The Legend of Sun Knight V1C3: “Bahkan di Hadapan Kematian, Seseorang Harus Mati dengan Anggun”

Legenda Kesatria Surya volume 1: Sebuah Pengenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh : 御我 (Yu Wo)


Peraturan Ketiga Seorang Ksatria Matahari: ” Bahkan Dihadapan Kematian, Seseorang Harus Mati dengan Anggun” – diterjemahkan oleh saintazura

Aku berlari menuju jalan seperti komet yang melintasi langit. Pada saat ini, aku tidak lagi membutuhkan calon kesatria sebagai penunjuk jalan, karena aura kematian yang menjulang tinggi itu tidak mungkin untuk dilewatkan. Aku tidak pernah menemui aura kematian yang sekuat ini di kota sebelumnya…

(Jangan bilang kalau permintaanku untuk makhluk undead benar-benar dikabulkan? Tidak mungkin! Aku dengar dari guru karena Kuil membayar sangat kecil, necromancernya akan, paling-paling, memanggil zombie yang sudah kehilangan beberapa anggota tubuh untuk kumainkan)

Ada rumah dengan atap landai didepan… Aku menginjak dinding dan menggunakannya untuk mendorong diriku ke udara saat aku melompat ke atap. Menemukan tempat para holy knight berkumpul di bawah, aku melompat ke arah mereka, berteriak ditengah udara, “Makhluk undead yang melanggar hukum alam, makhluk jahat yang telah dinodai, dengan kekuasaan Dewa Cahaya aku, Sun Knight, dalam nama matahari yang bergantung di langit, akan menghilangkan keberadaanmu sepenuhnya dari muka bumi, untuk kemuliaan dari keindahan cahaya”

“Sun, akhirnya kamu disini!” dibawahku, Leaf knight memalingkan wajahnya untuk melihatku, ekspresi lega muncul di wajahnya.

Bersamanya Storm, Earth, dan Ice knight, mereka semua memimpin beberapa kesatria dari peleton masing-masing. Aku dengan cepat melihat bahwa total dua puluhan holy knight hadir; seingatku, sepertinya ini pertama kalinya kami bergerak dalam jumlah besar. Tapi lagi, aku mungkin bisa  menebak alasan untuk operasi besar seperti ini; bagaimanapun juga, death knight1 bukan makhluk yang sering kau lihat… Tunggu sebentar! Death Knight?

Kenapa makhluk kegelapan seperti dia – yang kemungkinan untuk memangilnya sangat rendah sampai necromancer lebih memilih untuk mengurus lawannya dengan tangan sendiri demi menghemat tenaga dan waktu- muncul disini?

Jangan bilang dia tersesat?

Sial!

Karena shocknya terlalu berat, otot di kaki kiriku tiba tiba kehilangan kekuatan. Ini mengakibatkan kaki kiriku membelok pada sudut yang salah dan menendang otot dibagian kanan bawah kaki, yang kemudian menyebabkan sudut kaki kananku menjadi salah dan menyebabkanku gagal untuk mengerakkan kakiku untuk mengambil satu langkah kedepan… Walaupun terdengar sangat sulit, mudahnya, situasi ini dapat diringkas sebagai-

Aku terpeleset.

Dan aku terpeleset di tengah udara.

Untungnya, guruku telah membawaku melalui “pelatihan yang wajar” dan “pelatihan yang tidak masuk akal”. Bukannya aku mau menyombongkan diri, tapi terima kasih pada dua tipe latihan spesial untuk terjatuh, aku bisa menjamin bahwa bahkan Dewa Cahaya tidak bisa jatuh dengan lebih anggun daripadaku… Walaupun kalau kupikir sekarang, tidak mungkin Dewa Cahaya pernah jatuh, jadi tidak mungkin kita dapat mengetesnya.

Aku menunduk kedepan secara refleks, tanganku bergerak kedepan dalam lengkungan anggun seperti seorang balerina untuk membentuk lingkaran dan aku melakukan salto ke depan dua kali, diikuti dengan putaran menyamping …. dan aku mendarat! Sebagai penutup, aku mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan dengan perlahan dan menurunkan mereka – seperti sayap kupu-kupu –  untuk beristirahat disisiku.  Aku mendapatkan napasku kembali secara bertahap dan kemudian kembali ke postur Sun Knight yang lurus dan anggun.

Plok plok plok! Tepuk tangan yang megah dari penonton, dan satu kesatria bahkan memukul perisainya dengan pedang, berteriak, “Sekali lagi! Sekali lagi! Jatuh sekali lagi!”

Sialan aja “Jatuh sekali lagi”! Kenapa death knight belum mengirim para idiot ini ke Dewa Cahaya untuk diajar ulang?

” Sepuluh poin!” Leaf, menjadi orang baik seperti biasa, segera memberi nilai penuh untukku.

“Hmph! Lima poin, pijakan kakinya tidak sukup stabil ketika mendarat.” Earth sialan! Dia pasti masih menyimpan dendam kepadaku karena menggangu “bisnisnya” tadi.

“Delapan poin; saat jatuh didepan ratu masih lebih anggun.” Storm… Baik, paling tidak kamu jujur.

Aku akui, dalam upaya tidak mempermalukan diriku sendiri didepan Ratu pada saat itu, aku menggunakan “ketahanan manusia super yang kudapat dari bertahan hidup selama sepuluh tahun dibawah bimbingan guruku tanpa mengembangkan kepribadian yang terpilin” (apakah kepribadianku terpilin atau tidak, aku tidak akan pernah mengakuinya, jadi anggap saja masih belum berubah) dalam usaha untuk jatuh dengan anggun…. dan jatuh dari tangga dengan tiga ratus dan dua puluh tiga anak tangga.

Sejak saat itu, tingkat kekesalanku kepada tangga kuil telah melampaui kekesalanku kepada Earth Knight.

Gila apa!! Apa mereka mencoba membunuh orang dengan membangun tangga sepanjang itu?!

Kalau bukan karena keberadaan beberapa ratus cleric di kaki tangga kuil melemparkan ribuan mantra padaku terus menerus dan menyembuhkanku, aku akan menjadi Sun Knight pertama yang mati karena jatuh.

Ingat apa yang kubilang sebelumnya tentang perkataan guruku “bahkan apabila Sun Knight akan jatuh, dia harus jatuh dengan cara yang sangat anggun”?

Pada saat aku cukup tua untuk dikirim dalam latihan misi oleh gereja, guruku- dengan sikap serius dan sepertinya bermaksud baik – memberi petunjuk lebih lanjut, berkat, “Muridku, akhirnya kamu akan membawa sebuah misi. Sebagai gurumu, aku sangat lega, tapi ada beberapa instruksi yang harus keberikan padamu sebelum aku akhirnya dapat benar-benar tenang.”

“Aku pasti akan berhati-hati, guru.” Aku merasa sangat tergerak; guruku sangat mengkhawatirkanku!

“Ya, muridku, kamu harus berhati-hati! Ingat, seorang Sun Knight harus selalu menjaga penampilan anggunnya, tidak peduli denga waktu dan tempat.”

Aku mengangguk dengan patuh. “Guru, aku akan menyelesaikan misiku dengan sangat anggun.”

(Saat itu, aku telah melalui gaya hidup yang melibatkan banyak jatuh untuk beberapa bulan. Rata-rata, aku harus mencari cleric setiap tiga hari sekali untuk menggunakan mantra penyembuh tingkat tinggi untuk menyembuhkan luka yang kuterima dari jatuh yang lumayan parah)

Guruku menggelengkan kepalanya dan berkata, ” Muridku, menyelesaikan misi dengan anggun bukan apa-apa melainkan dasarnya.”

“Lalu apa yang lebih jauh dari itu?”

“Muridku, kamu harus ingat, saat kamu gagal dalam misimu dan mendekati kematian, pada saat itu, kamu harus…”

“Berdoa kepada Dewa Cahaya?”

” Bukan, kamu harus merenungkan pose apa yang akan kamu gunakan pada saat mati, dan apabila pose itu harus disertai dengan ekspresi yang tenang atau heroik. Pertanyaan yang lebih penting  adalah apa kamu akan mati dengan satu tusukan ke jantung dari musuhmu atau kamu akan menggorok tenggorokanmu sendiri, dan seterusnya, dan seterusnya. Hanya saat semua keadaan penting meliputi kematianmu telah direncanaan dan diatur dengan sempurna kamu bisa mati dengan pose yang seangun mungkin!

” Bahkan dihadapan kematian, Sun Knight harus mati dengan sangat anggun!”

“…”

Dengan demikian, kalau aku mati dengan alasan yang tidak anggun seperti “jatuh”, sangatlah mungkin bahwa guruku akan marah ketitik mengunakan necromancy untuk menganggilku sebagai death knight dan kemudian menggunakan holly spell dari Dewa Cahaya untuk membiarkanku mati sekali lagi – dan dalam gaya yang anggun kali ini

“Sun, death knight kali ini lumayan kuat. Hati hati,” kata Leaf Knight. Dia kemudian mundur beberapa langkah, bersama dengan Storm Knight dan Earth Knight, mengosongkan area ditengah-tengah untukku dan death knight.

“Bukankah terlalu berbahaya untuk membiarkan makhluk undead itu kepada Kapten Sun Knight sendirian?” beberapa kesatria dibelakang bertanya dengan khawatir.

“Tenang, teman baikku pasti tidak akan kalah kepada makhluk undead,” Earth Knight berkata dengan nada “setia” dan “jujur”.

“Yeah, kapan pun Sun menemui makhluk undead – yang paling dia benci – dia akan menjadi beberapa kali lebih kuat. Lebih baik kalian jangan menggangu dan mencuri buruannya, atau dia akan marah, ” Leaf Knight – menjadi orang baik seperti seperti biasa – menjelaskan kepada para kesatria, dan bahkan memberi senyum kepadaku yang berkata, “Jangan khawatir, aku tidak akan biarkan siapa pun menggangu pertarunganmu.”

Tapi tunggu dulu! Itu karena makhluk undead yang kutangani dimasa lalu semua dibayar oleh Kuil dan dipanggil oleh necromancer dengan tujuan untuk membantuku melepaskan stess dan mencegahku mendapat depresi!

Saat itu, pedang di tangan death knight tiba tiba menyemburkan api hitam yang meliputi beberapa meter disekitar pedang. Death knight membuka mulutnya yang telah busuk setengahnya dan mengeluarkan auman yang tidak seperti manusia…

Sangat bagus! Mungkin aku bisa mulai merenungkan pose yang akan kugunakan ketika mati nanti dan ekspresi yang harus kugunakan untuk mengiringinya, sekalian memilih cara favoritku untuk mati, dan kemudian kembali ke sisi Dewa Cahaya…

Aku baru saja akan mulai merenungkan pose yang akan kugunakan ketika mati nanti ketika Death knight mengayunkan pedangnya – yang menyemburkan api ke segala arah – kepadaku… Jangan bercanda denganku! Bagaimana aku bisa mati sebelum benar benar merenungkan pose dan ekspresi yang akan kugunakan dan memastikan bahwa aku akan mati seanggun mungkin!

Guruku sering berkata, “Tidak apa kalau kamu tidak punya bakat, yang paling penting adalah untuk berlatih, berlatih, dan berlatih. Muridku, apabila kamu terus jatuh untuk sebulan lagi, kamu pasti akan menguasai seni untuk jatuh dengan anggun!”

Maka, kalau aku tidak mati dengan anggun, guruku pasti akan membangkitkanku lagi dan lagi, sampai aku mati dan mati untuk sebulan penuh  dan akhirnya menguasai seni mati dengan indah; hanya saat itulah dia akan membiarkanku mati…

Karena itu, aku tidak bisa mati sampai aku mendapatkan cara untuk mati dengan seanggun mungkin atau sebelum aku menyuruh teman baikku Judgement Knight untuk memotong badanku sepenuhnya setelah aku mati, sehingga tidak mungkin bagi guru untuk membangkitkanku!

“Yargh!” Raungku sambil menghunuskan pedang, dan bertemu dengan pedang death knight yang menyala dengan suara denting metal yang nyaring.

“Seperti yang diharapkan dari Sun Knight; benar-benar pukulan yang kuat dan bertenaga, ini benar-benar sesuatu yang harus perhitungkan oleh makhluk undead,” bisik para holy knight yang sedang menonton dengan kagum dari satu sisi.

“Sun! Kenapa kamu tidak membawa Divine Sun Sword denganmu?” seru Leaf Knight

Apa kamu gila?! Divine Sun Sword itu barang antik yang harganya lebih dari cukup untuk membeli satu kota! Walaupun sekarang pedangnya masih sangat tajam, siapa tau kapan itu akan rusak?

Tidak apa kalau pedangnya rusak, selama bukan ditanganku! Atau aku tidak akan pernah bisa membayar kompensasi pada Kuil, bahkan kalau aku memberikan seluruh simpanan pensiunku sebagai ganti!

Selain itu, kupikir aku cuma akan memotong zombie yang kehilangan tangan dan kaki, dengan tujuan untuk menghilangkan depresi. Apa ada orang diluar sana yang akan memotong ayam dengan parang besar, yang biasa untuk memotong sapi? Dalam hal yang sama, apa ada orang di dunia ini yang akan, untuk menghindari depresi, membawa barang antik yang dia selalu khawatirkan, takut kalau barang itu akan dicuri, atau lebih parah, tiba-tiba rusak dengan sendirinya?

Apa? Aku khawatir tentang hal yang tidak perlu?

Ok! Mari kita sampingkan masalah apakah pedangnya akan rusak atau tidak.

Sebuah pedang – tidak peduli kalau itu Divine Sun Sword, pedang suci XX, pedang setan OO, atau apapun, selama itu senjata- akan menjadi tumpul setelah dipakai untuk memotong beberapa saat. Pada saat itu, kamu harus membawanya ke pandai besi untuk diasah.

Harganya sekitar satu silver dukat2 per pedang biasa, dan itu sudah dikategorikan sangat mahal. Akan tetapi, pandai besi biasa tidak berani untuk menangani sesuatu seperti Divine Sun Sword yang seharga satu kota. Sebagai akibatnya, untuk menemukan pandai besi yang berani untuk menyentuh pedang ini, aku harus mencari pandai besi paling terkenal dikota ini, yang berarti harga untuk mengasah pedang ini paling tidak satu keping emas dukat!

Satu emas dukat itu cukup untuk membeli satu pedang baru!

Selain itu, pedang menjadi lebih tipis setelah diasah! Jadi bila aku menghabiskan satu keping emas dukat untuk mengasah Divine Sun Sword, pedangnya akan semakin tipis, yang meningkatkan kemungkinan untuk patah… Lebih baik aku menggunakan gigiku untuk menggigit musuh sampai mati!

Demi image Sun Knight yang anggun, aku menggunakan satu keping emas dukat dengan sedikit berat hati dan membeli pedang untuk menggantikan Divine Sun Sword. Lagi pula, menggigit monster sampai mati dengan anggun menggunakan gigi itu terlalu susah!

Walaupun kedengarannya aku telah menggerutu sendiri dikepalaku untuk beberapa saat, di dunia nyata, death knight dan aku telah bertukar lebih dari sepuluh pukulan. Denting metal dari pedang kami yang bertemu lagi dan lagi seakan tanpa henti . Setiap denting segar metal meninggalkan luka dihatiku seakan-akan hatiku akan hancur. Bentrok antar pedang adalah bisnis yang menakutkan; kecuali kualitas satu pedang jauh melebihi yang lain, pedang akan tergores sebagai gantinya. Dengan bertambahnya jumlah goresan sebuah pedang harus dibawa ke pandai besi untuk diperbaiki, dan perbaikan juga memerlukan biaya….

Aku benar-benar tergoda untuk menggunakan tubuhku untuk menahan pukulan, dan aku pasti sudah melakukannya kalau bukan karena pedang Death Knight yang berkobar dengan api hitam dan terlihat sangat berbahaya. Lagi pula Benteng Cahaya dijejali dengan cleric yang bisa menyembuhkan dengan gratis sampai ke langit-langit!

Tapi aku tidak bisa menolong untuk berpikir ada sesuatu yang aneh. Ini cuma aku, atau death knight lagendaris yang sangat-amat susah untuk dipanggil sama sekali tidak sekuat yang kubayangkan?

Atau mungkin aku akhir-akhir ini aku bertambah kuat tanpa menyadarinya… Tidak! Tidak! Aku benar-benar tidak boleh menipu diri sendiri.

Hanya beberapa hari yang lalu, aku dikalahkan dalam tiga langkah oleh Judgement Knight saat berlatih, jadi bahkan death knight dengan otaknya yang telah terurai tidak akan percaya kalau aku berkata aku telah menjadi lebih kuat!

Atau mungkin yang kulihat ini bukan death knight, tetapi hanya “dead knight3” yang telah, dengan kebetulan, dibangkitkan oleh necromancer dan berubah menjadi zombie?

Aku memperhatikan death knight  ini baik baik… whoa! Badannya telah membusuk sangat parah sampai dagingnya praktis dalam potong-potongan, dan keahliannya dengan pedang benar benar parah ke akarnya. Aku benar-benar harus mengatakan, untukku dapat setidak fokus ini, dengan pikiranku mengembara kemana-mana, dan masih bisa lebih unggul, level keahlian pedangnya hanya dapat digambarkan dengan kata “hancur”… ahem! Maksudku, bisa dibilang ” tidak terlalu bagus”.

(Jangan konyol; kalau aku bilang keahliannya dengan pedang hancur, maka itu berarti keahlianku juga hancur! Aku akui kemampuanku dengan pedang tidak terlalu bagus, tapi aku tidak akan pernah mengakui kalau itu hancur!)

Karena itu, makhluk undead yang tidak-terlalu-bagus dengan pedang ini mungkin bukan death knight, tapi kesatria mati.

Lupakan! Tidak peduli ini “death knight” atau “dead knight”, aku hanya tahu kalau aku tidak buru-buru dan membuat orang ini benar-benar dan tanpa bisa dibantah – mati dan tidak bisa mengayunkan pedang secepatnya, aku sudah pasti harus menghabiskan uang lagi untuk membeli senjata, yang akan menyebabkan sakit jantung, dan akhirnya, kematian yang tidak anggun.

Walaupun permainan pedangku tidak terlalu bagus, aku sangat mahir dengan holy magic yang merupakan spesialisasi holy knight! Aku bisa menjamin kalau satu mantra dariku bisa mengirim makhluk undead ke peristirahatan abadi. Untuk kenapa aku menghabiskan begitu banyak waktu dalam pertarungan yang berlarut-larut, itu sepenuhnya karena…

Guruku sering berkata, “Muridku, walaupun kamu menemui makhluk undead yang paling kuat sekalipun, kamu harus ingat untuk mengulur-ulur waktu pertarungannya sebelum kamu mengirim musuhmu ke peristirahatan abadi dengan holy magic-mu.”

“Lalu kenapa tidak digunakan dari awal? ” Diriku yang masih muda bertanya.

“Coba pikirkan sebentar, muridku. Saat orang biasa bertemu monster, akan mmemakan waktu sekitar sepuluh menit, pada saat itu orang-orang akan terbunuh, dengan menunjukkan betapa kuatnya monster itu. Setelah itu, mereka akan menghabiskan waktu sepuluh menit lagi untuk berteriak dengan panik, diikuti dengan berlali kesana-kemari, kabur untuk nyawa mereka, dan akhirnya, para kesatria akan datang untuk menyelamatkan mereka. Karena itu, kalau kamu hanya menghabiskan tiga detik untuk mengirim monster itu keperistirahatan abadi dan berbalik untuk pergi, apa kamu pikir itu akan adil untuk para penonton yang menunggu tiga puluh menit untuk menunggu kedatanganmu?

“… lalu, guru, berapa lama yang harus kuhabiskan untuk bertarung dengan monster, agar adil pada orang biasa?”

“Muridku,” Guruku memandang kejauhan dengan refleksi dalam dimatanya saat dia berkata, “Bertarung itu seperti puisi, dan kamu seperti penyair. Bukan hanya sebuah pertarungan memerlukan perkenalan, pengembangan, titik balik, dan kesimpulan, kamu juga harus menciptakan ketegangan di udara dari waktu ke waktu untuk menghibur penonton. Akan sangat bagus apabila kamu membiarkan musuhmu memukulmu sampai kamu terbaring di tanah dengan anggun. Kalau lawanmu orang jahat standar, dia akan, pada saat ini menunjuk, mengejek, mengancam, dan melemparkan hinaan padamu dalam upaya menunjukkan kekuatannya. Setelah itu, kamu akan terbakar dan membakar alam semesta dalam dirimu…”

“… alam semesta?”

“… err, menyalakan potensimu dan membakar holy magic-mu dan kemudian mengalahkan lawanmu dengan anggun sampai dia terbaring di lantai, dan mengirimnya ke peristirahatan abadi. Nah, itu akan menjadi pertarungan yang dieksekusi dengan sempurna.”

… Itu terdengar seperti pertarungan yang sangat melelahkan.

Sejak saat itu, aku memendam rasa benci yang tak tertandingi untuk misi yang memerlukan bertarung, karena upaya yang diperlukan sebanding dengan upaya yang diperlukan untuk jatuh dengan anggun dari tangga dengan tiga ratus anak tangga. Oleh karena itu, kecuali makhluk undead yang aku pesan secara khusus dari necromancer untuk mencegah depresi, aku melempar misi secara rutin ke pangkuan Judgement Knight. Lagi pula, pria itu biasanya hanya perlu satu pukulan untuk menyelesaikan musuh.

Ini juga alasan kenapa pertarungan Judgement Knight biasanya tidak punya banyak penonton – karena pertarungannya terlalu membosankan.

Tiba-tiba, semua orang yang hadir berteriak, “Sun, hati-hati!”

“Eh?”

Aku sangat terkejut dengan teriakan mereka sampai membeku; sedetik kemudian, rasa sakit terasa di punggungku. Sebelum aku dapat melihat orang sialan mana yang menyerangku dari belakang, Leaf sudah menghampiriku dan mengirim “kesatria mati” ke peristirahatan abadi dengan satu pukulan dari holy magic. Leaf kemudian memeriksa punggungku dengan gugup, dan aku bahkan mendengan desis napasnya saat dia tersentak.

Lukanya tidak separah itu, kuharap? Gugup, aku menoleh kebelakang untuk melihat, tapi aku tidak bisa melihat punggungku sendiri walaupun leherku terasa seperti akan putus dari semua putaran itu.

Tapi dari apa yang kulihat, Earth sedang menyiapkan keahlian utamanya- Shield of Earth4 – dibelakangku. Walaupun aku masih kesal dengan orang itu, aku harus mengakui bahwa tempat favoritku adalah dibelakang perisainya, terutama kalau musuhnya sangat kuat.

Ice Knight berdiri diseberang orang lain, Divine Ice Sword5 nya- yang benar-benar terlihat seperti es loli -di tangan dan tekukan diantara alisnya. Menilai dari fakta bahwa ada ekspresi di wajah Ice Knight, musuh ini pasti sangat kuat, cukup kuat untuk memunculkan kerutan diantara alis Ice.

“Sun, sakit?” Leaf bertanya dengan gelisah.

Aku menggelengkan kepala. Rasa sakit seperti ini bukan apa-apanya bagiku! Aku adalah Sun Knight yang telah berhasil selamat dari latihan spesial guruku yang melibatkan jatuh untuk beberapa bulan berturut-turut, Sun Knight yang bisa terus tersenyum cerah walaupun jatuh dari tangga dengan sekitar tiga ratus anak tangga!

“Benar-benar tidak sakit?” Leaf terdengar sangat khawatir.

Aku menahan dorongan untuk memutar mata. Dasar Leaf! Kenapa kamu harus memaksaku bicara?! Aku membalas, “Sinar matahari lembut yang Dewa Cahaya sinari kepada kita telah menghilangkan rasa sakit yang sedikit ini tanpa sisa.”

“Sun benar benar hebat,” gumam Leaf pada diri sendiri. “Untuk terluka separah ini dan masih berkata ini cuma ‘rasa sakit yang sedikit’…”

Tanpa menaruh perhatian pada Leaf, keingintahuanku mengikuti orang yang baru saja muncul. Penampilannya benar-benar aneh. Pada pandangan pertama dia terlihat seperti orang biasa, tapi tunggu, pengamatan yang lebih baik meyakinkanku bahwa orang ini pastinya bukan manusia!

Lagipula, tidak ada manusia yang “warnanya berubah pucat”, iya kan?

Rambutnya telah berubah menjadi seperti coklat; kulitnya, berubah menjadi semacam beige. Bahkan baju besi kesatria yang dia kenakan telah memudar menjadi semacam silver. Intinya, dia berwarna putih-keabu-abuan dari kepala sampai kaki, terlihat seperti orang yang tidak bergerak selama bertahun-tahun dan, sebagai hasilnya, mengumpulkan lapisan tebal debu di tubuhnya.

Dari kata-kataku, mungkin terdengar seakan orang ini mungkin saja pemalas yang belum mandi selama beberapa tahun dan sebagai akibatnya mengumpulkan terlalu banyak debu di tubuhnya. Tetapi aku benar-benar yakin kalau orang ini bukan manusia!

Alasannya adalah karena tidak ada bola mata di rongga matanya. Alih-alih, di tempat mereka berkobar dua api putih abu-abu!

Apaan itu! Standar produksi sekarang pasti sangat rendah kalau api saja bisa menjadi pudar.

Pedang ditangannya mungkin merupakan satu-satunya benda yang tidak pucat. Desainnya sangat minim sampai ke titik dimana pedang itu benar-benar polos. Cahaya berkilau dingin dari tepinya yang sangat tajam, memandakan bahwa pedang itu tidak bisa dianggap remeh.

Untungnya, Divine Ice Sword di tangan Ice Knight juga tidak bisa dianggap enteng. Walaupun terlihat seperti es loli dengan ujung tajam, ketajaman es loli tidak bisa dibandingkan dengan Divine Ice Sword.

Lagipula, Ice terkenal dengan keahliannya menggunakan pedang. Aku curiga keahliannya masih akan lebih tinggi dariku, bahkan kalau dia benar benar bertarung dengan es loli…

Ahem!

Pada dasarnya gaya bertarung Ice pasif; yang berarti, dia bisa diam berdiri sepanjang hari dengan pedang ditangannya. Ini akan berlanjut samapi musuhnya kehilangan kesabaran dan menerjang kearah Ice dengan senjata terangkat. Pada saat ini Ice akan, dengan satu tusukan tunggal fatal – menghabisi musuhnya.

Karena itu, pertarungan Ice merupakan tipe yang tidak seorang pun ingin saksikan, mengingat tidak ada yang menarik dari mereka.

Kali ini bukan pengecualian. Orang itu jelas jelas tidak punya kesabaran untuk diam berhadap-hadapan seharian.  Baru beberapa menit berlalu sejak dia mengacungkan senjatanya dan menerjang kearah Ice. Dia juga sangat cepat – kurang dari sedetik dia bergerak, tapi orang itu sudah hampir meraih Ice. Seakan-akan dia tidak bergerak, tapi hanya menghilang dari tempatnya berdiri, dan kemudian muncul di depan Ice!

Dengan kecepatan seperti itu, bukan suatu kejutan kalau dia bisa menyerangku didepan mata Earth Knight, yang, diantara Dua belas Holy Knight, berspesialisasi dalam mempertahankan tameng pelindung… Aku hampir mengira Earth sengaja membiarkanku dicincang sebagai balas dendam kejadian sebelumnya.

Untungnya, konsentrasi Ice benar benar tingkat tinggi. Walaupun orang itu benar benar cepat, Ice masih berhasil mengangkat es lolinya… maksudku, mengangkat Divine Ice Sword untuk menahan serangan tepat waktu.

Akan tetapi, jelas tidak mungkin bagi Ice untuk menyelesaikan musuh dengan cepat kali ini. Alih-alih, dia mulai bertukar pukulan dan menangkis serangan dengan musuh, dan kedua belah pihak benar-benar cepat. Aku mengamati dengan lebih hati hati dan melihat bahwa Ice dipaksa mundur perlahan.

Aku menonton dengan tidak sabar dan riang dari samping… ahem! Maksudku menonton pertarungan antara rekanku dan sang musuh dengan gugup, dan tiba tiba menyadari sesuatu. Kesatria kuat, pucat, menyebarkan aura kematian yang menjulang… death knight?

Whoaaa! Tampaknya kita akhirnya bertemu dengan bos utama.

“Sun, kamu mau memulihkan diri dulu?” Leaf bertanya dari belakangku dengan suara yang agak khawatir

“Sun baik-baik saja.” Aku sedang bersenang-senang menonton pertandingan! Melihat Ice bertukar serangan sebanyak ini dengan lawan merupakan pemandangan langka; kita bisa menunda penyembuhan sampai nanti.

Sesenang-senangnya menonton pertandingan, ini merupakan bukti bahwa Ice sedang kesusahan. Aku pikir aku benar benar harus menolongnya; bagaimanapun juga dia menolongku menangkis musuh. Kalau tidak, bila Ice dikalahkan, karena Earth spesialisasi di pertahanan dan Leaf merupakan penyerang jarak panjang, bukannya itu berarti aku harus bertarung?

Kalau itu terjadi, kemungkinannya delapan puluh persen lantai akan dilapisi darahku pada serangan pertama, dan kepalaku akan tergeletak di lantai pada serangan ketiga.

“Ice, biarkan aku membantumu!” teriakku. Aku tidak khawatir Ice akan kehilangan konsentrasi karena konsentrasi Ice merupakan yang terkuat diantara Dua belas Holy Knight dari awal.

Karena aku merupakan Sun Knight yang  sangat membenci makhluk undead, sebagian besar mantra yang kupelajari sejak masih kecil bertujuan untuk menangani makhluk undead. Sebagai contoh “Holy Blessing6“; dengan itu, aku bisa memberkati objek apapun, mencampurkan holy magic untuk beberapa saat, membuatnya semakin mematikan bagi makhluk undead.

Sebenarnya aku berencana menggunakan Holy Blessing ke es loli Ice, tapi setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa ada masalah besar, karena es loli itu bergerak terlalu cepat untuk dibidik!

Ah, lupakanlah, aku akan mengeluarkan energi lebih banyak dan memberi seluruh tubuh Ice kekuatan holy magic!

“Dewa Cahaya yang maha kuasa menghujani dunia dengan cahaya matahari yang menyilaukan, membersihkan bayangan dan kejahatan …” (sisanya telah hilangkan demi kepraktisan.)  Setelah mengucapkan serangkaian panjang pujian kepada Dewa Cahaya, tepat saat death knight memberi beberapa luka pada tubuh Ice, aku akhirnya mengucapkan kata yang paling penting.

“Holy Blessing!”

Daalm sekejab, tubuh Ice diselimuti cahaya emas, membuatnya terlihat seperti nyala lilin . Bukan hanya cahaya ini memberi kerusakan tambahan pada makhluk undead, itu juga memberi efek lain yang sangat berguna: membuat musuh kesusahan melihat dimana mereka harus menyerang, bahkan walau musuhnya bukan makhluk undead!

“Berkati aku juga, Sun.”

Bahkan sang pria baik, Leaf, akhirnya marah. Dia mungkin terprovokasi oleh adanya luka di badan Ice. Dia berdiri disampingku dengan ekspresi keras di wajahnya, dan ditangannya.. haha! Kamu pasti menduga Divine Leaf Sword7. Biar keberi tau, kamu salah!

Itu Divine Leaf Bow8!

Karena aku terlalu malas untuk mengucapkan semua kata pujian kepada Dewa Cahaya sekali lagi, aku hanya menaikkan tanganku dan menggemgam anak panah yang Leaf tarik. Ujungnya menusuk kulitku, dan aku melepaskannya, membiarkan mata panahnya terlapisi dengan darahku.

Sebagai representasi Dewa Cahaya, darahku telah diberkati dengan kekuatan suci, membuatnya beracun bagi makhluk undead.

Leaf terlihat tergerak saat dia berkata, “Sun, aku tidak akan menyia-nyiakan darah yang telah kau berikan.”

Sedangkan Ice, karena aku sudah menyelimutinya dalam holy light, sang death knight jelas-jelas khawatir dengan kekuatan suci yang menghalangi serangannya. Ice, yang semula kalah, sekarang bertarung seimbang dengan death knight.

Akan tetapi, masih ada satu orang lagi disisi kami-Leaf-yang menonton pertarungan dengan seksama, menunggu waktu untuk menyerang. Dia mengangkat panahnya dengan pandangan tajam dimatanya, seakan dia bisa melubangi badan musuh hanya dengan pandangan.

Aku lupa untuk memberi tau bahwa saat Leaf menarik panahnya, dia langsung berubah dari “orang yang benar-benar baik” menjadi “orang yang benar-benar menakutkan”. Dia bisa menembakkan lima panah dalam sepuluh detik, dan semuanya akan tepat sasaran.

Itu tidak semengesankan, katakanlah, kenyataan bahwa dia bisa berlari, melompat, menyanyikan lagu, memalingkan kepala untuk melihat wanita cantik, dan pada saat yang sama, mengubah musuh menjadi landak dengan panahnya.

Pada dasarnya, aku lebih memilih mengambil pedangku dan bertarung dengan death knight kapanpun daripada harus melawan Leaf saat dia dilengkapi busur dan panah. Dengan yang pertama, walaupun aku tidak bisa menang, aku masih bisa lari dari pertarungan. Dengan yang belakangan… bagaimana caranya lari dari panah?!

Disampingku, anak panah meninggalkan busur Leaf dengan bunyi “fwish”. Perhitungannya sempurna- death knight yang sedang mengelak dari serangan Ice,  membuatnya tidak bisa mengelak anak panah yang muncul entah dari mana dan hanya bisa menerima anah panah didadanya. Nah, anak panah biasa hanya bisa memberi luka kecil atau tidak sama sekali pada death knight, secara yang disebut sudah mati. Tapi, masalahnya jadi berbeda kalau anak panahnya membawa darahku.

Desis seperti ikan yang digoreng di wajan terdengar dari dada death knight, dan kemudian sebongkah besar dadanya menghilang, meninggalkan lubang besar. Tidak ada darah, melainkan cairan hitam-keabu-abuan lengket yang perlahan mengalir keluar.

Ice menggunakan kesempatan ini dan memotong lengan kiri death knight, yang mengeluarkan jeritan yang tidak manusiawi. Serangan Ice hampir memotong putus lengan sang death knight, dan sekarang menggantung dari tubuhnya.

Sang death knight mundur dalam kedipan mata. Gerakan secepat itu bukan sesuatu yang Ice bisa ikuti. Tapi, kami masih punya Leaf disisi kami.

Bahkan death knight sekalipun tidak bisa berlari lebih cepat dari panah.

Dengan “fwish fwish fwish”, Leaf menembakkan tiga anak panah dengan cepat, tapi kali ini sang death knight mengelak dengan lumayan cepat dan berhasil mengelak dari dua anak panah. Satu satunya anak panah yang kena tidak terkena darahku, jadi luka yang terkena sangat kecil, sampai sampai sang death knight tidak repot-repot menariknya keluar.

Aku tersenyum samar dan sekali lagi menggemgam anak panah sebelum Leaf menembak. Setelah dipikir-pikir, aku menyadari metode ini tidak efektif karena ada kemungkinan anak panahnya tidak mengenai target, jadi aku mengangkat tanganku yang berdarah diatas tempat anak panah Leaf, dan membiarkan darahku menetes ke semua anak panah sekaligus.

Leaf tidak mengecewakanku, dan muali menembak tanpa henti. Walaupun sang death knight mampu mengelak dari beberapa, sebagian anak panah berhasil mengenai target dan setiap anak panah membuat sang death knight melolong kesakitan.

“Sialan! Dia melarikan diri,” Leaf berseru, dan menembakkan anak panahnya lebih cepat. Dia sangat cepat sampai aku hanya dapat melihat bentuk kipas samar-samar, diikuti dengan bunyi busur yang dilepaskan saat dia menembakkan aliran panah tanpa putus. Leaf benar-benar hidup sesuai reputasinya sebagai spesialis panahan diantara Dua belas Holy Knight!

Lupakan melawan balik; pada saat ini, death knight yang putih keabu-abuan sibuk menghindari hujan anak panah, dan saat berlari jauh dan lebih jauh…

“Suatu hari aku akan datang dan menemukanmu, Sun Knight!”

Seperti semua tokoh antagonis yang kabur, sang death knight putih keabu-abuan mengeluarkan kalimat ancaman kepada tokoh utama sebelum dia menghilang sebagai titik di kejauhan… tunggu, yang diancam adalah sang Sun Knight… aku?

Tunggu, tunggu sebentar, kenapa kamu melihat kearahku? Yang bertarung denganmu bukan aku!

Seperti kata orang, ” dendam pasti punya asal, utang pasti ada menagih”; yang kulakukan cuma merapal sedikit holy light pada Ice dan sekalian melapisi sedikit darah beracun pada panah Leaf! Seharusnya, yang harus kamu perangi mereka berdua, bukan aku!

Aku benar benar ingin menangis… Kali ini, bukan hanya aku terluka; aku bahkan berhasil menjadi musuh death knight asli; apa yang kulakukan sampai seperti ini?!

Tepat saat itu, Ice menyarungkan pedangnya, dan Earth juga mengembalikan perisainya. Keduanya berbalik dengan wajah yang sangat suram, tapi untuk beberapa alasan keduanya membeku saat mereka melihatku.

“Sun, kamu.. butuh bantuan?” Earth bertanya, ekspresi diwajahnya seakan dia baru saja bertemu dengan hantu.

Aku menggelengkan kepala dengan tegas. Kenapa semua orang sepertinya berpikir kalau aku butuh bantuan?

Ice tidak mengatakan apa-apa, tapi pandangannya bergerak turun dari wajahku ke lantai, dan kembali ke atas, ekspresinya terlihat seakan-akan dia sedang bengong. Penasaran, aku mengukuti pandangannya dan melihat ke bawah lantai.

WHOA! Sejak kapan seluruh lantai dipenuhi darah? Lautan merah ini terlihat lumayan hebat…

Tunggu dulu! Kenapa celana kesatria putihku berubah merah?

“Sun, apa kamu benar-benar tidak apa-apa?” suara Leaf terdengar sangat mendesak sampai dia terlihat ingin menangis.

Darah dilantai… milikku?

“Leaf…” kataku, hanya untuk menemukan suaraku sangat lemah sampai hanya sekuat dengungan nyamuk.

“Huh?” Leaf mendekat dengan cepat, mungkin karena suaraku terlalu kecil untuk didengarnya.

“Bantu aku…”

“Sun!”

Dan kemudian…

…dalam gaya yang sangat anggun, aku…

…pingsan.

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 2]

Catatan Kaki

Untuk alasan estetika dan kepraktisan, ada beberapa istilah yang dibiarkan sama dengan versi Bahasa Inggrisnya. Daftar istilah/nama yang dibiarkan sama dan terjemahan literal:

1 Death Knight: kesatria kematian

2 Dukat: mata uang yang digunakan di Kerajaan Kejayaan yang Terlupakan.

3 Dead Knight: “kesatria mati”

4 Shield of earth: mantra tameng bumi

5 Divine Ice Sword: Pedang Es Suci

6 Holy blessing: mantra pemberkatan suci

7 Divine Leaf Sword: Pedang Daun Suci

8 Divine Leaf Bow: Panah Daun Suci

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *