertentangan satu sama lain, jadi Sun Knight selalu lepas kendali setiap kali melihat makhluk undead!

Tentu saja dia akan lepas kendali, karena satu-satunya yang tidak perlu diampuni oleh Sun Knight adalah makhluk undead!

Artinya, aku bisa menjadi brutal dan berteriak marah saat mencincang makhluk itu jadi setumpuk daging cincang. Semua kekesalanku karena harus tersenyum setiap hari, harus mengucapkan kasih Dewa Cahaya dalam setiap kalimat, tidak bisa melihat cewek cantik dengan terang-terangan, harus memakai masker tubuh tiap minggu, semua kulampiaskan kepada makhluk itu!

Guruku sering bilang,”Nak, kamu benar-benar harus sering mencari makhluk undead.”

“Apakah itu karena Sun Knight sudah bersumpah untuk menghancurkan semua makhluk undead?”

“Bukan, kamu harus sering mencari mereka untuk dijadikan sasaran pelampiasanmu.”

“Apa?”

“Pikirkan baik-baik. Kamu harus senyum setiap hari, mengampuni setiap sampah masyarakat, dan memuji Dewa Cahaya – yang mungkin tidak akan kau temui seumur hidupmu – dalam setiap kalimat. Jika kau tidak punya pelampiasan, kamu bisa depresi, lalu kamu mungkin tidak bisa lagi menjalankan tugas sebagai Sun Knight dengan baik. Kalau kamu gagal melaksanakan tugas dengan baik, kamu akan kehilangan pekerjaan, dan setelah kehilangan pekerjaan, kamu akan menjadi tambah depresi. Pada akhirnya, kau akan menjadi sangat depresi sampai-sampai kau mengalami reuni dengan Dewa Cahaya. Kamu pasti tidak menginginkan akhir tragis seperti itu kan?”

“… tidak.”

“Jadi nak, kamu harus mencari satu makhluk undead setidaknya sebulan sekali untuk melampiaskan frustrasimu, oke?”

“Bagaimana kalau tidak ketemu?”

“Jangan khawatir, nak. Nih, ini adalah kartu nama dari necromancer yang dikontrak secara khusus oleh kuil; tidak hanya kau bisa memilih tipe makhluk undead yang kamu mau, kamu bahkan bisa melaporkannya sebagai biaya pekerjaan dan meminta ganti rugi kepada Kuil.”

“…”

Supaya aku tidak depresi, supaya aku tidak kehilangan pekerjaan, dan supaya aku tidak kembali kepada Dewa Cahaya terlalu cepat, aku cepat-cepat mengerok masker pemutih dari tubuhku. Aku sedang terburu-buru untuk melampiaskan kekesalanku kepada makhluk undead itu.

Untung saja aku belum mulai menguapi tubuhku.

Aku bilang begitu karena masker tubuh yang masih basah dan menetes-netes setidaknya sepuluh kali lebih mudah dilepas dari pada yang sudah kering. Kalau tidak percaya, lain kali waktu kamu iseng, ambil setoples lem dan lumuri tubuhmu dengan itu. Biarkan sisi kiri tubuhmu tetap basah dan panggang yang sebelah kanan sampai kering, lalu bandingkan perbedaannya waktu kamu mencoba mengeroknya lepas.

(Aku harus tetap mengingatkanmu, kalau aku, sang Sun Knight, sudah sering melakukannya; kalau kamu bukan kesatria, aku tidak akan bertanggung jawab kalau kamu mencobanya.)

Aku masih ingat, waktu guruku pertama kali mengajariku dasar-dasar cara membuat masker pemutih tubuh, dia lupa memberiku sebuah instruksi yang sangat penting. Waktu dia akhirnya ingat dan cepat-cepat kembali untuk memberitahuku, masker tubuhnya sudah kering sempurna dan aku sedang sibuk mengeroknya…

“Nak, kau benar-benar tidak boleh menutupi ‘bagian terpenting’mu dengan masker, kalau tidak— “

AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!

Sejak saat itu, tidak ada sehelai bulu pun yang tumbuh di daerah terpentingku.

Guruku selalu merasa bersalah, jadi sejak insiden itu, dia menjadi lebih serius dari biasanya dan mengeluarkan tenaga ekstra saat mengajariku dan dia tidak berani lupa mengatakan instruksi sekecil apapun.

Kita sudah melenceng dari topik awal. Yang pasti, masker tubuh yang basah hanya perlu dibilas saja, dan aku sudah bersih. Tetapi setelah membilasnya, hilang sudah kerja kerasku selama dua jam membuat masker itu… Sayang sekali! Kuil tidak akan mengganti uang yang kuhabiskan untuk membeli mawar dan lavender!

Aku menonton dengan mata berair saat sebagian dari gajiku hanyut… Sial! Aku benar-benar akan melampiaskan semua kekesalanku kepasa makhluk undead sialan itu! Aku benar-benar kesal!

Aku mengenakan seragam kesatriaku dan mengambil sebuah pedang. Serang!

Aku menendang pintu kamar sampai terbuka. Setelah menerjang keluar, aku tidak yakin harus pergi kemana. Untungnya, Leaf bukan hanya baik, tapi dia baik dan sangat teliti. Tidak hanya membantuku menahan makhluk undead itu, dia juga meninggalkan seorang kesatria magang sebagai pemandu jalan!

Leaf! Aku berjanji kalau waktu aku selesai melampiaskan kekesalanku, aku akan mengirimkan rekomendasi kepada Kuil untuk mengeluarkan sebuah sertifikat untukmu karena telah menjadi orang yang sangat baik.

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 2]

Catatan Kaki

1“melupakkan teman saat melihat keindahan…”: Sebuah pepatah yang berarti menjadi sangat terpaku kepada kecantikan, biasanya dalam wujud seseorang yang adalah pacar atau bukan, sehingga seseorang tidak mengacuhkan temannya dan dalam kasus terburuk, berkhianat.
 
2Judgment Knight: Dalam bahasa mandarin, arti namanya adalah “审判” (shěn pàn), yang memiliki banyak arti, contohnya “mengadili”, “menginterogasi”, dan bahkan “mengadakan sidang”. Jadi arti “Judgment Knight” yang dimaksud disini kurang lebih adalah “Kesatria Keadilan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *