The Legend of Sun Knight V1C9: “Jika Kau Ingin Mengetahui Sebuah Rahasia, Bertanyalah Kepada Seorang Perempuan”

Legenda Kesatria Surya Volume 1: Sebuah Perkenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh: 御我 (Yu Wo)


Peraturan Kesembilan Sun Knight: ”Jika Kau Ingin Mengetahui Sebuah Rahasia, Bertanyalah Kepada Seorang Perempuan” – diterjemahkan oleh Monica

Suara pintu kayu berderit terbuka berasal dari sebuah rumah kecil, kumuh yang tampak seolah akan hancur berantakan bila angin bertiup. Di bawah gagang pintu muncul wajah pink seorang gadis kecil, mulutnya mengisap permen lolipop stroberi yang berukuran lebih besar dari kepalanya.

”Pink, aku setuju untuk menjadi muridmu mulai sekarang, dan aku akan mempelajari necromancy,” kataku serius.

Pink tertegun sejenak, kemudian dia memanggilku dengan jarinya, memberi tanda bagiku untuk berjongkok.

Apa? Apakah mungkin untuk menjadi muridnya, seseorang masih harus melalui sebuah upacara? Aku berjongkok dengan curiga. Kemudian Pink memanggilku dengan jarinya lagi, menyuruhku mendekat. Aku menurut, mendekatkan wajahku.

Setelah itu, ia meletakkan telapak tangannya secara mendatar di dahiku, berseru, ”Oh tidak! Sun, dahimu terasa sangat panas! Terbakar seperti ini, tak heran kau berbicara omong kosong barusan.”

”Tanganmu sedingin es karena kau itu mayat…”

Pink menarik tangannya dan, setelah melihatnya beberapa saat, ia tersadar dan berkata, ”Itu benar, aku hampir lupa bahwa aku sudah mati. Tetapi…”

Dia melirik ke arahku dengan ragu. ”Apakah kau yakin bahwa kau tidak demam?”

Aku memutar bola mataku dan berkata dengan muram, ”Di bawah perlindungan God of Light, aku tidak pernah demam sejak aku berusia sepuluh tahun.”

”Oh!” Pink mengangguk. Dengan pemahaman penuh, ia berkata, ”Lalu ada sesuatu yang kau inginkan supaya aku dapat membantumu? Kali ini tekadmu jelas kuat, jika kau bahkan berniat menjual ’diri’-mu.”

Aku bergegas menjelaskan rincian kontrak. ”Aku hanya bilang bahwa aku ingin belajar necromancy darimu! Aku tetap ingin terus menjadi Sun Knight!”

”Seorang Sun Knight yang merangkap murid paruh waktu seorang necromancer?” Pink menggelengkan kepalanya, menghela napas. ”Kau adalah satu-satunya yang berani melakukan hal semacam ini. Kau tidak takut kalau God of Light-mu akan mengirimkan petir untuk menyambarmu?”

”Aku percaya kalau God of Light akan memahami rasa sakitku!” Kataku muram. Kemudian aku menambahkan penjelasanku, ”Di samping itu, tidak seorang pun pernah melihat-Nya selama beberapa ratus tahun ini, dan aku percaya bahwa Dia tidak akan turun ke Bumi hanya karena masalah kecil ini.”

Pink menjilat lolipopnya dan tidak mengungkapkan pendapatnya tentang hal ini, mengirimkan getaran yang membuat tulang belakangku menggigil. Pada saat itu juga, aku dengan serius mempertimbangkan seberapa besar kemungkinan dari God of Light menyambarku dengan petir…

Aku seharusnya tidak begitu tidak beruntung! Aku menggelengkan kepalaku dan bertanya kepada Pink, ”Jadi? Apa kau menerimanya atau tidak?”

”Katakan padaku, apa yang kau ingin aku lakukan?”

”Aku ingin kau untuk−”

Setelah memberitahu permintaanku pada Pink, aku berjalan kembali ke gereja. Tentu saja aku sudah melepas tudung kepala jubahku. Bila orang lain datang dan salah mengiraku sebagai Death Knight lagi, aku pasti akan menjadi sangat marah sehingga aku mengubah orang itu menjadi seorang ”dead knight.”

Selanjutnya, aku masih harus meminta sesuatu dari seseorang. Secara relatif, orang ini lebih mudah untuk diatasi dibandingkan dengan Pink, jadi aku tidak terlalu ambil pusing.

Aku tersenyum kepada salah seorang holy knight di koridor. ”Saudara holy knight-ku, God of Light berada tinggi di pusat alam semesta, senyum-Nya menghadap ke setiap orang. Hari yang penuh dengan cahaya cemerlang. Kuharap supaya kau juga dapat merasakan kehangatan dari God of Light.”

Holy knight yang kuhentikan tadi sangat senang, dan dengan nada penuh hormat dan kagum, ia membalas sapaanku. ”Aku juga berharap kau dapat merasakan kehangatan dari God of Light. Knight-Captain Sun, cuaca hari ini benar-benar sangat baik. Kuharap kita dapat dengan sukses menangkap Death Knight itu hari ini.”

Aku menganggukkan kepalaku. ”Saudaraku, aku bertanya-tanya bila kau tahu di mana saudara Knight-Captain Storm saat ini bermandikan kebaikan God of Light?”

Holy knight tadi mulai gugup, dan bertanya dengan ragu, ”Er… Bolehkah aku bertanya jika kau bertanya di mana Knight-Captain Storm berada?”

Aku mengangguk.

Holy knight tadi menjawab dengan lega, ”Knight-Captain Storm telah berada di kamarnya selama tiga hari terakhir, memeriksa dokumen.”

”Saudara holy knight-ku, Sun sangat berterima kasih atas kata-katamu yang dipenuhi dengan niat baik dan kebaikan hati. Kuharap supaya kau merasakan kehangatan dari God of Light disepanjang harimu,” aku berterima kasih dengan sopan, dan segera berbalik untuk pergi.

”Knight-Captain Sun, kau benar-benar terlalu sopan!” Holy knight tadi mengiringi kepergianku dengan tatapan memuji.

Aku berjalan tanpa berhenti ke pintu kamar Storm, dan mengetuknya.

Setelah beberapa saat, pintu terbuka dengan sangat perlahan. Wajah berwarna putih-keabuan yang sama seperti wajah Death Knight muncul. Bila aku tidak yakin bahwa Death Knight tidak dapat memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya, aku benar-benar akan percaya bahwa Storm telah menjadi Death Knight kedua di dalam kota Leaf Bud.

Aku hendak membuka mulut untuk berbicara, tapi dihentikan oleh lambaian tangan Storm. Dia berkata dengan lemas, ”Sun, tolong bicara dalam istilah sesederhana yang bisa kau temukan. Jika tidak, aku jamin aku akan tertidur dalam tiga detik.”

Aku merenung sejenak, dan hanya mengatakan dua kata: ”Bantu aku.”

”Bisakah aku menolak?” tanya Storm dengan bibir gemetar yang benar-benar pucat karena begadang terus-terusan.

Aku memikirkannya lagi, dan memperpendek pikiranku dalam satu kata. ”Perintah.”

”…Jelas cukup sederhana.”

Setelah aku menjelaskan masalah tersebut kepada Storm, aku pergi untuk melakukan tugas berikutnya, sangat yakin meskipun Storm tampak seolah ia akan terjatuh dan mati kapan saja.

Namun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena bahkan bila ia benar-benar jatuh pingsan dan mati, ia akan menjadi seorang Death knight, kemudian naik kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya. Orang ini sungguh-sungguh seorang pekerja keras, yang tidak sesuai sedikitpun dengan citra Storm Knight yang tanpa beban.

Saat aku hendak mencari tempat untuk diam-diam berubah menjadi ”Supreme Dragon”, suara langkah kaki yang seragam datang dari sisi berlawanan dari koridor, disertai beberapa bisikan. Semacam peleton disiplin seperti itu hanya bisa menjadi peleton Knight-Captain Judgment.

Benar saja, Knight-Captain Judgment berjalan tidak lama setelah itu, memimpin dua puluh atau lebih holy knight. Seperti biasa, ia berkata kepadaku, ”Semoga kau segera memahami kekejaman dari God of Light, Knight-Captain Sun.”

”Malam ini, Death Knight itu akan pergi ke istana untuk membalas dendam.” bisikku.

Mendengar hal ini, Knight-Captain Judgment menghentikan langkahnya. Ia mendadak berhenti, tetapi kedua puluh atau lebih holy knight di belakangnya juga berhenti dengan seragam, tanpa mengacaukan barisan atau ekspresi kaget.

Judgment melambaikan tangannya sekali, dan peletonnya segera berangkat, melewati kami tanpa membantah.

Setelah menunggu semua orang pergi, Judgment langsung bertanya kepadaku, ”Apa kau yakin?”

”Ya!” Aku mengangguk dengan cepat, untuk orang seperti Roland yang tidak pernah membiarkan sesuatu berlama-lama. Jika ia mengatakan bahwa ia akan melakukannya, dijamin bahwa ia akan benar-benar melakukannya dengan segera.

Judgment menatapku dengan sedikit ragu dan bertanya, ”Apakah kau bertekad untuk menangkapnya?”

”Aku adalah Sun Knight, Knight-Captain Judgment,” dengan tenang aku berkata kepadanya. ”Seorang Sun Knight sama sekali tidak akan membiarkan mereka yang sudah mati untuk mengganggu orang-orang yang hidup, bahkan jika yang hidup telah berdosa melampaui pengampunan.”

Judgment Knight dengan dingin menjawab, ”Malam ini, aku akan mengirim beberapa knight untuk mempersiapkan serangan terlebih dahulu di istana untuk melindungi orang itu dan menangkap Death Knight pada saat yang sama.”

Aku melemparkan pandangan cepat kepadanya. ”Betapa menakjubkan. Sudahkah kau menemukan siapa yang membunuh Roland?”

”Ya. Aku menangkap penjaga tempat eksekusi dan menanyakannya tentang kondisi mayat secara spesifik.” jelas Judgment singkat. ”Setelah aku tahu bahwa ia disiksa sampai mati, aku menyuruh Storm pergi dan menyelidiki para aristokrat yang memiliki hubungan dengan putra ketiga Baron Gerlan dan memiliki kebiasaan jahat menyiksa orang lain sampai mati. Hanya ada tiga tersangka: Yang Mulia raja, putra mahkota, dan Baron Gerland.”

Kasihan Storm. Tidak hanya ia dibombardir oleh pekerjaan dariku, tapi ia juga dibombardir oleh pekerjaan dari Judgment. Tidak heran ia terlihat lebih seperti orang mati daripada hidup.

”Lalu bagaimana kau memastikan siapa dia?” tanyaku, sedikit penasaran.

”Sebenarnya, berdasarkan dari apa yang terjadi baru-baru ini, aku sudah memiliki ide tentang siapakah orang itu. Namun, demi memastikannya, aku menyuruh Ice, yang telah melihat Death Knight itu, memilih seseorang dari para holy knight yang tampak paling mirip. Setelah menyamarkan wajah orang yang terpilih menjadi lebih pucat, kami membawanya untuk mengunjungi ketiga orang tersebut, dan bahkan membuatnya bertingkah mencurigakan.”

Judgment menggelengkan kepalanya, menghela napas. ”Meskipun cara menipu orang ini tidak terlalu tepat, ternyata sangat efektif. Sangat mudah untuk menentukan siapa pembunuhnya, karena pembunuh itu begitu takut hingga badannya gemetar.”

”Betapa hebat!” pujiku dengan kekaguman yang tulus, karena aku baru saja menemukan siapa pembunuhnya hanya setelah aku berbicara dengan Roland dari wajah ke wajah.

”Karena kau telah menetapkan pikiranmu, malam ini kita akan memiliki peleton Sun Knight dan peleton Judgment Knight menunggu di istana bersama-sama,” kata Judgment, hati-hati membuat keputusan. ”Lagipula, meskipun dosa orang itu tidak bisa dimaafkan, ia masih tidak bisa terluka sedikit pun, atau sebaliknya akan menyebabkan bencana.”

”AKu setuju, tapi aku ingin membawa Blaze dan Earth bersama-sama.”

Judgment tampak bingung saat ia bertanya, ”Aku dapat mengerti alasan untuk membawa Earth bersama, karena kemampuan pelindungnya dapat memastikan orang itu tidak terluka. Akan tetapi, keahlian Blaze adalah melawan roh, bukan makhluk undead.”

Aku menggelengkan kepalaku. ”Judgment, Aku takut ketika aku melihat wajah Roland sebelumnya dan ia sudah berada di ambang menjadi Death Lord. Jika ia menjadi Death Lord di tempat karena obsesi berkepanjangannya, dan memanggil makhluk kegelapan seperti roh-roh, akan ada banyak masalah bagi kita.”

”Benar; kau masih lebih terbiasa dengan makhluk undead dibandingkan aku. Melakukannya dengan cara ini lebih cermat.” Judgment menganggukkan kepalanya serta menambahkan, ”Aku juga sangat senang bahwa kau akhirnya menetapkan pikiranmu untuk melenyapkan seorang teman lama, yang pastinya tidak mudah.”

”Itu sulit,” jawabku dengan tenang. ”Sangat sulit, terutama karena itu adalah Roland.”

”Setelah masalah ini selesai, aku akan lebih dari senang untuk mendengarmu bercerita tentang perbuatan Roland ketika ia masih hidup.” Judgment mengangguk lagi dan kemudian mengucapkan selamat tinggal kepadaku. ”Semoga temanmu istirahat dalam damai.”

Dengan itu, ia pergi.

Setelah melihat keberangkatan Judgment, aku menoleh untuk melihat ke luar jendela. Bagus, sinar matahari di luar masih terang! Itu masih cukup dini bagiku untuk menyelesaikan tugasku dan kembali lagi untuk mengumpulkan peleton Sun Knight-ku.

Setelah menyelesaikan hal-hal dengan Storm dan Judgment, aku pergi dengan hanya satu hal lagi yang perlu kulakukan, yaitu menyelinap ke istana untuk menemukan tempat di mana Roland disiksa.

Semenjak Roland mengatakan bahwa orang itu adalah kriminal yang terbiasa menyiksa orang lain sampai mati, pasti ada tempat khusus yang digunakan untuk menyiksa mereka. Jika aku dapat menemukan tempat ini dan mendapatkan bukti, maka aku dapat mengungkapkan kejahatan orang itu,

Istana dijaga dengan ketat, namun demikian, aku sudah pernah ke sana berkali-kali.

Raja babi gendut itu terus mencampur adukkan masalah  dari waktu ke waktu, dan setiap kali aku harus dikirim ke sana untuk menceramahinya sampai ia muak dengannya, maka itu akan menjadi giliran untuk salah seorang dari Twelve Holy Knights menemaniku untuk mengancamnya. Seringkali, orang yang menemaniku di sana adalah Storm Knight, tapi ketika masalahnya cukup serius, itu akan menjadi Judgment Knight.

Selain menasihati babi gendut, aku juga sering datang ke sini untuk memfasilitasi komunikasi yang baik antara gereja dan istana. Ulang tahun ratu, pesta dansa putri baron yang beranjak dewasa, perburuan pangeran yang pertama, dan masih banyak lagi peristiwa acak yang semuanya masih berada dalam lingkup pekerjaanku.

Kesimpulannya, Sun Knight adalah papan iklan hidup, berjalan dari gereja God of Light.

Belum lagi bahwa ratu adalah ibu angkat guruku, dan pada saat itu guruku disebut oleh putra mahkota sebagai saudaranya. Oleh karena itu, guruku sering membawaku ke istana untuk bersantai, dengan dalih membantu memfasilitasi komunikasi yang baik antara gereja God of Light dan istana. Pada kenyataannya, ia minum teh sore bersama dengan ratu yang cantik, sang putri, dan sekelompok wanita….

Ahem! Oleh karena itu, setelah hidup di dunia ini selama dua puluh tiga tahun, tempat yang paling akrab denganku, kecuali gereja God of Light, adalah istana ini.

Dengan demikian, pertahanan istana bukan merupakan masalah bagiku, karena aku bisa secara terbuka dan sah berjalan dari gerbang utama. Penjaga istana di kedua sisi bahkan memberi salam kepadaku dengan penuh rasa hormat!

”Dragon Saint Brigandine, dalam nama keturunan para naga, aku perintahkan engkau, aktifkan!”

Setelah menemukan sudut gelap di dalam istana, dan mengenakan baju pengisap darah, berwarna perak dan hitam, aku berniat untuk menyelinap di sekitar istana dengan diam-diam dan menemukan ruang penyiksaan…

Tuanku, nama hambamu adalah Dragon Saint Brigandine, bukan Baju Pengisap Darah.

”Ugh! Kau menakutiku.” Aku menepuk dadaku, di atas jantungku. Jangan takut! Pikirku kepada diriku sendiri. Aku memarahinya, ”Kalau tidak ada yang tidak beres, jangan berbicara tiba-tiba. Aku hampir berpikir kalau aku telah ketahuan.”

Ya, tuanku.

Meskipun mengenakan baju hitam di siang hari bukan merupakan langkah yang bijaksana, setidaknya itu lebih baik daripada mengenakan pakaian Sun Knight dan ditemukan sedang melakukan perbuatan tidak terhormat oleh orang lain.

Selain itu, bahkan jika hari masih siang sekarang, koridor istana masih memiliki sejumlah besar dekorasi aneh, berukuran raksasa yang bisa kugunakan untuk menyembunyikan diri. Contohnya adalah vas yang tingginya melebihi orang (Dapatkah kau bahkan meletakkan bunga di dalamnya?), baju besi yang sangat berat yang knight tidak akan bisa berjalan di dalamnya bahkan jika mereka ingin (Untuk apa mereka membuatnya sejak awal?), dan koleksi patung-patung besar.

Misalkan aku masih tidak dapat menghindar dari penjaga, itu juga bukan masalah.

Guruku sering berkata, ”Anakku, jangan berpikir bahwa istana benar-benar benteng yang tidak bisa ditembus. Ketika pertama kali dibangun, itu mungkin terjadi. Namun, setiap raja ingin membuka jalan rahasia di dalam istana yang hanya ia yang mengetahuinya untuk melarikan diri. Dengan nyaman, ia juga ingin membuka ruang rahasia yang dapat ia gunakan untuk melakukan hal-hal pribadi…. Setelah sepuluh atau lebih generasi raja berikutnya, ada sepuluh atau lebih lorong-lorong rahasia dan sepuluh atau lebih ruang-ruang rahasia. Meskipun baik jalan-jalan rahasia dan ruang-ruang rahasia memiliki ”rahasia” dalam namanya, kau tidak seharusnya berpikir bahwa mereka benar-benar rahasia. Percayalah, bahkan raja saat ini tidak mengetahuinya sebanyak orang-orang yang ada di sampingnya, sang ratu dan sang putri.”

”Lalu guru, kenapa kau mengetahuinya?” Aku benar-benar kebingungan.

”Sang putri mengatakannya kepadaku, tentu saja.”

”Kenapa sang putri memberitahukannya kepadamu, guru?”

”Kalau ia tidak memberitahuku, lalu bagaimana aku bisa menyelinap ke istana dan memiliki hubungan rahasia dengannya? …Hush! Anak kecil tidak perlu tahu begitu banyak, hafalkan saja lokasi pintu masuk dari jalan-jalan rahasia dan ruang-ruang rahasia dengan jelas.”

”Ya, guru.”

Sekarang setelah aku memikirkannya kembali, guruku benar-benar bukanlah orang normal. Kenapa?

Karena pada saat itu, hanya ada dua putri di istana. Usia satunya hampir mendekati lima puluh, dan merupakan adik perempuan raja yang paling kecil yang belum menikah. Satunya lagi berusia lima belas tahun, dan adalah putri kandung raja. Pada saat itu, guruku berusia sekitar tiga puluh tahun. Aku benar-benar heran jika ia adalah seseorang yang cradle-robber[1] atau ia adalah orang yang di-cradle-robber… Ahem! Tapi aku melantur. Pokoknya, kukira letak ruang penyiksaan seharusnya merupakan ruangan rahasia yang tidak terlalu jauh dari kamar pelakunya.

Pertama aku berniat mencoba keberuntunganku dan melihat di ruang-ruang rahasia yang ada, bagi orang itu mungkin memanfaatkan ruangan rahasia yang telah ada, bukannya membuka satu ruangan baru lagi.

Lagipula, sesuai dengan jumlah lorong-lorong rahasia dan ruang-ruang rahasia yang guruku katakan padaku, fondasi di bawah istana ini sudah hampir sepenuhnya berongga. Mungkin bahkan arsitek istana tidak akan berani menggali lubang tanpa berpikir, untuk menghindari ketidaksengajaan yang meruntuhkan seluruh istana.

Aku diam-diam pergi melalui koridor, dan melesat ke pintu masuk dari jalan rahasia ketika keadaan sekitar aman. Lalu aku melesat keluar dan menuju jalan rahasia lain. Di perjalanan, aku bahkan nyaris menabrak pasangan yang sedang berpelukan dan berciuman. Untungnya mereka terlalu asyik berciuman, dan tidak menyadari bahwa ada orang lain di sekitar mereka, yaitu aku. Aku buru-buru berpaling menuju persimpangan lorong….

Tunggu sebentar! Aku mengerutkan kening saat berpikir. Pasangan barusan yang memiliki hubungan rahasia… salah satu dari mereka adalah Yang Mulia putri?

Putri ini adalah putri yang berusia lima belas tahun saat itu, dan mungkin atau tidak berselingkuh dengan guruku. Tahun ini dia sudah berusia lebih dari dua puluh lima tahun, namun masih berani menolak untuk menikahi pangeran dari negara lain. Jadi itu karena ia sudah memiliki seseorang yang ia cintai… Kemungkinan besar, status pihak lain tidak tinggi dan dengan demikian itu benar-benar mustahil bagi raja untuk mengijinkan sang putri untuk menikah dengannya, jadi mereka hanya dapat memiliki hubungan di jalan rahasia.

Sepertinya jalan-jalan rahasia dan ruang-ruang rahasia ini benar-benar, seperti yang guruku katakan, bukan rahasia besar sama sekali. Secara praktis mereka adalah tempat yang pas untuk berselingkuh.

Saat aku menjelajah lebih lanjut, aku meninjau posisi dari banyak ruang rahasia yang diberitahu guruku. Kamar tidur pelaku punya banyak ruang rahasia yang mengelilinginya, tapi hanya tiga ruang yang mempunyai jalan menuju kamar tidur. Dari ketiganya, dua di antaranya dapat diakses dari jalan rahasia di luar. Ruangan yang lain tertutup, dan hanya memiliki satu jalan ke kamar tidur.

Aku berencana untuk memeriksa dua ruangan rahasia yang dapat dimasuki dari jalan rahasia lebih dahulu.

Di dalam jalan rahasia, aku berkeliaran di sekitar setelah beberapa saat. Untungnya, ingatanku luar biasa, dan aku bahkan dapat menemukan jalan keluar dari jalan yang membingungkan ini. Tidak lama kemudian, aku melangkah ke ruangan yang kosong, terpencil. Seingatku, ini seharusnya satu-satunya tempat yang kuinginkan.

Kemudian lagi, melihat bahwa sarang laba-laba di sini lebih padat daripada bahan material jubahku, aku punya perasaan bahwa ini bukanlah tempat yang kucari.

Rencanaku berikutnya adalah masuk ke kamar tidur dari sini, kemudian masuk ke dalam dua kamar lainnya dari sana. Namun, melihat semua lapisan sarang laba-laba di depan mataku dan berpikir bahwa aku harus menggeliat melaluinya, aku benar-benar hanya ingin membakarnya hingga menjadi abu.

Akan tetapi, istana memiliki mage. Jika seorang mage merasakan sihir yang kukeluarkan, aku akan mendapat masalah. Dengan demikian, aku hanya bisa dengan enggan menggunakan tanganku untuk mengoyak sarang laba-laba itu. Aku melaluinya dengan susah payah dan rasa sakit, dengan seluruh tubuhku dipenuhi dengan sarang laba-laba, sebelum aku akhirnya berhasil sampai ke sisi lain ruangan itu. Aku berjongkok untuk memeriksa pintu tersembunyi….

”Pintunya tertutup rapat.”

Aku merasa ingin menangis ketika mengetahui hal ini. Sigh! Seharusnya aku tahu. Bagaimana bisa sebuah kerajaan yang bermatabat membiarkan jalan rahasia menuju ke kamarnya sendiri dan tidak peduli dengannya?

”Kuharap jalan rahasia yang lain tidak tertutup.”

Dengan membawa harapan ini, aku mundur dari sana. Sekali lagi, aku memutar dan dan berbalik arah ke sini dan ke sana, sebelum akhirnya tiba di jalan rahasia lain. Yang tidak kuharapkan adalah bahwa jalan ini jauh lebih kecil daripada yang sebelumnya dan tingginya sekitar setengah tinggi badanku. Aku hanya bisa berlutut dan merangkak melaluinya. Setelah aku merangkak sampai akhir, ruangan rahasia itu pada dasarnya adalah sebuah lubang kosong, dan baik ketinggiannya maupun lebarnya tidak mencapai dua meter. Jangankan membunuh seseorang, bahkan memasukkan dua orang ke dalam saja tidak bisa dilakukan!

Aku mengangkat kepalaku untuk memeriksa pintu tersembunyi. Pintu tersembunyi di sini berada di langit-langit dan untungnya tidak tertutup. Terowongan rahasia ini tersembunyi dengan baik, karena bahkan pemilik kamar tidur ini tidak mengetahuinya. Aku mendorong dengan pelan pintu tersembunyi itu ke atas, dan membukanya sedikit. Pintu ini sungguh berat! Sambil melihat ke kiri dan ke kanan, aku berpikir, Bagus! Bahkan tidak ada satu pun jejak manusia berada di kamar tidur itu.

Awalnya, aku ingin mengangkat seluruh pintu itu ke atas dengan pelan. Namun, aku segera menyadari bahwa pintu itu tidak akan bergerak sama sekali. Menggunakan seluruh kekuatan yang bisa kukerahkan, aku mengangkat pintu itu ke atas sampai sekitar sepuluh sentimeter dan, dengan susah payah, memindahkannya ke samping. Pada akhirnya, aku berhasil menggeser pintu itu ke samping. Aku juga hampir merendam pakaianku dengan keringat.

Fiuhhh! Aku menduga bahwa tanpa peningkatan kekuatan dari mengenakan Dragon Saint Brigandine, aku mungkin tidak akan bisa membuka pintu tersembunyi ini.

Ketika aku selesai terengah-engah mengambil napas dan naik ke kamar tidur, aku menemukan ada sebuah kabinet yang terbuat dari marmer di atas pintu tersembunyi itu! Kabinet itu lebih tinggi dari badanku sekitar dua belas sentimeter atau lebih. Tidak heran pintu itu sangat berat!

Namun, sekarang bukan waktunya untuk mengeluh. Karena aku tidak tahu kapan pemilik kamar ini kembali, aku lebih baik bergegas dan kembali menyelesaikan tugasku.

Tanpa menghabiskan banyak usaha, aku menemukan ruang rahasia yang tertutup rapat di belakang cermin setinggi badan yang tergantung di dinding. Kemudian, aku melangkah ke dalam tempat terakhir ini, berharap perjalananku ke sini tidak sia-sia….

Bau darah menyerang hidungku saat itu juga. Baunya pekat, kuat, dan membawa bau busuk.

Di depan mataku, sepotong kain tebal, berat menghalangi pandanganku, tapi itu tidak dapat menghalangi bau darah yang keluar. Aku tahu bahwa aku telah menemukan tempat yang tepat.

Aku berjalan ke depan, dan mengangkat kain itu….

Aku tertegun. Setelah menemukan bukti, meninggalkan tempat ini sesegera mungkin adalah tindakan yang paling aman. Akan tetapi, aku hanya bisa menatap tempat ini seperti orang bodoh. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mayat, juga tidak ada adegan berdarah-darah dan daging. Sebaliknya, tempat ini digosok sangat bersih, dan rantai dan segala macam instrumen penyiksaan di dinding bahkan diminyaki dan dipoles.

Tempat tidur kayu di tengah ruangan juga mengkilap.

Itu mungkin bekas noda darah yang tidak bisa dihilangkan tidak peduli seberapa keras orang berusaha menggosoknya. Noda darah yang melapisi setiap lapis demi lapis, dan pada akhirnya, darah padat di atas tempat tidur kayu menjadi begitu hitam sampai mengkilap.

Dinding dan lantai sekitarnya tampaknya tidak memiliki bekas pada pandangan pertama. Namun, teriakan orang-orang yang telah mati menembus ketebalan dinding, serta bau busuk dan darah yang sepertinya datang dari neraka itu sendiri.

Tempat ini tampak seolah-olah bersih pada pandangan pertama sebenarnya terisi dengan kehinaan, keinginan kotor tertinggi, dan tangisan tersiksa orang-orang yang telah mati meresapi udara.

Aku tidak bisa menahan jariku untuk menggores lapisan darah hitam yang berkilauan di tempat tidur kayu itu. Lapisan ini bahkan lebih keras daripada yang kuduga, karena jariku hanya ternoda dengan sedikit warna merah-kehitaman.

Dalam noda merah-kehitaman ini, darah Roland berada di sini juga, kan?

”Roland, jika kau mati di tempat seperti ini, maka aku mengerti mengapa kau menjadi seorang Death Knight, dan mengapa kau begitu bertekad untuk membunuhnya.”

Mataku sedikit lembap, tapi aku tidak ingin menahan air mataku. Baik Roland dan aku sama-sama anak yatim piatu, dan ia bahkan mati untuk semacam alasan kelam ini. Mungkin aku satu-satunya orang yang merasa sedih dengan kematiannya.

Hanya aku yang akan meneteskan air mata untuknya.

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 9]

Catatan Kaki

[1] orang yang menikah atau memiliki hubungan seksual dengan orang yang jauh lebih muda.

The Legend of Sun Knight V1C8: ”Jangan Bertindak Mencurigakan Saat Memakai Jubah”

Legenda Kesatria Surya volume 1: Sebuah Pengenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh : 御我 (Yu Wo)


Peraturan Kedelapan Sun Knight: ”Jangan Bertindak Mencurigakan Saat Memakai Jubah– diterjemahkan oleh Monica

Grisia, kalau kau tidak terpilih menjadi Sun Knight, maka menjadi seorang priest juga tidak terlalu buruk! Kemudian kau bisa membantu menyembuhkan cederaku untuk ke depannya.

Aku langsung terduduk dari tidurku. Baru saja aku bermimpi, yang membawa kembali kenangan yang telah lama terkubur. Aku bahkan melihat wajah serius yang telah lama tidak nampak dalam benakku.

Roland selalu menjadi orang yang super serius, menggunakan ekspresi serius bahkan ketika sedang menyemangati orang lain. Dia telah mengamati kemampuanku dengan sangat cermat dan menyarankan jalur kerja alternatif lain bagiku. Dan aku benar-benar telah terpengaruh oleh kata-katanya dalam hatiku, mempersiapkan diri untuk mengunjungi gereja dan menempatkan diri untuk menjalankan hidup sebagai seorang priest, bila aku tidak terpilih menjadi Sun Knight.

Bahkan bila aku tidak dapat menjadi seorang Sun Knight, menjadi seorang priest di sisinya tidak akan terlalu buruk. Jika Roland terpilih menjadi Sun Knight, maka semua akan menjadi lebih baik.

Roland dan aku bertemu satu sama lain di Holy Temple saat pengujian untuk menyeleksi Sun Knight berikutnya. Ketika hanya ada sepuluh kandidat yang tersisa, semua kandidat membenci seorang akan yang lain seperti musuh bebuyutan, tetapi aku tetap berhubungan baik dengan Roland.

Roland sangat kuat dan merupakan kandidat yang paling menjanjikan, dan aku juga menyadari bahwa keahlian bermain pedangku adalah yang terburuk dari antara kami semua. Aku mungkin hanya bisa berharap keajaiban terjadi untuk membuat diriku terpilih menjadi seorang Sun Knight!

Dalam lingkungan yang kompetitif dan penuh dengan kebencian di mana-mana, hanya kandidat yang paling mungkin terpilih dan yang paling tidak mungkin terpilih bisa berharap menjadi teman baik.

Meskipun ikatan persahabatan kami putus pada hari terakhir saat Sun Knight yang nantinya menjadi guruku mengumumkan bahwa ia memilihku untuk menjadi penerusnya….

”Kenapa aku yang terpilih?” Aku berjalan ke depan cukup bingung untuk bertemu Sun Knight saat itu, karena kemungkinan bahwa aku akan terpilih tidak pernah terlintas di pikiranku.

”Yah, mungkin itu karena rambut pirangmu yang indah,” tawa guruku sedikit bercanda. Mendengar jawabannya, hatiku membeku, dihentikan oleh perasaan bahwa aku entah bagaimana menang melalui cara yang tidak jujur. Meski begitu, aku tidak bisa membuat diriku mengatakan bahwa aku akan melepaskan posisiku dan aku menginginkan Roland untuk menggantikannya.

Aku sendiri juga ingin menjadi Sun Knight, dan sangat sangat ingin sekali!

Ketika aku akhirnya memalingkan kepala untuk melihat sekitar, Roland sudah berbalik untuk pergi sebelum aku bahkan sempat melihat ekspresi wajahnya. Dia berjalan menjauh dengan sangat cepat, pergi tanpa segan dan tidak menunjukkan niat untuk kembali dan mengucapkan selamat kepadaku. Memang, mengingat situasi saat itu, aku sudah sangat beruntung bahwa ia tidak datang ke sini dan mencincangku menjadi potongan-potongan kecil. Para kandidat lain semuanya tampak seperti mereka ingin mencoba untuk mengubahku menjadi keju Swiss dengan tatapan tajam mereka.

”Apakah kau membenciku, Roland?” Aku mengubur wajahku di antara kedua tanganku, bergumam. ”Apakah kau datang kembali untuk menghantuiku karena kebencianmu? Tapi bagaimana kau bisa mati? Maksudku, kau adalah Roland, Roland yang sama yang dapat mengalahkan orang dewasa dalam pertarungan saat berusia sepuluh tahun.”

Kemudian aku teringat akan putra ketiga Baron Gerland, dan kemungkinan bahwa putra mahkota berada di balik semua itu, dan akhirnya mendapat inti dari apa yang terjadi. Tidak peduli betapa kuatnya seseorang, tidak ada cara Roland dapat sendirian melawan penguasa dari suatu negara. Bahkan Sun Knight tidak dapat begitu saja menggulingkan penguasa negara kecuali negara itu menentang seluruh kuil God of Light dan memulai perang antara negara dan seluruh kuil.

Tapi bukankah aku hanya menyatakan tujuanku untuk membalas Roland…? Hmm! Aku lebih baik menyelidiki hal-hal lebih mendalam sebelum memulai pembicaraan tentang pembalasan dendam, aku berpikir dengan sedikit meniru kebiasaan burung unta yang mengubur kepalanya dalam pasir.

Sedangkan untuk menyelidiki keluarga kerajaan, berkonsultasi dengan Knight-Captain Storm adalah suatu keharusan, karena ia menghabiskan sepanjang hari dengan melemparkan lirikan genit kepada wanita aristokrat dan membuat puisi romantis dengan putra-putra bangsawan. Dia pasti tahu banyak rahasia mereka.

Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata dan pikiran! Aku menghabiskan menit berikutnya untuk menyisir rambut, mencuci wajah dan merapikan penampilan sebelum bergegas keluar dari pintu kamarku dan menelusuri seluruh Holy Temple untuk mencari Storm Knight. Akhirnya, di tengah salah satu koridor, aku berpapasan dengan Storm Knight yang sedang membawa setumpuk besar dokumen.

Aku bertanya tanpa ragu, ”Saudara Storm, dapatkah kau membantu Sun?”

”Bolehkah aku menolak?” Storm Knight bertanya dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Melihat ketinggian tumpukan kertas di tangannya, aku menyimpulkan bahwa kemungkinan besar, demi menegakkan reputasinya sebagai Storm Knight yang tanpa beban, ia tidak memiliki pilihan selain untuk bolos dari pertemuan. Melihat contoh sebelumnya, tumpukan pekerjaan yang menumpuk sejak masa liburku pasti semuanya telah dibebankan ke pundaknya.

”Ini adalah perintah dari pemimpin Twelve Holy Knights.”

”…Lanjut dan katakan saja.”

”Tolong bantu Sun menyelidiki siapa di antara bangsawan yang memiliki kegemaran untuk menyiksa orang lain − semoga God of Light memaafkan domba-domba ini yang tersesat dari jalannya.”

”Kalau hanya itu, aku dapat memberitahukannya padamu tanpa butuh penyelidikan. Sekitar 80% dari bangsawan memiliki hobi semacam ini,” Storm Knight berkata sambil memberiku sejumlah tatapan meremehkan.

”Sebanyak itu?” Aku agak kaget. Mungkinkah menyiksa orang lain adalah keterampilan mendasar bagi bangsawan?

”Tentu saja, mereka adalah bangsawan bagaimanapun juga.”

”Lalu… Apakah ada yang telah kehilangan jalan mereka bahkan lebih, yang tidak hanya telah menyambut jalan penyiksaan, tetapi lebih menikmatinya dalam jenis kegiatan yang God of Light tidak akan tolerir, seperti menyiksa orang lain sampai mati?”

Begitu mendengar pertanyaan ini, Storm memberiku tatapan aneh, tapi ia masih menjawab dengan sungguh-sungguh, ”Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengakui bahwa mereka memiliki hobi menyiksa orang lain sampai mati. Tapi Sun, kalau kau benar-benar ingin tahu, sebenarnya ada sejumlah rumor yang belum dikonfirmasi…”

”Kalau begitu katakan!” Aku menyemangatinya. Aku pikir awalnya akan hanya ada beberapa orang saja. Sebaliknya, Storm menyebutkan sepuluh atau lebih nama, dan meskipun aku menganggap diriku memiliki memori yang cukup baik, aku hanya bisa menghafal segelintir kecil dari nama-nama tersebut.

”…Baron Gerland dan raja juga tampaknya memiliki rumor tersebut tentang mereka.”

Aku ragu-ragu sedikit, tapi tetap bertanya. ”Bagaimana dengan putra mahkota?”

”Tidak, aku benar-benar belum mendengar apapun tentang putra mahkota memiliki hobi semacam ini. Di antara kaum bangsawan, putra mahkota bahkan dianggap cukup jujur dan bersih.” Storm mengangkat bahu dan menambahkan, ”Tentu saja, itu bisa juga bahwa dia telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam menjaga rahasia. Meskipun di permukaan sepertinya putra mahkota adalah seseorang yang dapat dengan mudah dimanfaatkan, ia sebenarnya dapat memiliki jenis karakter serigala berbulu domba. Bagaimana lagi itu akan mungkin baginya untuk menjaga raja di bawah kendalinya?”

Aku menekankan interogasiku, ”Dalam kasus ini, kau tidak akan terkejut jika putra mahkota benar-benar menyiksa seseorang sampai mati?” Storm memberiku pandangan yang lebih aneh, tetapi tetap mengangguk sebagai respon.

Aku mengangguk sedikit dengan cemas. ”Itu saja yang perlu kuketahui. Semoga God of Light memberkatimu dengan kehadirannya, saudara Storm.”

Storm mengangguk ketika ia pergi, aku mendengar ia bergumam sendiri, ”Betapa tidak biasanya Sun berbicara begitu jelas hari ini sehingga ia bisa langsung dipahami segera setelah kata-kata keluar dari mulutnya. Aku tidak perlu membuang kekuatan otak untuk mengartikan apa yang ia katakan. Tak bisa dimengerti!”

Sambil mondar-mandir, aku merenung sendiri. Ada sepuluh orang atau lebih dalam daftar tersangka, namun sejak kasus ini berkaitan dengan putra ketiga Baron Gerland yang bersumpah setia kepada putra mahkota, para tersangka dapat dipersempit ke Baron Gerland, putra mahkota, dan Yang Mulia raja. Meskipun orang yang ia telah bersumpah setia adalah putra mahkota, jika raja yang memberi perintah, maka tetap harus dilaksanakan.

Alasanku tidak menduga putra ketiga Baron Gerland sendiri adalah karena ia membawa dua knight lain untuk membantunya membuang mayat. Semua knight menempatkan nilai besar pada reputasi, jadi jika ia benar-benar melakukannya sendiri, maka ia akan hanya diam-diam membuang mayat sendirian, dan tidak membiarkan dua knight lain mengetahui tentang perbuatannya menyiksa seseorang sampai mati.

Tapi sekali lagi, apakah mungkin bahwa ketiga-tiganya melakukannya secara bersama-sama?

”Tidak!” Aku segera menyingkirkan alur pemikiran ini. ”Roland terlalu kuat. Dia tidak mungkin dapat dilumpuhkan oleh ketiga knight itu saja.”

”Sepertinya kau telah membuat beberapa kemajuan dalam penyelidikanmu.” Aku melompat kaget. Ketika aku berbalik, aku melihat bahwa suara itu milik Knight-Captain Judgment.

”Jadi Roland adalah nama Death Knight itu?” Judgment menatapku tajam, seolah-olah ia bisa menerka jawaban dari ekspresi wajahku.

Aku mulai menyadari betapa ia mampu memaksa penjahat untuk berbicara kebenaran sekarang. Dia benar-benar layak mendapatkan gelar Judgment, untuk dapat menyimpulkan bahwa Roland adalah Death Knight hanya dari satu kalimat itu saja.

”Kau mengenal Death Knight itu? Tapi aku belum pernah mendengar kau menyebutkan nama itu sebelumnya. Apakah seseorang yang kau kenal lama dahulu?” Err… Aku belum mengatakan apa pun, kan? Mengapa aku mendapatkan perasaan bahwa Judgment mengetahui setiap detail? Betapa menakutkan!

”Kemarin, Blaze bertemu dengan Death Knight itu dan seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam.” Setelah mengatakan ini, Judgment melirik padaku dengan santai dan berkata, “Kau tampaknya tidak terkejut. Apakah kau sudah tahu? Tapi pertemuan antara Dua belas Holy Knights baru saja berakhir, dan Blaze meninggalkan tempat setelah aku, jadi kau seharusnya belum mendengar darinya.”

”…” Kurasa aku bahkan tidak perlu merespon Judgment untuk menyimpulkan semua jawaban sendiri dalam satu menit.

Dia mungkin melihat bahwa aku tidak punya niat merespons, jadi Judgment menghentikan pertanyaannya dan hanya menjelaskan. ”Menurut laporan Blaze tentang peristiwa itu, Death Knight itu tampaknya berada di ambang menjadi Death Lord, jadi aku berencana untuk mengirimkan setengah dari pasukan Holy Temple untuk mencari dia di dalam kota. Pope juga setuju untuk mengirim setengah dari priest gereja untuk membantu dalam pencarian. Kami benar-benar tidak bisa membiarkan Death Lord lahir.”

Kemudian nasib satu-satunya Roland adalah dengan berakhir dibakar di tiang pancang! Aku secara paksa menekan kegelisahanku dan menampilkan martabatku sebagai seorang Sun Knight yang tidak kuperlihatkan selama ini. Aku berkata singkat, ”Mengurus makhluk undead berada di bawah tanggung jawab Sun Knight. Knight-Capten Judgment, kau tampaknya telah melampaui batas wilayahmu.”

”Aku sangat menyesal, Knight-Captain Sun. Aku mendapati kesan bahwa kau sedang berlibur, dan situasi dengan Death Knight ini benar-benar tidak bisa berlanjut, jadi aku harus bertindak di atas namamu. Jika kau ingin mengambil kembali kuasamu, maka silahkan menghentikan masa liburanmu. Sebagai pengingat, kau masih memiliki dua hari tersisa untuk penyelidikan ini,” jawab Judgment dengan tenang.

Ketika ia selesai berbicara, ia berbalik untuk pergi, namun saat ia melewatiku, ia berkata dengan suara pelan, ”Sejak masa kecil kita, sudah berapa kali kau memaksaku untuk melangkahi batas wilayahku untukmu? Bantu aku dalam pertarungan, bantu aku menyelidiki, bantu aku mengalahkan penggangguku − siapa yang telah membuat segala permintaan itu?”

Err…itu terdengar seperti sesuatu yang ”muda dan belum dewasa-ku” katakan.

”Terlepas dari siapakah Roland, mencegah lahirnya Death Lord dengan segala cara harus menjadi salah satu dari prinsip dasar yang benar kan, Sun Knight?”

”Ya, itu adalah salah satu dari prinsip dasar Sun Knight,” Aku mengakuinya dengan anggukan. Hanya saja Grisia memiliki prinsip sendiri juga.

Mendengar jawabanku, Judgment mengangguk dan pergi.

Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Pada tingkat tertinggi efisiensi kerja, gereja dan Holy Temple masih akan membutuhkan sekitar setengah hari untuk mengumpulkan separuh dari pasukan mereka dan mengelompokkan mereka ke dalam peleton yang akan dikirim untuk menyelidiki setiap distrik. Dalam setengah hari ini, aku harus menemukan keberadaan Roland dan menyembunyikannya di tempat Pink. Aku memiliki keyakinan besar bahwa Pink akan mampu menyembunyikan Roland dengan benar dan aman.

Menjadi sangat terbiasa dengan aura kegelapan, menemukan Roland dalam waktu setengah hari seharusnya tidak menjadi tugas yang sulit asalkan ia tidak bersembunyi di tempat yang tidak biasa.

Aku kembali ke kamarku dan mendapati Divine Sun Sword dan mengenakan jubah tersembunyiku, dan tiba tidak terlalu lama setelah itu di tengah kota, yang juga merupakan plasa kota terbesar. Lalu, berpura-pura menjadi petualang yang kecapekan, aku duduk di pinggir air mancur tengah.

Di bawah bayangan jubah, aku memegang Divine Sun Sword. Elemen holy murni dari Divine Sun Sword membuatku semakin sensitif dengan aura kegelapan.

Dengan kedua mata tertutup, aku merasakan setiap aura kegelapan yang ada di kota Leaf Bud. Sama seperti bagaimana setiap kota memiliki tempat-tempat kegelapan, setiap orang pasti memiliki jejak kegelapan di dalam diri mereka. Tapi jumlahnya sangat kecil untuk kota-kota dan warga biasa. Umumnya, mereka penuh dengan segala macam elemen, mungkin beberapa elemen api di sini dan beberapa elemen air di sana. Hanya mereka yang menumbuhkan keterampilan tertentu akan memiliki konsentrasi tinggi dari elemen tertentu. Misalnya, para magician yang mempelajari sihir jenis api biasanya memiliki jumlah yang abnormal tinggi dari elemen api dalam tubuh mereka.

Dengan memeriksa komposisi internal elemen mereka, aku dapat cukup banyak menyimpulkan pekerjaan seseorang dari pertama kalinya aku bertemu mereka.

Untungnya, kemampuanku untuk merasakan elemen bukanlah hal yang umum, sampai ke titik bahwa hal tersebut bisa dianggap sebagai potensi yang langka. Meskipun mereka yang tidak dilahirkan dengan itu masih dapat mempelajarinya, hasil secara umumnya tidak sebaik yang pertama.

Fakta bahwa aku memiliki kemampuan ini adalah sesuatu yang hanya guruku yang tahu, dan guruku telah sangat keras memperingatkanku untuk tidak membocorkan rahasia ini kepada siapa pun. Aku juga dilarang menggunakan keterampilan ini kecuali benar-benar diperlukan.

Itu karena kemampuan ini terlalu menakutkan, karena komposisi elemen dari setiap orang itu unik dan tidak dapat berubah secara signifikan dalam jangka pendek. Dengan demikian, begitu aku menyadari elemen seseorang aku dapat melacak keberadaan mereka. Juga, seperti disebutkan sebelumnya, aku bisa membedakan elemen apa yang dimiliki seseorang sejak pertama kali bertemu, sampai-sampai aku bahkan bisa mengetahui apakah mereka membawa aksesori sihir tertentu, dan perkiraan kekuatan sihir aksesoris tersebut.

Jika orang lain mengetahui bahwa aku dapat jelas melihat kemampuan mereka, itu benar-benar tidak akan menjadi keuntungan buatku.

Selain itu, sejak aku menjadi Sun Knight, kemampuanku untuk merasakan elemen-elemen telah tumpul, sejak elemen holy pada diriku sendiri telah menjadi begitu lazim dan selalu mengganggu kemampuanku merasakan elemen-elemen lain. Hanya terhadap satu elemen tertentu kemampuan merasakan elemenku telah benar-benar bertambah kuat, dan itulah elemen yang merupakan lawan dari elemen holy: kegelapan!

Aku memang merasakan sejumlah elemen kegelapan di sekitar kota, meskipun jumlahnya tidak terlalu tinggi. Kota Leaf Bud relatif segar dan bersih dibandingkan kota lainnya.

Aku terus memperluas dan memperluas wilayah pencarianku, mulai dari jalan-jalan di plasa dan memperluasnya ke segala arah. Aku mencari melalui sudut-sudut gang yang gelap, gubuk tua reyot, dan kandang kuda penuh dengan ransum dan pakan ternak, namun tetap tidak menemukan jejak Roland.

Di mana dia menyembunyikan dirinya? Elemen kegelapan pada dirinya sangat kuat, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak dapat menemukannya.

Mungkinkah…Aku menatap dengan ragu ke belakang punggungku. Tidak terlalu jauh dari sana berdiri tempat yang paling penting dalam suatu negara, istana kerajaan.

Istana bisa dianggap tempat tergelap yang pernah ada. Meskipun di dalam dindingnya terdapat banyak knight yang setia, ada lebih banyak aristokrat dengan hati yang lebih gelap daripada warna hitam. Hanya dari kata-kata Storm yang menyebutkan lebih dari 80% kaum bangsawan memiliki hobi menyiksa orang lain, seseorang dapat mengatakan bahwa istana kerajaan pasti merupakan tempat yang paling kotor di seluruh kota Leaf Bud.

Aku bisa merasakan seluruh istana diselimuti awan kegelapan. Jika Roland benar-benar bersembunyi di sana, aku pasti tidak akan menyadarinya.

Aku benar-benar tidak ingin memperluas indra perasaku di dalam pekatnya kegelapan… Aku berduka di dalam hatiku. Tapi, aku tidak dapat menemukan Roland di tempat lain, dan itu adalah satu-satunya tempat tersisa untuk dilihat.

Sekali lagi aku memejamkan mata, dan dengan enggan memperluas indra perasaku ke dalam istana kerajaan.

Segera setelah itu, aku membuka mataku kembali. Bagaimana bisa ia tidak tampak ada di sana juga?

Mungkinkah ia meninggalkan kota? Pikirku malas-malasan. Hal ini merupakan kabar baik. Judgment tidak akan dapat menemukannya seperti ini.

”Jangan katakan tugas seorang Sun Knight adalah melamun di tengah plasa?”

”Tentu saja tidak. Biasanya, aku cukup sibuk!” Aku membalasnya secara otomatis, tapi ketika aku mengangkat kepalaku aku tercengang. Tepat di depanku berdiri orang yang daritadi kucari di seluruh tempat tetapi tidak dapat kutemukan… Roland!

Roland berdiri disebelahku, hampir tidak ada perubahan dari masa kecilnya, hanya lebih tinggi dan lebih tegap dari sebelumnya. Dia memiliki tubuh yang ramping, wajah yang cerah dan tampan, dan ekspresi yang begitu serius. Hanya dengan berdiri di sana, ia memberiku kesan sebagai orang yang tangguh. Bahkan senyumnya memberikan perasaan tertekan yang tidak dapat dilukiskan, tapi sangat sedikit orang yang keberatan dengan perasaan tertekan yang dipancarkan Roland. Dia hanya salah satu dari pemimpin sejati sejak lahir yang dapat membuat orang melakukan perintahnya dengan senang hati dan sukarela.

Namun, apa yang paling membuatku terkejut adalah Roland tampak seperti…manusia normal!

Dia tampak sangat berbeda dari penampilannya yang pucat menakutkan sebelumnya. Kalau ia muncul di depan mataku terlihat seperti ini terakhir kali kami bertemu, aku pasti bisa mengatakan meski hanya melihat sekilas bahwa ia adalah Roland.

Aku bertanya kebingungan, ”Kau…dibangkitkan?” Tapi aku ingin menampar diriku sendiri segera setelah kalimat itu keluar dari mulutku. Bagaimana bisa ia dibangkitkan setelah mati dan bahkan telah menjadi Death Knight!

”Tidak, aku jelas tidak dapat dibangkitkan,” Roland menjawabku, sangat serius seperti biasanya. Kemudian, sesopan biasanya, ia bertanya, ”Bolehkah aku duduk?”

”Uh, tentu.” Sekarang, pikiranku sedang sangat kacau, dengan panik bertanya-tanya mengapa Roland tampak begitu manusia meski tidak dibangkitkan. Ini tidak mungkin bahwa Roland hanya semacam khayalan aneh dari imajinasiku?

Roland duduk di sampingku dan berkata kepadaku sambil tersenyum, ”Grisia, kau sama seperti sebelumnya. Setiap kali masalah yang sulit datang ke arahmu, kau akan duduk di plasa atau semacamnya, tenggelam dalam pikiranmu sendiri.”

Itu karena aku menggunakan kemampuan pengindraan elemenku, bukan karena aku larut dalam pikiranku!

”Kenapa kau terlihat seperti ini?” Aku tidak dapat menahan diri untuk bertanya.

Roland mengangkat tangan kirinya, dan aku segera menyadari cincin di jari tengahnya. Roland tidak pernah menggunakan perhiasan, apalagi berwarna pink seperti ini, cincin berbentuk hati yang siapa pun bisa mengatakan dalam sekali lihat adalah semacam barang palsu yang murah. Aku percaya bahwa cincin ini harus memiliki semacam kemampuan spesial menimbulkan sifat apokalips agar Roland memakainya secara sukarela.

Roland menghela napas dengan pelan. ”Ini adalah Cincin Kehidupan yang diberikan Pink kepadaku, yang memungkinkanku untuk menggunakan penampilan buatan seorang manusia. Tetapi dengan menggunakan Holy Light cukup untuk dengan mudah melenyapkan ilusi ini.”

”Aku bisa mengetahui bahwa cincin itu milik Pink… Apakah dia memberikan pedang itu padamu juga?” Siapa yang akan berpikir bahwa penampilannya yang hidup itu semua diciptakan oleh efek dari cincin yang terlihat seperti telah digunakan oleh gadis kecil untuk bermain rumah-rumahan?

Lain kali aku pergi ke rumah Pink, aku mungkin harus memperhatikan boneka beruang yang ada di sudut. Siapa tahu, mungkin boneka beruang itu memiliki kemampuan untuk memanggil keluar seekor raja iblis atau semacamnya?

”Tidak, pedang ini adalah warisan keluarga. Kupikir aku tidak akan pernah menggunakan pedang terkutuk seperti ini.” Roland tersenyum dengan sedikit enggan. ”Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menggunakan pedang ini sebagai seorang Death Knight, dan benar-benar dapat selaras dengan kekuatan jahat…”

”Tunggu!” Aku melambaikan tangan untuk menyela perkataan Roland, saat aku merasakan kehadiran sekitar lima holy knight dan dua priest memasuki plasa. Meskipun mereka mungkin tidak akan mengira bahwa Death Knight akan muncul di plasa yang paling besar, padat penduduknya, Judgment selalu melakukan segala sesuatu dengan hati-hati tanpa mengabaikan sehelai rambut pun. Dia jelas tidak akan membiarkan plasa besar seperti ini luput dari penyelidikan.

Ini buruk; Death Knight yang dimaksud duduk tepat di sebelahku!

Meskipun Roland mungkin terlihat seperti manusia, duduk di sampingnya aku masih bisa samar-samar merasakan aura kegelapan yang ia pancarkan. Akan sulit untuk menjamin ia tidak akan terdeteksi oleh para priest… Uh oh! Ini buruk-seorang priest terus melirik ke arah kami, dan bahkan menunjuk kami dan memberitahukannya kepada seorang holy knight di sebelahnya. Mereka tampaknya bersiap-siap untuk datang dan melihat lebih dekat.

”Roland, pergi sekarang!” Aku mendesak dengan suara pelan.

Namun, meskipun Roland melirik ke arah kelompok para holy knight, ia masih tidak menunjukkan gerakan untuk pergi, dan bahkan terus bersikap tenang dan santai.

Bencana−tidak hanya para holy knight datang ke arah kami, tapi mereka bertujuh datang bersama-sama, masing-masing dengan ekspresi suram. Tidak mungkin karena kami benar-benar ketahuan kan?

Jantungku berdetak kencang, dan aku masih bertanya-tanya bagaimana memperdaya mereka untuk lepas dari kelompok holy knight-ku sendiri ketika mereka bertujuh sudah berada di sisi Roland. …Dan mengabaikan keberadaannya, mereka berjalan melewatinya dan berdiri di depanku.

Pemimpin para knight kemudian berkata kepadaku dengan waspada, ”Tuan, tolong singkapkan tudung kepala jubah Anda.”

Aku menyingkap tudung kepalaku tanpa ekspresi, sementara Roland berdiri di sisiku sambil memalingkan wajah. Aku bisa mengetahui dari cara pundaknya berguncang bahwa ia menahan tawanya.

”Ahh, Sun Knight?!” Mereka bertujuh jelas mendapat kejutan besar. Bahkan jika mereka benar-benar menemukan Death Knight, kupikir mereka tidak akan lebih terkejut daripada ini.

Seolah dipenuhi dengan kesedihan, aku menjawab, ”Mungkinkah bahwa Sun tidak lagi diberkati oleh God of Light, sehingga aura holy yang menembus tubuh ini hilang sampai-sampai rekan sesama holy knight­­-ku dapat salah mengira Sun sebagai Death Knight yang penuh dengan aura kegelapan?”

”Tidak, tidak, bukan karena itu!” Mereka bertujuh secara bersamaan menggelengkan kepala mereka, pemandangan yang benar-benar dramatis untuk dilihat!

”Lalu apakah karena perilaku dan gerakan Sun yang terlihat penuh kebohongan dan kelicikan, sampai-sampai rekan sesama holy knight-ku akan salah mengira Sun menjadi Death Knight yang sedang mengintai?”

Mereka bertujuh lagi-lagi menggelengkan kepala mereka secara bersamaan, berkisar bolak-balik pada 180°

”Lalu itu dapat hanya menjadi kesalahpahaman indah yang diijinkan oleh God of Light pada kesempatan ini?”

Mereka bertujuh menggelengkan kepala mereka lagi sampai mereka menyadari apa yang telah kukatakan. Setelah membuat tujuh ekspresi ketakutan yang berbeda, mereka semua mulai menyesuaikan kepala mereka untuk bergerak ke atas dan ke bawah.

”Karena itu semua hanya kesalahpahaman indah yang diijinkan oleh God of Light, maka Sun tidak akan mengganggu saudaranya lagi. Silahkan lanjutkan melaksanakan kehendak dari God of Light.”

Setelah mereka bertujuh buru-buru memberi hormat kepadaku dan aku memberi hormat kembali dengan pelan dan tenang, mereka bergegas melarikan diri dari tempat kejadian tanpa melihat ke belakang, seolah aku, Sun Knight, bahkan lebih menakutkan daripada Death Knight.

Mungkin wajahku yang awalnya tanpa ekspresi yang menakuti mereka. Untuk Sun Knight yang harus menegakkan prinsip tersenyum bahkan setelah kematian datang tiba-tiba berhenti tersenyum, itu akan terlihat cukup menakutkan bahkan tanpa menunjukkan ekspresi marah. Sepertinya aku akan harus membayar lebih banyak perhatian pada senyumku di masa depan, atau nantinya rumor buruk dapat dengan mudah menyebar di sekitar tentang Sun Knight dan perangainya yang tidak stabil.

Aku meletakkan kembali tudung kepala jubahku dan berbalik untuk melihat ekspresi agak kaget di wajah Roland. Dia bertanya, ”Grisia, sejak kapan kau mulai berbicara dengan sedemikian terpelajar?”

”…Jangan bertanya.”

Aku berkata kepadanya, ”Roland, bergegaslah dan sembunyi di tempat Pink. Priest yang tadi itu mungkin benar-benar merasakan aura kegelapan, dan hanya karena kau sedang duduk di sana di tempat terbuka tampak begitu polos sehingga mereka mengiraku yang ada di sisimu sebagai Death Knight.”

Roland terdiam sejenak sebelum berkata dengan pelan, ”Aku hanya mengatakan selamat tinggal padamu, Grisia. Lain kali kita bertemu, kita akan menjadi musuh.”

”Musuh…maka kau benar-benar membenciku.” Aku menundukkan kepalaku dengan sedih. Awalnya aku masih memegang sedikit harapan kecil bahwa Roland bukanlah seseorang yang akan terus mendendam dan barangkali ia mungkin sudah melupakan fakta bahwa aku telah mencuri posisinya sebagai seorang Sun Knight.

Tapi sebaliknya, Roland bertanya, ”Mengapa aku membencimu?”

”Kau tidak membenciku?” Aku mengangkat kepala dengan tiba-tiba dan bertanya dengan suara keras, ”Lalu kenapa kau mencincangku saat kau muncul?”

Roland menunjukkan ekspresi meminta maaf. ”Itu karena Pink memintaku untuk membawa beberapa makhluk undead untuk kau urus. Aku hanya ingin menyapamu dengan lambaian, tetapi aku baru saja menjadi Death Knight dan telah lupa bahwa kecepatan dan kekuatanku keduanya meningkat, dan hasilnya aku tidak punya cukup waktu untuk menarik kembali tanganku dan secara tidak sengaja melukaimu. Aku benar-benar minta maaf!”

”…” Aku dengan enggan bertanya, ”Lalu kenapa kau mengatakan bahwa kau akan kembali dan mencariku?”

”Awalnya aku akan datang kembali dan mencarimu sehingga aku bisa mengucapkan selamat tinggal.” Roland menjawab blak-blakan.

Roland, dasar kau bodoh! Tidakkah kau mengira kau sudah menjadi Death Knight? Aku hampir terbunuh oleh “sapa” dan “selamat tinggal” mu.

”Roland, jika manusia memiliki dua nyawa, aku akan pastikan untuk membiarkanmu mati untuk kedua kalinya,” kataku dengan marah sambil mengertakkan gigi.

Sudah cukup buruk ia menebasku, tapi bagaimana bisa ia kemudian mengatakan sesuatu yang dapat dengan mudah disalahartikan seperti, ”Aku akan datang kembali untuk menemukanmu, Sun Knight”? Hal itu menyebabkan orang-orang salah paham kepadaku sampai aku hampir bersiap menjadi martir dan membanting diri sampai mati di pilar gereja.

”Kau bisa membakarku sampai mati,” jawab Roland cukup tenang. ”Setelah aku membunuh musuh bebuyutanku, maka aku akan membiarkanmu membakarku sampai mati.”

”Aku hanya bercanda.” Aku mengerutkan dahi. Aku hampir lupa, Roland adalah seorang pria serius yang kau tidak bisa ajak bercanda sama sekali.

”Aku serius. Bila aku tidak perlu membunuh orang itu, maka aku tidak akan mengijinkan diriku untuk berada di dunia ini sebagai roh jahat.”

”Apakah orang yang membunuhmu adalah putra mahkota?” Setelah mendengar kata-kataku, Roland menatapku dengan tatapan kosong sebelum menganggukkan kepalanya.

Jadi itu benar-benar putra mahkota? Suasana hatiku segera menjadi berat.

”Kau tidak akan berhasil. Judgment Knight, salah satunya, tidak berotak busuk seperti…ahem! Maksudku, bukan se-‘baik-hati’ sepertiku. Dia pasti akan mendirikan jaring di sekitar putra mahkota yang membentang dari bawah ke atas langit, sehingga tidak mungkin bagimu untuk berhasil.” Kataku.

Roland berbalik dan aku dapat melihat ia begitu marah sampai bola matanya mulai berubah, seolah mereka kembali menjadi mata pendendam dan berapi-api dari seorang Death Knight.

”Tidak peduli seberapa besar kesempatannya, aku pasti akan membunuhnya,” jawab Roland tegas.

”Roland, balas dendam bukanlah karakteristik yang benar bagi seorang knight,” aku menekankannya.

”Tidak Grisia, Aku melakukan ini bukan karena balas dendam,” Roland dengan dingin menjelaskan. ”Ini bukan pertama kalinya ia telah melakukan kejahatan. Aku menjadi korban karena tidak tahan terhadap pelanggarannya dan ingin mengungkap seperti apakah dia sebenarnya. Membiarkannya tetap hidup hanya akan mengakibatkan korban tak bersalah bertambah.”

Aku benar-benar terkejut dan kehilangan kata-kata. Apakah putra mahkota benar-benar orang berwajah dua yang menempatkan wajah tersenyum di depan sementara menyembunyikan kepribadian seorang pembunuh sadis di belakangnya?

Roland berdiri, aura kegelapan di tubuhnya menyebar secara liar di sekitarnya. ”Aku pasti akan membunuhnya sehingga ia tidak dapat membahayakan siapa pun lagi.”

”Obsesi berkepanjanganmu adalah untuk membunuhnya?” Kalau itu yang terjadi, maka ini akan menjadi sulit. Tidak ada kompromi untuk sebuah obsesi berkepanjangan.

”Obsesi berkepanjangan?” Roland menatapku kosong.

”Ya. Terakhir kali kau hampir menjadi Death Lord. Bagimu kemajuan sejauh ini terjadi dalam waktu yang amat singkat, kau harus memiliki obsesi berkepanjangan yang hampir mustahil untuk dicapai. Dan bila itu menyangkut tentang membunuh dia, maka itu benar-benar adalah obsesi berkelanjutan yang hampir mustahil.” Aku menggelengkan kepalaku. Jangan katakan kepadaku bahwa salah satu solusinya adalah dengan membakar Roland bagaimanapun juga?

Aku mendongak dan hanya kebetulan melihat Roland memberiku tatapan aneh. ”Apa?” tanyaku, agak kebingungan.

”Tidak, Aku harus pergi. Aura kegelapan yang kulepaskan beberapa saat yang lalu ketika aku kehilangan kendali mungkin telah terlihat. Grisia, lain kali kita bertemu, kuharap kau akan muncul di depanku sebagai Sun Knight.” Segera setelah ia selesai, Roland berbalik dan pergi tanpa berhenti.

Bingung, aku duduk di plasa, hatiku dipenuhi pusaran emosi. Sudah tidak mungkin untuk menghentikan Roland mencoba membunuh orang lain, jadi apa yang harus kulakukan?

Mengungkapkan rencana Roland? Dengan begitu, tidak peduli seberapa kuat jadinya dia, di bawah pengawasan hati-hati istana kerajaan dan kuil God of Light, ia tidak memiliki kesempatan untuk berhasil dan bahkan tidak mungkin melarikan diri. Jika hal itu terjadi, sebagai Sun Knight aku harus secara pribadi membawa Roland pergi untuk dibakar di tiang pancang dan menyalakan korek api untuk memanggangnya.

Di sisi lain, aku bisa menjaga rencana Roland untuk diriku sendiri dan menunggunya membelah penguasa negara menjadi dua. Aku benci mengakuinya, tapi dengan kekuatan dan di bawah penyamaran yang disediakan oleh Cincin Kehidupan, Roland sebenarnya mungkin berhasil…

Sialan kau Roland! Kenapa kau tidak bisa hanya melakukannya secara diam-diam dan menggosipkannya kepadaku tentang hal itu nanti? Kenapa kau harus memberitahukanku sebelumnya tentang rencana jahatmu, memberiku sakit kepala saat aku memperdebatkan apakah aku harus menempatkanmu di atas panggangan atau tidak.

Kemudian terdengar suara langkah kaki yang tidak teratur mendekat. Ketika aku mendongak, itu memang sekelompok holy knight lamban. Aku menggelengkan kepalaku. Untuk baru datang sekarang, mereka bahkan tidak akan dapat menemukan bayangan yang ditinggalkan oleh Death Knight!

”Di sana!” Ehh? Mungkinkah Roland kembali lagi? Aku melihat sekeliling tetapi tidak melihat tanda-tanda keberadaannya.

”Kau! Lepaskan tudung kepala jubahmu!” Seluruh peleton holy knight menyerangku dengan keriuhan seperti kawanan sapi dan berteriak padaku dengan keras.

”…” Persisnya berapa kali kalian akan salah mengiraku sebagai Death Knight sebelum kalian puas?!

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 8]

The Legend of Sun Knight V1C7: “Jangan Meremehkan Apapun; Bahkan Kaus Dapat Menggigit Jika Ia Marah”

Legenda Kesatria Surya volume 1: Sebuah Pengenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh : 御我 (Yu Wo)


Peraturan Ketujuh Kesatria Matahari: “Jangan Meremehkan Apapun; Bahkan Kaus Dapat Menggigit Jika Ia Marah” – diterjemahkan oleh saintazura

 

Setelah keluar dari rumah Pink, aku mendorong perjalananku kedepan dengan segala kemampuanku untuk menghemat sedikit darah yang tersisa di badanku.

Selain itu, walaupun kaus dibadanku dingin dan nyaman, kaus ini juga sangat merepotkan. Mengenakan kaus ini di jalan utama sama saja dengan mengumumkan kalau aku adalah orang yang mencurigakan! Aku berani bertaruh bahwa aku bahkan tidak perlu berjalan setengah blok sebelum Pasukan Militia Kesatria Kerajaan ditambah Holy Knight untuk mencegatku, dan kemudian bersama-sama mereka akan mengundangku untuk minum teh dengan Judgment Knight.

Maka aku hanya bisa menjadi gentleman yang berjalan di cahaya , spesialis berjalan di langit-langit… atau dalam kata lain, atap.

Untungnya, sekarang malam hari, dan dengan langit gelap, pandangan mata terbatas. Kalau tidak, bahkan kalau aku berjalan di atap aku masih harus berdoa agar mata para kesatria dan kesatria suci untuk dikaburkan dengan daging kerang1, jadi aku tidak akan terlihat.

Aku melompat dan terbang diantara atap dengan mudah, tubuhku sangat lincah sampai aku pikir aku bisa terbang. Lompatan santaiku lebih tinggi dari tinggi dua orang, dan yang bahkan lebih mengesankan adalah pendaratanku sediam seekor kucing.

Itu membuatku sangat bahagia sampai aku ingin mengeluarkan tawa maniak.

Pink benar-benar makhluk yang telah hidup untuk waktu yang tidak diketahui. Apa yang dia dengan mudahnya berkan pada orang lain semuanya harta yang luar bisa, walaupun nama kaus ini terlalu aneh. Kenapa benda ini harus dipanggil dengan nama aneh seperti Dragon’s Saint Brigandine? Jaman sekarang, bukannya semua harta dipanggil dengan Pedang Atlantis atau Berkat Dewi XXX dan seterusnya?

Walau begitu, daripada nama “Dragon’s Saint Brigandine”, fakta bahwa kaus ini menghisap darah untuk bekerja bahkan lebih aneh. Kemana darah yang dihisapnya pergi?

Walaupun aku curiga kaus ini mungkin sejenis makhluk undead, darahku mungkin merupakan benda paling suci di dunia ini. Jangankan menghisap 300cc darahku; bahakn 1cc akan membuatnya memperlihatan wujud aslinya.. Tapi lagi, mungkin bentuk aslinya memang kaus?

Pelayanmu memang benar sebuah kaus.

Aku menghentikan langkahku dan melihat ke kiri dan kanan. Selain aku, satu satunya benda di atas atap adalah langit yang dipenuhi bintang. Jadi siapa yang mengucapkan kalimat tadi? Mungkin aku mulai mengalami delusi, karena kehilangan banyak darah?

Pelayanmu belum menghisap darahmu. Tagihan darah akan dibayar setelah transformasi tuan disudahi.

“Ohhhh… Jadi seperti itu!” Aku menganggukkan kepalaku, mengindikasikan aku mengerti. “Memang lebih pertimbangan seperti ini, karena orang menggunakan kaus ini untuk bertarung. Kalau mereka pusing dan tidak stabil di kaki karena kekurangan darah, mereka pasti akan kalah.”

Tuanku, kamu terlalu memuji.

“Tidak, tidak. Apa yang kukatakan memang benar; ini benar –benar… sangat… dipertimbangkan….”

Semakin banyak yang kukatakan, semakin lambat aku berbicara dan semakin lebar mataku. Setelah beberapa lirikan ke kanan dan kiri, aku bisa menjamin bahwa satu-satunya benda disekitarku yang bisa berbicara adalah-!

Lalu apa yang berbicara denganku? Lebih lagi, dia bahkan sangat sopan!

Pelayanmu adalah Dragon’s Saint Brigandine.

“Kamu kaus hitam yang ada ditubuhku?” Aku menundukkan kepalaku dengan ragu, melihat pada kaus hitam dingin dan nyaman yang dilapisi dengan armor silver ringan, dan berkata dengan sedikit rasa curiga, “Buktikan?”

Bagaimana, kalau boleh saya bertanya, tuan ingin saya buktikan?

“Ada apa dengan ‘tuanku’ dan ‘pelayanmu’? Cara memanggil orang ini sungguh aneh.” Aku menggelengkan kepala, dan berkata dengan sikap sambil lalu, “Bergerak saja sedikit!”

Seperti permintaan tuanku.

Aku baru saja mendengar kata “wish” saat tubuhku langsung merasa aneh. Kenapa… rasanya ketat?

Kebingungan, aku menundukkan kepalaku dan tanpa daya melihat pinggangku menjadi lebih kecil dan kecil… Saat aku berdiri disana kebingunan dan dengan mata terbelak pada pinggangku yang hampir berukuran dua puluh lima inci, rasa sesak muncul di dadaku. Aku dengan cepat berteriak, “Stop, stop, stop! Aku hampir tercekik sampai mati! Aku percaya kalau kamu adalah Dragon’s Saint Brigandine, jadi cepat hentikan!”

Sesuai permintaan tuanku.

Aku sedikit tersentuh untuk melihat pinggangku menjadi ukuran normal lingkar pinggang laki-laki (tiga puluh inci) sekali lagi

“Waktu benar-benar sudah berubah!” Aku mendesah dengan ratapan dalam.

Dulu hanya pedang berharga atau batu mulia yang bisa berbicara.  Di masa sekarang, bahkan pakaian bisa membuka mulut mereka untuk berbicara!

Lain kali, sebelum membeli baju, aku harus mengetes apa dia bisa berbicara atau tidak. Kalau aku tidak mengecek dan mereka mulai mengadakan “Pertemuan Baju” di kamarku, aku pasti hanya bisa membakar semua bajuku. Lalu hanya setelah membakar mereka aku baru ingat kalau mereka dibeli dengan uangku… akhirnya, aku akan mati dengan tidak elegan-karena sakit hati.

Pelayanmu sangat menyesal. Pelayanmu tidak akan membuka mulutnya untuk berbicara seenaknya di masa depan.

Benar benar kaus yang penurut dan pintar! Aku hanya bisa bertanya, “Karena kamu sangat penurut, bisakah kamu tidak mengisap darahku setelah transformasiku usai?”

Pelayanmu- pelayanmu tidak bisa menuruti perintah ini…

Seperti yang diduga, itu masih tidak mungkin. Aku mendesah. Lupakan. Setelah ini, lagipula aku kemungkinan tidak akan akan menggunakannya lagi, jadi membiarkannya menghisap 300cc darah bukan masalah.

Tuanku, ada gerakan di depanmu di sebelah kiri, sekitar seribu meter jauhnya.

Apa! Aku sangat terkejut, tapi yang membuatku terkejut bukan gerakan yang ada didepan, tapi fakta bahwa Dragon’s Saint Brigadine ini punya fungsi “radar otomatis”! Yang jelas 300cc darahku tidak terbuang dengan cuma-cuma!

Aku menuju arah yang Dragon’s Saint Brigadine tunjukkan dan menemukan kalau gerakan yang disebutkan sebelumnya berasal dari orang kami sendiri. Tempat ini merupakan lapangan kecil di jalan yang mengarah ke istana. Tapi, tempat ini masih lumayan jauh dari istana dan sekitar dua puluh kesatria suci berkumpul disana. Menilai dari design api di dada mereka, mereka pasti dari Peleton2 Blaze Knight. Terlebih lagi, pemimpin mereka, Kapten-Blaze Knight, juga ada disana.

Melihat situasi ini, aku dengan cepat berbaring di atap untuk menghindari mata jeli kesatria suci. Akan jadi bencana kalau aku dianggap musuh.

Tapi, aku merasa ragu. Jadwal peleton Blaze Knight berpatroli bukan bulan ini… Kalau aku tidak salah ingat, bulan ini seharusnya giliran peleton Judgment Knight. Seteiap kali Peleton Judgement Knight berpatroli, ketertiban di kota akan menjadi sangat bagus untuk bulan itu. Lupakan berkelahi di jalan, bahkan pasangan yang bertengkar hanya berani beradu mulut dengan suara kecil dibalik pintu tertutup.

Untuk bulan ini, satu satunya kejadian besar yang terjadi adalah Death Knight yang menimbulkan kerusakan. Satu-satunya alasan kenapa Death Knight bisa menimbulkan masalah sepanjang ini dan masih belum disingkirkan dengan mudah oleh peleton Judgment Knight adalah karena semua orang punya pengertian umum bahwa makhluk undead harus diserahkan kepadaku, Sun, untuk ditangani.

Keraguanku tidak bertahan lama, karena ada sesuatu yang jauh lebih mengejutkan. Musuh yang sedang dihadapi oleh peleton Blaze Knight  adalah – sang Death Knight!

Tidak salah lagi, karena orang berwarna pucat inilah yang menebasku dengan pedangnya. Tepat sebelum dia pergi dia bahkan mengatakan dia akan datang untuk menemukanku, yang hampir membuatku kehilangan cukup darah untuk menemui God of Light.

Tapi, kenapa sepertinya dia sedikit berubah?

Aku mengerutkan alisku, memperhatikannya dari atas ke bawah. Sepertinya… dia lebih hitam dari sebelumnya? Apa mungkin orang ini membenci kulitnya yang terlalu pucat, jadi dia pergi berjemur?

“Ha! Akhirnya aku menemukanmu.”

Tawa dingin Blaze menarik perhatianku kembali. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau Blaze sebenarnya bisa tertawa dengan dingin. Bukannya dia selalu sangat kurang ajar, dan gerakannya sesopan gorilla? Tawanya harusnya antara sangat keras atau gila.

Apa mungkin Blaze juga orang yang penampilan luarnya tidak sesuai dengan kepribadian aslinya ?

Aku bahkan berpikir kalau diantara dua belas Kapten, dia adalah yang reputasinya paling sesuai dengan kebenaran. Lagipula, aku menjadi familiar dengan enam calon kapten dari faksi ”lembut dan baik hati” saat aku mulai mempelajari tata cara seorang Sun Knight pada umur sepuluh tahun. Dalam kenyataannya, kami semua sangat paham kepribadian kami saat kami baru mulai.

Storm sebenarnya merupakan anak yang sangat pemalu saat kecil. Menurut gosip gurunya membutuhkan waktu tiga tahun hanya untuk mengajarinya cara untuk mengedip pada wanita tanpa merona.

Leaf selalu menjadi anak kesayangan yang baik hati dan sopan. Setelah melewati ajaran tentang bagaimana menjadi orang baik, aku memperkirakan bahwa di dunia ini, hanya ada beberapa orang yang lebih baik dari dia.

Orang itu, Earth, sebenarnya sangat pemberontak dan tidak suka mengikuti aturan. Bahkan aku tidak tau sebesar apa upaya yang dihabiskan gurunya untuk membuatnya paling tidak tahu bagaimana tampil jujur dan dapat dipercaya di permukaan.

Untuk Blaze, dia sudah seperti monyet liar sejak kecil, dan tidak memerlukan pelatihan untuk kepribadian yang Kapten-Blaze Knight harus tampilkan.

Kalau untuk faksi “kejam dan berhati dingin” dari dua belas holy knight, kami baru kenal satu sama lain saat berumur sekitar sebelas atau dua belas tahun. Pada saat itu, kami semua sudah melewati tiga tahun kerusakan… *ahem* maksudku, pembelajaran.

Maka, aku tidak terlalu yakin tentang kepribadian asli dari enam kapten dari fraksi “ kejam dan berhati dingin”. Aku hanya mendengar sedikit mengenai mereka dari Judgment Knight.

“Aku adalah sampah yang melukai Sun dan bahkan membuatnya dicurigai! Kamu hampir membuatku membunuhnya dengan tidak sengaja!” Blaze menggerakkan  tangannya ke belakang dan menarik keluar pedang kembar yang dia bawa dipunggungnya. Kedua matanya merah dipenuhi kemarahan, dan terlihat seakan akan bahkan rambutnya berdiri di ujung. Mendengar itu, aku terdiam untuk beberapa waktu. Jadi Blaze sangat marah karena apa yang terjadi kepadaku? Itu menjelaskan kenapa perilakunya tidak normal! Ini tidak bisa dihindari, karena Blaze bisa dibilang sudah mengidolakanku sejak kami masih kecil. Bahkan sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa dia mengidolakanku.  Mungkin karena gurunya telah memasukkan terlalu banyak pikiran seperti ini di kepalanya.

“Aku…bukan…SAMPAH!”

Sang Death Knight menggeram dengan suara serak. Aura kegelapan yang mengelilinginya tiba tiba membengkak dan pedang ditangannya terlihat lebih ganas. Tidak perlu dikatakan lagi, pedang itu cukup untuk membuat manusia menjadi danging cincang, dan mata pedangnya menyerupai bentuk manusia yang kesakitan.

Keadaannya tidak bagus… Sepertinya blaze telah mengganggu titik peka Death Knight dan membuatnya kehilangan kendali.

Aku mulai kesal pada diriku. Kenapa aku bisa lupa bertanya pada Pink apa pedang Death Knight merupakan miliknya, dan apakah benda itu punya kemampuan spesial atau tidak?

Lebih parah lagi kemampuan bertarung Blaze knight tidak sebagus Ice, jadi dia pastinya tidak bisa mengalahkan Death Knight.

Untungnya, Blaze tidak sebodoh itu untuk bertarung satu lawan satu melawan Death Knight. Hanya dengan satu lambaian tangannya, Blaze memberi sinyal pada peleton holy knight yang terlatih untuk mengelilingi Death Knight dalam grup. Dua dari mereka berjalan ke dalam lingkaran dan, bersama dengan Blaze, membentuk segitiga mengelilingi Death Knight di tengah-tengah.

Kerja bagus! Diam-diam aku memuji dalam hati. Pertama, lingkaran itu mencegah Death Knight dari lari saat dia kalah dalam pertarungan seperti waktu lalu. Pada saat yang sama, lingkaran itu juga punya tujuan untuk melindungi para penonton, walaupun tidak ada seorang pun di lapangan. Sepertinya, kerumunan orang sudah dibubarkan oleh Blaze. Tapi, masih ada beberapa rumah warga disekitar. Bagi Death Knight, rumah para warga tidak lebih dari model kertas. Akan sangat buruk kalau dia menghancurkan dinding dan menahan warga di dalamnya sebagai tawanan.

Walaupun aku memuji cara Blaze menangani masalah, sang Death Knight terlihat menjadi lebih marah karena tindakan ini. Api dimatanya bergetar saat ia menggeram. “Tidak tau malu, kalian tidak tau malu! Kalian tidak cocok menjadi holy knight!”

Mendengar itu, aku menyerngit. Dalam hati, aku berpikir, apa ini berarti Death Knight ini punya hubungan dengan kami, para holy knight?

Bagi sebagian besar orang, bila mereka melihat perilaku yang tidak sesuai dengan keadilan atau moral mereka akan berkata bahwa perilaku itu tidak cocok untuk seorang “knight”. Mereka mungkin tidak akan dengan khusus mengatakan bahwa perilaku itu tidak sesuai dengan seorang “holy knight”. Ini karena, selain kepada siapa mereka memberikan kesetiaan, pada dasarnya tidak ada perbedaan dalah tata cara bagaimana seorang knight dan holy knight harus bertindak. Bisa dibilang bahwa holy knight hanya salah satu cabang dari knight.

Blaze pada dasarnya punya kepribadian yang mudah meledak, dan sehabis dibentak oleh Death Knight, menolak untuk dikalahkan. Dengan cepat, dia membalas dengan raungan, “Kamu yang tidak cocok menjadi mayat; mayat seharusnya menutup mulut mereka! Maju!” Baris terakhir merupakan perintah kepada da orang dari peleton Blaze Knight.

Setelah memberikan komando, Blaze sendiri langsung maju ke depan untuk menghadapi Death Knight. Dua anggota dari peleton holy knight dari belakang sepertinya sudah terbiasa dengan ulah ceroboh kapten mereka, sehingga mereka mengurangi ukuran lingkaran secepatnya, dan pada saat yang sama membantu Blaze dalam pertarungan.

Walau sepertinya mereka dalam posisi yang tidak menguntungkan bahkan dengan tiga orang menghadapi Death Knight, aku tidak terlalu khawatir. Bahkan bila Blaze dan dua anggota dari kompi kesatria tidak bisa menghadapi orang ini, masih ada dua puluh anggota peleton holy knight di pinggir lapangan.

Aku menolak untuk percaya bahwa Death Knight bisa menang melawan semua orang ini! Lagipula, semua holy knight yang dipilih untuk mengikuti kedua belas Kapten merupakan para elit dari Kuil Suci.

Dalam waktu singkat selama aku berpikir, Blaze sudah memanggil dua holy knight lain. Dengan Blaze di tengah, lima orang bertarung melawan Death Knight dengan koordinasi sempurna diantara mereka.

Melihat situasi ini, aku bahkan lebih tenang. Walaupun Blaze sedang marah, dia jelas belum kehilangan kontrol. Seperti biasa, dia menangani situasi ini dengan cara terbaik, untuk tidak menyerang dengan tidak sabar, tapi dengan menghadapi Death Knight dengan teliti dan untuk melemahkan lawan secara perlahan

“Tidak tau malu, tidak tau malu, tidak tau malu!”

Tiba-tiba sang Death Knight seakan tergagap, dia mengulangi kalimat ini terus menerus. Pada saat yang sama, dia terlihat bahkan lebih gelap…

Bukan! Aura hitam disekelilingnya yang menjadi lebih berat.

Melihat Blaze, aku menyadari bahwa dia sepertinya tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan sang Death Knight. Kemungkinan besar, perubahan kecil di aura hitam adalah sesuatu yang hanya aku, Sun Knight yang mempunyai 100% atribut suci, bisa rasakan. Benar-benar nasib buruk! Aku harus menemukan cara untuk memperingati Blaze.

Setelah berpikir sebentar, kupikir akan lebih baik untuk ikut dalam pertempuran secara langsung. Paling tidak, aku bisa lari tanpa bertanggung jawab sesudahnya.

Tepat saat aku akan menarik Divine Sun Sword-ku… dimana Divine Sun Sword-ku? Aku mencari seluruh tubuhku, dan badanku benar-benar tidak jelek… *Ehem!* Pendeknya, aku mengenakan leotard dibadanku, jadi aku tidak melihat ada tempat untuk menyembunyikan senjata sama sekali.

Melompat ke tengah pertemputan tanpa senjata? Blaze mungkin akan menganggapku sebagai pengganggu, dan berteriak untuk menyuruhku pergi ke sisi dan meminum susu.

Tuanku, pelayanmu bisa menyediakan senjata.

“Benarkah?” Aku mngulurkan tanganku dengan bahagia. “Berikan aku satu, cepat!”

Tuanku, pelayanmu punya kewajiban untuk mengingatkan bahwa senjata harus ditukar dengan 200cc darah.

“Apa kamu penjual di pasar hitam? Kamu harus mengihisap darahku hanya untuk mengeluarkan senjata?” dengan terkejut aku bertanya, “Itu benar! Kamu adalah kaus! Grr… benar-benar mengesalkan! Kamu ‘kaus hitam’!”

Aku sangat marah sampai menggertakkan gigi. Akan tetapi, saat menundukkan kepalaku, aku melihat bahwa walaupun sang Death Knight sudah terkepung dan luka dibadannya sudah bertambah lumayan banyak, aura hitam disekelilingnya setebal tinta. Bahkan Blaze telah menyadari ada sesuatu yang salah. Ekspresinya menunjukkan keraguan dan ketegangan, tapi sepertinya dia tidak punya niat untuk mundur.

Kamu gorilla besar, dimana peringatanku pergi? Bukannya aku sudah bilang lebih baik mundur daripada dengan keras kepala memaksakan diri?

Tidak punya pilihan lain,  aku hanya bisa berkata pada kaus, “Cepat dan berikan aku senjata!”

Sesuai permintaan tuanku.

Tepat setelah Dragon’s Saint Brigandine selesai berbicara, pinggangku tiba-tiba terasa sedikit gatal. Tanganku memegang pinggangku, dan aku cukup yakin, aku menyentuh sebuah pedang. Aku mengeluarkan pedang dalam satu tarikan…

“F***! Apa ini? Pembuka surat?”

Tuanku, ini adalah Sword Breaker3.

“Breaker? Apa-apaan?”

Aku menetap dengan tidak percaya pada pedangdi tanganku… Bukan! Sebuah belati. Benda kecil ini hanya sepanjang jarak dari sikuku ke ujung jari, yang sepertiganya merupakan gagangnya, seperti mainan anak kecil. Yang aneh dari belati ini adalah bahwa belati ini lumayan tebal, dan terlihat benar-benar kokoh. Bagian belakangnya bergerigi.

Sword Breaker, pendek dan kecil, bisa digunakan untuk membunuh. Apabila rencana penbunuhan gagal, bagian gerigi di belakang pisau bisa digunakan untuk mematahkan pedang lawan sebelum kabur.

Kedengarannya lumayan bagus.. Tapi, aku bukannya ingin membunuh seseorang!” aku memutar mataku

Bahakan kalau aku ingin membunuhnya, sang Death Knight tidak akan mati dari satu tusukan pedang kecil, oke? Lagipula, pedang di tangan Death Knight mungkin tidak akan patah walau setelah dipukul dengan palu besi.

“Apa kamu tidak punya pedang biasa? Bahkan dao juga tidak apa!”

Tuanku, pelayanmu adalah peralatan untuk pembunuh, dan tidak mempunyai senjata yang digunakan oleh kesatria.

“Jaman sekarang ini, bahkan sebuah kaus berbicara soal spesialisasi…” Mendesah, aku menundukkan kepalaku untuk melihat belati di tanganku. Gunakan ini untuk bertarung dengan Death Knight? Aku ingin menangis saat aku bertanya, “Apa kamu punya senjata lain?”

Ya, anak panah membutuhkan 100cc darah; cakar besi membutuhkan 150cc darah…

“… Lupakan aku pernah bertanya.”

Baik.

Aku mendesah sambil memikirkan strategi. Daripada memegang belati dan bergabung dalam pertarugnan, mungkin lebih baik kalau aku kembali ke wujud Sun Knight, lalu turun kebawah dan menggunakan darahku dengan atribut sucinya dan holy magic-ku untuk menolong Balze.

Bagaimanapun juga, kemungkinan besar aku tidak bisa menyelesaikan tujuan asliku hari ini. Aku tidak mungkin bisa meninggalkan Blaze disini untuk pergi menangkap putra ketiga Baron Gerland.

Tepat saat aku akan melompat turun dari atap dan menemukan tempat gelap untuk kembali ke wujud asalku, situasinya sudah mengambil kemungkinan terburuk. Aku merasakan aura hitam yang mengelilingi Death Knight tidak lagi berbentuk bola, tapi seperti sebuah pusaran air. Sang Death Knight berada di tengah pusaran, dengan terus menerus menghisap aura hitam bukan hanya dari daerah sekitar, tapi bahakan seluruh kota ke tubuhnya.

Aku dengan cepat berbalik dan tanpa berpikir, aku menusuk telapak kiriku dengan Sword Breaker, menodainya dengan darahku. Aku melompat dari atap dan berlari ke arah Death Knight, sambil menggunakan “Wings of God” dan “Light Shield” pada diriku sendiri. Hanya ada kalimat di kepalaku.

Aku tidak bisa membiarkan dia berubah menjadi Death lord!

Pada saat ini, aura hitam di lapangan kecil ini sudah cukup tebal untuk membuat mereka dengan tekad lemah mengangkat pedang mereka dan bunuh diri. Bahkan mereka yang mempunyai tekad kuat, seperti kedua puluh holy knight, pucat dan gemetaran. Hanya Blaze yang masuh mampu mempertahankan keadaaan normal, itupun dengan beberapa kesulitan.

“Tidak tau malu!” Sang Death Knight menyerap aura hitam sambil berjalan kearah Blaze. Api dimatanya sudah berubah dari merah pucat menjadi hitam keabu-abuan. Saat dia berubah menjadi Death Lord, matanya akan menjadi hitam pekat.

“Kapten, Kapten Blaze Knight..” saat kedua puluh holy knight melihat bahwa sang Death Knight berjalan kearah kapten mereka, mereka berusaha keras menggerakkan kaki mereka, berusaka maju untuk menyelematkan.

“Pergi! Kalian tidak akan bisa membantu disini, cepat pergi dan beritahu Kuil Suci.” Blaze berteriak ke para holy knight.

“Tidak! Kapten blaze Knight, kamu harus pergi dulu!” para holy knight berteriak bersahut-sahutan.

“Tidak.. satupun dari kalian.. bisa pergi! Kalian orang-orang tidak tau malu!”

Aura hitam yang menyelimuti sang Death Knight berubah dari pusaran menjadi bentuk bulat lagi, dan lalu aura hitam dengan cepat bertambah besar. Pada akhirnya, seperti lapisan cangkang telur, aura hitam menutupi lapangan kecil dengan kuat.

Bahkan kalau itu akan menunda transformasinya menjadi Death Lord, dia tetap berniat untuk melenyapkan peleton holy knight ini.

Target pertamanya adalah pemimpin dari peleton, Blaze Knight.

Blaze mengangkat pedang kembarnya. Aslinya, pedang itu diselimuti api suci, tapi sekarang berkedip seperti api lilin di tengah aura hitam yang menyelimuti langit dan bumi, seakan akan bisa padam kapan pun.

Menghadapi makhluk undead tidak pernah menjadi keahlian Blaze; api sucinya merupakan musuh alami arwah. Walaupun arwah dan makhluk undead lumayan mirip, mereka sebenarnya berbeda. Perbedaan terbesar adalah arwah tidak punya tubuh, tapi makhluk undead setidaknya punya daging.

Efek dari api suci ke arwah sekuat “saat api datang, arwah akan hilang”. Akan tetapi, saat ada tubuh, apinya akan menjadi kurang efektif. Maka, walau makhluk undead juga membenci api, tapi mereka tidak setakut para arwah.

Menangani makhluk undead selalu menjadi area keahlian Sun Knight!

Aku memegang belati, dan diam diam mendekati dua orang yang sedang bertarung…

“Siapa?” Death Knight dengan dinginnya melempar pandangan ke arahku.

Sial! Aku sebenarnya berniat meluncurkan serangan diam-diam, tapi aura suci di badanku benar benar mencolok di tengah tengah aura kegelapan. Bagi Death Knight, aku mungkin seperti obor api di malam yang gelap.

Tanpa basa basi, aku langsung menyerang Death Knight. Praktisnya, tindakan ini juga dengan jelas memberi tanda pada Blaze dan yang lain bahwa aku ada di pihak mereka.

Death Knight sepertinya tidak menganggapku serius, tapi aku memaafkan dia untuk itu. Bahkan diriku sendiri tidak bisa menanggapi seseorang yang memegang belati dan memilih untuk menyerang seseorang terang-terangan dan bukannya membunuh mereka secara diam-diam dengan serius.

Saat aku meluncurkan serangan pertamaku pada Death Knight, dia masih setengah melamun.

Sialan, kamu masih tidak menganggapku dengan serius! Apa kamu pikir aku ingin menghadapimu secara langsung dengan belati? Hanya saja sebagai Sun Knight dengan atribut elemen suci, aku mungkin lebih terang dari matahari di langit bagi Death Knight sepertimu. Tidak mungkin bagiku untuk membunuhmu, jadi apa aku punya pilihan lain selain memegang belati dan ‘membunuh secara terang terangan’?

Saat serangan pertamaku mengiris dada Death Knight, bagian depan badannya tiba tiba mengeluarkan suara mendesis, seperti ikan yang sedang digoreng. Dia juga mengerang kesakitan beberapa kali, dan menggunakan pedangnya untuk menghadang serangan keduaku.

Death Knight melihat kearahku, berkata, ”Seperti yang kuduga, itu kamu.”

Dia langsung sadar kalau aku adalah Sun Knight, sialan! Aku tidak mau ketahuan Blaze dan kesatria suci dibelakangnya kalau sebagai Sun Knight yang bermartabat, aku sebenarnya mengenakan baju hitam dan mengecat rambutku dengan warna hitam aneh dengan garis putih. Yang lebih parah adalah aku dengan bodohnya membuang Divine Sun Sword bersama akal sehatku, dan malah memilih untuk menghadapinya secara langsung dengan belati yang dikhususkan untuk membunuh secara diam diam.

Aku tidak mungkin menjelaskan diriku sendiri dengan berkata, “Aku tidak bersalah! Aku sebenarnya akan melakukan penculikan, jadi aku hanya membawa sebuah belati dan pergi.”

“Su…”

Tepat saat sang Death Knight mulai memanggilku, aku langsung berteriak, memotong di tengah-tengah. “Itu benar, ini aku! Aku adalah pemburu dengan spesialisasi memburu Death Knight, terkenal di bagian utara daratan utama, dan juga terkenal di bagian selatan daratan utama! Aku Su… Supreme dragon4!”

“Supreme Dragon?’ Blaze terdiam untuk beberapa saat, sebelum berputar dan bertanya pada para holy knight di sisinya, “Apa kalian tau Supreme Dragon?”

Duapuluh atau lebih kesatria suci di sisinya menggelengkan kepala mereka bersama dalam kesepakatan.

“Supreme Dragon…?” Death Knight sepertinya terdiam karena gelarku, dan terdengar lebih dari sedikit bingung, dia berkata, “Bukannya kamu… Sun…”

Aku dengan cepat berteriak dengan keras, “Bersiaplah untuk mati! Death Knight, karena sekarang kamu sudah bertemu denganku, pembunuh Death Knight, kamu akan mati!”

“Tapi lagi, bisa dibilang Death Knight sudah lama mati, bukan?” Blaze bergumam di satu sisi. “Ditambah lagi, apa ada sebanyak itu Death Knight untuk diburu di daratan utama?”

“Death Knight, pertarungan cepat untuk menentukan pemenang,” aku berkata pada Death Knight dengan dingin. Aku takut untuk diam ditempat ini untuk terlalu lama, identitasku sebagai Sun Knight bisa dengan diketahui , dan jelas aku tidak mau reputasi yang kutinggalkan ke generasi selanjutnya adalah “Sun Knight dengan hobi memakai kostum”.

Meski demikian, reputasiku bukan masalah, tapi kalau guruku dengan gelar “Sun Knight terkuat” menemukan kalau dia sebenarnya membesarkan ‘Sun Knight dengan fetish kostum” maka aku percaya bahwa akan ada skandal lain yang Kuil Dewa Cahaya harus tutupi.

“Berita mengejutkan! Mantan Sun Knight membunuh Sun Knight!” bukan berita utama yang Kuil mau lihat.

Aku tidak tau apa aku salah lihat, tapi setelah Death Knight diseberangku memdengar kalau aku ingin pertarungan penentuan yang cepat, dia terlihat sedikit ragu. Tapi, setelah melirik Blaze dan yang lain, dia menjawab dengan dingin, “Tepat seperti yang kuinginkan.”

Aku merasa reaksinya sangat aneh. Secara umum, seketika Death Knight bertemu dengan objek obsesinya, dia harusnya menjadi sangat gelisah sampai kehilangan akal sehat… Setidaknya, buku “Pengetahuan Dasar Makhluk Undead”-ku bilang begitu.

Tapi Death Knight sama sekali tidak ceroboh. Setelah dia selesai berbicara, dia langsung memulai menyerang. Tanpa masalah, aku melemparkan Light Ball5, yang merupakan sihir paling dasar. Selain menyediakan penerangan, bola itu tidak merusak apapun. Tapi, dengan penerangan tiba-tiba ditengah malam, langkah ini sudah cukup untuk menghalangi Death Knight yang sangat benci cahaya.

Seperti yang diduga, dia kehilangan pengelihatan karena Light Ball untuk sementara dan bahkan harus menggunakan tangannya untuk menghalangi cahaya. Dibawah mantra “Wings of God” dan efek 2x lebih cepat dari Saint Dragon Brigandine, aku menggunakan kesempatan ini dan dengan cepat muncul tepat di depan Death Knight. Kecepatannya benar-benar mengagumkan; Aku pikir bahkan Judgement Knight pun akan terdesak dengan gerakan ini.

Tentu saja, kecepatan seperti ini membuat lengah Death Knight. Walau dia masih bisa merasakan aura suci dari tubuhku bahkan tanpa bergantung pada pengelihatannya, dengan cara ini dia hanya dapat mendapatkan ide samar tentang posisiku dan tidak bisa memperkirakan gerakanku dengan tepat. Pertama tangan kiriku melayangkan pukulan ke dadanya, dan saat pertahanannya dialihkan ke dadanya, aku merendahkan badanku dan segera menusuk lututnaya dengan Sword Breaker di tangan kananku.

Jalan pikiranku adalah karena musuhku adalah Death Knight, bahkan kalau aku menusuk dadanya, paling itu akan membuat lubang di dadanya. Bagi orang biasa, ini bisa menjadi luka yang fatal, Akan tetapi, Death Knight sudah mati sampai ke tahap dimana dia tidak bisa mati lagi. Kalau soal mempunyai satu lubang lagi di dadanya, mungkin dia malah akan menikmatinya sebagai ventilasi tambahan!

Di lain pihak, kalau aku menyerang lulutnya, kerusakan di lulutnya akan mempengaruhi gerakan Death Knight dalam pertarungan. Jadi, bahkan kalau aku tidak bisa mengalahkan dia dan ingin kabur, aku tidak perlu khawatir apa Blaze dan yang lainnya akan dihabisi oleh Death Knight atau tidak.

Setelah teriak kesakitan dari Death Knight, pengelihatannya juga sudah membaik. Tapi, mentalku sudah siap. Menutup mataku, aku melepaskan Bola Cahaya lain dan mundur. Akhirnya, aku menggunakan Spell of Grease untuk mengisi area diantara aku dan Death Knight dengan lapisan pelumas.

“Argh!”

Death Knight mungkin tidak berpikir kalau ada orang yang akan menggunakan gerakan yang sama dua kali. Lebih lagi, kali ini bola cahaya meledak tepat didepan matanya. Orang bisa melihat dari caranya berteriak kalau matanya benar benar sakit!

Ini benar benar mendebarkan! Jantungku masih berdetak non-stop. Bisa dibilang rencana ini dipikirkan di tempat saat aku bergerak tadi dan menyadari bahwa gerakanku sangat cepat. Kalau aku menggunakan gerakan ini dalam situasi dimana gerakanku atau kecepatanku mengucapkan mantra tidak cukup cepat, aku pasti sudah dihabisi dengan cepat oleh Death Knight selama aku masih menutup mata!

“Orang yang mengenakan kaus hitam benar-benar hina,” Blaze berkomentar. Blaze berdiri di satu sisi dan menjelek-jelekkanku… Aku akan membiarkannya lewat, tapi untuk mengatakannya dengan keras sampai terdengar olehku? Habis kamu!

Salah satu dari holy knight membuka mulut, “Aku mengerti sekarang! Jadi Supreme Dragon adalah…”

Uh oh! Jangan-jangan mereka sudah menyadari kalau aku adalah Sun Knight?”

Para holy knight berkata dengan kompak, “ seorang pem-bu-nuh ba-ya-ran ma-gis !”

Aku hampir terpeleset dan jatuh. terakhir kali aku adalah swordmage, dan kali ini aku menjadi pembunuh bayaran magis?

Sialan! Aku hanya seorang kesatria suci yang menggunakan peralatan pembunuh bayaran dan menggunakan sihir, ok?! Aku tidak punya pekerjaan aneh seperti itu dimana aku belajar sihir dan menjadi pembunuh bayaran… ngomong-ngomong, memang ada pekerjaan seperti pembunuh bayaran magis?

Sh*t! Perhatianku dialihkan oleh Blaze dan yang lain, dan sebagai hasil sang Death Knight sudah menerjang ke arahku. Aku mencoba kabur, tapi aura hitam yang digunakan untuk mencegah Blaze dan yang lain dari kabur tiba-tiba meliputiku. Kecepatan Death Knight sangat cepat sampai aku tidak bisa bereaksi tepat waktu sama sekali, dan holy light yang tidak memerlukan mantra juga tidak bisa menembus aura hitam disekitarku.

Tanpa bisa melakukan apapun, aku akan segera dibagi menjadi 8 potong kecil oleh Death Knight yang marah. Pada saat ini, satu satunya gerakan yang bisa menyelamatkan hidupku muncul di kepalaku. Aura hitam disekelilingku sangat pekat samapi kalau aku menggunakan mantra itu, aku mungkin bahkan tidak perlu mengucapkan mantranya…

“Bone Prison6!”

Dinding sederhana dan simple yang terbuat dari tulang tiba-tiba muncul diantara Death Knight dan diriku.

Aku menggunakannya! AHHHHHHHH! Aku menggunakan necromancy yang diajarkan Pink padaku!

 Ya Tuhan, aku telah menjadi necromancer! Tidak bisa! Sebagai Sun Knight, aku tidak bisa menggunakan sihir hitam seperti ini…

BAM! BAM!

Death Knight mengayunkan pedangnya dua kali, dan temboknya hampir rubuh. Dalam sekejab, ayunan ketiga akan mencincang penjara tulang menjadi tumpukan barang rusak.

“Bone prison! Bone Prison! Bone Prison!” Aku menbangun tiga dinding dalam satu tarikan napas.

“Salah!” Supreme Dragon adalah…”

Sh*t! Blaze telah membuktikan kalau dia benar-benar berasal dari faksi “lembut dan baik hati” sepertiku! Aku takut dia telah mengenaliku dari gerakanku…

“Adalah necromantic assassin!”

“…”

Aku tiba tiba mempunyai keinginan untuk membuang diriku dalam keputusasaan. Saat itu, serangan terus-menerus Death Knight telah hampir menghancurkan ketiga penjara tulang. Aku kehilangan akal untuk kabur, dan hanya mengambil kesempatan saat Death Knight masih menyerang penjara tulang untuk mengucapkan mantra. Aku melemparkan holy light yang telah ditingkatkan. Holy Light bukan hanya memaksa mundur aura hitam disekeliling, tapi juga memaksa mundur Death Knight lebih dari sepuluh langkah.

Kali ini, mereka pasti akan tahu kalau aku bukan pembunuh bayaran magis atau necromantic assassin!

“Semuanya salah!” Blaze dan kesatria suci yang lain berkata, “Jadi Supreme Dragon sebenarnya adalah seorang…”

Hohoho! Akhirnya, aku tertangkap basah! Walaupun mereka tidak bisa menebak kalau aku adalah Sun Knight, paling tidak mereka tau kalau aku adalah seorang holy knight, kan? Aku merasa sedikit lega.

“Holy assassin!”

Pfffft!

Aku menatap pada situasi dimana bahkan sang Death Knight tidak bisa menahan dirinya sendiri dari tertawa dengan pandangan kosong. Benar benar keajaiban dari God of Light! Kesatria suci kami berhasil membuat Death Knight yang mendendam tertawa.

Aku berteriak pada sekumpulan idiot, “Holy assassin kepalaku! Apa mungkin selain para kesatria, God of Light juga akan membesarkan pembunuh bayaran? Sialan! Aku Sun Knight!”

Sialnya, kalimat diatas cuma teriakan hatiku. Kecuali aku ingin guruku mengirimkanku ke God of Light untuk diajar ulang, aku hanya bisa membayangkannya dikepalaku.

“Baiklah, kita telah menonton untuk terlalu lama. Walau aku tidak tau siapa orang dengan kaus hitam, tapi dia sepertinya bukan musuh. Ayo maju dan kalahkan Death Knight bersama-sama.” Blaze berbalik untuk berteriak pada dua puluh atau lebih holy knight.

“OK!” Para kesaria suci beteriak dengan semangat tinggi.

Aku menganggukkan kepala. Denga Blaze dan diriku, ditambah dengan para kesatrai suci, aku percaya bahwa kami dapat menangkap atau membunh Death Knight ini.

Pada saat ini, sang Death Knight denga cepat mengubah aura hitam untuk memisahkan kami dari Blaze dan yang lain, dengan sukses mengurung kami berdua.

“Grisia, kamu sudah menjadi lebih kuat, bagus.”

Mendengar namaku sendiri, aku membeku. Walau namaku bukan rahasia, sangat sedikit orang yang memanggilku dengan nama ini. Mungkin Death Knight ini kenalanku?

“Grisia, kalau kamu tidak terpilih sebagai Sun Knight, menjadi cleric juga tidak terlalu buruk! Kamu bisa membantu menyembuhkan lukaku nanti.”

Death Knight mengatakan sesuatu yang tidak cocok dengan situasi saat ini sama sekali.

Tapi, aku tidak bisa lebih familiar dengan kata ini… dan aku sangat heran. Sekarang aku baru akhirnya melihat wajah Death Knight dengan seksama. Walau sebagian besar wajah Death Knight berwarna keabuan, dan bola matanya berbentuk api, tapi ekspresi serius itu dan bibirnya yang dikatup dengan ketat terasa sangat familier. Aku akhirnya mengenali siapa dia, atau harus kubilang, siapa dia saat dia masih hidup.

“Roland? Kamu Roland?!” Aku berteriak, sangat gelisah. Kenapa bisa Roland?

Roland, knight muda berambut coklat yang permainan pedangnya diperkirakan tiga kali lebih baik dariku, yang bersaing denganku untuk posisi Sun Knight…

Tapi sekarang dia telah menjadi Death Knight.

“Kamu masih mengingatku.” Roland menunjukkan senyum puas

Senyum itu membuatku makin yakin kalau dia adalah Roland. Aku masih ingin bertanya bagaimana dia menjadi Death Knight saat bunyi keras datang dari luar.

“Judge! Cepat, disini…”

Roland juga menyadarinya. Dia berbalik, ingin kabur. Tapi, menolehkan kepalanya untuk melihatku dengan ragu, jelas-jelas takut padaku.

Aku tiba-tiba tidak tau harus berbuat apa. Hatiku berteriak sekuat tenaga, Cegat dia! Dengan kemampuanku, bahkan kalau aku tidak bisa menang melawannya, menghalanginya merupakan tugas mudah.

Ditambah lagi, Kapten Judgment Knight sangat kuat. Dengan ambahan seluruh peleton kesatria suci yang pasti bawanya, ditambah dengan Blaze dan peleton Blaze Knight-nya, bahkan kalau aku tidak ikut campur, mereka pasti masih bisa membunuh Death Knight. Aku adalah Sun Knight dan tidak peduli siapa Death Knight yang ada di depan mataku, dia masih musuhku.

Saat ini, sosok Judgment Knight dan yang lain sudah tampak.

Tidak bisa tinggal lebih lama lagi, Roland berbalik dan kabur.

Aku menatap kosong selama beberapa detik, memandang sosok berlarinya mengecil. Lalu aku juga berbalik untuk kabur, untuk mencegah diriku ditangkap oleh Judge.

Aku adalah Sun Knight, tapi aku juga masih Grisia. Kalau aku harus memegang teguh prinsip Sun Knight dan memusnahkan Death Knight ini, maka paling tidak aku bisa memilih metode pemusnahan.

Roland, aku bersumpah aku akan menemukan pembunuhmu dan membalaskan dendam-mu.

[ Sun Knight Volume 1 Chapter 7 Selesai]

1 Mata dikaburkan oleh daging kerang: Pribahasa Cina “眼睛被蛤蜊肉糊到” yang dianggap vulgar. Artinya seorang lelaki yang terpikat pesona seorang wanita sampai tidak menghiraukan apapun yang ada disekitarnya.

2 Peleton: unit militer yang terdiri dari dua atau empat regu dan terdiri dari 30 sampai 50 prajurit (Untuk informasi lebih lanjut, lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Peleton)

3 Sword Breaker: Belati yang dikeluarkan oleh Saint Dragon Brigade, terjemahan literal ‘pemecah/pemutus pedang’. Dapat digunakan untuk mematahkan pedang musuh.

4 Supreme Dragon: Nama Sun di Cian diucapkan dengan kata Tai Yang. Dalam kasus ini, Death Knight mengatakan “Tai” sebagai kata pertama dari nama Sun, dan Sun sendiri menamakan dirinya sebagai Tai (Yang terhebat/ekstreme) Long (naga). Supreme Dragon disini adalah nama yang digunakan di terjemahan bahasa Inggris, dan digunakan juga dalam terjemahan Bahasa Indonesianya.

5 Light Ball: Terjemahan literalnya ‘Bola Cahaya’. Efeknya kurang lebih seperti Holy Light, namun versi lebih intens dengan ruang lingkup lebih sempit.

6 Bone Prison: Terjemahan literalnya ‘Penjara Tulang”. Mantera untuk memunculkan dinding tebal yang terbuat dari tulang.

The Legend of Sun Knight V1C6: “Bangunlah Jaringan Sosialmu! Jagalah Hubungan Baik dengan Orang Lain, Bahkan Jika Ia Adalah Mayat”

Legenda Kesatria Surya volume 1: Sebuah Pengenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh : 御我 (Yu Wo)


Peraturan Keenam Seorang Ksatria Matahari: “Bangunlah Jaringan Sosialmu! Jagalah Hubungan Baik dengan Orang Lain, Bahkan Jika Ia Adalah Mayat” diterjemahkan oleh saintazura

“Sun akan baik-baik saja kan? Kemampuannya untuk menyembuhkan diri sangat kuat…”

“ Kamu tidak melihat wajahnya ketika pingsan; dia terlihat seperti orang mati.”

Tidak sopan, siapa yang kamu bilang terlihat seperti orang mati?! Sebenarnya, aku ingin berguling ke sisi lain kasur, tapi tubuhku terasa terlalu berat. Lupakan sajalah, aku akan melanjutkan tidurku saja.

“Yang mulia Paus, keadaan Sun tidak serius kan? Itu tidak mungkin, benarkan?”

“Dia belum bergerak selama dua hari…”

Jadi aku sudah tidak  bergerak selama dua hari? Tak heran bokongku sedikit gatal; apa tidak ada yang bisa datang dan membantuku mengganti posisi? Bagaimana kalau aku terkena luka baring1?

Sun Knight terkena luka baring… apa yang akan terjadi kalau ini tersebar ke publik!?

Aku beringsut di kasur dengan sekuat tenaga saat dengan takut membayangkan penampilanku yang mengerikan, dipenuhi luka baring. Tindakan ini memakan semua tenaga yang telah kukumpulkan dengan susah payah, dan sebagai hasilnya, aku tertidur lelap sampai aku bahkan tidak bisa mendengar percakapan disebelah tempat tidurku.

“Apa yang harus kita lakukan? Sun sudah pingsan selama lima hari sekarang. Kalau seperti ini, dia akan terus melemah dan mati…”

“Keluar!”

“Apa?”

“Aku bilang, semuanya keluar!”

Setelah itu, ada banyak pertikaian, raungan kemarahan, dan suara orang bertengkar. Gabungkan semua itu, dan tempat ini seribut neraka!

Apa kalian tidak sadar disini ada orang yang terluka parah? Apa kalian tidak bisa lebih tenang?!

Aku membalikkan badanku dengan kesal, memblok semua suara dibelakangku dengan bokongku, dan kemudian melanjutkan tidur dalam damai…

“Sun, bangun!”

Aku menyelipkan kepalaku ke dalam selimut, dan melanjutkan tidur.

“Grisia Sun, bangun dari tempat tidur itu sekarang!”

Aku membeku… Grisia?

Ah, sudah lama sekali semenjak aku mendengar nama itu sampai aku lupa bahwa namaku adalah Grisia.

Dari hari aku mengambil posisi sebagai Sun Knight, semua orang sudah memanggilku Sun. Tapi sebenarnya, hanya nama terakhirku yang diubah menjadi Sun sat aku menjadi Sun Knight. Kedua belas Holy Knight masih mempertahankan nama asli mereka; hanya saja tidak ada seorang pun yang akan memanggil nama pertama kami.

Oleh karena itu, aku selalu lupa nama kapten dua belas Holy knight yang lain. Sebagai contoh, aku tidak pernah bisa ingat nama Kapten-Leaf Knight itu Elmairy atau Strawberry…

Untuk memanggilku dengan nama lengkap, sepertinya Lesus Judgment benar benar sangat marah. Sepertinya bila aku masih menolak untuk bangun, mungkin aku tidak akan pernah bisa bangun lagi…

Aku membuka mataku dengan sangat enggan, dan mengeluarkan kalimat pertamaku dalam lima hari dengan suara parau, “ Apakah akan membunuhmu untuk membiarkanku tidur sebentar lagi?”

“…Ha.”

Ekspresi dingin diwajah Judgement akhirnya hilang. Ujung bibirnya membentuk senyum, dan dia mengelengkan kepala dan tertawa, dengan ekspresi “apa-yang-harus-kulakukan-dengamu”. Dia membawa semangkuk bubur ikan, aromanya menyebar kesegala arah. Bahkan remah favoritku, setumpuk besar daun ketumbar, ditabukan diatasnya!

Kruyuk…

Aku melompat dari kasurku seperti pegas sebagai respon, dan dengan wajah rakus dikurangi mulut penuh air liur, aku mengulurkan tanganku untuk mengambil semangkuk penuh bubur gurih…

Tetapi, Judgment memindahkan mangkuk itu keluar jangkauanku secepat angin, tepat saat aku akan meraihnya.

“Lesus Judgment!” aku memangil nama lengkap Kapten Judgment Knight dengan nada sedih.

Lesus memberikan mangkuk itu kepadaku sambil berbicara dengan perlahan dan hati-hati, “Jangan lupa makan dengan pelan. Kamu hanya minum air gula selama lima hari, jadi sakit perut akan menjadi kekhawatiran terkecilmu kalau makan terlalu cepat.”

Aku mengambil mangkuknya dan mulai memakan sesuap kecil bubur dengan ekspresi menderita.

“Sejujurnya kamu seharusnya memakan sesuatu yang lebih polos. Aku seharusnya tidak menambahkan daun ketumbar.” Judgment melihat ke mangkukku dengan alis tertekuk dan mengeluarkan desah yang hampir tidak terdengar. “Tapi kalau aku tidak menambahkan mereka, kamu pasti akan menolak untuk memakan bubur tanpa rasa.”

Judgment sangat mengenalku – orang seperti apa yang mau makan bubur polos!

Judgment duduk disebelahku. Saat aku memakan buburku, dia mengeluarkan beberapa dokumen dan mulai merevisi. Dia benar –benar orang yang tidak membuang waktu.

Rasa lapar dan hausku dari lima hari lalu akhirnya terpuaskan setelah aku meletakkan mangkukku dan meminum sebotol penuh air dengan rakus.

Saat Judgment melihat aku telah makan dan minum sesuai keinginan hatiku, dia akhirnya meletakkan dokumen ditangannya dan menaikkan kepalanya untuk melihatku.

Walaupun Judgment tidak mengatakan apa-apa, aku mengerti kalau dia ingin aku menjelaskan situasi secara menyeluruh. Jadi, aku segera menjelaskan apa yang terjadi, dimulai dari saat aku mencari Pink.

Fakta bahwa aku bekerjasama dengan necromancer-Hus! Bukan “bekerja sama”, tapi “berhubungan”- secara teori ini merupakan rahasia, tapi Judgment merupakan teman baikku. Aku tidak pernah menyimpan rahasia darinya sebelumnya. Karena itu, wajar saja untuknya mengetahui keberadaan Pink, necromancer yang dibayar khusus oleh gereja.

Setelah Judgment mendengar semuanya, dia mulai jatuh dalam pikiran bahkan saat aku menopang diriku di ujung kasur dengan sebelah tangan sementara tanganku yang satunya mencari sesuatu dibawah kasur … Aku ingat kalau aku ada menyelundupkan sepotong besar daging asap di bawah sini, sekarang dimana? Aha! Ini dia.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menggigit sepotong daging asap yang lebih besar dari kepalaku sambil memperhatikan ekspresi Judgment. Biasanya, dia akan selalu terlihat dingin sementara aku selalu tersenyum. Tapi, di bawahnya dan di balik pintu dimana tidak ada orang yang bisa melihat, kami berdua bisa menunjukkan berbagai macam ekspresi konyol. Sebagai contoh, aku sekarang sedang menunggingkan bokongku tinggi diudara sambil mencari daging asap di bawah tempat tidurku.

Judgment mengangkat kepala dengan ekspresi ragu. Saat dia melihatku sedang makan daging asap, ekspresinya berubah dan merebut daging asap dariku. Dia mengerutu pelan, “Kamu benar benar tidak peduli kesehatan sama sekali.”

Aku menunjukkan ekspresi seorang korban. “Tapi aku masih lapar…”

“Aku akan mengambilkan semakok bubur sebentar lagi,” Judgment berkesikeras. Dia bahkan menyelipkan daging asapku dibalik jubahnya untuk menghetikanku makan lagi.

“Aku sudah memeriksa pedang yang kamu bawa kembali.” Benar-benar Judgment, langsung ke inti permasalahan tanpa basa-basi.

Aku memiringkan kepalaku sampai aku mengingat kalau pedang yang dia bicarakan mengacu pada pedang yang digunakan oleh kesatria yang kutendang di rumah kecil di tempat eksekusi.

“Oh? Jadi kamu menemukan pemilik pedang itu?”

Pangkal pedangnya dihiasi dengan Lambang Anggrek keluarga Gerland. Untuk mengakibatkan luka sedalam itu di bahumu dan membuatmu memilih lari, paling tidak dia harus seorang master knight2. Keluarga Gerland hanya punya tiga master knight : putra ketiga Baron Gerland, ditambah dua knight lainnya yang sudah bersumpah untuk setia pada keluarga Gerland.”

“Pelakunya yang mana?” Aku bertanya tanpa ragu-ragu. Aku percaya pada kemampuan Judgement, dia pasti bisa menemukan 70% atau 80% fakta dari pedang yang kubawa.

Judgment terdiam sejenak, dan akhirnya dia membuka mulut dan menjawab, “Mengenai putra ketiga Baron Gerland, orang yang dia berikan sumpah untuk setia adalah putra mahkota.”

Aku ikut terdiam. Aku kemudian bertanya dengan sedikit harapan, “ Apa kamu yakin putra ketiga baron pelakunya?”

Walaupun aku menanyakan pertanyaanku seperti itu, pertanyaan yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah, apa benar putra mahkota pelakunya?

Untuk seorang knight yang menghormati namanya lebih dari apa pun juga, untuk melakukan sesuatu yang sekeji menelantarkan mayat hanya mungkin bila ada perintah dari tuannya. Kalau putra ketiga dari baron benar benar menyatakan kesetiaannya pada putra mahkota, maka yang telah menyiksa mayat itu tidak mungkin orang lain.

Judgment mengangguk. “Baron Gerland punya dua kesatria yang bersumpah untuk setia kepadanya. Satu diantaranya sedang keluar kota, dan satunya lagi sedang berpatroli di kota seharian. Bahkan ada beberapa kesatria lain yang memberikan kesaksian.”

“Putra mahkota… menyiksa seseorang sampai mati?” Ada sedikit ekspresi terkejut di wajahku. Ini tidak seperti sesuatu yang akan dilakukan oleh putra mankota yang bertanggung jawab dan lembut

Setelah aku mengucapkan kalimat ini, seluruh ruangan menjadi diam dan udara serasa mencekik. Aku pikir ini karena masalah ini terkait dengan putra mahkota. Apabila ini benar, permasalahannya jadi runyam. Bahkan walaupun kami membuktikan bahwa putra mahkota bersalah dari hasil penyelidikan, apa kami bisa mengirimkan satu-satunya penerus takhta ke tiang gantungan?

“Di luar…” Judgment tiba tiba membuka mulutnya dan mengucapkan satu kata sebelum terdiam lagi.

Melihat Judgment, aku merasa bahwa dia sedikit aneh hari ini. Biasanya saat cuma berdua, ekspresinya akan menjadi lebih santai dan tersenyum. Senyumnya, yang sedikit kaku karena saking lamanya tidak tersenyum, ditambah dengan sikap dinginnya, akan memberi kesan keseluruhan yang terlihat lumayan konyol.

Tapi hari ini, wajahnya terlihat tegang, dan senyum pertamanya, terlihat palsu. Aku yakin itu palsu karena itu adalah senyum yang sama dengan yang kukenakan setiap hari.

Aku memandangnya, dan dia memandang balik kearahku. Suasana aneh dan berat yang sebelumnya belum pernah muncul sebelumnya mulai terbentuk diantara kami. Mata hitam Judgment yang selalu penuh tekad terlihat agak berkelip, dan aku bahkan dapat melihat keraguannya dari caranya mengerutkan alis.

“Ada apa…?” Aku menarik rambut emasku yang bersinar, lalu mendorong Judgment dengan kasar dan berkata, “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bilang, bilang saja. Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, atau aku akan membawamu jatuh bersamaku.”

Awalnya Judgement ragu-ragu, tapi dibawah tatapan tegasku, dia cuma bisa menghela napas dan berkata, “Di luar, seluruh kota ramai dengan rumor bahwa kamu adalah orang yang telah menyiksa sang Death Knight sampai mati.”

Saat mendengar hal ini, aku sangat terkejut sampai sampai seluruh tubuhku menjadi kaku, Judgment masih terus berbicara.

“Sang Paus telah memberikan perintah bahwa kita tidak perlu menginvestigasi masalah ini lagi. Sekarang kita harus menahan sang Death Knight dengan seluruh tenaga, dan mengatakan bahwa dia adalah seorang kriminal berat yang telah melakukan banyak kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Saat kamu akhirnya menangkapnya, dia berulang kali menolak untuk mendengar nasihatmu, dan akhirnya dia ditarik oleh pihak Judgment dan dihukum mati. “ Saat Judgment mengatakan kalimat tersebut, nadanya terdengar tenang, seakan akan dia sedang mengatakan hal yang sebenarnya.

Tapi itu jelas-jelas bukan apa yang sebenarnya terjadi!

Api kemarahan membara di dadaku. Aku tidak tau apa aku harus marah karena Death Knight itu difitnah, atau karena aku telah menyeret tubuh lemahku untuk menyelidiki hal ini, hampir mati karenanya, hanya untuk menerima perintah “tidak perlu menyelidiki lebih lanjut”!

Bagaimanapun, api di dadaku tiba tiba berkobar tiba-tiba seperti kebakaran di padang rumput. Yang aneh adalah, anggota tubuhku terasa dingin, dan aku bahkan mengeluarkan keringat dingin.

“Tenang.” Judgment menyadari ada sesuatu yang aneh denganku, dan menepuk bahuku dengan cemas.

Aku menepis tangannya, dan ini menyebabkan kami berdua terkejut untuk beberapa waktu.

Dia menarik tangannya, masih terdiam. Aku tidak bisa mengontrol mulutku, jadi aku terus menekan investigasiku, “Kamu tidak percaya padaku saat aku berkata aku tidak membunuh Death Knight itu?”

Judgment terkejut, dan kemudian mengangkat kepalanya untuk melihatku. Setelah beberapa saat, dia berkata, “ Aku percaya pada bukti.”

Saat aku mendengar ini, hatiku mencelos.

Judgment menganalisa kasus ini dengan hati-hati, “ Berdasarkan keadaan saat ini, memang mungkin bahwa putra mahkota membunuh Death Knight, dan kemudian memerintahkan kesatrianya untuk membuang mayatnya di tempat eksekusi…”

“Tapi, juga mungkin kalau aku yang melakukannya, benarkan?” Aku memotong Judgment dengan suara keras. Judgment jelas terkejut, tapi dia tidak membantah kata-kataku. Aku menjadi lebih marah, dan aku tidak bisa menghentikan diriku untuk terus berbicara.

“Bagaimanapun juga, orang yang menjadi subjek kebencian Death Knight adalah aku, dan aku adalah orang yang menceritakan seluruh kejadian di tempat eksekusi. Aku juga membawa pedang itu kembali. Siapa tau, mungkin aku mengarang semua ini. Aku mungkin berpikir apabila aku mengalihkan semua masalah ke putra mahkota, tidak akan ada orang yang berani untik menyelidiki, tidak peduli putra mahkota adalah pelakunya atau bukan. Benar kan, Kapten-Judgment Knight?

Aku mengatakan seluruh kalimaat dalam satu tarikan nafas, dan aku bahkan kehabisan nafas setelah aku selesai. Jantungku memberontak dengan liar. Aku tidak tau kalau ini karena aku benar-benar kelelahan dari berbicara atau api di dadaku mengancam untuk melarikan diri.

Judgment terdiam untuk waktu yang sangat, sangat lama, dan kemudian dia mengatakan satu kalimat, “Itu mungkin terjadi.”

“Mati saja kau! B********!” aku sangat marah sampai aku mengeluarkan geraman rendah.

Dengan ekspresi gelap, aku melompat dari kasur dan membuka lemari terdekat. Aku mengeluarkan jubah cadanganku, dan melirik Divine Sun Sword disamping lemari, bertengkar dengan diriku sendiri apa aku harus membawanya bersamaku. Tapi pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak mengambilnya, karena aku masih belum tau apa tepatnya yang akan kulakukan. Aku hanya ingin melampiaskan kemarahanku!

“Sun, kamu mau pergi kemana? Badanmu…” Judgment tiba-tiba berdiri, wajahnya penuh dengan ketidak-setujuan.

“Aku akan menanyakan sesuatu pada Pink!” aku memotong kalimat Judgment, dan aku tidak bisa menghentikan diri untuk menambahkan dengan sarkastik, “Kalau kamu tertarik, kamu bisa menambahkan ‘bertemu dengan seorang necromancer’dalam daftar kejahatanku sekalian.”

“Kamu…” Wajah Judgment menjadi hitam, dan dia memang terlihat lumayan marah.

Oh tidak! Aku tiba-tiba merasa sedikit bersalah. Aku seharusnya tidak mengatakan kalimat terakhir, dan sekarang aku tidak sengaja membuat Judgment marah… Ah! Aku tidak peduli lagi. Dia mungkin marah, tapi aku lebih marah lagi!

Aku akan pergi dan mendiskusikan masalah ini dengan Pink terlebih dahulu. Dengan ide ini dikepalaku, aku memutuskan untuk memulai saat ini juga, dan aku hamper keluar dari pintu dengan jubah di tanganku saat aku mengingat sesuatu yang penting pada saat terakhir. Aku menoleh kearah Judgment dan berkata, “Oh ya, jangan menyebarkan omong kosong dari paus. Aku akan menemukan kebenarannya.”

Saat aku menyelesaikan kalimatku, Judgment terdiam lagi. Ini membuatku sedikit khawatir, karena biasanya temanku ini akan mengabulkan permintaan apa pun dariku tidak peduli apa permintaannya, bahkan untuk alasan bodoh seperti menolongku untuk misi bertarung, menolongku menyelidiki kasus, atau menolongku menghukum yang lain dengan nama keadilan, tapi untuknya terdiam sekarang… Ini buruk! Aku seharusnya tidak membuatnya marah barusan.

Untungnya, toleransi Judgment lebih tinggi dari yang kubayangkan. Dia hanya mempertimbangkan untuk beberapa saat sebelum menjawab, “ Aku hanya bisa menutupimu paling lama tiga hari.”

“Ok, tiga hari sudah cukup!” Aku dengan cepat setuju saat aku memakai jubah cadanganku dan berbalik untuk meninggalkan ruanganku.

“Penjaga toko, beri aku lollipop strawberry terbesar, termanis, dan ter-pink yang ada di toko!”

Dalam satu tarikan napas, aku melemparkan satu dukat perak sebagai ganti lollipop yang bahkan lebih besar dari kepalaku. Aku langsung merasa menyesal. Kenapa aku berpura-pura keren!? Aku kehilangan satu dukat perak dari simpanan pensiunku lagi!

Dengan penuh penyesalan, aku menuju rumah Pink. Kali ini, aku tidak tau dia sudah tau sebelumnya aku akan datang, atau dia hanya kebetulan sedang menikmati matahari di depan pintu. Bagaimanapun juga, saat aku sampai dirumahnya, dia sudah bersandar di kusen pintu, pandangannya terpaku pada lollipop strawberry raksaasa ditanganku, air liurnya menetes sampai hampir tiga kaki.

Saat dia melesat kearahku, aku buru-buru mengangkat lollipop diatas kepalaku, jadi necromancer kecil yang satu ini tidak bisa meraihnya tidak peduli sekuat apa dia berusaha untuk meraihnya. Akhirnya, dia  cemberut, memegang pipinya dikedua tangan, dia meringkuk di lantai dan memandangku dengan ekspresi sedih.

“Apa sang Death Knight datang kembali?” aku bertanya sambil melambai-lambaikan lollipop.

Pink menelan air liur, “Ya.”

Waktu aku mendengar ini, aku berpikir, Aha! Akhirnya kita mendapatkan sesuatu.

“Apa dia masih mengambil perintah darimu, necromancernya?“ tanyaku.

“Dari awal dia tidak pernah benar-benar penurut. Semua Death Knight tidak penurut. Aku menyuruhnya menyapu lantai dan mengelap meja, tapi dia mengacuhkanku.” Pink menjawab sambil cemberut.

Untuk memerintahkan seorang Death Knight untuk menyapu lantai dan mengelap meja… Ok, karena bahkan sang Sun Knight yang terhormat membantunya menjalankan tugas dan membeli lollipop untuknya, tidak terlalu aneh untuk seorang Death Knight untuk bersih-bersih untuknya.

“ Aku jadi teringat Sun, jangan pergi memprovokasi dia. Dia sangat kuat sekarang; kamu tidak bisa mengalahkan dia dalam pertarungan.” Pink memberi peringatan.

Aku memandangi Pink. Mayat pecinta kerusuhan satu ini memberi tau aku untuk menjauh dari Death Knight?

Pink bergumam, “Kalau kamu dicincang oleh Death Knight, maka bahkan aku tidak bisa menjahitmu dan menghidupkanmu lagi. Maka aku akan kehilangan murid!”

Saat dia selesai berbicara, dia menarik mantelku dan bertanya dengan tegang, “Kapan kamu akan jadi muridku?”

“Tunggu sampai aku mati.”

Ini bukan penolakan!

Beberapa tahun yang lalu, saat aku masih muda dan naïf, aku meminta pertolongan Pink cuma karena aku tidak bisa menyelesaikan sebuah misi. Tentu saja dia tidak akan menolongku secara gratis, jadi aku sudah berjanji untuk membelikannya lollipop sebagai imbalan, rok warna pink yang cantik, dan sepasang mayat -wanita cantik dan laki-laki tampan- yang masih belum membusuk… yang memaksaku untuk menggali kuburan selama sepuluh hari untuk menemukan mayat yang memenuhi persyaratan untuk membayar hutangku padanya.

Pada akhirnya, aku tidak punya benda tersisa untuk dijual padanya. Aku menggertakkan giggiku. Baik! Aku tidak punya pilihan selain untuk menjual “kehidupanku setelah mati”.

Setelah itu, aku tidak berani pergi ke Pink untuk menelesaikan masalahku lagi, takut kalau aku bahkan akan menjual aku yang masih hidup suatu hari nanti.

“Apa obsesi Kesatria Kematian satu itu?” Aku mengangkat lollipop tinggi tinggi di udara, berharap lollipop seharga satu dukat dari simpanan pensiunku akan cukup untuk memuaskan Pink.

Pink memegang kedua pipinya, dan matanya memandang ke arah lollipop, masih menolak untuk menyerah. Dia berkata dengan nada kesal, ”Aku tidak tau! Dia menolak untuk memberitauku.”

“Lalu siapa yang membunuhnya?”

Pink melihatku dengan pandangan aneh, dan berkata seakan-akan sedang mengucapkan fakta, “Bukannya kamu yang membunuhnya?”

“Aku tidak membunuhnya!” Aku sangat marah sekarang sampai aku hampir kehilangan kendali.

“Oh, jadi itu bukan kamu…” Pink berkata dalam nada panjang dan matanya memandang jauh. Jelas sekali bahwa dia tidak mempercayaiku sama sekali.

Gadis kecil ini… Aku merapatkan gigiku dengan frustasi, tapi tidak punya keberanian untuk menggigit Pink. Kalau aku melakukan itu, aku mungkin akan mati karena keracunan makanan dari mencicipi dagingnya yang sudah membusuk.

Ditambah lagi, aku masih harus bergantung padanya untuk membersihkan namaku. Maka, aku harus mengerahkan seluruh kemampuan tersenyumku dan memasang senyum paling murni, paling lugu, paling kasihan. Aku jamin bahwa dari sepuluh wanita yang melihat senyum ini, sepuluh dari sepuluh akan tiba-tiba merasakan kasih sayang seorang ibu dan akan datang berlarian untuk mencium pipiku …Ahem! Maksudku mereka akan merasakan simpati tak terbatas kepadaku.

Seperti yang diduga, mata Pink bersinar dengan sinar terang dan kemudian berlari menuju diriku dengan antusiasme sebuah bola api kecil. Tangannya direntangkan seakan akan ingin dipeluk, dan dia… mengambil lollipop ditanganku.

Aku melihat pada tangan kosongku. Jadi gadis kecil ini berlari kearahku karena aku lupa memegang lollipop tinggi-tinggi, jadi dia mengambil kesempatan ini untuk mengambilnya dari tanganku!

Sekarang karena aku sudah tidak punya lollipop lagi, bagaimana aku bisa meminta tolong dari Pink? Aku tidak bisa benar-benar menjual “diriku yang masih hidup”! Aku hanya bisa duduk di lantai dengan kecewa.

Pink berjongkok disebelahku sambil menjilat lollipop. Untungnya, dia masih punya sedikit kesadaran, menepuk pundakku untuk menenangkanku, berkata, “Jangan sedih, Sun. Kalau kamu benar-benar tidak membunuh Kesatria Kematian, temukan saja pelaku sebenarnya dan segalanya akan baik-baik saja, benarkan?”

“Mudah untukmu bicara.” Jawabku, memutar bola mata. “Kasus ini melibatkan putra mahkota. Aku tidak bisa muncul seenaknya di depan putra ketiga baron dan bertanya, “ Hey! Apa semua kekacauan ini disebabkan putra mahkota?”

Pink memiringkan kepalanya sambil berpikir dan kemudian berkata, “ Kalau kasusnya seperti itu, kamu bisa menangkap dia dan membawanya kepadaku, dan aku akan menolongmu menanyainya secara gratis.”

“… kamu pikir kejahatan dari menyiksa seseorang sampai mati lebih parah daripada bersekongkol dengan necromancer?”

Tanpa terduga, Pink menunjukkan ekspresi “kamu tidak punya harapan” di wajahnya. Dia menggelengkan kepala dan menghela napas, “Bodoh! Memang kamu tidak bisa menangkap dia sambil menutupi wajahmu?”

Mendengar jawabannya, aku mulai merasa sedikit tergoda. Tidak peduli siapa pun yang jatuh ke tangan Pink, satu satunya pilihan mereka hanya berbicara yang sebenarnya. Aku bisa menghindarkan diriku dari banyak masalah dengan cara ini…

Tunggu sebentar! Putra ketiga Baron Gerland adalah seorang master knight yang kemampuannya tidak bisa diremehkan! Walaupun aku bisa menang melawannya dalam pertarungan dengan bantuan sihir suciku dan Divine Sun Sword, untuk menang dan menangkapnya hidup-hidup adalah dua hal yang benar-benar berbeda!

Apalagi, kecuali semua orang di kediaman baron sudah mati, mereka pasti akan menolong putra ketiga baron. Apapun yang terjadi, aku bahkan tidak akan tau bagaimana aku mati!

“Dia terlalu kuat dan punya banyak penjaga didekatnya. Aku tidak bisa menangkapnya. “ Aku bahkan lebih putus asa sekarang.

“Omong kosong! Kamu adalah murid pilihanku!” Pink cemberut, dan kemudian dia menarik tanganku dan menarikku ke rumahnya. Mayat satu ini mungkin terlihat seperti gadis kecil, tapi kekuatannya setara dengan kerbau. Aku tidak bisa membebaskan diriku sendiri dari cengkramannya sama sekali, dan hanya bisa membiarkan diriku ditarik menjauh.

Hiks! Perasaan ditarik oleh seorang gadis kecil sungguh mengerikan! Dua-pertiga dari tubuhku menyeret tanah….

Wham!

Setelah menarikku kedalam rumahnya, dia membanting pintu tertutup dengan satu tangan. Dia lalu melepaskan tanganku dan mulai menggali di peti yang ada disamping, melemparkan tumpukan barang acak dalam proses. “Mayat pembersih” disampingnya mulai memungut barang yang tuannya lempar dengan patuh.

Saat aku menonton Pink menggali disana-sini,  tercengang, sampai sepasang celana berenda milik gadis kecil terbang keatas kepalaku. Aku akhirnya tidak bisa menahannya lagi dan membuka mulutku untuk bertanya, “Sebenarnya apa sih yang kamu cari?”

“Ketemu!” Pink berteriak dengan keras pada saat yang sama dan kemudian mengambil sebuah lencana seukuran telapak tangannya dari dasar peti.

Sekali lagi, aku berdiri tercengang saat melihat Pink berjalan kearahku dengan lencana ditangannya. Dia memasang lencana itu di dadaku dengan suara click kecil. Aku melihat kebawah untuk mengamati lencana didadaku. Bagian dasarnya hitam, dan garis silver membentuk motif naga simpel. Designnya secara keseluruhan simpel dan elegan; terlihat lumayan indah sebagai aksesoris.

Tetapi, semua barang di rumah Pink selain lolipop strawberry tergolong berbahaya, mulai dari bahaya, sangat bahaya, sangat amat bahaya, sampai level penyebab-kiamat. Jelas tidak ada aksesori disini yang tidak berbahaya.

“Apa ini?” Aku bertanya dengan sedikit panik. Bagaimanapun, lencana dengan level bahaya yang tidak diketahui terpasang didadaku!

“Ouch!”

Pink menggunakan kukunya untuk menggores jariku, dan kemudian dia mengangkat tanganku ke lencana. Beberapa tetes darah menetes ke lencana samapi lencana tersebut mulai bercahaya dengan cahaya silver yang sangat samar. Aku mengerti bahwa cahaya ini berarti lencana ini mengakuiku sebagai pemiliknya.

Di dunia ini, ada banyak benda yang mengharuskan darah diteteskan pada mereka, dan beberapa memerlukan ritual yang lebih merepotkan, sebagai contoh menambahkan mantra sihir untuk memastikan kepemilikan sebelum memperlihatkan kekuatan aslinya.

Sebagai contoh, Divine Sun Sword milikku memerlukan mantra sihir yang sangat rumit ditambah dengan darahku dalam jumlah yang besar untuk mentransfer hak kepemilikan dari guruku kepadaku. Setelah itu, hanaya aku yang dapat menggunakan kekuatan penuh Divine Sun Sword, sementara orang lain hanya dapat meggunakannya sebagai pedang besi biasa.

Ditambah lagi, semua barang yang memerlukan konfirmasi kepemilikan berbagi karakteristik yang sama: semuanya sangat berharga, berarti, dan mahal tanpa tandingan!

Seseorang mungkin tidak bisa membeli item seperti ini bahkan dengan penyimpanan penuh ducat emas, tapi Pink memberikannya kepadaku seakan akan ini bukan apa-apa. Untuk berkata aku tidak tersentuh sama sekali sudah pasti merupakan kebohongan.

Di samping itu, aku melihat bahwa eksperesi Pink tidak terlalu baik. Lagipula, darahku, yang diketahui sebagai benda paling suci sedunia, bisa dibilang musuh alami bagi semua makhluk kegelapan.

“Selesai!” Pink menghembuskan nafas lega dan menarik tangannya. Lencana ditangannya jauh kepangkuanku dengan sendirinya. Aku mengambil lencana itu dan bertanya dengan penasaran, “ Apa ini?”

Mata Pink bersinar dengan humor, dan dia dengan paksa menyuruhku, “Teriakkan, ‘Dragon’s Saint Brigandine3, dalam nama keturunan sang naga4, aku memerintahkanmu, aktifkan!’ ”

Aku sedikit ragu-ragu. Dewa mana yang menciptakan mantra ketinggalan jaman ini?

Aku memikirkannya sebentar dan memutuskan bahwa Pink tidak akan melukaiku, atau lebih jelasnya, kalau dia ingin melukaiku, dia tidak perlu melakukan sesuatu yang serepot ini, jadi aku mengulangi kata-katanya dan berkata, “Dragon’s Saint Brigandine, dalam nama keturunan sang naga, aku memerintahkanmu, aktifkan!”

Segera setelah aku selesai mengucapkan mantra, lencana ditanganku mulai bersinar terang dan tiba-tiba membebaskan dirinya dari tanganku dan melayang di tengah udara, sementara cahaya silver lembutnya berubah menjadi cahaya membutakan. Aku hanya bisa menutup mataku karena cahaya itu, dan aku hanya bisa merasakan lencana itu terpasang sendiri didadaku dengan erat. Pada awalnya, besarnya hanya sebesar telapak tangan, tapi lama kelamaan bertambah besar dan besar, samapi akhirnya menutupi seluruh dadaku, dan lalu menutupi punggung dan tangan…

Sejujurnya, aku benar-benar gelisah; siapa tau lencana ini benar-benar pengundang-bencana, tapi situasi saat ini sama seperti anak panah yang sudah dipasang di busur. Hampir seluruh tubuhku sudah ditutupi- apa lagi yang bisa kulakukan pada tahap ini?

Karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, lebih baik aku sekalian menutup mataku dan menahan sampai selesai!

“Woooow! Badan Sun sebagus yang kuharapkan!” Seruan Pink terdengar ditelingaku. Apa? Aku punya badan yang bagus? Jangan bilang aku telanjang!

Aku cepat-cepat membuka ata dan menatap kebawah. Untungnya, aku tidak melihat warna kulit sama sekali. Sebagai ganti, pakaianku telah berubah menjadi leotard ketat warna hitam… Tidak heran kenapa Pink berkata badanku sangat bagus.

Leotard ketat ini mengeluarkan cahaya keperakan. Ada beberapa armor perak di titik vital seperti dadaku dan bagian bawah tubuhku, dan bahkan sepatuku berubah menjadi sepasang sepatu perak juga. Saat aku mengamati armornya dengan teliti, aku menemukan bahwa sebenarnya benda ini terbuat dari sisik sebesar kuku jari, jadi mobilitas dan gerakanku tidak terhambat sama sekali.

“Ini benar-benar barang dengan kualitas bagus…” Aku hanya bisa menghela napas sebagai pujian, tapi selama mendesah, aku menyadari bahwa suaraku juga telah berubah. Tidak benar-benar berubah, lebih seperti saat aku berbicara dengan suara terendam.

Kupikit itu aneh, jadi aku meraba wajahku, dan aku lalu menyadari kalau bagain bawah wajahku ditutupi dengan armor sisik ringan juga.

Penuh rasa ingin tahu, aku berjalan didepan satu-satunya cermin di rumah. Aku melihat cermin dan melihat bahwa laki-laki yang menatapku balik memakai leotard ketat, dengan sisik perak yang hanya menutupi bagian bawah wajah, bagian vital, dan kaki, yang kesemuanya berkerlip dengan cahaya kecil. Penampilannya keseluruhan sangat keren dan tampan, terutama dikombinasikan dengan rambut hitam dengan garis perak. Bisa dibilang kalau penampilan keren ini bisa membuat semua wanita dari umur delapan ke delapan puluh pingsan…. Tunggu, tunggu sebentar! Rambut hitam dengan garis putih?

Aku terpaku

“AHHHHHH! Warna rambutku berubah! Rambut pirang keemasanku!  AHHHHHHHHH! Aku akan kehilangan pekerjaan! Aku tak bisa jadi Sun Knight lagi! Aku gak mau bertemu dengan God of Light karena aku depresi dari tidak punya pekerjaan!”

Laki-laki di cermin yang dapat membuat semua wanita dari umur delapan sampai delapan puluh tahun pingsan sekarang sedang memegang pipinya dan menjerit sejadi-jadinya.

“Keributan ini membunuhku,” komentar Pink sambil menjilat lolipopnya di sampingku.

Kalau kamu menyediakan 300 cc darah5 kepada lencana itu, kamu bisa berubah sekali. Durasinya dibawah 3 jam, dan setiap jam setelahnya memerlukan 200cc tambahan. Aku menyarankan kamu menjaga waktu transformasi dibawah 5 jam setiap pemakaian, atau kalau tidak kamu bisa dengan mudahnya mati dari kekurangan darah,” jelas Pink.

Kenapa kedengaranya agar dia bekerja, aku harus membayarnya dengan darah sebagai gaji?

“Akan tetapi, sesudah transformasi, kamu harus menunggu 24 jam sebelum kamu bisa berubah lagi,” lanjut Pink.

Jadi benda ini bahkan butuh waktu istirahat. Bukannya hanay bekerja 5 jam perhari sedikit keterlaluan?

“Saat berubah, pertahananmu dilipatgandakan, kekuatanmu dikali dengan 1.6, kemampuanmu melompat dikali dengan 1.5, dan kecepatanmu dikeli dengan 1.2.”

Benar-benar kumpulan angka yang merepotkan- kenapa tidak langsung dan melipatgandakan semuanya dengan dua?

“Setelah penambahan kemampuan, Sun, kekuatanmu mungkin… 85% dari Kapten-Judgment Knight!”

Sialan! Kamu tidak perlu mengingatkanku betapa lemah kemampuan bertarungku, iya kan?

“Tapi mengingat kemampuan tidak normalmu untuk memulihkan diri yang bahkan lebih kuat dari makhluk undead, kalau kamu bisa bertahan melawan Kapten-Judgment Knight selama 3 hari dan 3 malam, kamu pasti akan menang!”

“… Apa kamu lupa kalau armor ini menghisap darah? Lupakan 3 hari 3 malam; aku bakal menjadi mayat kering hanya setelah 1 hari dan dua malam!”

“Oh, itu benar. Aku sudah lupa kalau armor ini memerlukan darah.. Lupakan saja kalau begitu! Aku aka menunjukkan beberapa mantra necromancy6 untukmu… Perhatikan baik-baik!”

Jangan! Aku adalah Sun Knight yang suci, kalau orang lain tau kalau aku bisa menggunakan mantra necromancy, aku akan diikat di tiang kayu dan dibakar sampai mati!

… Aku mempelajarinya? Ya Tuhan! Aku hanya melihatnya sekali dan aku sudah menguasainya. Ahhh! Jangan bilang kalau aku bukan hanya penyembuh alami dan penyihir genius, tapi juga necromancer yang sangat diberkati?

“Sun… Saat kamu menjadi holy knight, apa kamu memutuskannya dengan melempar dadu? Dewa Dadu pasti punya dendam padamu..”

Jangan tanya lagi… hiks!

Aku menghabiskan waktu lebih dari satu jam di gubuk Pink, mendengarkan penjelasannya mengenai fungsi Dragon’s Saint Brigade, ditambah secara tidak sengaja mempelajari beberapa mantra necromancy… Ya Tuhan! Aku harus hati-hati untuk tidak pernah menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, atau aku akan dalam masalah besar.

Pink menjadi lebih dan lebih antusias untuk mengajariku mantra necromancy. Saat dia bahkan ingin mulai mengajariku mantra necromancy lanjutan, aku harus kabur secepatnya dari gubuk itu untuk menghindar dari menjadi master necromancer bahkan sebelum menyadarinya.

Mari lakukan beberapa hitungan : kalau aku bisa menemukan putra ketiga baron dalam waktu setengah jam,  menghabiskan setengah jam lagi membawanya ke tempat terpencil, dan kemudian menghabiskan setengah jam lagi untuk memaksanya untuk mengaku menggunakan mantra necromancy yang Pink telah ajarkan padaku, aku mungkin bisa menjaga waktu transformasiku dibawa tiga jam. Yang berarti aku tidak harus membayar darah tambahan ke armor vampir ini!

Untuk orang kehilangan darah secara rutin, berita ini benar-benar patut dirayakan!

Maka, tanpa basa-basi, aku langsung mencari putra ketiga baron, sehingga aku bisa memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya menggunakan kekuatan fisik dan sihir hitam.

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 6]

Catatan Kaki

1Luka Baring: luka yang terjadi karena hewan berbaring terus-menerus sehingga hewan tersebut sakit tidak dapat berdiri, info lebih lanjut di http://id.wiktionary.org/wiki/luka_baring

2Master Knight: Penerjemah kehabisan kata-kata untuk menerjemahkan kalimat ini ke Indonesia. Karena pada dasarnya kata yang digunakan lumayan umum di Indonesia, maka diputuskan untuk dibiarkan saja.

3Dragon’s Saint Brigandine: lencana yang diberikan Pink pada Sun, memerlukan darah pemiliknya untuk registrasi dan pengaktifan.

4Keturunan sang naga: orang china bisa merujuk diri mereka sendiri dengan sebutan ini.

5…menyediakan 300cc darah… : pada teks aslinya menggunakan gram, tapi karena cairan dihitung dengan satuan cc, maka terjemahan Inggris dan Indonesia menggunakan cc.

6Necromancy: Sihir hitam.

The Legend of Sun Knight V1C5: “Menabunglah untuk Pensiunan agar Terhindar dari Kemiskinan di Masa Tua”

Legenda Kesatria Surya Volume 1: Sebuah Perkenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh: 御我 (Yu Wo)


Peraturan Kelima Kesatria Surya: “Menabunglah untuk Pensiunan agar Terhindar dari Kemiskinan di Masa Tua” – diterjemahkan oleh amusement

Area eksekusi barat laut di luar perbatasan kota memang tidak sedekat itu. Untuk mencegah diriku pingsan ditempat dan bergabung dengan barisan mayat setelah berjalan jauh-jauh kemari, dengan terpaksa aku memutuskan menahan sakitnya menggeluarkan uang untuk memesan kereta yang akan membawaku ke sana.

Aku bisa saja kembali ke Holy Temple dan memakai kereta umum, tapi nanti aku harus mempertahankan senyum brilian dan sikap sempurna Sun Knight di depan kusirnya…

Dalam kondisiku yang lemah saat aku bahkan tidak bisa tersenyum penuh, sebaiknya aku menahan kepedihanku dan menyewa sebuah kereta, menggunakan uang pensiun yang telah kukumpulkan dengan susah payah. Lagipula, kalau aku mati sekarang, uang pensiun yang telah kukumpulkan dengan susah payah itu menjadi tidak berguna, kan?

Di area penyewaan kereta, aku memilih kereta yang kelihatannya masih bisa berjalan ke area eksekusi dengan utuh, dan kusir tua yang kelihatannya tidak peduli bahkan jika penumpangnya adalah siluman pemakan manusia. Aku melopat masuk ke kereta kecil itu, dan meskipun baunya seperti sekeranjang telur busuk, aku terlalu capek untuk peduli. Aku meringkuk di sudut dan membuat diriku nyaman. Secara perlahan, kesadaranku memudar dan yang kusadari hanya fakta bahwa ayunan kereta itu senyaman ranjang bayi…

Bum!

Aku terbangun dengan ekspresi datar, bersamaan dengan benjol besar di jidatku. Ini disebabkan karena keretanya berhenti mendadak, membuat kepalaku terbentur ke dinding kayu kereta di depanku dengan sangat keras sampai-sampai papannya patah.

Aku mulai berpikir, Mungkin aku bisa menyogok orang yang menangani mayat di area eksekusi, dan membiarkan kusir ini bergabung dengan gundukan mayat “yang tidak mati digantung” disana?

“Maafkan saya, beberapa kesatria tiba-tiba muncul di depan, jadi saya terpaksa menggunakan rem darurat,” teriak kusir itu ke kursi penumpang, meskipun suara monotonnya sama sekali tidak terdengar menyesal.

Kesatria? Aku mengusap-usap dahiku yang sakit.

Holy Knight dan Kesatria sebenarnya sama saja, karena dua-duanya menyandang senjata, menunggang kuda, berbaju zirah, dan harus menjadi tameng dalam peperangan, dan menjadi pasukan pertama yang mati… Ehem! Seharusnya, dua-duanya menggunakan tubuh mereka untuk menahan serangan musuh kepada anggota kelompok lainnya, dengan mulia mengorbankan diri mereka sendiri untuk melindungi orang lain dengan segenap jiwa dan raga sampai mati.

Satu-satunya perbedaan adalah, yang satu melayani Dewa, sementara yang lain berbakti kepada sesama manusia. Tetapi karena Holy Knight melayani Dewa, mereka punya bermacam-macam kemampuan istimewa. Contohnya, kami holy knight- holy knight mempunyai kemampuan “memulihkan diri”, jadi luka-luka pada tubuh kami semubh dengan sangat cepat!

Contohnya, kemarin aku baru saja kehilangan segalon darah, tapi hari ini aku sudah bisa jalan-jalan. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kesatria; lebih mungkin kalau mereka akan langsung jatuh dan mati di tempat setelah kehilangan seluruh darah di tubuh mereka.

Dan bagi kesatria berbakti kepada manusia, tentu saja mereka tidak mendapat bantuan apapun dari Dewa, tapi gaji dari atasan mereka juga lebih tinggi dari kami, dan bukan hanya lebih tinggi dua atau tiga kali lipat. Sialan!

Seorang kesatria tingkat tinggi, selama dia bisa bertahan hidup sampai pensiun, pasti bisa menabung cukup banyak untuk menghabiskan hari tuanya dengan mewah. Tetapi bagi Holy Knight… kalau tidak menerima pekerjaan pribadi, bahkan Dua belas Holy Knight yang telah mencapai tingkat teratas masih harus hidup serba hemat. Kalau tidak, waktu pensiun, mereka akan menyadari kenyataan pahit kalau mereka tidak punya sepeser pun uang untuk makan. Konsekuensinya antara mereka akan langsung bertemu Dewa Cahaya, atau harus berebut misi dengan orang-orang yang lebih muda untuk mendapatkan uang bahkan ketika mereka sudah berumur enam puluh, tujuh puluh tahun.

Contohnya, guruku yang disebut sebagai Sun Knight terkuat sepanjang sejarah sekarang menjadi pengembara, berebut misi dengan para pemuda, dan melawan kejahatan dengan kejahatan melawan para monster dan pencuri… Ehem! Maksudku, itu harusnya adalah ‘menuntun generasi muda dan membela kebenaran’.

Sebelum guruku meninggalkan Holy Temple, dia pernah memberitahuku dengan nada serius, “Nak, kalau kamu tidak mau dipaksa menjadi cleric setelah kamu pensiun… dan dengan kemampuan berpedangmu, terlalu berbahaya untuk menjadi kesatria… kamu harus menabung dengan baik untuk uang pensiunmu, untuk menghindari kemiskinan di hari tuamu.”

Saat aku memikirkan ini, aku mulai menyesali keputusanku untuk menghabiskan uang dengan menyewa kereta. Seharusnya aku jalan kaki saja, dengan kemampuan memulihkan diri Sun Knight, mungkin aku tidak akan mati di tengah jalan.

Tepat saat aku merasa menyesal, tiba-tiba ada keributan di luar dengan derap langkah kuda, dentingan baju zirah, dan teriakan orang.

“Apa yang terjadi?” aku bertanya dengan tidak sabaran sambil menjulurkan kepalaku ke luar kereta.

Tepat saat aku melongok ke luar, secara kebetulan aku melihat si kusir melompat turun dari kursi pengemudi. Bagus sekali! Dia berlari seakan-akan ada sayap tumbuh di kakinya, dalam sekejap kabur sampai terlihat seperti sebutir debu dari kejauhan.

Kusir sialan, jangan sampai kau bertemu denganku lagi! Kalau tidak, aku pasti akan membawamu ke Judgment Knight, dan menuntutmu karena dengan sengaja menelantarkan Sun Knight!

Setelah aku “memberkati” kusir itu supaya dia cepat-cepat kembali ke sisi God of Light, aku menoleh, dan akhirnya menyadari penyebab kaburnya kusir itu. Di depan kereta ada tiga orang kesatria berotot yang sepertinya tidak ramah.

“Pergi!”

Ketiga kesatria yang awalnya menonton kepergian kusir itu masih mematung, tapi pemimpinnya jelas-jelas lebih berpengalaman dan cepat-cepat sadar. Melihatku yang sedang mengintip, dia berteriak kepadaku.

Aku cemberut. Sebagai pemimpin dari Dua belas Holy Knight, seumur hidup belum ada yang berani berteriak kepadaku, kecuali guruku, sang Pope, dan si raja gendut yang tidak tahu situasi. Siapa sangka kalau hari ini kasus “Holy knight yang kesusahan di area eksekusi dipermainkan oleh para kesatria biasa1” benar-benar terjadi. Tiga kesatria rendahan berani berteriak kepadaku? Kalian sebaiknya berhati-hati!

Kalau tidak aku akan…aku akan kembali dan menyuruh Judgment Knight menghajar kalian habis-habisan!

Hei! Kamu tidak boleh bilang aku lemah! Coba saja kau kehilangan segalon darah, habis itu kita lihat kalau kau masih bisa melakukan apapun selain bermesraan dengan ranjangmu!

Aku selalu bilang kalau kemampuan berpedangku payah…maksudku, “tidak sejago itu”, tapi itu hanya kalau dibandingkan dengan standar Dua belas Holy Knight dan guruku yang abnormal. Dibandingkan kesatria biasa, kemampuan berpedangku bisa dibilang…dibilang…biasa saja!

Tapi  jangan lupa kalau aku seorang Holy Knight. Aku tidak makan gaji buta, karena setelah ditambah kemampuan-kemampuan holy magic, kemampuanku setara dengan kesatria elit!

Apalagi kalau kemampuan menyembuhkan diriku ikut dihitung, kemampuan asliku pasti di atas kesatria elit!

Meski begitu, biar kuulangi sekali lagi. Setelah kehilangan segalon darah, lupakan berduel dengan kesatria elit, bahkan mengangkat pedang adalah aktivitas melelahkan yang harus dihindari. Jadi, aku menggosok hidungku dan menurunkan kerudung jubahku. Setelah melompat ke kursi pengemudi, aku menggunakan cambuk dengan susah payah dan memerintahkan kuda-kuda untuk memutar balik.

“Anggaplah dirimu cukup beruntung!” ketiga kesatria itu sepertinya tidak berniat mencari masalah, dan setelah melihatku pergi dengan patuh, mereka mengabaikanku dan berkuda ke arah berlawanan.

Mereka mengarah ke area eksekusi, aku memperhatikan saat menoleh ke belakang.

Setelah mereka cukup jauh, aku memecut kuda kereta supaya berlari maju, lalu aku melompat keluar dan bersembunyi dalam semak-semak di tepi jalan. Selama aku tidak berjalan di jalan raya, para kesatria itu mungkin tidak menyadari keberadaanku.

Aku benar-benar tertarik dengan tujuan kepergian para kesatria itu di area eksekusi, yang sepertinya berbau konspirasi. Bagus sekali kalau konspirasi itu ada hubungannya dengan Death Knight yang sedang kuselidiki! Bahkan kalau tidak pun, paling-paling aku hanya akan kembali dan menyerahkan kasus ini untuk diinvestigasi oleh Judgment. Jadi aku sebaiknya melanjutkan penyelidikanku dulu.

Karena takut kehilangan kesempatanku untuk mengungkap sebuah konspirasi, aku berhenti menggunakan gaya berjaan ala kura-kuraku, sebaliknya, aku mempercepat langkahku dan melompat dengan cekatan di hutan. Meskipun sepertinya lukaku mungkin akan terbuka lagi besok, itu tidak masalah, karena kalau kemampuan menyembuhkan diriku dianggap sebagai kedua terbaik, tidak akan ada yang berani mengklaim posisi pertama.

Tidak peduli seberapa seriusnya lukaku, selama aku beristirahat sehari penuh, aku pasti bisa bangun dari tempat tidur keesokan harinya. Kalau aku istirahat tiga hari, bahkan kalau lukaku begitu serius sampai-sampai ususku berceceran keluar, jantungku tertusuk, dan paru-paruku tidak bisa bernapas, aku masih bisa bangun untuk sarapan dan menggunakan masker seperti biasa.

Tetapi ada juga kerugian dari sembuh begitu cepat. Semenjak Pope tua sialan itu mengetahuinya, cuti sakitku selalu dibuat lebih pendek dari orang lain…

Setelah mengutuk si tua sialan itu, aku melihat dinding tanah liat area eksekusi. Arena itu besar dan melingkar, dan hanya dipagari oleh dinding lumpur yang rendah. Di tengah-tengah ada alat eksekusi yang berbentuk kotak, yang juga cukup kasar, karena hanya terdiri dari tiga dudukan kayu dengan seutas tali tergantung di tengahnya. Di ujung paling bawah tali itu terdapat sebuah simpul, sederhana namun mematikan.

Area eksekusi ini adalah yang tertua, dan juga yang paling bobrok. Kriminal dengan kejahatan serius atau yang memiliki kedudukan tidak akan dioper kemari untuk dieksekusi. Umumnya, hanya bandit-bandit paling hina yang hidupnya tidak dipedulikan siapapun yang akan dikirim kemari.

Tetapi, Leaf Bud City adalah ibukota kerajaan Forgotten Sound. Terlebih lagi, kota ini juga markas pengikut God of Light. Karena itu, di satu gang mungkin dapat ditemukan beberapa kesatria dari skuadron kesatria kerajaan yang sedang berlatih tanding, dan di gang berikutnya akan ada beberapa Holy Knight yang sedang melombakan kekuatan holy magic. Lalu di gang lainnya, aku mungkin akan melihat beberapa cleric sedang berkhotbah.

Bagian yang paling menakutkan adalah kebiasaan Knight-Captain Judgment untuk berpatroli dengan jam berbeda-beda setiap hari Dalam sepuluh tahun terakhir , ada 1054 kriminal yang tertangkap.

Katakan kepadaku, siapa yang berani mencuri atau mencopet?

Karena kurangnya kriminal dalam kota, arena eksekusi kurang lebih ditelantarkan.

Tapi penelantaran ini memicu terjadinya bermacam-macam hal kotor, karena sebenarnya banyak mayat yang bukan kriminal dibuang ke sini. Kalau masih ada mayat, berarti kriminalitas masih terjadi. Sepertinya ibu kota tidak seaman dan setentram yang dipikirkan oleh Sanctuary of Light dan Holy Temple.

Aku tertawa getir. Tunggu sampai aku membertitahu Judgment! Ekspresi dinginnya akan menjadi lebih dingin, sampai dapat membersihkan seluruh ibu kota.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di arena eksekusi kecuali tiga ekor kuda yang diikat di sisi arena. Kelihatannya ketiga kesatria itu sudah kembali.

Meskipun tidak ada orang disana, di rumah bobrok di pinggir arena eksekusi terdapat cahaya dari jendela yang menunjukan baying-bayang samar beberapa orang.

Aku menggunakan dua mantera untuk diriku sendiri, khususnya Light Shield2 yang meningkatkan pertahanan diri dan Wings of God3 yang meningkatkan kecepatan. Lalu aku menghindari sudut-sudut yang memungkinkan orang dari dalam untuk melihatku dari jendela, dan dengan perlahan mendekati rumah itu.

“…Dimana mayat itu?” sebuah suara yang garang terdengar dari rumah itu.

“Tuan…Ada banyak disini…Disini… Yang mana yang Tuan maksud?” suara ini pelan karena umur, dan meskipun aku berusaha keras menguping, aku masih tidak bisa mendengar banyak.

Saat ini, aku menghentikan langkahku dan sembunyi di belakan pohon besar di samping rumah, tidak berani bergerak lebih dekat. Ketiga kesatria itu jelas-jelas ada di dalam, dan sedihnya kondisiku sekarang ini tidak begitu baik, karena bahkan kekuatan dari mantera di tubuhku tidak stabil. Kalau aku mendekat, sulit dipastikan kalau aku tidak akan ketahuan.

“..Yang matanya biru.” Suara si kesatria menunjukan kalau dia sedang berjuang menahan amarah.

Suara tua dan pelan itu berseru, “Tuan, aku tidak akan membuka-buka mata orang mati!”

“Pirang, tidak, warna rambutnya lebih ke coklat. Sekitar dua puluh tiga tahun, mukanya lumayan ganteng.”

Aku mengerutkan alisku. Deskripsi itu membuatku agak gelisah…kenapa ya?

Mata biru, rambut coklat, dua puluh tiga tahun……Umurnya sama denganku, dan dia benar-benar mati muda. Aku yakin mungkin ini salah satu penyebab penyesalan Death Knight itu.

“Sudah dikubur…”

“Berani-beraninya berbohong!”

Ini diikuti dengan rentetan jeritan dan pukulan. Setelah beberapa saat, suara pelan dan lemah itu berkata dengan bahkan lebih pean lagi, “…Kujual kepada seseorang dua hari yang lalu.”

“Siapa?”

“Seorang pria dengan gadis kecil.”

Mataku berbinar senang. Benar-benar anugerah dari God of Light! Aku tidak percaya kalau tebakanku benar, tiga kesatria ini memang berhubungan dengan Death Knight itu.

Hmm, seorang pria dan gadis kecil? Itu mungkin adalah mayat kecil membawa mayat besar! Itu pasti Pink dan “Mayat Bersih-Bersih”nya, makhluk undead yang dibangkitkannya secara khusus untuk membersihkan rumahnya.

“Seperti apa pria itu?” si kesatria terdengar sangat marah.

Heh! Pertanyaanmu salah. Harusnya kamu tanya seperti apa rupa gadis itu, ejekku kesal.

“Tudung jubahnya rendah sekali… Wajahnya tidak kelihatan…”

“Dasar otak udang!”

“Ayo kita bunuh dia, buat jaga-jaga kalau dia membocorkan identitas kita.”

“Ampuni aku!” suara lemah itu berteriak tiba-tiba.

Wajahku menjadi suram. Sebagai Sun Knight, bukannya aku harus melakukan sesuatu dalam situasi ini, saat kriminal mencoba melenyapkan saksi mata?

Tetapi dalam kondisiku sekarang ini, kalau aku mencoba masuk, aku mungkin akan dibunuh sekalian.

Aku harus menyelamatkannya atau tidak…

“Stop! Ampun!” Suara memohon itu bisa didengar dari dalam, tapi pihak yang lain sepertinya tidak menghiraukan dan suara pukulan dan tendangan terus berlanjut.

Bajingan! Aku sudah melamun selama itu dan kalian masih belum membunuhnya juga? Satu tebasan pedang sudah cukup, jadi apa gunanya menyerang dengan tangan dan kaki?! Apakah kalian tidak sadar kalau penjahat berlama-lama, kemungkinan besar akan ada pembela kebenaran yang muncul dan merecokimu?

Apalagi kalau pembela kebenaran yang muncul adalah aku!

Setelah memastikan Light Shield dan Wings of God masih aktif, aku mengintip dari jendela. Dua kesatria sedang memukuli kakek itu, dan seorang lagi sedang berdiri di pinggir dengan muka muram. Menurut teoriku kalau “pemimpin biasanya hanya memerintah dan tidak bertindak4”, orang ini adalah pemimpinnya.

Dengan suara pelan, aku mengucapkan sebuah mantra. Meskipun aku seorang holy knight, aku jelas punya potensi untuk menjadi cleric berbakat sekaligus kualifikasi sebagai penyhir berbakat. Dengan kata lain, aku akan unggul di profesi manapun kecuali sebagai kesatria. Hiks!

Guruku seringkali meratap kepada langit, “Kenapa kamu bisa meniru seorang penyihir menggunakan Spell of Paralysis5 hanya dengan sekali lirik, tapi kamu tidak bisa menguasai teknik dasar berpedang setelah aku mencontohkannya lebih dari dua puluh kali?”

Untuk menghindari masalah yang tidak perlu, seperti orang-orang mengatakn kalau aku tidak sesuai gambaran dan sebagainya, aku tidak menggunakan sihir di depan orang lain. Tetapi ini kasus khusus, dan aku tidak berniat menunjukan identitasku.

“Spell of Paralysis!”

Aku melayangkan Spell of Paralysis kepada pemimpin mereka, dan pada saat yang bersamaan masuk lewat jendela dengan satu tendangan. Lalu, aku menendang tengkuk kesatria itu, dan dia jatuh tanpa bersuara. Bukannya sombong, tapi potensiku sebagai asasin juga tidak biasa… Ahem! Mari kita berhenti mengobrol, karena kedua kesatria itu sudah maju dengan pedang mereka.

Waktu aku menendang pemimpin mereka tadi, aku juga telah dengan praktis mengambil pedangnya. Habisnya, aku mau menyembunyikan identitasku, jadi aku tidak mungkin bertarung menggunakan Divine Sun Swordku yang berkilau, karena hanya orang buta yang tidak akan menyadari kalau aku Sun Knight.

Saat aku menghindari serangan, aku merapal mantra lain dengan suara pelan. Dengan satu ayunan tangan kiriku, aku melemparkan Spell of Grease6 yang akan membuat lantai licin. Salah satu kesatria itu langsung jatuh, dan aku cepat-cepat menginjak kakinya dan mematahkan tulang keringnya.

Seorang kesatria dengan kaki patah bahkan lebih tidak berbahaya daripada seorang cleric, karena mereka hanyalah sekelompok orang yang berlari-lari mengenakan kaleng logam. Untuk menyokong berat baju zirah memerlukan fondasi yang kuat, jadi kalau kakinya patah, kesatria itu bahkan tidak bisa berdiri.

“Seorang swordmage7!”  teriak kesatria yang lain saat wajahnya memucat drastis.

Swordmage? Aku memutar mataku. Ya ampun, aku hanya seorang holy knight yang kebetulan mempelajari beberapa sihir dasar, bukan seorang penyimpang yang mempelajari sihir sekaligus berpedang.

Meski begitu, rasa percaya diriku meluap-luap setelah mengalahkan kesatria-kesatria itu dengan mudah. Kelihatannya mereka bukan kesatria elit; kasus ini jadi lebih mudah. Kesatria didepanku yang mengira kalau aku adalah seorang swordmage sangat ketakutan dan tidak berani mendekatiku.

Aku mengerti perasaannya. Bagaimanapun, swordmage adalah profesi aneh dimana seseorang bisa menjadi sangat kuat atau sangat lemah. Tetapi saat aku pertama kali memasuki pertarungan, aku langsung mengalahkan yang terkuat di antara mereka, dan setelah itu langsung mengalahkan yang kedua. Dalam pikirannya, aku mungkin swordmage yang masuk dalam kategori kuat.

Tiba-tiba aku merasakan aura kuat dari belakangku. Aku mendadak berbalik dan seperti perkiraanku, aku melihat orang tadi yang pertama kali kutendang berdiri perlahan. Mukanya sangat garang, dan parahnya, tubuhnya memancarkan pancaran energy kecil. Itu adalah battle aura8, dan hanya kesatria elit yang memilikinya.

“Tidak tahu malu!” raung kesatria itu. Dia mau menghunus pedangnya, tapi menyadari kalau aku telah mengambilnya, yang membuat wajahnya merah padam karena marah.

Jadi orang itu sebenarnya adalah kesatria elit. Pantas saja dia cuma mengenakan baju zirah ringan daripada yang lengkap seperti yang dipakai kesatria lainnya.

“Battle aura” bekerja seperti pelampung yang melapisi tubuh, efeknya lebih baik dari baju zirah, karena selain dapat memblokir serangan, juga dapat menyokong pergerakan yang tidak dapat dilakukan baju zirah. Lebih lagi, dia tidak seberat baju zirah, jadi tidak mungkin mengurangi kecepatan penggunanya. Jadi itu bisa membantu menyerang dan menyelamatkan hidupmu!

Tetapi benda bagus sepert ini tidak dapat dimiliki semua orang, dilihat dari fakta kalau saat seorang kesatria bisa mengeluarkan battle aura, dia dapat langsung mengajukan promosi menjadi kesatria elit.

Aku masih ingat saat guruku melakukan semuanya untuk membantuku mengeluarkan battle aura, dan menggunakan metode apapun yang dapat dipikirkannya. Setiap hari dia akan mengaktifkan battle auranya lagi dan lagi supaya aku dapat merasakan metode pengaktifan battle aura… Pada akhirnya, aku masih tidak berhasil mempelajari cara memakainya. Di samping itu, waktu aku menggunakan mataku untuk merekam cleric yang cantik, aku dengan tidak sengaja mempelajari mantera penyokong yang aslinya ditujukan kepada cleric elit—Light Shield—yang membuat guruku hampir mati frustrasi.

Hanya waktu aku mengambil alih posisi guruku sebagai Sun Knight aku mengalami aktivasi battle aura dalam sebuah misi yang hampir membunuhku.

Meski begitu, aku tetap lebih memilih memakai Light Shield daripada battle aura. Itu karena aku bisa menggunakan Light Shield dengan mudah, tetapi battle auraku gagal setidaknya sekali setiap tiga kali percobaan aktivasi, dan lemah sampai ke tingkat menyedihkan. Rata-rata, itu hanya dapat menahan tiga serangan sebelum menghilang, jadi aku tidak benar-benar berani mempercayakan nyawaku kepada battle auraku yang mengecewakan.

Aku mencuri pandang ke battle aura kesatria elit itu. Aliran energi yang mulus dengan ketebalan memadai, sepertinya battle auranya tidak seburuk punyaku, jadi mungkin tidak mudah menembusnya.

“Spell of Grease!” dengan santai aku menggunakan mantera itu lagi.

Tetapi karena dia mengenakan baju zirah ringan, berat tubuhnya dan sedikit minyak di lantai jelas-jelas tidak cukup untuk membuatnya jatuh terlentang. Malah, sihir itu membuatnya tambah marah. Dia meraung, “Tidak tahu malu!” dan lalu mengangkat meja terdekat dari lantai, melemparnya ke arahku dalam satu tarikan napas.

Dia mungkin berpikir kalau aku akan menghadapinya dengan frontal dan dengan keren menebas meja itu menggunakan pedang, lalu melibatkan diri dalam pertarungan sengit kesatria vs. swordmage!

Tapi…aku mengelak! Dan juga, aku menambahkan “Spell of Smokescreen9” untuk menciptakan asap untuk mengaburkan pengelihatan musuhku.

Setelah itu, aku mengangkat kakek tua yang telah dihajar habis-habisan itu dari lantai dan melompat keluar lewat jendela. Dengan gejolak adrenalin, aku melesat ke sisi tiga kuda tersebut dan memotong tali-tali mereka dengan satu tebas. Lalu aku menusuk pantat dua dari kuda-kuda itu dan menyebabkan mereka lari dengan liar sambil meringkik keras-keras. Sambil menggendong si kakek, aku melompat ke punggung salah satu kuda itu dan menarik kekangnya kuat-kuat.

Saat ini, sebilah pedang yang terbungkus aliran energi yang kuat melayang ke arahku dari jendela pecah itu, mengiris udara tepat ke arahku.

Kalau aku menghindar, aku pasti jatuh dari kuda. Kalau aku jatuh dari kuda, para kesatria di belakangku akan menyusulku, dan persoalannya akan menjadi makin runyam.

Ini karena dalam kondisiku sekarang, bahkan Light Shieldku seperti tameng dari kertas, dan aku benar-benar tidak punya kekuatan untuk bertarung, apalagi dengan kesatria elit.

Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menerima kerusakannya!

Light Shield ditambah dengan holy magic seharusnya cukup…

Tsssshhh… Pedang itu menembus tamengku seakan-akan itu terbuat dari dua lembar kertas. Wajahku memucat, tapi aku berhasil memiringkan tubuhku sedikit jadi pedang itu tidak menembus jantungku, tapi hanya menyerempet bahu kananku, yang segera mengucurkan banyak darah. Untungnya, pedangnya tidak melukai kuda, jadi hewan itu tetap melaju sekencang-kencangnya, menambah jarak antara kami dan para kesatria itu.

Saat aku menggunakan healing magic10 untuk menutup lukaku, aku berpikir, Kesatria ini sangat kuat… Bahkan jika kondisiku sedang prima, sepertinya tidak mudah mengaahkannya. Satu-satunya alasan aku bisa menjatuhkannya dengan sukses tadi hanya karena keberuntungan saat dia tidak waspada dank arena sihirku.

Seorang kesatria sekuat ini, ditambah fakta kalau dia berteriak ‘amoral’ dan ‘tidak tahu malu’… Sepertinya dia bukan kesatria biasa. Siaa tahu dia dari keluarga bangsawan, karena itu dia menjunjung tinggi harga diri dan bertarung secara adil.

Tapi ketika kau memikirkannya, seorang kesatria terhormat yang pergi ke area eksekusi untuk mencari mayat… Kelihatannya ada sesuatu yang tidak beres, dari manapun kau melihatnya!

Kecuali kalau itu adalah perintah dari atasannya, maka itu adalah hal lain… Urgh!

Rasa pusing menyerangku tiba-tiba, dan aku menggelengkan kepalaku keras-keras. Sambil menunduk, aku melihat kalau luka yang baru saja kusembuhkan mulai berdarah lagi. Itu masuk akal; dalam perjalanan liar ini, bahkan kalau lukanya menutup, pasti akan terbuka lagi.

Sebaiknya aku cepat-cepat balik ke Kuil supaya bisa mengerahkan kekuatan untuk menyembuhkan lukaku. Dengan cepat aku merobek ujung jubah, membebat lukaku dua kali, dan memfokuskan kekuatanku untuk menunggang kuda ke kota.

Saat aku hampir mencapai gerbang kota, aku menurunkan kakek itu dari punggung kuda, dan memberikan healing spell10 kepadanya. Dengan suara pelan aku berkata, “Jika kau menyayangi nyawamu, cepat pergi dari sini. Pergilah sejauh mungkin, kau dengar?”

Kondisi kakek itu jelas lebih baik setelah kusembuhkan, dan dia mengangguk dengan ketakutan sebelum pergi dengan terpincang-pincang.

Setelah kepergiannya, aku juga turun dari kuda. Kuda itu milik kelompok kesatria tadi, jadi aku tidak berani menungganginya ke kuil. Dan jika dia ditemukan setelah insiden ini, akan ada masalah lagi. Apalagi bahuku berlumuran darah. Kalau aku menunggang kuda, akan terlalu mencolok. Aku khawatir akan menarik terlalu banyak perhatian dari skuadron milisi atau bahkan dari holy knightku sendiri.

Aku menggunakan tanganku untuk menutupi lukaku dan berjalan perlahan ke kota. Penjaga-penjaga gerbang memelototiki sesaat, tapi tidak mencegatku. Mereka mungkin telah melihat banyak pengembara dengan luka di dekujur tubuh. Dan melihat adanya skuadron milisi dan holy knight dalam kota, seharusnya tidak banyak yang akan mencari gara-gara di ibu kota.

Aku benar-benar kehilangan terlalu banyak darah, dan sangat lemah sampai-sampai tidak punya pilihan lain selain kembali berjalan ala kura-kura.

Meskipun aku tidak menyebabkan masalah, masih ada pasukan skuadron yang memelototiku. Darah di jubahku yang menutupi separuh tubuhku adalah pemandangan yang mengejutkan, dan mereka mungkin takut aku akan menyebabkan masalah, atau lebih parah, jatuh dan mati.

Melihat kalau beberapa kesatria di skuadron milisi mulai menghampiriku, aku berjalan ke pinggir jalan, dimana ada tiga orang holy knight dari Holy Temple yang sedang mengobrol.

Aku mendekat ke tiga orang itu dan mengulurkan tangan ke arah holy knight yang membelakangiku. Tindakan ini membuat skuadron milisi dan kedua holy knight yang memperhatikan gerakanku gelisah, dan bahkan salah satu holy knight itu telah menarik holy knight yang membelakangiku tadi ke samping…

Awalnya aku berniat menepuk pundak holy knight itu, tapi kelihatannya aku tidak bisa melakukannya sekarang.

“Semoga God of Light membekatimu, saudara-saudaraku,” ujarku dengan suara keras. Tetapi setelah berbicara, aku menyadari kalau suaraku tidak sekeras yang kumau. Malahan, suaraku terdengar sangat lemah.

“Siapa kau?” holy knight-holy knight itu menatapku bingungm dan melihat darah di tubuhku, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan alis.

Aku membuka tudung jubahku sedikit untuk membiarkan mereka melihat wajahku, dan berkata sambil tersenyum, “Kau mengenaliku?”

Ketiga holy knight itu terbelalak saat melihat wajahku, dan yang termuda di antara mereka mulai tergagap, “Ka-kamu Su—!”

“Shh!” aku menaruh telunjukku di bibirku dan bahkan mengedipkan mata dengan senyuman santai…Aku hanya ingin pingsan, tapi aku masih harus bersusah payah menjaga gambaran Sun Knight!

Ekspresi ketiga holy knight itu berubah-ubah dalam waktu bersamaan. Pertama mereka menyadari kalau aku adalah Sun Knight, jadi mereka mau member hormat. Tapi mereka ingat kalau aku sepertinya tidak mau mengungkapkan identitasku, jadi mereka tidak berani memberi hormat. Berikutnya, pandangan mereka beralih ke tubuhku yang berlumuran darah, dan ekspresi mereka berubah secara drastis. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, tapi mereka terlihat sangat pucat.

Sangat menarik…

“Aku butuh pendamping. Apakah kalian tidak keberatan mengawalku kembali ke Holy Temple?”

Pidatoku lebih sederhana dari biasanya. Kalimat-kalimat seperti berada di bawah pengawasan God of Light, atau persahabatan antara sesame saudara holy knight dan semacamnya—semua omong kosong itu kuhilangkan. Sekarang ini aku hanya ingin kembali ke Holy Temple dan tidur seperti mayat.

“Dan juga, skuadron milisi sepertinya memiliki sedikit salah paham, jadi bolehkah aku merepotkan kalian dengan membantuku menjelaskan, tapi tolong jangan ungkap identitasku.”

Ketiga holy knight mengangguk dengan takut-takut, lalu salah satu holy knight pergi dan menjelaskan kepada skuadron milisi. Aku tidak tahu apa yang dia katakana, tapi para kesatria itu hanya mengangguk dan pergi.

Holy knight yang termuda di depanku kelihatan gugup saat dia bertanya, “Sir-Sir, apakau kau mau luka Anda disembuhkan dulu? Aku tahu sedikit mantra penyembuh… Ah!” Saat berbicara, sepertinya dia mengingat sesuatu dan berhenti berbicara.

Sambil tersenyum, aku berkata, “Kalau begitu, bolehkah aku merepotkanmu?”

Saat aku mengucapkannya, ketiga holy knight menatapku dengan pandangan tidak percaya. Aku mengerti kekagetan mereka; biar bagaimanapun, aku adalah Sun Knight yang terkenal karena kekuatan holy magic-ku yang hebat, tetapi aku benar-benar membutuhkan bantuan orang lain dengan healing magic. Ini tidak dapat dipercaya…

Ketiga holy knight itu juga mengerti cara menahan ucapan. Hanya holy knight yang barusan bicara yang sekarang menggunakan kemampuan menyembuhkannya yang tidak begitu bagus untuk merawat lukaku, lalu ketiganya mengawalku ke Holy Temple.

Dengan kawalan tiga holy knight, aku tiba dengan cepat di Holy Temple. Setelah berterima kasih kepada mereka bertiga, aku menaiki tangga Holy Temple sendirian.

“Su—… Kau tidak apa?” holy knight muda tadi memanggilku dengan khawatir.

Tubuhku oleng dua kali, meskipun tidak terlalu kelihatan. Aku berbalik ke arah mereka, memperlihatkan senyumanku yang paling brilian sambil berkata, “Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”

Tetapi entah kenapa ketiga holy knight itu terkejut, lalu menunjukan ekspresi yang lebih khawatir.

Setelah sampai di gerbang Holy Temple, aku membuka kerudungku. Holy knight yang menjaga gerbang cepat-cepat memberi hormat, dan aku masuk ke Holy Temple tanpa masalah. Aku langsung menuju kamarku. Aku akan segera sampai! Oh, kasur tercintaku…

“Sun!”

Mendengar panggilan itu, aku menghentikan langkahku. Bahkan tanpa diberi waktu untuk menoleh, orang yang memanggilku sudah menyeretku pergi. Karena aku bahkan tidak punya tenaga untuk berbicara, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan tubuhku terseret.

“Apa yang kau lakukan? Kau ditutupi darah! Itu darah musuh, kan? Kutebak kau menghajar mereka sampai gigi mereka berceceran di lantai, ha!”

Orang itu berambut merah manyala, suara menggelegar, dan tubuh tinggi. Gaya bicaranya juga sangat blak-blakan, dan tenaganya mengejutkan. Seluruh tubuhku terseret hanya oleh sebelah tangannya.

Orang ini adalah Blaze Knight11 dari Dua belas Holy Knight, dan kepribadiannya seperti inferno, meledak-ledak dan tepat sasaran. Aku, Storm, Leaf, dan dirinya memiliki kesamaan, karena kami semua kapten-kapten Dua belas Holy Knight dari fraksi “baik dan berhati lembut”.

Lepaskan aku, Blaze! Aku ingin menangis; aku sudah hampir pingsan!

“Oh iya, aku lupa bilang kenapa aku mencarimu.”

Blaze bahkan tidak melihat ke arahku, melainkan tetap menyeretku ke depan. Aku melihat ketika kami berlalu, semua holy knight yang berpapasan dengan kami menjatuhkan dokumen, cangkir, dan bahkan pedang berharga di tangan mereka dalam keterkejutan mereka. Kurasa warna mukaku saat ini pasti sangat menakutkan—seperti saking lemahnya sampai menakutkan.

Kalau ini terus berlanjut, reputasiku sebagai Sun Knight pasti ternoda. Aku mengerahkan segenap kekuatan yang tersisa di tubuhku dan menurunkan tudung jubahku.

“Ice sedang berbaring. Pedang Death Knight itu sedikit aneh. Mereka bilang itu adalah pedang Death-apalah namanya, dan ketika kau terkena pedang itu, ia memasukan aura kematian langsung ke dalam tubuh. Bahkan Pope tua itu hanya bisa menekan energi kematiannya dengan paksa. Mereka bilang hanya kamu yang bisa menghapus energi apalah namanya itu.”

Aura kematian? Sekarang semuanya masuk akal! Tidak heran kalau aku masih selemah ini bahkan dengan kemampuan memulihkan diriku yang luar biasa. Sepertinya pedang itu punya asal usul yang tidak biasa, dan sayangnya, sedang dipegang oleh seorang Death Knight. Sialnya lagi, aku bahkan dicurigai sebagai tersangka utama pembuat Death Knight itu, jadi aku tidak punya pilihan lain selain mencari kebenarannya.

Blaze menyeretku ke deretan koridor tempat tinggal fraksi “kejam dan berhati dingin”, dan menendang pintu kamar Ice sampai terbuka. Lalu dia berteriak, “Aku menemukan Sun! Sekarang apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan manusia dingin ini?”

Situasi di kamar tidak seburuk yang kukira. Meskipun Ice Knight terbaring di ranjang, dia masih sadar dan bahkan sedang membaca buku. Beberapa cleric elit berdiri di samping, mendiskusikan cara menyembuhkan lukanya.

Judgment juga sedang duduk di sisi tempat tidur, memeriksa dokumen. Meskipun dia datang untuk mengurus Ice, dia tidak melupakan pekerjaannya.

Para cleric elit itu bersukacita atas kedatanganku. “Kalau kita meneteskan darah suci Sun Knight, yang telah diberkati oleh God of Light sejak lama, kepada luka Knight-Captain Ice dan memadukannya dengan purification magic12, kita pasti bisa menghilangkan aura kematiannya,” kata salah satu dari mereka. “Setelah itu biarkan Knight-Captain Ice istirahat dengan tenang selama beberapa hari dan dia akan sembuh.”

Tidak bisakah kalian membiarkan aku istirahat dulu beberapa hari? Dilihat darimanapun, kurasa kondisiku jauh lebih parah dari Ice…

Urgh! Bersamaan dengan rasa sakit yang tiba-tiba, tanganku tiba-tiba mengucurkan darah seperti mata air.

“Sangat mudah. Sun itu kan, seperti kecoak. Berdarah satu atau dua ember tidak masalah baginya.” Blaze memegang pundakku dengan sebelah tangan, dan dengan tangan satunya lagi mengangkat tanganku dan melambaikannya di atas kepala Ice. Darahku memercik kemana-mana, dan ekspresi Ice bertambah dingin.

Melihat situasinya, beberapa cleric elit cepat-cepat melakukan purification spell. Meski begitu, semua purification spell dikerahkan kepada Ice yang terbaring di ranjang… Hei, hei! Apakah semuanya lupa kalau aku juga kena pedang kemarin? Apalagi lukaku bahkan lebih dalam dari Ice, jadi bagilah sedikit purification magic kepadaku!

Aku mengamati semua purification spell itu, ingin menangis tapi tidak kuat menangis. Meskipun aku mau teriak, hanya suara serak yang keluar dari mulutku.

“Knight-Captain Sun, kamu…” Judgment sepertinya mulai merasa kalau ada yang salah denganku. Dia tiba-tiba mengangkat kepalanya, namun dia ragu-ragu dan tidak melanjutkan.

Aku bisa mengerti keraguan Judgment. Biar bagaimanapun, kami berdua adalah Sun Knight dan Judgment Knight yang benar-benar tidak mungkin berteman. Tidak peduli keadaan sebenarnya saat tidak ada yang melihat, di depan para cleric dan Blaze, tidak benar kalau dia menunjukan kekhawatirannya. Terlebih lagi, dengan kemampuan memulihkan diriku yang memang mirip kecoak, mungkin tidak ada yang percaya kalau aku sedang sekarat…

Pada saat para cleric sedang melakukan pemurnian pada Ice, kesadaranku mulai hilang secara bertahap. Tolonglah! Siapapun boleh, tolong sadarlah kalau sebentar lagi aku akan kembali ke sisi God of Light…

Di saat-saat terakhir sebelum aku pingsan, aku melihat dari sudut mataku saat Judgment menarik lepas tangan Blaze dari pundakku dan melepaskan kerudungku. Saat dia melihat wajahku, dia menarik napas, lalu berbalik dan berteriak kepada para cleric. Tetapi aku tidak dapat mendengarnya jadi aku tidak tahu apa yang dia teriakan.

Hoho, Ice juga melonjak dari ranjangnya. Manusia es ini ternyata bisa panik juga? Ini terlalu luar biasa. Malah Blaze, yang biasanya terlalu ekspresif, yang diam mematung.

Aku tidak peduli lagi!

At any rate, what happens after, be it life or death, is none of my concern. Right now, I only want to sleep…Closing my eyes, I thought, Ah! How comfortable. Good night, everyone.

Sekarang ini, apa yang terjadi nanti, hidup atau mati, bukan masalahku. Sekarang, aku hanya ingin tidur…Sambil menutup mataku, aku berpikir, Ah! Nyamannya. Selamat tidur, semuanya!

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 4]

Catatan Kaki

1 “Holy knight yang kesusahan di area eksekusi dipermainkan oleh para kesatria biasa”: Modifikasi dari idiom, 虎落平阳被犬欺 (hǔ luò píng yáng bèi quǎn qī), yang secara literal berarti harimau (raja pegunungan) yang jatuh ke padang rumput dan dipermainkan oleh anjing. (Artinya orang kuat dalam situasi buruk tidak dapat membela diri dari yang lemah.) Jadi dalam kasus ini, Sun mengatakan kalau dia dalam situasi sulit dan sedang dipermainkan oleh orang yang lebih lemah darinya.

2 Light Shield: Bekerja sebagai lapisan cahaya yang menyelimuti penggunanya dan meningkatkan pertahanan fisik. Untuk yang bermain Ragnarok Online (RO), cara kerjanya kurang lebih seperti Kyrie Eleison

3 Wings of God: Sebuah mantera yang meningkatkan kecepatan.

4 “Pemimpin biasanya hanya memerintah dan tidak bertindak”: frasa aslinya adalah 君子动口不动手, yang artinya, “Seorang pria sejati seharusnya berunding dengan perkataan mulutnya daripada menghajar dengan tangannya.”

5 Spell of Paralysis: Mantera yang dapat membius korbannya atau membuat korbannya tidak bisa bergerak.

6 Spell of Grease: Mantera untuk memunculkan lapisan minyak di permukaan benda, membuatnya licin.

7 Swordmage: Sebuah profesi dimana seseorang mempeajari sihir dan kemampuan berpedang sekaligus, kurang lebih seperti kombinasi antara kesatria dengan penyihir.

8 Battle Aura: Secara literal, aura tempur. Aliran energi yang berfungsi seperti baju zirah, hanya saja tidak berbobot dan berasal dari dalam diri seseorang.

9 Spell of Smokescreen: Mantera untuk menyembunyikan atau melarikan diri dengan cara memunculkan asap yang mengaburkan pengelihatan musuh. Kerjanya kurang lebih seperti bom asap.

10 Healing Magic/Healing Spell: Mantera penyembuhan.

11 Blaze Knight: Kesatria Api. Salah satu anggota fraksi “baik dan berhati lembut”.

12 Purification Magic: Sihir pemurnian. Dipakai untuk menghilangkan aura kegelapan.

The Legend of Sun Knight V1C4: “Kemampuan Seseorang untuk Memulihkan Diri Harus Lebih Baik dari Bagus”

Legenda Kesatria Surya Volume 1: Sebuah Perkenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh: 御我 (Yu Wo)


Peraturan Keempat Kesatria Surya: “Kemampuan Seseorang untuk Memulihkan Diri Harus Lebih Baik dari Bagus” – diterjemahkan oleh amusement

Sebagai akibat dari kehilangan apa yang terlihat seperti segalon darah, libur tiga hariku dengan sukses berhasil diperpanjang menjadi seminggu. Kudengar, awalnya Leaf bahkan berniat untuk membantuku memperpanjangnya menjadi satu bulan, tapi sayangnya sang Pope sepertinya mempunyai misi untuk kukerjakan, jadi usahanya gagal. Ah! Leaf, kau memang orang yang baik!

Aku menuang susu asam ke dalam baskom berisi gumpalan tepung dengan satu tangan dan menggunakan tangan lainnya untuk mengaduk adonan itu dengan sarung Divine Sun Sword. Harus kuakui, sarung Divine Sun Sword memang sangat berguna. Karena sarung itu hampir sepenuhnya terbuat dari emas, benda itu dijamin tidak akan berkarat, tidak peduli apakah dia digunakan untuk mengaduk adonan masker atau mengaduk wine apelku.

Tidak hanya sarungnya tidak akan kotor sesudah dipakai mengaduk, dia bahkan akan menjadi lebih berkilau kalau kau menyekanya dengan kain!

Hmm, sepertinya maskernya hampir jadi. Seharusnya aku sudah bisa mulai melumuri tubuhku dengan itu. Setelah berkelahi selama itu kemarin, ditambah fakta kalau aku pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah, aku tidak sempat memakai masker kemarin. Waktu aku bangun pagi ini dan berkaca, aku hampir pingsan di tempat; kulitku sudah berubah warna dari warna purih susu menjadi warna madu!

Oh dewa! Sepertinya aku tidak akan bisa memperbaiki kulit mulusku jika aku tidak memakai masker selama seminggu.

“S-Sun! Apa yang kau lakukan?” tiba-tiba Leaf Knight membuka pintu kamarku dan lalu memelototiku dengan mulut menganga.

Aku baru selesai membuat masker dan sedang akan melumuri tubuhku dengan itu… Pikirku datar, dengan segumpal masker di satu tangan.

Sial! Aku lupa mengunci pintu. Dan Leaf hanya perlu memilih waktu yang sama untuk lupa mengetuk pintu!

Tidak apa, tidak apa! Aku hanya sedang akan melumuri tubuhku dengan masker; aku belum benar-benar memakainya Jika tidak, kalau Leaf melihatku saat aku terlihat seperti makhluk undead yang sedang membusuk, sangat mungkin jika dia akan membawaku kepada teman baikku Judgment Knight, yang akan menginterogasiku untuk mengetahui apakah aku sedang kerasukan.

“Kenapa kamu tidak di tempat tidur? Setelah kehilangan begitu banyak darah, kau seharusnya istirahat di ranjang!”

Leaf menghampiriku dengan cepat dan memaksaku tiduran di ranjang dengan satu tangan, lalu menutupiku dengan selimut.

Aku memutar mataku. Hei, hei! Masih ada segumpal masker di tanganku, tahu!

“Sun, untuk apa kau memegang adonan tepung itu?” setelah menyelimutiku, Leaf sekarang tengah menatap heran ke arah tangan kananku, yang telah kujauhkan dari selimut.

Leaf masih memelototi masker itu sambil berpikir keras selama beberapa menit (meskipun dia kelihatan seperti sedang bengong), lalu menoleh ke arahku sambil tersenyum. “Aku tahu! Kamu lapar, kan?”

…Bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan itu? Apakah adonan tepung mentah terlihat seperti makanan bagimu?

“Kamu bakal sakit kalau makan itu.”

Leaf memberiku tatapan yang agak mencela sambil mengambil gumpalan masker itu dari tangan kananku, melemparkannya ke baskom tempat aku mengaduk masker itu, lalu mengangkat baskomnya. ketka dia berjalan ke pintu, dia menoleh sambil tersenyum dan berkata, “Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu dari dapur.”

Hei, hei! Aku tidak ada masalah dengan niatmu mengambilkan makanan, tapi kemana kau akan membawa maskerku?

Sebaskom masker itu setara dengan gajiku selama lima hari. Aku berencana untuk memakainya selama seminggu penuh!

Leaf melangkah ke pintu dan menariknya hingga terbuka, hanya untuk dikejutkan oleh orang yang sedang berdiri tepat di depan pintu. Baskom itu terlepas dari tangannya dan mulai jatuh…

Maskerku yang menyita gajiku selama lima hari! Aku melompat dari kasur, tapi aku tidak mungkin menyelamatkan gajiku tepat pada waktunya…

Thump!

Orang yang berdiri di depan pintu itu menangkap gajiku dengan tenang dengan sebelah tangan. Seluruh keberadaannya persis seperti awan kelabu yang menyampaikan kabar buruk, karena tidak hanya rambut, mata, dan pakaiannya yang hitam, namun bahkan atmosfer yang menyelubunginya terasa gelap dan suram. Orang ini tidak lain tidak bukan adalah orang yang menanamkan rasa takut kepada orang-orang melihatnya, seseorang yang bahkan hantu pun akan kabur melihatnya: sang Judgment Knight.

“Knight-Captain Judgment1, apakah kau ada urusan dengan Sun?” Leaf Knight bertanya dengan waspada.

Aku hampir saja lupa mengatakannya, Judgment Knight adalah “teman baikku yang bukan temanku”, sesuatu yang hanya diketahui kami berdua. Di permukaan, hubungan kami masih seperti minyak dan air.

Terlebih lagi, sepertinya di antara anggota fraksi “lembut dan baik hati” dan fraksi “kejam dan berhati dingin”, hubungan kami adalah salah satu yang paling baik; semua kesatria lain benar-benar tidak menyukai fraksi yang berlawanan. Jelas, indoktrinasi dari kuil waktu kami kecil sangat sukses.

Wajah dingin Judgment tanpa ekspresi, auranya terasa mengancam bahkan ketika dia tidak melakukan apapun. Dengan suara beratnya yang unik – yang telah membuat entah berapa banyak kriminal takut setengah mati – dia berkata, “Aku disini untuk menyampaikan misi dari Pope.”

Orang yang baik hati seperti Leaf tidak mungkin menang melawan aura Judgment Knight, jadi dia berbalik dan menatapku sambil tersenyum ragu. “Sun…”

Melonpat dari tempat tidur terlalu cepat telah membuatku agak pusing, jadi dengan anggun dan perlahan, aku duduk di ranjangku dan berkata, “Leaf, karena ini adalah sebuah misi dari sang Pope, Sun tentu saja harus mendengarkan dengan saksama.”

“Tapi kau terluka parah; kau harus istirahat,” kata Leaf, khawatir.

“Jangan khawatir, Leaf. Sun dilindungi oleh proteksi God of Light.”

Kalau kau memaksaku membuka mulut dan berbicara sekali lagi, aku akan pingsan hanya supaya kau melihatnya!

“Oke…kalau begitu.” Leaf meninggalkan kamarku dengan tak berdaya, menutup pintu di belakangnya.

Judgment mengunci pintunya dengan perhatian, untuk mencegah seseorang masuk ke kamarku tanpa mengetuk.

Judgment duduk dan meletakkan baskom masker itu. Tanpa berbasa-basi, dia langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Sang Paus menanggapi insiden itu dengan sangat serius. Dia mau kamu mencari asal usul Death Knight dalam seminggu – dan lakukan itu dengan diam-diam.”

Aku tahu si tua pelit itu tidak mungkin sebaik itu memberikanku libur seminggu!

“Sun tidak mengerti; misi apa yang tidak dapat diletakkan di bawah cahaya God of Light?” aku merasa tidak bersemangat; misi-misi yang memerlukan penyelidikan rahasia seperti ini biasanya membawa bencana.

“Aku tidak tahu,” jawab Judgment singkat.

“Bahkan jika itu adalah seorang Death Knight, insiden itu tidak memerlukan perhatian sebesar itu dari sang Pope, jadi kenapa ia harus secara khusus meminta Sun untuk menginvestigasi?”

Aku benar-benar khawatir. Meskipun si tua sialan itu tahu cara mengeksploitasi kesatria-kesatria lain, dan kemampuan memulihkan diriku lebih dari sekedar baik, kali ini aku benar-benar telah mengucurkan segalon darah. Jika dia tidak membiarkanku menyembuhkan diri selama tiga hari, kupikir akan mustahil bagiku untuk kembali ke kondisi prima. Jika masalah ini semendesak itu, kenapa dia tidak menyuruh kesatria lain saja?

“Sang Pope tidak ingin mengetahui hasil investigasinya. Setelah kau menemukan kebenarannya, kau cukup memberitahuku.” Saat Judgment Knight berbicara, matanya berkilat kejam, meskipun kekejaman itu bukan diarahkan kepadaku, tapi kepada sang kriminal.

Oh… Dia mau Sun Knight pergi dan menginvestigasi diam-diam, lalu menyerahkan kriminal itu kepada Judgment untuk dilenyapkan diam-diam? Sepertinya masalah ini bukan masalah biasa.

Kalau aku hanya mengatakannya seperti ini, aku yakin kalian semua masih belum paham tentang pertukaran rahasia yang terjadi antara aku dan Judgment, jadi aku akan menjelaskannya secara detail.

 

 

Pertama, mari kita mulai dari penjelasan tentang kelahiran seorang Death Knight. Untuk membangkitkan seorang Death Knight, yah, bukannya aku mau protes tentang itu, tapi itu memang proses yang sangat rumit. Kau harus menyiapkan dua “keperluan” untuk membangkitkannya, dan juga sejenis “makanan” untuk membuat bayi Death Knight itu bertambah kuat seiring pertumbuhannya.

Syarat pertama adalah: Seorang necromancer berkemampuan tinggi.

Meskipun itu tidak terlalu sulit ditemukan, tapi tetap saja susah. Biar bagaimanapun, pekerjaan sebagai necromancer bukanlah pilihan yang populer. Ditambah lagi, pekerjaan ini dihadapkan dengan diskriminasi okupasi yang cukup parah, jadi para necromancer hanya dapat tinggal di pegunungan terpencil, kuburan, dan tempat-tempat semacam itu.

Syarat kedua adalah: mayat segar dengan aura kebencian yang setinggi langit, dan yang keinginannya belum terkabul.

Tingkat kesulitan menemukan mayat seperti itu bahkan lebih tinggi daripada menemukan seorang necromancer.

Mungkin kamu akan berkata, apa susahnya mencari mayat dengan penyesalan seperti itu?

Aku harus memberitahukan kepadamu kalau penyesalannya tidak boleh sekedar keluhan kecil atau pertengkaran, atau penyesalan karena belum memakan makan siangnya sebelum meninggal. Untuk membangkitkan seorang Death Knight, itu harus sebuah ketidak adilan sebesar langit dan juga obsesi yang dapat membangkitkan orang mati!

Dan satu-satunya makanan yang dapat membantu pertumbuhan “bayi” Death Knight adalah: “obsesi yang tidak mungkin tercapai”!

Semakin sulit keinginan itu tercapai, makin banyak kebencian yang dirasakannya. Kebencian itu bekerja sebagaimakanan, dan akan membantu pertumbuhan bayi Death Knight sampai dia besar dan kuat. Saat kebencian dan obsesinya mencapai langit, dia akan berevolusi menjadi seorang “Death Lord”, lalu permasalahannya akan menjadi benar-benar serius.

Tidak peduli sekuat apapun Death Knight, tetap saja dia hanya satu. Tetapi seorang Death Lord punya kemampuan seperti necromancer tingkat tinggi. Tidak hanya pasukan undead yang dapat dibangkitkannya, dia juga bisa menggunakan segala macam sihir untuk membantu pasukan tersebut.

Dengan kata lain, Death Lord sama sekali tidak boleh muncul, kalau tidak akan ada bencana yang sangat mengerikan.

Setelah membicarakan tentang kelahiran seorang Death Knight, sekarang saatnya membicarakan cara membunuhnya. Cara paling mudah adalah dengan menggunakan kekerasan dan menghajarnya, lalu membakarnya habis, lalu semua masalah selesai!

Cara kedua adalah dengan menginvestigasi apa obsesi Death Knight tersebut dan ketidak adilan yang dialaminya, lalu membantunya balas dendam. Setelah menuntaskan dendamnya, dia akan menghilang dengan sendirinya.

Meskipun cara kedua terdengar lebih adil dan bermoral, kebanyakan orang lebih memilih untuk menghajarnya langsung, karena itu jauh lebih mudah.

“Kenapa sang Pope sangat mengkhawatirkan persoalan Death Knight ini?”

Aku sangat penasaran, karena si kakek sialan itu masih punya hati nurani, setelah menduduki jabatan tinggi sebagai Pope dalam waktu yang lama, mungkin saja dia masih punya sedikit kebaikan. Kali ini, dia mau aku secara khusus menginvestigasi ketidak adilan yang diterima oleh Death Knight itu, sebuah fakta yang menyebabkan bahkan God of Light berteriak “Tidak dapat dipercaya’!

Judge melirikku dengan ekspresi yang aneh, dan berkata dengan pelan, “Kudengar kalau satu-satunya yang dikatakan Death Knight itu adalah dia akan kembali untuk menemukanmu…?”

Aku mengangguk. Ya, itu benar! Dia bilang dia akan kembali untuk menemukanku… Sial, aku baru sadar!

Biasanya satu-satunya orang yang akan direcoki oleh Death Knight hanya orang yang berhubungan dengan kebencian atau obsesinya…

“Apakah aku sedang dicurigai?” aku terkejut, dan bahkan lupa menambahkan frasa dekoratif dan pujian kepada God of Light.

Judgment Knight mengangguk, ekspresi wajahnya serius.

Dengan berkeringat dingin, aku menyangkal, “Aku tidak membunuhnya, aku bahkan tidak mengenalnya!”

Judge mengangguk lagi dan meninggalkan beberapa patah kata. “Kalau begitu carilah kebenarannya, dan buktikan kalau kau tidak bersalah. Kau harus bergerak cepat, karena semua orang mulai curiga.”

 

 

Kurasa kalau aku mati sekarang, ada kemungkinan 99% kalau aku akan menjadi seorang Death Knight. Penyesalanku sudah sedalam lautan!

Pertama, seorang Death Knight memotongku untuk alasan tidak jelas, lalu aku kehilangan segalon darah. Lalu saat kupikir aku akan libur seminggu, ternyata liburan itu harus dipakai untuk menginvestigasi masalah ini. Dan lagi, ternyata tersangka utama kasus ini adalah diriku sendiri!

Awalnya aku ingin memakai maskerku, tidur selama tiga hari, lalu bangun dan berlibur. Namun sekarang setelah aku diperlakukan sebagai tersangka, bagaimana mungkin aku masih berani tidur-tiduran?

Segera setelah Judge pergi, aku berdiri dengan gemetar, Waktuku hanya seminggu, dan menyelidiki kebenarannya adalah hal yang sangat sulit. Belum lagi fakta kalau kasus ini menyangkut seorang Death Knight, dan siapa yang tahu sejak kapan dia mati!

Karena itu, meskipun aku merasa akan pingsan kapan saja, aku masih merangkak dengan segenap kekuatan untuk menyelidiki kasus ini. Jika aku mati karena ini, aku pasti akan menjadi Death Knight, lalu pergi mencari Death Knight yang itu untuk balas dendam! Aku melempar jubahku, dan mengambil Divine Sun Sword. Siapa tahu Death Knight itu akan kembali mencariku. Sebaiknya kubawa saja untuk jaga-jaga.

Sebenarnya, aku berniat untuk pergi dan mencari kuda untuk ditunggangi. Tetapi setelah dipikir-pikir, aku mengingat fakta kalau saat ini tubuhku sedang kekurangan darah. Aku sudah pusing dengan berdiri, dan jika aku menunggang kuda dan terayun-ayun begitu, aku bisa langsung jatuh dan mati.

Kalau begitu aku cuma bisa jalan kaki. Kuharap aku tidak pingsan di tengah jalan.

Untuk menghindari masalah, aku menarik tudung jubahku lebih rendah supaya tidak dikenali orang. Lalu aku berjalan dengan pelan, dan kadang ada orang mengelilingiku dari samping untuk lewat, lalu memutar mata, seakan-akan berkata, “Apakah kau kura-kura?”

Aku yang kini memiliki tekanan darah rendah terlalu malas untuk memikirkan siapapun, dan melanjutkan jalan ala kura-kuraku. Lama-kelamaan, jalanan menjadi semakin sepi. Pemandangan berubah dari pertokoan yang sibuk menjadi perumahan kumuh. Pejalan kaki yang lewat juga berkurang, dan akhirnya hanya ada sedikit yang tersisa dalam kelompok dua atau tiga orang. Ekspresi mereka kosong, seperti orang luntang-lantung.

“Yoooo! Jubah yang bagus! Tuan Muda, apakah aku sedang mencari inang pengasuhmu?” Beberapa pemabuk di pinggir jalan tertawa mengejek.

Aku berjalan melewati pemabuk-pemabuk itu. Bahkan langkah kakiku mempertahankan kecepatan yang sama. Akhirnya, aku berjalan ke sudut gelap yang bahkan penduduk perumahan kumuh ini tidak mau datangi, dan berhenti di rumah tua yang terlihat tidak berpenghuni. Lalu, aku mengangkat wajahku dengan perlahan untuk melihat rumah ini.

Bruk!

Aku menendang pintu utama dengan satu kaki dan berlari ke dalam rumah, berteriak kesal, “Hei mayat! Tunjukan dirimu! Gara-gara kamu aku dalam masalah!”

Di dalam rumah itu, hanya ada beberapa meja dan kursi usang yang diselimuti sarang laba-laba. Jika ada orang yang berani masuk, mereka pasti langsung tersangkut sarang laba-laba dan berubah menjadi kepompong raksasa.

Karena itu, bahkan anjing liar pun tidak mau hidup di tempat ini.

Tetapi, aku tahu kalau ini hanya penampilan yang dipakai para necromancer untuk menghindari orang-orang rasis.

“Mayat! Kau tidak mau keluar juga, hah?” aku mengulurkan sebelah tangan dengan perlahan dari bawah jubah, lalu tanganku yang putih dan elegan – sial! Itu adalah tangan warna coklat madu!

Hiks! Aku telah menjadi Sun Knight coklat!

Lupakan, sekarang mari kita cari Mayat itu. Bahkan tanpa mengucapkan mantra apapun, tanganku mulai berpendar oleh cahaya holy magic. Cahaya itu berubah dari lemah ke kuat, dan akhirnya cahaya putih dan lembut memenuhi seluruh rumah bobrok itu.

Bukannya sombong, tapi mengumpulkan holy light2 tanpa mengucapkan mantra adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan sedikit orang. Bahkan di antara cleric tingkat tinggi, termasuk kardinal Pope, hanya ada segelintir orang yang bisa melakukannya.

Saat guruku mengajariku sihir, dia sering terkejut dan berkata, “Nak, kau benar-benar cleric berbakat.”

“Benarkah?” aku yang masih muda sangat senang, karena saat itu aku masih meratapi kemampuan berpedangku yang tragis.

“Ya, kalau kamu dulu masuk ke Sanctuary of Light, di masa depan kamu pasti akan menjadi salah satu Pope terbaik dalam sejarah Sanctuary of Light!”

Dengan mata berbinar-binar, aku membayangkan kemasyuran dan keagungan dari Pope terbaik…

“Tapi karena awalnya kamu masuk ke Holy Temple, kamu cuma bisa menjadi Sun Knight yang sangat lemah di masa depan.”

Seperti yang diharapkan, perempuan takut menikahi pria yang salah, dan laki-laki takut memilih pekerjaan yang salah. Sebuah pilihan karir yang salah dapat membuatku turun dari yang terkuat menjadi yang terlemah. Aku benar-benar menyesali pilihanku. Anak-anak itu bodoh, dan selalu berpikir kalau kesatria yang memegang pedang dan berbaju zirah keren.

Sekarang aku tahu kalau menjadi cleric adalah pilihan yang lebih baik!

Karena mereka tidak perlu menyandang pedang, mereka tidak perlu menghabiskan uang untuk memperbaikinya. Mereka memang butuh uang untuk membeli tongkat sihir, tapi melihat kemampuanku mengumpulkan holy light, ranting pohon pun tidak masalah!

Dan juga, cleric tidak memakai baju zirah, jadi mereka tidak perlu membelinya, dan juga tidak perlu menghabiskan uang untuk memperbaikinya jika musuh membacoknya menjadi kepingan kecil. Meskipun cleric masih harus membeli jubah cleric, kuulangi sekali lagi, melihat kemampuanku mengumpulkan holy light, tirai putih sebagai jubah cleric pun tidak masalah!

Para dewa memberiku potensi yang sangat baik, tapi aku pergi dan menjadi kesatria, ditambah lagi itu adalah pekerjaan yang tidak bisa disesali, tidak bisa diubah, dan kau hanya bisa berhenti jika kau pension atau mati: sang Sun Knight… Bahkan aku sendiri mau memarahi diri sendiri karena menjadi seorang idiot!

Ah, penyesalan…

“Sun, Sun!” teriakan lirih itu memotong penyesalanku.

Aku berbalik dengan cepat, dan melihat bayangan kecil yang kabur sedang berlarian kesana kemari, dan meneriakan namaku seakan-akan hidupnya akan berakhir. Melihat situasinya, aku mengumpulkan kembali holy light-ku diikuti oleh suara ‘whoosh’.

Hiks! Sakit…!” Bayangan kecil itu berjongkok di pojok ruangan dan menangis sejadi-jadinya.

Seluruh rumah itu telah berubah, karena holy light-ku menghapus sihir ilusi necromancer. Pemandangan rumah yang dipenuhi sarang laba-laba menghilang, digantikan oleh rumah yang kecil dan rapi, tapi…

Pink, pink, pink dimana-mana!

Gila! Tempat ini bahakn tidak perlu sihir ilusi untuk menutupi fakta kalau ini adalah tempat tinggal seorang necromancer.

Siapa yang percaya kalau rumah bertembok pink, dengan meja dan kursi pink, ranjang pink, dan boneka-boneka pink di seluruh penjuru rumah, sebenarnya adalah tempat tinggal necromancer?

Bahkan rumah bobrok penuh sarang laba-laba tadi terlihat lebih seperti tempat tinggal necromancer!

“Sun…” bayangan kecil itu menarik lengan bajuku dengan malu-malu.

Aku menundukan kepalaku untuk melihat — ya, benar! Aku menundukan kepalaku karena tinggi makhluk ini hanya mencapai pinggangku! — sang necromancer. Aku memelototinya dengan ekspresi garang dan serius.

Bayangan kecil itu berjongkok dan mulai terisak karena tatapanku. “Kenapa kamu menangis? Kamu itu necromancer!” Aku memelototi bayangan kecil itu dengan tidak percaya, dan menggeram, “Lagipula, yang seharusnya menangis itu aku. Bukan hanya teriris dan kehilangan segalon darah, tapi juga dicurigai semua orang kalau aku telah melakukan sesuatu yang tidak dapat ditolerir, dank arena itu si Death Knight datang dan merecokiku.”

“Mungkin saja kau benar-benar melakukannya…” kata bayangan kecil itu pelan.

“APA KAU BILANG?”

Aku melampiaskan amarahku dengan gertakan gigi, memelototi bayangan kecil itu, dan mengangkatnya perlahan-lahan…

 

 

Dalam rumah yang temboknya pink, berlantai pink, dan ranjang di pinggir yang juga pink, seorang pria tampan berkulit kecoklatan sedang duduk di atas kursi pink. Di pangkuannya duduk seorang gadis cilik yang terlihat rapuh dan manis, dengan mata besar dan indah yang penuh semangat dan rambut ikal keemasan. Dia terlihat hampir seimut boneka.

Tetapi, setelah dilihat baik-baik, kulit gadis ini juga pink, yang membuat orang tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang salah, dan merasakan bulu kuduknya berdiri…

“Jadi, Mayat, kau bilang kau juga tidak tahu asal usul mayat itu?” aku mengerutkan alisku.

“Kau kejam! Jangan panggil aku Mayat, aku Pink!” gadis pink itu menggenggam sebuah lollipop di tangannya, dan bahkan cemberut ketika mengeluh. Setelah kupelototi lagi, dia menjelaskan dengan lebih serius, “Pink hanya melakukan yang biasa Pink lakukan, dan pergi ke tempat eksekusi untuk membeli mayat. Dan Sun, terakhir kali kau bilang kau mau makhluk undead yang lebih kuat, jadi Pink secara khusus menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli mayat utuh… Pink juga tidak tahu kalau aura kebencian dan obsesi mayat itu sangat kuat sampai-sampai dia berubah menjadi Death Knight.” Pink mendongak untuk melihatku, dan dengan ekspresi imut, berkata, “Ditambah lagi, sumber obsesinya kebetulan adalah kamu, Sun!”

“Tapi aku tidak mengenalnya!” Aku benar-benar hampir gila secara harafiah, karena aku jelas-jelas belum pernah melihatnya sebelumnya. Kenapa aku sumber obsesinya?

Aku tidak tahu Pink percaya kepadaku atau tidak, karena dia hanya menundukan kepalanya untuk menjilat lolipopnya.

Aku mengerutkan alis dan bertanya, “Kau bilang kau membeli mayat itu di tempat eksekusi? Apakah dia seorang kriminal?”

“Seharusnya bukan.” Pink mengangkat kepalanya, dan meskipun wajahnya sangat imut, matanya menunjukan kedewasaan… Siapa yang tahu berapa umur nenek-nenek necromancer sok imut ini.

“Hah?” aku menyentuh hidungku, dan bertanya dengan skeptis, “Kupikir hanya kriminal yang dikirim ke tempat eksekusi?”

Pink menertawai ketidak tahuanku. “Di permukaan, ya! Meski begitu, Pink akan memberitahumu kalau Pink adalah orang dengan pengalaman bertahun-tahun dalam hal membeli mayat. Banyak mayat yang tidak bisa disingkirkan dengan blak-blakan, tapi takut ditemukan oleh orang, dapat ditumpuk di tumpukan mayat para kriminal di tempat eksekusi hanya dengan membayar sedikit.”

“Benarkah? Bagaimana kau tahu kalau dia bukan kriminal?” Aku cemberut, Haruskah aku memberitahu Judgment Knight tentang berita ini, dan membiarkannya menyelidiki?

“Bodoh!” Pink bersenang-senang di atas kemalangan orang-orang mati saat dia berkata, “Mereka yang mati di tempat eksekusi semuanya dihukum gantung, tapi aku telah membeli banyak mayat yang tidak digantung. Leher mereka semua punya tanda cekikan, tapi Pink sangat berpengalaman dengan mayat, dan dengan sekali lihat Pink langsung tahu kalau tanda itu dibuat asal-asalan dengan tali setelah kematian. Leher mereka tidak patah, jadi mereka pasti tidak digantung.”

“Apa penyebab kematian Death Knight yang itu?”

Aku memutuskan untuk mengesampingkan insiden penipuan tempat eksekusi, karena sekarang ini, lebih penting membuktikan kalau aku tidak bersalah.

Pink memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi imut, dan memilih jawaban paling tepat setelah berpikir sejenak. “Dia disiksa sampai mati. Ada terlalu banyak luka di tubuhnya, jadi dia pasti disiksa untuk waktu yang lama, dan akhirnya mati, tentu saja.”

Disiksa sampai mati… Kulit kepalaku mulai mati rasa.

“Tapi, Sun…” Pink tiba-tiba melihat ke arahku dengan mata penuh harap. “Aku tidak tahu kau punya hobi semacam ini. Lain kali kita bisa bertukar metode penyiksaan satu sama lain, karena kau tahu, sampai sekarang aku belum berhasil menghasilkan seorang Death Knight.”

Mendengar itu, aku langsung naik pitam dan menarik bahu Pink, mengguncangnya sekeras mungkin. “Bertukar?! Sudah kubilang, aku tidak mengenalnya!”

Saat Pink diguncangkan, dua bola matanya yang indah itu bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah dengan brutal. kelihatannya mereka akan jatuh, jadi aku buru-buru menggunakan kedua tanganku untuk menaruh kedua bola matanya ke dalam rongga matanya keras-keras. Biar bagaimanapun, aku tidak ingin melihat sebuah adegan bola mata menggelinding keluar.

“Pink mengerti. Pink juga tidak mengenal mereka yang disiksa oleh Pink!” Pink melihat ke arahku dengan senyum sok tahu.

Aku menngumpat dalam hati. Mayat hidup ini… Tunggu dulu! Dia memang “mayat” hidup sungguhan. Necromancer kejam ini benar-benar menolak percaya kalau aku tidak menyiksa Death Knight itu.

“Dari tempat eksekusi mana kau membeli mayat itu?”

“Yang di luar kota, di arah barat laut.”

“Yang terjauh, huh…” Sepertinya masalah-masalahku masih dalam proses perkembangan.

Berserah kepada nasib, aku berdiri dari kursi, dan meskipun yang kuinginkan setelahnya adalah menjatuhkan diri ke atas kasur pink dan memeluk guling pink berbentuk cake itu untuk tidur selama tiga hari tiga malam…

Namun, kenyataan selalu bertentangan dengan keinginan. Hal berikutnya yang harus kulakukan adalah pergi ke tempat eksekusi yang berbau busuk dan menginterogasi manajer korup dari tempat eksekusi untuk mengetahui asal mayat busuk itu.

Hanya memikirkannya saja sudah membuatku merasakan suramnya masa depanku …

Aku mendorong mayat pink yang mirip boneka itu dari pangkuanku, lalu berdiri perlahan, dan berjalan ke pintu dengan lebih perlahan lagi…

“Sun.”

Mendengar panggilan itu, aku menoleh ke belakang. Pink sedang bersandar ke pintu, menjilat lollipop pinknya, dan mengedipkan mata kepadaku.

“Kau tahu, apa yang kukatakan dulu masih berlaku. Kalau kamu mau, aku akan menerimaku sebagai muridku, dan bahkan Holy Temple dan gurumu itu yang dsebut-sebut sebagai ‘Sun Knight Terkuat’ tidak bisa membuatku menyerahkan muridku.”

Aku terkejut selama beberapa saat, dan masih sedikit tidak dapat mencerna perkataannya. Mungkinkah dia bermaksud untuk melindungiku?!

Mayat mungkin saja seorang necromancer yang keanehannya melampaui batas, tapi sejujurnya, dia sangat setia.

Aku hanya tersenyum lemah, dan melambaikan tangan kepadanya. Gadis penyihir itu tidak mengatakan apa-apa, dan dengan semangat melambaikan lolipopnya untuk mengucapkan selamat jalan kepadaku.
 
 
[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 4]

Catatan Kaki

1Knight-Captain Judgment: Kapten Kesatria Keadilan

2Holy Light: Cahaya Suci. Salah satu dari banyak tipe Holy Magic.

The Legend of Sun Knight V1C3: “Bahkan di Hadapan Kematian, Seseorang Harus Mati dengan Anggun”

Legenda Kesatria Surya volume 1: Sebuah Pengenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh : 御我 (Yu Wo)


Peraturan Ketiga Seorang Ksatria Matahari: ” Bahkan Dihadapan Kematian, Seseorang Harus Mati dengan Anggun” – diterjemahkan oleh saintazura

Aku berlari menuju jalan seperti komet yang melintasi langit. Pada saat ini, aku tidak lagi membutuhkan calon kesatria sebagai penunjuk jalan, karena aura kematian yang menjulang tinggi itu tidak mungkin untuk dilewatkan. Aku tidak pernah menemui aura kematian yang sekuat ini di kota sebelumnya…

(Jangan bilang kalau permintaanku untuk makhluk undead benar-benar dikabulkan? Tidak mungkin! Aku dengar dari guru karena Kuil membayar sangat kecil, necromancernya akan, paling-paling, memanggil zombie yang sudah kehilangan beberapa anggota tubuh untuk kumainkan)

Ada rumah dengan atap landai didepan… Aku menginjak dinding dan menggunakannya untuk mendorong diriku ke udara saat aku melompat ke atap. Menemukan tempat para holy knight berkumpul di bawah, aku melompat ke arah mereka, berteriak ditengah udara, “Makhluk undead yang melanggar hukum alam, makhluk jahat yang telah dinodai, dengan kekuasaan Dewa Cahaya aku, Sun Knight, dalam nama matahari yang bergantung di langit, akan menghilangkan keberadaanmu sepenuhnya dari muka bumi, untuk kemuliaan dari keindahan cahaya”

“Sun, akhirnya kamu disini!” dibawahku, Leaf knight memalingkan wajahnya untuk melihatku, ekspresi lega muncul di wajahnya.

Bersamanya Storm, Earth, dan Ice knight, mereka semua memimpin beberapa kesatria dari peleton masing-masing. Aku dengan cepat melihat bahwa total dua puluhan holy knight hadir; seingatku, sepertinya ini pertama kalinya kami bergerak dalam jumlah besar. Tapi lagi, aku mungkin bisa  menebak alasan untuk operasi besar seperti ini; bagaimanapun juga, death knight1 bukan makhluk yang sering kau lihat… Tunggu sebentar! Death Knight?

Kenapa makhluk kegelapan seperti dia – yang kemungkinan untuk memangilnya sangat rendah sampai necromancer lebih memilih untuk mengurus lawannya dengan tangan sendiri demi menghemat tenaga dan waktu- muncul disini?

Jangan bilang dia tersesat?

Sial!

Karena shocknya terlalu berat, otot di kaki kiriku tiba tiba kehilangan kekuatan. Ini mengakibatkan kaki kiriku membelok pada sudut yang salah dan menendang otot dibagian kanan bawah kaki, yang kemudian menyebabkan sudut kaki kananku menjadi salah dan menyebabkanku gagal untuk mengerakkan kakiku untuk mengambil satu langkah kedepan… Walaupun terdengar sangat sulit, mudahnya, situasi ini dapat diringkas sebagai-

Aku terpeleset.

Dan aku terpeleset di tengah udara.

Untungnya, guruku telah membawaku melalui “pelatihan yang wajar” dan “pelatihan yang tidak masuk akal”. Bukannya aku mau menyombongkan diri, tapi terima kasih pada dua tipe latihan spesial untuk terjatuh, aku bisa menjamin bahwa bahkan Dewa Cahaya tidak bisa jatuh dengan lebih anggun daripadaku… Walaupun kalau kupikir sekarang, tidak mungkin Dewa Cahaya pernah jatuh, jadi tidak mungkin kita dapat mengetesnya.

Aku menunduk kedepan secara refleks, tanganku bergerak kedepan dalam lengkungan anggun seperti seorang balerina untuk membentuk lingkaran dan aku melakukan salto ke depan dua kali, diikuti dengan putaran menyamping …. dan aku mendarat! Sebagai penutup, aku mengangkat kedua tangan ke atas kepala dan dengan perlahan dan menurunkan mereka – seperti sayap kupu-kupu –  untuk beristirahat disisiku.  Aku mendapatkan napasku kembali secara bertahap dan kemudian kembali ke postur Sun Knight yang lurus dan anggun.

Plok plok plok! Tepuk tangan yang megah dari penonton, dan satu kesatria bahkan memukul perisainya dengan pedang, berteriak, “Sekali lagi! Sekali lagi! Jatuh sekali lagi!”

Sialan aja “Jatuh sekali lagi”! Kenapa death knight belum mengirim para idiot ini ke Dewa Cahaya untuk diajar ulang?

” Sepuluh poin!” Leaf, menjadi orang baik seperti biasa, segera memberi nilai penuh untukku.

“Hmph! Lima poin, pijakan kakinya tidak sukup stabil ketika mendarat.” Earth sialan! Dia pasti masih menyimpan dendam kepadaku karena menggangu “bisnisnya” tadi.

“Delapan poin; saat jatuh didepan ratu masih lebih anggun.” Storm… Baik, paling tidak kamu jujur.

Aku akui, dalam upaya tidak mempermalukan diriku sendiri didepan Ratu pada saat itu, aku menggunakan “ketahanan manusia super yang kudapat dari bertahan hidup selama sepuluh tahun dibawah bimbingan guruku tanpa mengembangkan kepribadian yang terpilin” (apakah kepribadianku terpilin atau tidak, aku tidak akan pernah mengakuinya, jadi anggap saja masih belum berubah) dalam usaha untuk jatuh dengan anggun…. dan jatuh dari tangga dengan tiga ratus dan dua puluh tiga anak tangga.

Sejak saat itu, tingkat kekesalanku kepada tangga kuil telah melampaui kekesalanku kepada Earth Knight.

Gila apa!! Apa mereka mencoba membunuh orang dengan membangun tangga sepanjang itu?!

Kalau bukan karena keberadaan beberapa ratus cleric di kaki tangga kuil melemparkan ribuan mantra padaku terus menerus dan menyembuhkanku, aku akan menjadi Sun Knight pertama yang mati karena jatuh.

Ingat apa yang kubilang sebelumnya tentang perkataan guruku “bahkan apabila Sun Knight akan jatuh, dia harus jatuh dengan cara yang sangat anggun”?

Pada saat aku cukup tua untuk dikirim dalam latihan misi oleh gereja, guruku- dengan sikap serius dan sepertinya bermaksud baik – memberi petunjuk lebih lanjut, berkat, “Muridku, akhirnya kamu akan membawa sebuah misi. Sebagai gurumu, aku sangat lega, tapi ada beberapa instruksi yang harus keberikan padamu sebelum aku akhirnya dapat benar-benar tenang.”

“Aku pasti akan berhati-hati, guru.” Aku merasa sangat tergerak; guruku sangat mengkhawatirkanku!

“Ya, muridku, kamu harus berhati-hati! Ingat, seorang Sun Knight harus selalu menjaga penampilan anggunnya, tidak peduli denga waktu dan tempat.”

Aku mengangguk dengan patuh. “Guru, aku akan menyelesaikan misiku dengan sangat anggun.”

(Saat itu, aku telah melalui gaya hidup yang melibatkan banyak jatuh untuk beberapa bulan. Rata-rata, aku harus mencari cleric setiap tiga hari sekali untuk menggunakan mantra penyembuh tingkat tinggi untuk menyembuhkan luka yang kuterima dari jatuh yang lumayan parah)

Guruku menggelengkan kepalanya dan berkata, ” Muridku, menyelesaikan misi dengan anggun bukan apa-apa melainkan dasarnya.”

“Lalu apa yang lebih jauh dari itu?”

“Muridku, kamu harus ingat, saat kamu gagal dalam misimu dan mendekati kematian, pada saat itu, kamu harus…”

“Berdoa kepada Dewa Cahaya?”

” Bukan, kamu harus merenungkan pose apa yang akan kamu gunakan pada saat mati, dan apabila pose itu harus disertai dengan ekspresi yang tenang atau heroik. Pertanyaan yang lebih penting  adalah apa kamu akan mati dengan satu tusukan ke jantung dari musuhmu atau kamu akan menggorok tenggorokanmu sendiri, dan seterusnya, dan seterusnya. Hanya saat semua keadaan penting meliputi kematianmu telah direncanaan dan diatur dengan sempurna kamu bisa mati dengan pose yang seangun mungkin!

” Bahkan dihadapan kematian, Sun Knight harus mati dengan sangat anggun!”

“…”

Dengan demikian, kalau aku mati dengan alasan yang tidak anggun seperti “jatuh”, sangatlah mungkin bahwa guruku akan marah ketitik mengunakan necromancy untuk menganggilku sebagai death knight dan kemudian menggunakan holly spell dari Dewa Cahaya untuk membiarkanku mati sekali lagi – dan dalam gaya yang anggun kali ini

“Sun, death knight kali ini lumayan kuat. Hati hati,” kata Leaf Knight. Dia kemudian mundur beberapa langkah, bersama dengan Storm Knight dan Earth Knight, mengosongkan area ditengah-tengah untukku dan death knight.

“Bukankah terlalu berbahaya untuk membiarkan makhluk undead itu kepada Kapten Sun Knight sendirian?” beberapa kesatria dibelakang bertanya dengan khawatir.

“Tenang, teman baikku pasti tidak akan kalah kepada makhluk undead,” Earth Knight berkata dengan nada “setia” dan “jujur”.

“Yeah, kapan pun Sun menemui makhluk undead – yang paling dia benci – dia akan menjadi beberapa kali lebih kuat. Lebih baik kalian jangan menggangu dan mencuri buruannya, atau dia akan marah, ” Leaf Knight – menjadi orang baik seperti seperti biasa – menjelaskan kepada para kesatria, dan bahkan memberi senyum kepadaku yang berkata, “Jangan khawatir, aku tidak akan biarkan siapa pun menggangu pertarunganmu.”

Tapi tunggu dulu! Itu karena makhluk undead yang kutangani dimasa lalu semua dibayar oleh Kuil dan dipanggil oleh necromancer dengan tujuan untuk membantuku melepaskan stess dan mencegahku mendapat depresi!

Saat itu, pedang di tangan death knight tiba tiba menyemburkan api hitam yang meliputi beberapa meter disekitar pedang. Death knight membuka mulutnya yang telah busuk setengahnya dan mengeluarkan auman yang tidak seperti manusia…

Sangat bagus! Mungkin aku bisa mulai merenungkan pose yang akan kugunakan ketika mati nanti dan ekspresi yang harus kugunakan untuk mengiringinya, sekalian memilih cara favoritku untuk mati, dan kemudian kembali ke sisi Dewa Cahaya…

Aku baru saja akan mulai merenungkan pose yang akan kugunakan ketika mati nanti ketika Death knight mengayunkan pedangnya – yang menyemburkan api ke segala arah – kepadaku… Jangan bercanda denganku! Bagaimana aku bisa mati sebelum benar benar merenungkan pose dan ekspresi yang akan kugunakan dan memastikan bahwa aku akan mati seanggun mungkin!

Guruku sering berkata, “Tidak apa kalau kamu tidak punya bakat, yang paling penting adalah untuk berlatih, berlatih, dan berlatih. Muridku, apabila kamu terus jatuh untuk sebulan lagi, kamu pasti akan menguasai seni untuk jatuh dengan anggun!”

Maka, kalau aku tidak mati dengan anggun, guruku pasti akan membangkitkanku lagi dan lagi, sampai aku mati dan mati untuk sebulan penuh  dan akhirnya menguasai seni mati dengan indah; hanya saat itulah dia akan membiarkanku mati…

Karena itu, aku tidak bisa mati sampai aku mendapatkan cara untuk mati dengan seanggun mungkin atau sebelum aku menyuruh teman baikku Judgement Knight untuk memotong badanku sepenuhnya setelah aku mati, sehingga tidak mungkin bagi guru untuk membangkitkanku!

“Yargh!” Raungku sambil menghunuskan pedang, dan bertemu dengan pedang death knight yang menyala dengan suara denting metal yang nyaring.

“Seperti yang diharapkan dari Sun Knight; benar-benar pukulan yang kuat dan bertenaga, ini benar-benar sesuatu yang harus perhitungkan oleh makhluk undead,” bisik para holy knight yang sedang menonton dengan kagum dari satu sisi.

“Sun! Kenapa kamu tidak membawa Divine Sun Sword denganmu?” seru Leaf Knight

Apa kamu gila?! Divine Sun Sword itu barang antik yang harganya lebih dari cukup untuk membeli satu kota! Walaupun sekarang pedangnya masih sangat tajam, siapa tau kapan itu akan rusak?

Tidak apa kalau pedangnya rusak, selama bukan ditanganku! Atau aku tidak akan pernah bisa membayar kompensasi pada Kuil, bahkan kalau aku memberikan seluruh simpanan pensiunku sebagai ganti!

Selain itu, kupikir aku cuma akan memotong zombie yang kehilangan tangan dan kaki, dengan tujuan untuk menghilangkan depresi. Apa ada orang diluar sana yang akan memotong ayam dengan parang besar, yang biasa untuk memotong sapi? Dalam hal yang sama, apa ada orang di dunia ini yang akan, untuk menghindari depresi, membawa barang antik yang dia selalu khawatirkan, takut kalau barang itu akan dicuri, atau lebih parah, tiba-tiba rusak dengan sendirinya?

Apa? Aku khawatir tentang hal yang tidak perlu?

Ok! Mari kita sampingkan masalah apakah pedangnya akan rusak atau tidak.

Sebuah pedang – tidak peduli kalau itu Divine Sun Sword, pedang suci XX, pedang setan OO, atau apapun, selama itu senjata- akan menjadi tumpul setelah dipakai untuk memotong beberapa saat. Pada saat itu, kamu harus membawanya ke pandai besi untuk diasah.

Harganya sekitar satu silver dukat2 per pedang biasa, dan itu sudah dikategorikan sangat mahal. Akan tetapi, pandai besi biasa tidak berani untuk menangani sesuatu seperti Divine Sun Sword yang seharga satu kota. Sebagai akibatnya, untuk menemukan pandai besi yang berani untuk menyentuh pedang ini, aku harus mencari pandai besi paling terkenal dikota ini, yang berarti harga untuk mengasah pedang ini paling tidak satu keping emas dukat!

Satu emas dukat itu cukup untuk membeli satu pedang baru!

Selain itu, pedang menjadi lebih tipis setelah diasah! Jadi bila aku menghabiskan satu keping emas dukat untuk mengasah Divine Sun Sword, pedangnya akan semakin tipis, yang meningkatkan kemungkinan untuk patah… Lebih baik aku menggunakan gigiku untuk menggigit musuh sampai mati!

Demi image Sun Knight yang anggun, aku menggunakan satu keping emas dukat dengan sedikit berat hati dan membeli pedang untuk menggantikan Divine Sun Sword. Lagi pula, menggigit monster sampai mati dengan anggun menggunakan gigi itu terlalu susah!

Walaupun kedengarannya aku telah menggerutu sendiri dikepalaku untuk beberapa saat, di dunia nyata, death knight dan aku telah bertukar lebih dari sepuluh pukulan. Denting metal dari pedang kami yang bertemu lagi dan lagi seakan tanpa henti . Setiap denting segar metal meninggalkan luka dihatiku seakan-akan hatiku akan hancur. Bentrok antar pedang adalah bisnis yang menakutkan; kecuali kualitas satu pedang jauh melebihi yang lain, pedang akan tergores sebagai gantinya. Dengan bertambahnya jumlah goresan sebuah pedang harus dibawa ke pandai besi untuk diperbaiki, dan perbaikan juga memerlukan biaya….

Aku benar-benar tergoda untuk menggunakan tubuhku untuk menahan pukulan, dan aku pasti sudah melakukannya kalau bukan karena pedang Death Knight yang berkobar dengan api hitam dan terlihat sangat berbahaya. Lagi pula Benteng Cahaya dijejali dengan cleric yang bisa menyembuhkan dengan gratis sampai ke langit-langit!

Tapi aku tidak bisa menolong untuk berpikir ada sesuatu yang aneh. Ini cuma aku, atau death knight lagendaris yang sangat-amat susah untuk dipanggil sama sekali tidak sekuat yang kubayangkan?

Atau mungkin aku akhir-akhir ini aku bertambah kuat tanpa menyadarinya… Tidak! Tidak! Aku benar-benar tidak boleh menipu diri sendiri.

Hanya beberapa hari yang lalu, aku dikalahkan dalam tiga langkah oleh Judgement Knight saat berlatih, jadi bahkan death knight dengan otaknya yang telah terurai tidak akan percaya kalau aku berkata aku telah menjadi lebih kuat!

Atau mungkin yang kulihat ini bukan death knight, tetapi hanya “dead knight3” yang telah, dengan kebetulan, dibangkitkan oleh necromancer dan berubah menjadi zombie?

Aku memperhatikan death knight  ini baik baik… whoa! Badannya telah membusuk sangat parah sampai dagingnya praktis dalam potong-potongan, dan keahliannya dengan pedang benar benar parah ke akarnya. Aku benar-benar harus mengatakan, untukku dapat setidak fokus ini, dengan pikiranku mengembara kemana-mana, dan masih bisa lebih unggul, level keahlian pedangnya hanya dapat digambarkan dengan kata “hancur”… ahem! Maksudku, bisa dibilang ” tidak terlalu bagus”.

(Jangan konyol; kalau aku bilang keahliannya dengan pedang hancur, maka itu berarti keahlianku juga hancur! Aku akui kemampuanku dengan pedang tidak terlalu bagus, tapi aku tidak akan pernah mengakui kalau itu hancur!)

Karena itu, makhluk undead yang tidak-terlalu-bagus dengan pedang ini mungkin bukan death knight, tapi kesatria mati.

Lupakan! Tidak peduli ini “death knight” atau “dead knight”, aku hanya tahu kalau aku tidak buru-buru dan membuat orang ini benar-benar dan tanpa bisa dibantah – mati dan tidak bisa mengayunkan pedang secepatnya, aku sudah pasti harus menghabiskan uang lagi untuk membeli senjata, yang akan menyebabkan sakit jantung, dan akhirnya, kematian yang tidak anggun.

Walaupun permainan pedangku tidak terlalu bagus, aku sangat mahir dengan holy magic yang merupakan spesialisasi holy knight! Aku bisa menjamin kalau satu mantra dariku bisa mengirim makhluk undead ke peristirahatan abadi. Untuk kenapa aku menghabiskan begitu banyak waktu dalam pertarungan yang berlarut-larut, itu sepenuhnya karena…

Guruku sering berkata, “Muridku, walaupun kamu menemui makhluk undead yang paling kuat sekalipun, kamu harus ingat untuk mengulur-ulur waktu pertarungannya sebelum kamu mengirim musuhmu ke peristirahatan abadi dengan holy magic-mu.”

“Lalu kenapa tidak digunakan dari awal? ” Diriku yang masih muda bertanya.

“Coba pikirkan sebentar, muridku. Saat orang biasa bertemu monster, akan mmemakan waktu sekitar sepuluh menit, pada saat itu orang-orang akan terbunuh, dengan menunjukkan betapa kuatnya monster itu. Setelah itu, mereka akan menghabiskan waktu sepuluh menit lagi untuk berteriak dengan panik, diikuti dengan berlali kesana-kemari, kabur untuk nyawa mereka, dan akhirnya, para kesatria akan datang untuk menyelamatkan mereka. Karena itu, kalau kamu hanya menghabiskan tiga detik untuk mengirim monster itu keperistirahatan abadi dan berbalik untuk pergi, apa kamu pikir itu akan adil untuk para penonton yang menunggu tiga puluh menit untuk menunggu kedatanganmu?

“… lalu, guru, berapa lama yang harus kuhabiskan untuk bertarung dengan monster, agar adil pada orang biasa?”

“Muridku,” Guruku memandang kejauhan dengan refleksi dalam dimatanya saat dia berkata, “Bertarung itu seperti puisi, dan kamu seperti penyair. Bukan hanya sebuah pertarungan memerlukan perkenalan, pengembangan, titik balik, dan kesimpulan, kamu juga harus menciptakan ketegangan di udara dari waktu ke waktu untuk menghibur penonton. Akan sangat bagus apabila kamu membiarkan musuhmu memukulmu sampai kamu terbaring di tanah dengan anggun. Kalau lawanmu orang jahat standar, dia akan, pada saat ini menunjuk, mengejek, mengancam, dan melemparkan hinaan padamu dalam upaya menunjukkan kekuatannya. Setelah itu, kamu akan terbakar dan membakar alam semesta dalam dirimu…”

“… alam semesta?”

“… err, menyalakan potensimu dan membakar holy magic-mu dan kemudian mengalahkan lawanmu dengan anggun sampai dia terbaring di lantai, dan mengirimnya ke peristirahatan abadi. Nah, itu akan menjadi pertarungan yang dieksekusi dengan sempurna.”

… Itu terdengar seperti pertarungan yang sangat melelahkan.

Sejak saat itu, aku memendam rasa benci yang tak tertandingi untuk misi yang memerlukan bertarung, karena upaya yang diperlukan sebanding dengan upaya yang diperlukan untuk jatuh dengan anggun dari tangga dengan tiga ratus anak tangga. Oleh karena itu, kecuali makhluk undead yang aku pesan secara khusus dari necromancer untuk mencegah depresi, aku melempar misi secara rutin ke pangkuan Judgement Knight. Lagi pula, pria itu biasanya hanya perlu satu pukulan untuk menyelesaikan musuh.

Ini juga alasan kenapa pertarungan Judgement Knight biasanya tidak punya banyak penonton – karena pertarungannya terlalu membosankan.

Tiba-tiba, semua orang yang hadir berteriak, “Sun, hati-hati!”

“Eh?”

Aku sangat terkejut dengan teriakan mereka sampai membeku; sedetik kemudian, rasa sakit terasa di punggungku. Sebelum aku dapat melihat orang sialan mana yang menyerangku dari belakang, Leaf sudah menghampiriku dan mengirim “kesatria mati” ke peristirahatan abadi dengan satu pukulan dari holy magic. Leaf kemudian memeriksa punggungku dengan gugup, dan aku bahkan mendengan desis napasnya saat dia tersentak.

Lukanya tidak separah itu, kuharap? Gugup, aku menoleh kebelakang untuk melihat, tapi aku tidak bisa melihat punggungku sendiri walaupun leherku terasa seperti akan putus dari semua putaran itu.

Tapi dari apa yang kulihat, Earth sedang menyiapkan keahlian utamanya- Shield of Earth4 – dibelakangku. Walaupun aku masih kesal dengan orang itu, aku harus mengakui bahwa tempat favoritku adalah dibelakang perisainya, terutama kalau musuhnya sangat kuat.

Ice Knight berdiri diseberang orang lain, Divine Ice Sword5 nya- yang benar-benar terlihat seperti es loli -di tangan dan tekukan diantara alisnya. Menilai dari fakta bahwa ada ekspresi di wajah Ice Knight, musuh ini pasti sangat kuat, cukup kuat untuk memunculkan kerutan diantara alis Ice.

“Sun, sakit?” Leaf bertanya dengan gelisah.

Aku menggelengkan kepala. Rasa sakit seperti ini bukan apa-apanya bagiku! Aku adalah Sun Knight yang telah berhasil selamat dari latihan spesial guruku yang melibatkan jatuh untuk beberapa bulan berturut-turut, Sun Knight yang bisa terus tersenyum cerah walaupun jatuh dari tangga dengan sekitar tiga ratus anak tangga!

“Benar-benar tidak sakit?” Leaf terdengar sangat khawatir.

Aku menahan dorongan untuk memutar mata. Dasar Leaf! Kenapa kamu harus memaksaku bicara?! Aku membalas, “Sinar matahari lembut yang Dewa Cahaya sinari kepada kita telah menghilangkan rasa sakit yang sedikit ini tanpa sisa.”

“Sun benar benar hebat,” gumam Leaf pada diri sendiri. “Untuk terluka separah ini dan masih berkata ini cuma ‘rasa sakit yang sedikit’…”

Tanpa menaruh perhatian pada Leaf, keingintahuanku mengikuti orang yang baru saja muncul. Penampilannya benar-benar aneh. Pada pandangan pertama dia terlihat seperti orang biasa, tapi tunggu, pengamatan yang lebih baik meyakinkanku bahwa orang ini pastinya bukan manusia!

Lagipula, tidak ada manusia yang “warnanya berubah pucat”, iya kan?

Rambutnya telah berubah menjadi seperti coklat; kulitnya, berubah menjadi semacam beige. Bahkan baju besi kesatria yang dia kenakan telah memudar menjadi semacam silver. Intinya, dia berwarna putih-keabu-abuan dari kepala sampai kaki, terlihat seperti orang yang tidak bergerak selama bertahun-tahun dan, sebagai hasilnya, mengumpulkan lapisan tebal debu di tubuhnya.

Dari kata-kataku, mungkin terdengar seakan orang ini mungkin saja pemalas yang belum mandi selama beberapa tahun dan sebagai akibatnya mengumpulkan terlalu banyak debu di tubuhnya. Tetapi aku benar-benar yakin kalau orang ini bukan manusia!

Alasannya adalah karena tidak ada bola mata di rongga matanya. Alih-alih, di tempat mereka berkobar dua api putih abu-abu!

Apaan itu! Standar produksi sekarang pasti sangat rendah kalau api saja bisa menjadi pudar.

Pedang ditangannya mungkin merupakan satu-satunya benda yang tidak pucat. Desainnya sangat minim sampai ke titik dimana pedang itu benar-benar polos. Cahaya berkilau dingin dari tepinya yang sangat tajam, memandakan bahwa pedang itu tidak bisa dianggap remeh.

Untungnya, Divine Ice Sword di tangan Ice Knight juga tidak bisa dianggap enteng. Walaupun terlihat seperti es loli dengan ujung tajam, ketajaman es loli tidak bisa dibandingkan dengan Divine Ice Sword.

Lagipula, Ice terkenal dengan keahliannya menggunakan pedang. Aku curiga keahliannya masih akan lebih tinggi dariku, bahkan kalau dia benar benar bertarung dengan es loli…

Ahem!

Pada dasarnya gaya bertarung Ice pasif; yang berarti, dia bisa diam berdiri sepanjang hari dengan pedang ditangannya. Ini akan berlanjut samapi musuhnya kehilangan kesabaran dan menerjang kearah Ice dengan senjata terangkat. Pada saat ini Ice akan, dengan satu tusukan tunggal fatal – menghabisi musuhnya.

Karena itu, pertarungan Ice merupakan tipe yang tidak seorang pun ingin saksikan, mengingat tidak ada yang menarik dari mereka.

Kali ini bukan pengecualian. Orang itu jelas jelas tidak punya kesabaran untuk diam berhadap-hadapan seharian.  Baru beberapa menit berlalu sejak dia mengacungkan senjatanya dan menerjang kearah Ice. Dia juga sangat cepat – kurang dari sedetik dia bergerak, tapi orang itu sudah hampir meraih Ice. Seakan-akan dia tidak bergerak, tapi hanya menghilang dari tempatnya berdiri, dan kemudian muncul di depan Ice!

Dengan kecepatan seperti itu, bukan suatu kejutan kalau dia bisa menyerangku didepan mata Earth Knight, yang, diantara Dua belas Holy Knight, berspesialisasi dalam mempertahankan tameng pelindung… Aku hampir mengira Earth sengaja membiarkanku dicincang sebagai balas dendam kejadian sebelumnya.

Untungnya, konsentrasi Ice benar benar tingkat tinggi. Walaupun orang itu benar benar cepat, Ice masih berhasil mengangkat es lolinya… maksudku, mengangkat Divine Ice Sword untuk menahan serangan tepat waktu.

Akan tetapi, jelas tidak mungkin bagi Ice untuk menyelesaikan musuh dengan cepat kali ini. Alih-alih, dia mulai bertukar pukulan dan menangkis serangan dengan musuh, dan kedua belah pihak benar-benar cepat. Aku mengamati dengan lebih hati hati dan melihat bahwa Ice dipaksa mundur perlahan.

Aku menonton dengan tidak sabar dan riang dari samping… ahem! Maksudku menonton pertarungan antara rekanku dan sang musuh dengan gugup, dan tiba tiba menyadari sesuatu. Kesatria kuat, pucat, menyebarkan aura kematian yang menjulang… death knight?

Whoaaa! Tampaknya kita akhirnya bertemu dengan bos utama.

“Sun, kamu mau memulihkan diri dulu?” Leaf bertanya dari belakangku dengan suara yang agak khawatir

“Sun baik-baik saja.” Aku sedang bersenang-senang menonton pertandingan! Melihat Ice bertukar serangan sebanyak ini dengan lawan merupakan pemandangan langka; kita bisa menunda penyembuhan sampai nanti.

Sesenang-senangnya menonton pertandingan, ini merupakan bukti bahwa Ice sedang kesusahan. Aku pikir aku benar benar harus menolongnya; bagaimanapun juga dia menolongku menangkis musuh. Kalau tidak, bila Ice dikalahkan, karena Earth spesialisasi di pertahanan dan Leaf merupakan penyerang jarak panjang, bukannya itu berarti aku harus bertarung?

Kalau itu terjadi, kemungkinannya delapan puluh persen lantai akan dilapisi darahku pada serangan pertama, dan kepalaku akan tergeletak di lantai pada serangan ketiga.

“Ice, biarkan aku membantumu!” teriakku. Aku tidak khawatir Ice akan kehilangan konsentrasi karena konsentrasi Ice merupakan yang terkuat diantara Dua belas Holy Knight dari awal.

Karena aku merupakan Sun Knight yang  sangat membenci makhluk undead, sebagian besar mantra yang kupelajari sejak masih kecil bertujuan untuk menangani makhluk undead. Sebagai contoh “Holy Blessing6“; dengan itu, aku bisa memberkati objek apapun, mencampurkan holy magic untuk beberapa saat, membuatnya semakin mematikan bagi makhluk undead.

Sebenarnya aku berencana menggunakan Holy Blessing ke es loli Ice, tapi setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa ada masalah besar, karena es loli itu bergerak terlalu cepat untuk dibidik!

Ah, lupakanlah, aku akan mengeluarkan energi lebih banyak dan memberi seluruh tubuh Ice kekuatan holy magic!

“Dewa Cahaya yang maha kuasa menghujani dunia dengan cahaya matahari yang menyilaukan, membersihkan bayangan dan kejahatan …” (sisanya telah hilangkan demi kepraktisan.)  Setelah mengucapkan serangkaian panjang pujian kepada Dewa Cahaya, tepat saat death knight memberi beberapa luka pada tubuh Ice, aku akhirnya mengucapkan kata yang paling penting.

“Holy Blessing!”

Daalm sekejab, tubuh Ice diselimuti cahaya emas, membuatnya terlihat seperti nyala lilin . Bukan hanya cahaya ini memberi kerusakan tambahan pada makhluk undead, itu juga memberi efek lain yang sangat berguna: membuat musuh kesusahan melihat dimana mereka harus menyerang, bahkan walau musuhnya bukan makhluk undead!

“Berkati aku juga, Sun.”

Bahkan sang pria baik, Leaf, akhirnya marah. Dia mungkin terprovokasi oleh adanya luka di badan Ice. Dia berdiri disampingku dengan ekspresi keras di wajahnya, dan ditangannya.. haha! Kamu pasti menduga Divine Leaf Sword7. Biar keberi tau, kamu salah!

Itu Divine Leaf Bow8!

Karena aku terlalu malas untuk mengucapkan semua kata pujian kepada Dewa Cahaya sekali lagi, aku hanya menaikkan tanganku dan menggemgam anak panah yang Leaf tarik. Ujungnya menusuk kulitku, dan aku melepaskannya, membiarkan mata panahnya terlapisi dengan darahku.

Sebagai representasi Dewa Cahaya, darahku telah diberkati dengan kekuatan suci, membuatnya beracun bagi makhluk undead.

Leaf terlihat tergerak saat dia berkata, “Sun, aku tidak akan menyia-nyiakan darah yang telah kau berikan.”

Sedangkan Ice, karena aku sudah menyelimutinya dalam holy light, sang death knight jelas-jelas khawatir dengan kekuatan suci yang menghalangi serangannya. Ice, yang semula kalah, sekarang bertarung seimbang dengan death knight.

Akan tetapi, masih ada satu orang lagi disisi kami-Leaf-yang menonton pertarungan dengan seksama, menunggu waktu untuk menyerang. Dia mengangkat panahnya dengan pandangan tajam dimatanya, seakan dia bisa melubangi badan musuh hanya dengan pandangan.

Aku lupa untuk memberi tau bahwa saat Leaf menarik panahnya, dia langsung berubah dari “orang yang benar-benar baik” menjadi “orang yang benar-benar menakutkan”. Dia bisa menembakkan lima panah dalam sepuluh detik, dan semuanya akan tepat sasaran.

Itu tidak semengesankan, katakanlah, kenyataan bahwa dia bisa berlari, melompat, menyanyikan lagu, memalingkan kepala untuk melihat wanita cantik, dan pada saat yang sama, mengubah musuh menjadi landak dengan panahnya.

Pada dasarnya, aku lebih memilih mengambil pedangku dan bertarung dengan death knight kapanpun daripada harus melawan Leaf saat dia dilengkapi busur dan panah. Dengan yang pertama, walaupun aku tidak bisa menang, aku masih bisa lari dari pertarungan. Dengan yang belakangan… bagaimana caranya lari dari panah?!

Disampingku, anak panah meninggalkan busur Leaf dengan bunyi “fwish”. Perhitungannya sempurna- death knight yang sedang mengelak dari serangan Ice,  membuatnya tidak bisa mengelak anak panah yang muncul entah dari mana dan hanya bisa menerima anah panah didadanya. Nah, anak panah biasa hanya bisa memberi luka kecil atau tidak sama sekali pada death knight, secara yang disebut sudah mati. Tapi, masalahnya jadi berbeda kalau anak panahnya membawa darahku.

Desis seperti ikan yang digoreng di wajan terdengar dari dada death knight, dan kemudian sebongkah besar dadanya menghilang, meninggalkan lubang besar. Tidak ada darah, melainkan cairan hitam-keabu-abuan lengket yang perlahan mengalir keluar.

Ice menggunakan kesempatan ini dan memotong lengan kiri death knight, yang mengeluarkan jeritan yang tidak manusiawi. Serangan Ice hampir memotong putus lengan sang death knight, dan sekarang menggantung dari tubuhnya.

Sang death knight mundur dalam kedipan mata. Gerakan secepat itu bukan sesuatu yang Ice bisa ikuti. Tapi, kami masih punya Leaf disisi kami.

Bahkan death knight sekalipun tidak bisa berlari lebih cepat dari panah.

Dengan “fwish fwish fwish”, Leaf menembakkan tiga anak panah dengan cepat, tapi kali ini sang death knight mengelak dengan lumayan cepat dan berhasil mengelak dari dua anak panah. Satu satunya anak panah yang kena tidak terkena darahku, jadi luka yang terkena sangat kecil, sampai sampai sang death knight tidak repot-repot menariknya keluar.

Aku tersenyum samar dan sekali lagi menggemgam anak panah sebelum Leaf menembak. Setelah dipikir-pikir, aku menyadari metode ini tidak efektif karena ada kemungkinan anak panahnya tidak mengenai target, jadi aku mengangkat tanganku yang berdarah diatas tempat anak panah Leaf, dan membiarkan darahku menetes ke semua anak panah sekaligus.

Leaf tidak mengecewakanku, dan muali menembak tanpa henti. Walaupun sang death knight mampu mengelak dari beberapa, sebagian anak panah berhasil mengenai target dan setiap anak panah membuat sang death knight melolong kesakitan.

“Sialan! Dia melarikan diri,” Leaf berseru, dan menembakkan anak panahnya lebih cepat. Dia sangat cepat sampai aku hanya dapat melihat bentuk kipas samar-samar, diikuti dengan bunyi busur yang dilepaskan saat dia menembakkan aliran panah tanpa putus. Leaf benar-benar hidup sesuai reputasinya sebagai spesialis panahan diantara Dua belas Holy Knight!

Lupakan melawan balik; pada saat ini, death knight yang putih keabu-abuan sibuk menghindari hujan anak panah, dan saat berlari jauh dan lebih jauh…

“Suatu hari aku akan datang dan menemukanmu, Sun Knight!”

Seperti semua tokoh antagonis yang kabur, sang death knight putih keabu-abuan mengeluarkan kalimat ancaman kepada tokoh utama sebelum dia menghilang sebagai titik di kejauhan… tunggu, yang diancam adalah sang Sun Knight… aku?

Tunggu, tunggu sebentar, kenapa kamu melihat kearahku? Yang bertarung denganmu bukan aku!

Seperti kata orang, ” dendam pasti punya asal, utang pasti ada menagih”; yang kulakukan cuma merapal sedikit holy light pada Ice dan sekalian melapisi sedikit darah beracun pada panah Leaf! Seharusnya, yang harus kamu perangi mereka berdua, bukan aku!

Aku benar benar ingin menangis… Kali ini, bukan hanya aku terluka; aku bahkan berhasil menjadi musuh death knight asli; apa yang kulakukan sampai seperti ini?!

Tepat saat itu, Ice menyarungkan pedangnya, dan Earth juga mengembalikan perisainya. Keduanya berbalik dengan wajah yang sangat suram, tapi untuk beberapa alasan keduanya membeku saat mereka melihatku.

“Sun, kamu.. butuh bantuan?” Earth bertanya, ekspresi diwajahnya seakan dia baru saja bertemu dengan hantu.

Aku menggelengkan kepala dengan tegas. Kenapa semua orang sepertinya berpikir kalau aku butuh bantuan?

Ice tidak mengatakan apa-apa, tapi pandangannya bergerak turun dari wajahku ke lantai, dan kembali ke atas, ekspresinya terlihat seakan-akan dia sedang bengong. Penasaran, aku mengukuti pandangannya dan melihat ke bawah lantai.

WHOA! Sejak kapan seluruh lantai dipenuhi darah? Lautan merah ini terlihat lumayan hebat…

Tunggu dulu! Kenapa celana kesatria putihku berubah merah?

“Sun, apa kamu benar-benar tidak apa-apa?” suara Leaf terdengar sangat mendesak sampai dia terlihat ingin menangis.

Darah dilantai… milikku?

“Leaf…” kataku, hanya untuk menemukan suaraku sangat lemah sampai hanya sekuat dengungan nyamuk.

“Huh?” Leaf mendekat dengan cepat, mungkin karena suaraku terlalu kecil untuk didengarnya.

“Bantu aku…”

“Sun!”

Dan kemudian…

…dalam gaya yang sangat anggun, aku…

…pingsan.

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 2]

Catatan Kaki

Untuk alasan estetika dan kepraktisan, ada beberapa istilah yang dibiarkan sama dengan versi Bahasa Inggrisnya. Daftar istilah/nama yang dibiarkan sama dan terjemahan literal:

1 Death Knight: kesatria kematian

2 Dukat: mata uang yang digunakan di Kerajaan Kejayaan yang Terlupakan.

3 Dead Knight: “kesatria mati”

4 Shield of earth: mantra tameng bumi

5 Divine Ice Sword: Pedang Es Suci

6 Holy blessing: mantra pemberkatan suci

7 Divine Leaf Sword: Pedang Daun Suci

8 Divine Leaf Bow: Panah Daun Suci

The Legend of Sun Knight V1C2: “Dengan Anggun, Santai, dan yang Terpenting, Berkulit Indah”

Legenda Kesatria Surya Volume 1: Sebuah Perkenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh: 御我 (Yu Wo)


Peraturan Kedua Kesatria Surya: “Dengan Anggun, Santai, dan yang Terpenting, Berkulit Indah” – diterjemahkan oleh amusement

Karena kami telah berhasil menyelesaikan misi untuk meyakinkan raja agar berhenti menaikan pajak, aku dan Storm mendapatkan liburan selama beberapa hari.

Tapi mungkin saja sang Paus hanya tidak tahan melihat mata Storm yang saat ini bengkak sebesar telur ayam, mengaburkan pengelihatannya sampai ke titik dimana ia terus-terusan menabrak pilar saat berjalan… (Atau mungkin dia hanya tidak mau melihat ada pilar yang rusak – sekadar informasi, semua pilar di kuil adalah karya seni ukiran dan harganya sangat mahal) …yang membuatnya meliburkan kami.

Saat kami diperbolehkan pergi, Storm langsung berbalik dan pergi dari Benteng Cahaya, melesat ke area para kesatria – Kuil Suci.

Alasannya? Masih ada wanita yang melayani sebagai pendeta di Benteng Cahaya, tapi tidak ada wanita di antara para kesatria Kuil Suci.

Bagi seseorang yang matanya bengkak sebesar telur ayam, bahkan jika pendeta wanita di benteng cahaya semuanya secantik bidadari, bermain mata dengan mereka pasti bukan persoalan yang mudah.

Storm pergi seperti angin topan, tapi meskipun aku sendiri juga tidak sabar untuk memulai liburanku, aku tidak punya pilihan lain selain pergi dengan anggun, berjalan dengan kecepatan kura-kura.

Seperti yang diketahui semua orang, dari semua kesatria yang ada, Sun Knight adalah yang teranggun dan tidak peduli apa yang dilakukannya, dia tidak akan pernah kehilangan keanggunannya.

Aku masih ingat betapa aku mengagumi guruku dulu; tidak peduli apakah dia berdiri, naik, turun, berlari, atau kabur, dia selalu anggun.

Faktanya, suatu hari, aku sedang ingin memakai toilet, tapi lupa mengetuk pintu. Aku membukanya secara tiba-tiba, hanya untuk melihat guruku yang sedang berjongkok di dalam dengan benda hitam yang masih menggantung dalam posisi sulit…

Guruku menyunggingkan senyuman brilian khas Sin Knight, lalu menyelesaikan apa yang harus diselesaikan dengan elegan sebelum mengelap pantatnya dengan tisu. Dengan sangat elegan ia memakai celananya, lalu dengan anggun mengangkat kerahku, sebelum menghajarku – dengan anggun.

Guruku sering bilang, “Nak, kau harus tahu, bahkan ketika jatuh, Sun Knight tetap harus jatuh dengan anggun!”

Aku tidak tahu apakah dia sedang membalas dendam karena gara-gara aku dia terpaksa menggunakan toilet dengan sebegitu anggunnya, tapi untuk sebulan penuh aku sering sekali terjatuh sampai aku mampu – kapanpun, dimanapun, tidak peduli setiba-tiba dan semengejutkan apapun – jatuh dengan keanggunan yang tiada tara.

Di lain waktu, hanya dengan terjatuh, aku bahkan membuat seorang ratu dari kerajaan lain menyumbangkan sepuluh ribu dukat emas kepada Kuil Dewa Cahaya untuk “biaya pengobatan”-ku.

Tetapi, sejak saat itu aku tidak berani berdiri dekat-dekat bendahara kuil, karena kapanpun aku melakukannya, selalu ada sebuah tangan yang mengintai di belakangku, siap mendorongku dari atas tangga…

Tapi selain harus jatuh dan melakukan sebuah tugas yang agak menyusahkan untuk memastikan kalau pintu sudah terkunci setiap kali aku memakai toilet, berjalan dengan anggun memiliki keuntungannya sendiri.

Contohnya, sikap anggun dapat memberikanku alasan untuk bergerak lambat… dan gerakan lambat adalah sesuatu yang sangat berguna saat berjalan dalam Benteng Cahaya, karena itu  mengizinkanku merekam pendeta-pendeta wanita yang cantik dari sudut mataku.

Ya, kau tidak salah dengar. Bukan “melihat” atau “mengintip”, tetapi “merekam”!

Karena semua orang tahu, bahwa Sun Knight telah bersumpah untuk mendedikasikan seluruh hidupnya kepada Dewa Cahaya; dia adalah kesatria yang paling setia!

Karena itu, Sun Knight benar-benar tidak tertarik sama sekali pada wanita!

Bahkan jika ada seorang wanita berdiri disampingnya dengan wajah secantik bidadari, lekuk tubuh indah, dan sedang telanjang bulat, Kesatria Surya bahkan tidak akan menoleh sedikit pun untuk setidaknya meliriknya. Dia hanya akan tetap melihat lurus ke depan, benar-benar tidak terpengaruh oleh keberadaannya!

Kawan, jika kau adalah seorang lelaki, apakah kau pikir itu adalah hal yang mungkin untuk dilakukan?

Ya, tentu saja! Tidak menggerakan bola matamu dan menatap lurus ke depan – itulah jawaban yang paling benar.

“Nak, kau sudah empat belas tahun, sudah saatnya untk mengajarimu cara melihat wanita.”

“Tapi guru, bukannya kau sudah mendedikasikan diri kepada Dewa Cahaya dan tidak tertarik pada wanita?”

“Nak, aku mungkin sudah mendedikasikan diri kepadaNya sebagai kesatria untuk dipakai, tapi Dewa Cahaya tidak mendedikasikan diriNya untuk kupakai, jadi aku harus mencari wantia biasa jika aku ingin ‘pakai’.”

“…”

“Nak, dengar aku. Sebagai Sun Knight, bahkan jika orang disampingmu adalah wanita telanjang yang sangat cantik, kau tetap harus melihat lurus ke depan. Untuk mencapai level itu, kamu harus belajar memfokuskan pandangan ke depan, lalu dengan menggunakan pengelihatan perifermu, rekamlah informasi itu ke dalam otakmu. Kamu boleh mengeluarkan informasi tersebut saat kamu kembali ke kamarmu dan pandangilah sepuasnya!”

Whoa… Yang baru saja lewat dari kiri cantik juga, rekam!

Whoooa, yang di kanan itu anak baru? Sepertinya aku belum pernah melihatnya, rekam!

“Sun!”

Aku menghentikan langkahku dan berbalik dengan anggun untuk melihat ke arah orang yang barusan memanggilku. Namun, sebenarnya dalam hati aku hampir tergoda untuk mengumpat. Sial, untuk apa kau memanggilku? Aku belum selesai merekam anak baru itu!

“Saudara Ice, semoga kasih Dewa Cahaya menghangatkan ekspresi dinginmu.”

Dia adalah Ice Knight, salah satu dari kesatria-kesatria suci yang tidak berpihak padaku.

Kau bertanya kenapa aku bilang begitu?

Seperti yang diketahui semua orang, Dua belas Holy Knight terbagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah fraksi “lembut dan baik hati” yang dipimpin olehku, dan yang satunya lagi adalah fraksi “kejam dan berhati dingin” yang dipimpin oleh Judgment Knight. Sudah jelas kalau orang baik hati dan orang kejam tidak dapat berteman baik, dan mereka selalu bertikai begitu ada kesempatan.

“Sun, kau seharusnya mencontoh kekejaman Dewa Cahaya, bukannya mengalah kepada raja inkompeten itu.”

Tidak ada emosi apapun di wajah Ice, tapi itu bukan karena dia membenciku. Seperti yang diketahui semua orang, ekspresi Ice Knight selalu dingin; meskipun matahari di langit turun dan bersinar tepat di atas kepalanya, panas matahari tetap tidak dapat melelehkan ekspresi dinginnya itu.

“Kebajikan Dewa Cahaya telah menyadarkanku bahwa bahkan pendosa sekalipun dapat bertobat dan memulai hidup baru, dan aku tidak dapat menyerah setiap ada kesempatan untuk menyelamatkan jiwa mereka.”

Ekspresi sedih namun penuh kasih timbul di wajahku. Dalam hati, aku menguap – keras-keras. Ice Knight bukan orang yang bawel, jadi berdasarkan “pertemuan-pertemuan” kami di masa lalu, dia hanya perlu melontarkan beberapa kalimat lagi dan itu sudah cukup.

“Pendosa harus dihukum. Mereka tidak berhak untuk menebus dosa mereka!” Setelah selesai berbicara, Ice berbalik dan pergi, tidak memberikanku kesempatan untuk membalas.

Itu yang kusuka darinya!

Ice Knight bahkan lebih membenci argumentasi daripada diriku sendiri, tapi karena itu yang diharapkan semua orang dari kami, dia akan, dengan terpaksa, mengatakan beberapa kalimat untuk menjaga penampilan.

Dan lagi, seperti yang diketahui semua orang, kepribadian Ice Knight memang sedingin es, jadi bukan hanya tidak berekspresi, dia juga tidak suka berbicara. Jadi, tindakan seperti pergi tiba-tiba benar-benar sesuai dengan karakternya.

Tapi meskipun kami harus selalu bertengkar setiap kali kami bertemu, hubungan kami sebenarnya tidak buruk. Dia, yang ahli dalam bidang sihir es, selalu membuatkan semangkuk es serut untuk kunikmati setiap kali cuaca panas.

Tentu saja, untuk menjaga penampilan tentang “permusuhan” kami, dia akan selalu memulai pembukaannya dengan sebaris kalimat argumen terlebih dahulu. Lalu, saat aku sudah siap mental, dia akan melemparkan sebuah mangkuk untuk kutangkap, lalu bertengkar denganku beberapa kalimat sebelum melemparkan setoples selai blueberry buatannya kepadaku. Terakhir, dia akan “menyerang” dengan menembakan sihir tipe es kepadaku, mengirimkan setumpuk es serut ke arahku, yang mendarat di atas kepala, wajah, tubuh, dan mangkuk di tanganku…Ah! Sangat sejuk dan nyaman!

Setelah itu, aku akan mempunyai semangkuk es serut blueberry untuk dinikmati, dan gambaran tentang “permusuhan” kami tetap terjaga.

Karena itulah aku sangat menyukai pria ini. Sayangnya, aku berasal dari fraksi “lembut dan baik hati” sementara dia berasal dari fraksi “kejam dan berhati dingin”, dan seperti yang diketahui semua orang, kami tidak mungkin berteman, jadi kami hanya bisa menjadi “teman yang bukan teman”.

Bicara soal teman, kupikir sebaiknya aku pergi dan mengunjungi “teman baik”-ku, Earth Knight, sebelum pergi berlibur.

Seperti yang diketahui semua orang, Earth Knight sangat setia dan lugu. Dia bertubuh tinggi dan memiliki fisik yang menawan, tetapi sangat pemalu saat berbicara, bahkan kadang-kadang dia akan terbata-bata.

“M-maaf, aku tidak terbiasa bicara dengan wanita…” ujar Earth Knight, dengan malu-malu menundukan kepalanya saat pipinya memerah.

Aku membuka pintu kamar Earth tepat pada saat dia mengatakan kalimat itu untuk ketiga puluh satu atau ketiga puluh dua kalinya kepada gadis ketiga puluh satu atau ketiga puluh dua yang pernah terlihat bersamanya.

Pada saat itulah Earth memelototiku diam-diam untuk ketiga puluh satu atau ketiga puluh dua kalinya. Sorot matanya sangat mengancam, tapi masih ada senyum bodoh itu di wajahnya saat dia menyapaku, “Sun, k-kau sudah kembali.”

“Iya, berkat dan dukungan Dewa Cahaya, nasib baik berpihak kepada Sun, sehingga Sun tidak gagal dalam misi, dan telah menyalurkan keinginan Dewa Cahaya, yang telah disampaikan kepada Sun oleh sang Paus.”

“Oh, begitu. Hohoho, selamat ya! Apa kau memerlukan sesuatu?” tanya Earth Knight.

Meskipun dia tertawa seperti orang bodoh, ada ketidak sabaran dalam sorot matanya, yang tidak lolos dari perhatianku.

“Karena bimbingan mulia dari Dewa Cahaya, aku telah datang untuk menyapamu, Earth, sahabatku. Sang Paus telah merasakan bahwa tugas-tugas sudah tak lagi membuatku mengalami kebaikan sang Dewa Cahaya, oleh karena itu aku akan mengikuti ajaran Dewa Cahaya di bawah langit yang luas.”

Maksudnya, aku, sang Sun Knight, akan pergi berlibur!

Aku benar-benar melihat “F***! Jika kau mau liburan, cepat pergi sana!” dalam sorot mata Earth. Sementara itu. Wanita di sampingnya mematung di sana, memelototiku – aku berani bertaruh kalau dia tidak mengerti apa saja yang baru saja kukatakan. Perkataanku mustahil dimengerti kecuali bagi orang-orang yang sudah mengenalku selama lebih dari tiga tahun.

Itu juga alasan utama kenapa aku tidak punya pacar, karena setiap kali aku mencoba berbicara kepada cewek yang kusukai, dia akan berpikir kalau aku sedang menceramahinya, lalu buru-buru pergi sambil meninggalkan uang untuk persembahan sebelum kabur

“Itu bagus, kau bisa berlibur.”

Earth masih menghadapku dengan senyum bodoh itu, wajah itu dengan ekspresi naïf yang telah menipu hanya Tuhan yang tahu berapa banyak cewek.

Dibandingkan dengan Storm, yang setiap hari memberikan kedipan genit kepada setiap cewek sampai otot matanya kram tapi kemungkinan besar masih perjaka, Earth adalah penjahat mesum yang asli yang berhasil menghindari reputasi sebagai orang bejat. Karena seperti yang diketahui semua orang, Earth Knight sangat setia, jujur, dan tulus, bagaimana mungkin dia adalah orang yang cabul?

Itu tidak dapat dibayangkan! Sama tidak terbayangkannya dengan pemikiran tentang Sun Knight adalah pemabuk ulung!

Meskipun aku telah melihat tiga puluh satu atau tiga puluh dua cewek yang berbeda di kamarnya, orang ini masih saja menempati urutan pertama dalam polling tahunan untuk “Pria yang Paling Diinginkan Wanita Sebagai Suami” setiap tahun.

Meskipun aku lebih cakep dari Earth, punya jabatan lebih tinggi darinya, dan punya gaji lebih besar pula, namaku tidak pernah sekalipun muncul dalam polling “Pria yang Paling Diinginkan Wanita Sebagai Suami”, karena seperti yang diketahui semua wanita, sang Sun Knight hanya mencintai Dewanya, bukan wanita.

F***!

Karena inilah aku membencinya.

Secara kebetulan – atau kemungkinan besar karena aku selalu membuka pintu tepat saat dia berusaha merayu cewek ke kamarnya – Earth juga membenciku.

Tetapi, seperti yang diketahui semua orang, Sun Knight dan Earth Knight adalah teman baik… jadi kami berdua tidak punya pilihan lain selain menjadi “teman baik yang saling membenci!”

Aku memperlihatkan senyuman berkilau hasil latihanku selama sepuluh tahun. Dalam sekejap, wajah cewek itu memerah, dan meskipun dia mau menunduk dan pura-pura malu, dia tidak bisa mengalihkan matanya dari wajahku.

Meskipun aku tidak pernah berhasil masuk ke polling “Pria yang Palng Diinginkan Wanita Sebagai Suami”, aku tetap menguasai posisi pertama polling “Pria Tampan Sejagat Raya”. Bukan masalah bagiku untuk membuat wanita melupakan pria yang paling diinginkannya untuk dijadikan suami!

“Sun, bukannya kamu mau pergi berlibur?” Earth memelototiku dengan ganas, tapi nada bicaranya masih sangat tulus dan setia saat dia berbicara – kemampuannya untuk berakting dapat menyaingi kemampuanku tersenyum! “Cepat pikirkan apa yang ingin kau lakukan; liburanmu akan berakhir sebelum kau menyadarinya.”

Aku menghela napas. “Ini pasti Dewa Cahaya yang berbicara melaluimu, Earth, untuk mengingatkan Sun untuk cepat pergi ke dunia yang luas dan merasakan kehendak Dewa Cahaya. Sun akan menahan sakitnya perpisahan dan mengucapkan selamat tinggal kepadamu, Earth.”

Pergi sana!

Meskipun aku bisa melihat kalimat itu menyala di mata Earth, wajahnya benar-benar terlihat seperti seakan-akan dia benar-benar menantikan kepulanganku. Dengan nada bersungguh-sungguh, dia berkata, “Aku menantikan kedatanganmu kembali, teman.”

Hahaha! Sambil memasang senyum, aku mengangguk dan menutup pintu dengan semangat. Melihat cewek tadi yang sangat terpesona olehku sampai-sampai matanya berubah menjadi hati, usaha Earth untuk menipu gadis itu pasti gagal, hahaha!

Mencegah seseorang untuk bermesraan dengan wanita selalu membuatku senang. Bagus sekali, sepertinya liburanku berawal dengan baik.

Oh tidah! Tunggu; aku belum bisa mulai liburan.

Walaupun barusan kubilang kalau hubunganku dengan Ice Knight cukup baik, dari semua Dua belas Holy Knight, bukan dia yang paling dekat denganku. Sebelum aku mulai liburan, kurasa aku harus menemui sahabatku yang sebenarnya, kalau tidak, dia akan menuduhku “melupakkan teman saat melihat keindahan…”1 yaitu, karena melihat orang lain punya cewek cantik, seseorang buru-buru mencoba merebut kebahagiaan orang itu, dan melupakan temannya sendiri.

Menurut berita yang kudengar, sepertinya tingkat kriminalitas yang membutuhkan pengadilan sedang tinggi, jadi sepertinya aku bisa menemuinya kalau aku menunggu di toilet dalam kompleks Judge.

Seperti yang telah kuperkirakan, aku paru saja membawa dua buah kursi dan sebaskom air ke toilet dan duduk dengan anggun di atas kursi di samping toilet jongkok selama tidak lebih dari tiga menit saat seorang kesatria dengan rambut hitam, mata hitam, dan seragam kesatria hitam mendorong pintu dengan tergesa-gesa. Setelah masuk, dia langsung bergegas maju, berlutut, dan muntah-muntah dengan berisik.

Saat aku duduk dengan elegan di atas kursi dan menunggunya selesai muntah, sepertinya lebih baik aku memperkenalkannya kepada kalian. Orang triple-hitam ini (rambut hitam, mata hitam, baju hitam) adalah “sahabatku yang bukan temanku”, yang kebetulan adalah pemimpin fraksi “kejam dan berhati dingin”: Judgment Knight2.

Seperti yang diketahui semua orang, kesatria paling menakutkan dan paling kejam dari Dua belas Holy Knight, orang yang namanya bisa kau pakai untuk menakut-nakuti anak umur tiga tahun, membuat mereka menangis, atau bahkan tidak berani tidur waktu malam, tidak lain tidak bukan adalah Judgment Knight, yang bertugas mengadili para kriminal.

Karena aku adalah pemimpin fraksi ‘lembut dan baik hati’ dan dia bos dari fraksi ‘kejam dan berhati dingin’, kami berdua adalah musuh bebuyutan.

Aku selalu bilang,“Dewa Cahaya yang pemurah akan mengampuni dosamu.

Dia selalu bilang,”Dewa Cahaya yang kejam akan menghukum mu karena dosamu.”

Dari sini kau bisa melihat bahwa Dewa Cahaya pasti punya kepribadian ga– maksudku, ketuhanan ganda!

Tongkat yang bengkok akan memiliki bayangan yang bengkok, jadi kesatria di bawahNya semuanya agak aneh.

Saat pertama kali dia menginterogasi seorang kriminal, dia, yang seharusnya adalah Judgment Knight yang kejam dan menakutkan, lari ke toilet dan muntah tepat saat dia selesai menginterogasi.

Walaupun itu bukan hal yang aneh, karena dia baru tiga belas tahun saat dia pertama kali berlatih interogasi. Sangat normal bagi anak tiga belas tahun untuk tidak tahan melihat pencambukan dengan semua darah itu.

Aku masih ingat hari pertama dia latihan interogasi; guruku menyuruhku ikut untuk melakukan latihan berdebat pertamaku dengan calon Judgment Knight.

Saat aku melihat pemerkosa itu tergantung di salib, babak belur sampai tidak bisa dikenali, ada perasaan puas di hatiku.

Dasar Bajingan!

Tahu tidak kalau Sun Knight Cuma bisa mencintai Dewa Cahaya dan bukan wanita seumur hidup? Tahu tidak kalau gara-gara cara bicara Sun Knight aku mustahil punya cewek seumur hidup?

Kau, kau kriminal, benar-benar berani menggunakan cara kotor untuk dapat cewek! Ini membuatku sangat (iri)…sangat kesal! Sampah sepertimu pantas dicambuk bahkan setelah mati!

Tepat waktu aku sedang memikirkan hal seperti bagaimana mencambuk mayat dst, guruku menyenggolku diam-diam, mengingatkanku pada tujuan awal. Oh, iya; aku kesini untuk latihan berdebat dengan calon Judgment Knight.

Aku cepat-cepat memasang ekspresi penuh-kasih-namun-sedih ala Sun Knight, sambil berseru,”Ini terlalu kejam! Bagaimana bisa kau menggunakan metode seperti ini untuk memperlakukan anak Dewa Cahaya? Bahkan jika ia seorang kriminal, dia masih mungkin bertobat! Dewa Cahaya yang penuh kasih pasti tidak akan memaafkan kebrutalan ini!

Aku berhasil! Aku sudah memulai argumentasi; sekarang giliranmu.

Aku berbalik kepada guruku. Melihat senyum puasnya, aku tahu kalau aku telah memulai argumentasi dengan baik.

Judgment Knight kecil berambut hitam, bermata hitam, dan berpakaian hitam itu tidak mengatakan apa-apa dalam waktu yang lama, tetapi, dan aku bersumpah aku melihatnya menyalahkan diri sendiri dan melihat penyesalan di matanya, dan juga kilauan air mata saat aku mengkritiknya.

Lalu, dengan mata berair, dia meronta dari pegangan gurunya dan mendorongku ke samping saat dia berlari sambul menutup mulutnya dengan tangan.

“Nak, apakah kau tidak akan pergi dan mengikutinya, untuk mengajarkannya kasih Dewa Cahaya?” kata guruku sambil menepuk punggungku.

Apa? Aku masih harus berdebat dengannya? Kupikir itu tidak baik, dia bahkan sudah menangis…

“Jangan lupa bawa sapu tangan, air bersih, dan dua kursi jongkok.” Setelah memberikanku instruksi aneh itu, guruku berbalik dan mulai berdeat dengan musuh bebuyutannya, Judgment Knight, secara verbal melemparkan “kasih” dan “kekerasan” kepada satu sama lain.

Meskipun aku masih ragu-ragu, aku tidak berani melanggar perintah guruku, jadi aku cepat-cepat mencari sebaskom air. Aku sudah punya sapu tangan, jadi dengan mengapit dua buah kursi di tanganku, aku pergi untuk mencari calon musuh bebuyutanku.

Pada akhirnya, aku menemukannya di dalam toilet di samping kompleks Judgment. Dia tengah memuntahkan seluruh isi perutnya, dan tetap terus muntah meskipun tidak ada apapun yang bisa dimuntahkan lagi.

Aku berdiri mematung disana, menunggu. Saat kakiku mulai capek, aku ingat kursi yang kubawa tadi. Aku melangkah untuk mengoper sebuah kursi kepada musuh bebuyutanku, lalu menempatkan satunya lagi dibawah pantatku sendiri.

Aku masih menunggu untuk beberapa lama, sampai akhirnya, dia berhenti muntah.

Melihat penampilannya yang berantakan, aku secara otomatis menyerahkan sapu tangan dan baskom air kepadanya. Dia juga menerimanya dengan kaku dan mulai membersihkan diri.

Sapu tangan, kursi jongkok, dan air semuanya sudah terpakai… aku tiba-tiba menyadarinya. Mungkinkah guruku dulu juga duduk di toilet ini, menonton musuh bebuyutannya muntah-muntah?

Saat calon Judgment Knight akhirnya selesai muntah, dia mencuci bersih sapu tangan itu dan mengembalikannya kepadaku tanpa bicara. Dia tidak bilang terima kasih kepadaku karena dia tidak bisa mengatakannya; sang Sun Knight dan sang Judgment Knight adalah musuh abadi yang mewakili gambaran Dewa Cahaya yang sangat berbeda. Karena itu, kami benar-benar tidak mungkin berteman!

Kami berdua hanya duduk disana, mengawasi satu sama lain tanpa bicara. Aku tidak berniat menceramahinya lagi dengan kasih Dewa Cahaya, dan dia tidak berminat menggunakan kekejaman Dewa Cahaya untuk menghadapiku.

Sejak saat itu, kami berdua sering melakukan “perkelahian” kami tentang kasih dan kekejaman Dewa Cahaya dalam toilet ini. Aku sering membawakannya sebaskom air, kursi jongkok, dan sapu tangan ke toilet dan menunggunya disana. Sebagai gantinya, dia akan selalu menyiapkan teh dan kue kering sebelum memulai interogasi, lalu membawanya ke toilet waktu dia kabur kesana setiap selesai interogasi.

Kau pasti tahu kalau orang biasanya lapar habis muntah-muntah.

Tetapi, kue kering yang dibawanya itu selalu tipe yang sangat manis sampai-sampai orang mengira kalau itu gula murni – tipe yang dibencinya, tapi sangat kusukai.

Nah, sepertinya Judgment Knight akhirnya selesai muntah. Seperti yang sudah-sudah, aku menyerahkan sebaskom air dan sapu tangan kepadanya, lalu dia mulai berdih-bersih dengan hati-hati, bahkan saat dia berkata,“Kau sudah tidak repot-repot memusingkan tentang pengadilan para kriminal untuk waktu yang lama, Sun. Kukira kau akhirnya mengerti kalau hanya kekejaman Dewa Cahaya yang dapat menghentikan kriminalitas mereka.”

Aku mengerti maksud perkataannya. Teman baikku sedang komplain karena aku sudah lama tidak datang dan mengobrol dengannya.

“Kasih Dewa Cahaya tidak hanya ada dalam Kuil saja. Istana pun memerlukan cahaya kasih, dan dari pada semua orang, Yang Mulia Raja haus akan pengajaran Dewa Cahaya.”

Artinya aku diutus untuk “mengajar” si raja gendut.

“Yang Mulia Raja pasti memperlakukanmu dengan buruk. Hanya kekejaman Dewa Cahaya yang dapat menyadarkannya akan bahaya yang dihadapinya.”

Pasti sangat sulit, menghadapi raja gendut itu. Judgment memberikan tatapan bersimpati kepadaku.

“Lewat kerja keras Storm Knight, Yang Mulia Raja dapat merasakan dan mengerti kasih Dewa Cahaya.”

Kalau bukan karena Storm, raja gendut itu tidak akan menyerah dan menurunkan pajak.

“Storm Knight pasti sangat menyesal karena tidak mengajarkan kekejaman Dewa Cahaya kepada seluruh penjuru istana; apakah matanya tidak dapat melihat semua kejahatan dalam istana?”

Dia pergi ke dalam istana, yang penuh dengan wanita… Apakah matanya baik-baik saja?

“Dia menggunakan matanya untuk menyaksikan kejahatan dalam istana, dan meskipun itu sangat menyakitkannya, dia tetap mengampuni mereka dengan kasih Dewa Cahaya.”

Dia hampir buta.

“Semoga Dewa Cahaya mengampuninya karena melihat kejahatan tapi tidak member hukuman.”

Kasihan… Semoga matanya cepat sembuh.

“Sang Paus telah menyampaikan dukungan Dewa Cahaya kepada kami. Cahaya mentari yang hangat di luar akan menyinari matanya yang pemurah selama tiga hari, dan Sun telah sangat beruntung karena bisa meraskan kasih Dewa Cahaya bersamanya.”

Dia cuti selama tiga hari, begitu juga denganku.

“Semoga cahaya matahari siang yang terik membuat kalian menyadari kekejaman Dewa Cahaya yang berapi-api. Kemanapun kau pergi, kekejaman Dewa Cahaya akan menyertaimu.”

Selamat bersenang-senang! Kamu mau pergi kemana?

“Kasih Dewa Cahaya menyinari seluruh bumi, bahkan jika itu adalah kamar Sun Knight ini.”

Aku akan meringkuk di kamarku seperti kura-kura.

Judgment akhirnya menyerah dan membiarkan sebuah cengiran muncul di wajah dingin dan tegasnya itu. Dia menggelengkan kepalanya, masih tersenyum, lalu mengeluarkan sepotong kue kering dan menyerahkannya kepadaku. “Semoga suatu hari nanti kau akan menerima kekejaman Dewa Cahaya.”

“Dan semoga kau juga belajar menerima kebaikan Dewa Cahaya.”

Aku mengambil kue kering itu dan menggigitnya. Yum, rasa blueberry, sangat enak.

Seperti yang kukatakan kepada Judgment Knight saat kami membicarakan liburanku, aku berencana menetap di kamar dan tidur… Hey, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak percaya kalau aku benar-benar akan tinggal dalam ruangan dan tidur?

Apa? Pergi cari cewek?

Jangan bodoh; aku tidak berniat membantu mengumpulkan uang untuk kuil! Jadi, aku benar-benar tidak berminat mencari cewek yang kusukai cuma untuk membuat mereka mengira aku sedang menceramahi mereka dan melemparkan uang sumbangan kepadaku sbelum kabur!

Eh? Bukannya aku pemabuk ulung? Pergi minum-minum di bar?

Kau pasti sudah gila!

Kau sudah lupa siapa aku?

Aku sang Sun Knight, oke?! Bagaimana mungkin Sun Knight, yang pingsan setelah gelas ketiga, bisa pergi ke bar?

Kau pikir aku bukan Sun Knight hanya karena aku sedang cuti?

Guruku sering bilang,”Sekali menjadi Sun Knight, seseorang harus terus tersenyum sampai mati.”

Bahkan ketika aku sedang berlibur, aku tetap Sun Knight; yang berubah cuma statusku yang menjadi Sun Knight yang sedang berlibur.

Bahkan ketika aku sedang berlibur, senyum di wajahku harus tetap secerah matahari.

Bahkan ketika aku sedang berlibur, aku tetap harus menyebutkan kasih Dewa Cahaya sekali setiap tiga kalimat dalam percakapan.

Bahkan ketika aku sedang berlibur, saat aku melihat cewek cantik aku tetap harus menggunakan pengelihatan periferku untuk merekamnya.

Karena itu, aku lebih memilih meringkuk di kamar dan tidur. Disana, ekspresiku bisa sekecut yang kumau dan jika tidak ada hal lain yang bisa kulakukan, aku bebas berteriak,”Pergilah ke neraka, raja gendut!” setelah itu aku bisa menghabiskan tenaga untuk mengumpulkan rekaman cewek-cewek dalam otakku dan menggunakan mereka untuk bermacam-macam fantasi XX dan OO…

Setelah itu aku bisa, sambil berfantasi tentang cewek cantik, membuka pintu rahasia di bawah ranjangku lalu masuk ke gudang anggur untuk minum beberapa gelas anggur yang dibuat oleh Sun Knight generasi sebelumnya – atau generasi sebelumnya, atau sebelumnya lagi. Dan juga, untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada Sun Knight-Sun Knight sebeumnya, dan juga untuk menguntungkan Sun Knight berikutnya, aku harus pergi ke dapur dan mengambil beberapa buah apel.

Guruku sering bilang, “Nak, tidak masalah kalau kamu tidak bisa berpedang, karena hal terburuk yang bisa terjadi hanya mati muda.

“Tidak masalah kalau kamu susah mempelajari holy magic, karena kemungkinan terburuknya hanya kau tidak bisa menyembuhkan luka pasienmu, dan saat itu terjadi kau hanya perlu mendoakannya dan berharap kalau dia akan cepat pergi menemui Dewa Cahaya.

“Tapi kamu harus mempelajari seni membuat minuman dengan baik! Kalau tidak, bahkan waktu kamu sudah kembali kepada Dewa Cahaya, Sun Knight generasi-generasi berikutnya akan mengutukmu karena kekurangan anggur bagus untuk entah berapa generasi!”

Guruku paling ahli membuat wine anggur, jadi aku punya segudang penuh wine anggur untuk kuminum. Aku sendiri paling ahli membuat wine apel, jadi muridku akan mempunyai segudang penuh wine apel untuk diminum.

Tetapi, karena aku terlalu banyak mengambil apel, penjaga kantin selalu menyajikan apel untuk hidangan penutupku…

Jadi perasaanku kepada apel kurang lebih sama dengan perasaanku kepada Earth Knight; aku adalah Sun Knight penggemar apel yang membenci apel!

Karena aku tidak mau tersenyum!

Karena aku tidak mau bilang “kasih Dewa Cahaya!”

Karena aku tidak mau melihat apel!

Jadi kupikir aku hanya akan meringkuk seperti kura-kura di kamar, tidur, dan menjalani perawatan kulit saat aku melakukannya.

Apa? Kau bilang kenapa seorang cowok perlu perawatan kulit?

Kawan, kau benar-benar tidak mengerti… Seperti yang diketahui semua orang, Sun Knight adalah cowok cakep dengan rambut keemasan, mata biru, dan kulit yang sangat cantik sampai-sampai dia terlihat berkilauan!

Demi menjadi cowok tampan dengan kulit yang sangat cantik sampai ia terlihat berkilauan, setiap Sun Knight tanpa terkecuali telah menjadi ahli dalam membuat krim dan masker pemutih kulit. Tetapi, aku percaya kalau aku pasti adalah yang paling ahli di antara mereka semua.

Meskipun aku dipanggil Sun Knight, sebenarnya aku benci berada di bawah sinar matahari karena kulitku sangat mudah terbakar. Setiap kali aku menghabiskan waktu di bawah sinar matahari, aku harus memakai masker tubuh semalaman untuk mengembalikan warna kulitku.

Sementara itu, aku juga bereksperimen dengan berbagai masker tubuh untuk membuat kulitku yang gampang coklat ini tetap mulus bahkan waktu aku menghabiskan waktu seharian berkelahi di bawah matahari.

Sekarang ini, masker tubuh yang paling efektif dari hasil percobaanku menggunakan campuran susu asam dengan sepuluh tetes lemon, ekstrak dari tiga puluh kuntum mawar, ekstrak sepuluh tangkai lavender, dan sedikit tepung. Setelah ramuannya siap, aku akan mengoleskannya ke seluruh tubuh, memanaskan air, lalu menggunakan uapnya untuk menguapi tubuhku selama satu jam.

(Catat kalau aku, sang Sun Knight, sudah sering melakukan ini; jangan mencobanya kalau kau bukan seorang kesatria!)

Campuran ini menjamin kalau setelah berjemur seharian, kulit seseorang akan tetap seputih susu, dengan sedikit warna kuning telur.

Tetapi sejujurnya, aku curiga kalau Sun Knight generasi pertama adalah seorang albino!

Kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa berada di bawah sinar matahari seharian, berlatih, bertempur, mendengarkan ceramah raja, dll, dan entah bagaimana tetap bisa meninggalkan image sialan tentang cowok ganteng berkulit putih untuk diketahui semua orang?

Tidak peduli apakah Sun Knight pertama adalah albino atau bukan, aku tidak punya pilihan lain selain membuka baju dan menguapi tubuhku setiap minggu.

Tapi ada satu hal yang lebih jahat dari apel dan Earth Knight: setiap aku membuka baju, menggelontorkan masker di seluruh tubuhku, dan baru saja berniat menguapi diriku sendiri, biasanya seseorang akan muncul tiba-tiba, mengetuk pintu kamarku…

Tok-tok-tok!

Lihat? Sial, itu pasti sebuah kutukan!

Aku sudah hampir terbiasa.

“Bolehkah aku bertanya siapa yang sedang berada di balik pintu ini, yang telah, karena bisikan lembut Dewa Cahaya, telah diingatkan untuk datang dan mencari Sun, untuk membicarakan kasih Dewa Cahaya?”

Dia sebaiknya mencariku untuk urusan penting, kalau tidak aku akan mengerok semua masker dari tubuhku dan mencekokinya dengan itu!

“Ini aku, Leaf. Untung saja kau disini, Sun. Cepat datang; sebuah makhluk undead telah muncul di kota!”

Leaf Knight? Dari semua kesatria di fraksi “lembut dan baik hati”, dia adalah salah satu dari orang langka yang benar-benar kusukai.

Alasannya karena dia adalah orang yang benar-benar baik.

“Tolong tunggu sebentar, saudara Leaf. Dengan dorongan dari Dewa Cahaya. Sun telah merasakan bahwa ia harus menghadapi dunia dengan penampilan bersih.”

Semendesak apapun situasinya, kau tetap harus membiarkanku melepaskan masker tubuh dan memakai baju dulu!

Kalau tidak, waktu aku muncul, susah memastikan kalau semua orang tidak akan menyerangku lebih dulu dari pada undead itu… Sekarang ini, penampilanku sangat mirip mayat hidup yang masih membusuk!

“Tentu, tidak usah terburu-buru, Sun. Aku akan pergi dan membantu menyibukan undead itu. Jangan khawatir, aku akan membiarkanmu membunuhnya!”

Tentu saja, setelah dia selesai bicara, aku mendengar langkah kaki Leaf Knight yang terburu-buru saat dia pergi dengan tergesa-gesa.

Lihat, dia adalah orang yang sangat baik! Kalau dia adalah seorang wanita aku akan berkata dengan lembut kepadanya,”Kau benar-benar orang yang baik!”

Seperti yang diketahui semua orang, hal yang paling dibenci Sun Knight tidak lain tidak bukan adalah makhluk undead. Makhluk kegelapan seperti itu benar-benar bertentangan dengan prinsip Dewa Cahaya, dan karena elemen kegelapan mereka dan sang Sun Knight, yang berpihak kepada cahaya, sangat bertentangan satu sama lain, jadi Sun Knight selalu lepas kendali setiap kali melihat makhluk undead!

Tentu saja dia akan lepas kendali, karena satu-satunya yang tidak perlu diampuni oleh Sun Knight adalah makhluk undead!

Artinya, aku bisa menjadi brutal dan berteriak marah saat mencincang makhluk itu jadi setumpuk daging cincang. Semua kekesalanku karena harus tersenyum setiap hari, harus mengucapkan kasih Dewa Cahaya dalam setiap kalimat, tidak bisa melihat cewek cantik dengan terang-terangan, harus memakai masker tubuh tiap minggu, semua kulampiaskan kepada makhluk itu!

Guruku sering bilang,”Nak, kamu benar-benar harus sering mencari makhluk undead.”

“Apakah itu karena Sun Knight sudah bersumpah untuk menghancurkan semua makhluk undead?”

“Bukan, kamu harus sering mencari mereka untuk dijadikan sasaran pelampiasanmu.”

“Apa?”

“Pikirkan baik-baik. Kamu harus senyum setiap hari, mengampuni setiap sampah masyarakat, dan memuji Dewa Cahaya – yang mungkin tidak akan kau temui seumur hidupmu – dalam setiap kalimat. Jika kau tidak punya pelampiasan, kamu bisa depresi, lalu kamu mungkin tidak bisa lagi menjalankan tugas sebagai Sun Knight dengan baik. Kalau kamu gagal melaksanakan tugas dengan baik, kamu akan kehilangan pekerjaan, dan setelah kehilangan pekerjaan, kamu akan menjadi tambah depresi. Pada akhirnya, kau akan menjadi sangat depresi sampai-sampai kau mengalami reuni dengan Dewa Cahaya. Kamu pasti tidak menginginkan akhir tragis seperti itu kan?”

“… tidak.”

“Jadi nak, kamu harus mencari satu makhluk undead setidaknya sebulan sekali untuk melampiaskan frustrasimu, oke?”

“Bagaimana kalau tidak ketemu?”

“Jangan khawatir, nak. Nih, ini adalah kartu nama dari necromancer yang dikontrak secara khusus oleh kuil; tidak hanya kau bisa memilih tipe makhluk undead yang kamu mau, kamu bahkan bisa melaporkannya sebagai biaya pekerjaan dan meminta ganti rugi kepada Kuil.”

“…”

Supaya aku tidak depresi, supaya aku tidak kehilangan pekerjaan, dan supaya aku tidak kembali kepada Dewa Cahaya terlalu cepat, aku cepat-cepat mengerok masker pemutih dari tubuhku. Aku sedang terburu-buru untuk melampiaskan kekesalanku kepada makhluk undead itu.

Untung saja aku belum mulai menguapi tubuhku.

Aku bilang begitu karena masker tubuh yang masih basah dan menetes-netes setidaknya sepuluh kali lebih mudah dilepas dari pada yang sudah kering. Kalau tidak percaya, lain kali waktu kamu iseng, ambil setoples lem dan lumuri tubuhmu dengan itu. Biarkan sisi kiri tubuhmu tetap basah dan panggang yang sebelah kanan sampai kering, lalu bandingkan perbedaannya waktu kamu mencoba mengeroknya lepas.

(Aku harus tetap mengingatkanmu, kalau aku, sang Sun Knight, sudah sering melakukannya; kalau kamu bukan kesatria, aku tidak akan bertanggung jawab kalau kamu mencobanya.)

Aku masih ingat, waktu guruku pertama kali mengajariku dasar-dasar cara membuat masker pemutih tubuh, dia lupa memberiku sebuah instruksi yang sangat penting. Waktu dia akhirnya ingat dan cepat-cepat kembali untuk memberitahuku, masker tubuhnya sudah kering sempurna dan aku sedang sibuk mengeroknya…

“Nak, kau benar-benar tidak boleh menutupi ‘bagian terpenting’mu dengan masker, kalau tidak— “

AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!

Sejak saat itu, tidak ada sehelai bulu pun yang tumbuh di daerah terpentingku.

Guruku selalu merasa bersalah, jadi sejak insiden itu, dia menjadi lebih serius dari biasanya dan mengeluarkan tenaga ekstra saat mengajariku dan dia tidak berani lupa mengatakan instruksi sekecil apapun.

Kita sudah melenceng dari topik awal. Yang pasti, masker tubuh yang basah hanya perlu dibilas saja, dan aku sudah bersih. Tetapi setelah membilasnya, hilang sudah kerja kerasku selama dua jam membuat masker itu… Sayang sekali! Kuil tidak akan mengganti uang yang kuhabiskan untuk membeli mawar dan lavender!

Aku menonton dengan mata berair saat sebagian dari gajiku hanyut… Sial! Aku benar-benar akan melampiaskan semua kekesalanku kepasa makhluk undead sialan itu! Aku benar-benar kesal!

Aku mengenakan seragam kesatriaku dan mengambil sebuah pedang. Serang!

Aku menendang pintu kamar sampai terbuka. Setelah menerjang keluar, aku tidak yakin harus pergi kemana. Untungnya, Leaf bukan hanya baik, tapi dia baik dan sangat teliti. Tidak hanya membantuku menahan makhluk undead itu, dia juga meninggalkan seorang kesatria magang sebagai pemandu jalan!

Leaf! Aku berjanji kalau waktu aku selesai melampiaskan kekesalanku, aku akan mengirimkan rekomendasi kepada Kuil untuk mengeluarkan sebuah sertifikat untukmu karena telah menjadi orang yang sangat baik.

[Akhir dari The Legend of Sun Knight volume 1 bab 2]

Catatan Kaki

1“melupakkan teman saat melihat keindahan…”: Sebuah pepatah yang berarti menjadi sangat terpaku kepada kecantikan, biasanya dalam wujud seseorang yang adalah pacar atau bukan, sehingga seseorang tidak mengacuhkan temannya dan dalam kasus terburuk, berkhianat.
 
2Judgment Knight: Dalam bahasa mandarin, arti namanya adalah “审判” (shěn pàn), yang memiliki banyak arti, contohnya “mengadili”, “menginterogasi”, dan bahkan “mengadakan sidang”. Jadi arti “Judgment Knight” yang dimaksud disini kurang lebih adalah “Kesatria Keadilan”.

1/2 Prince V1C1: Lahirnya Seorang Pangeran

posted in: 1/2 Prince, Bahasa Indonesia | 0

½ Prince Volume 1: Awal dari Sebuah Legenda

Novel asli ditulis oleh : Yu Wo (御我)


Chapter 1: Lahirnya seorang Pangeran [translator : RJ]

Saat ini adalah tahun 2100 AD. Sebagai hasil dari kemajuan teknologi – seperti adanya virtual reality, dan mesin game yang telah diciptakan sehingga bisa dimainkan saat tidur – game online telah berkembang dengan pesat selama bertahun-tahun.

Kemudian, tingkat kenyataan dari game online ini terus bertambah, mulai dari 50 %… 60%… 70%… sampai 80%. Pasar saat ini didominasi oleh 2 MMO[1] yang besar – The World dan Life – yang mana keduanya telah mencapai tingkat kenyataan sampai 85%. Dengan lebih dari 80% orang di seluruh dunia memainkan game ini, kalimat pertama yang seseorang ucapkan kepada teman baru mereka adalah, “Kamu berasal dari mana? The World atau Life?”

Bagaimanapun juga, semuanya mulai berubah. Perusahaan teknologi terbesar di dunia telah menyebabkan kegemparan hebat dengan produk keluarannya : setelah 10 tahun penelitian, mereka telah membuat Second Life, game terbaru dengan tingkat kenyataan 99%.

Dan sekarang seluruh dunia menunggu dengan nafas tertahan…

Online, di The World

“Bro, lihat, kamu pikir ini apa?”

Aku, Feng Xiao Xiao, mengangkat tongkat ‘Blue River Goddess’, menunjukkannya ke adik kembar laki-lakiku. Haha! Dengan kekuatan magic sebesar 102, dan dengan kemampuan yang meningkatkan kekuatan serangan magic dengan dasar elemen es sebanyak 20%, ‘Blue River Goddess’ sudah pasti adalah benda berharga seorang Mage. Ini membutuhkan sedikit usaha dalam membujuk suamiku untuk membelikannya.

“’Blue River Goddess’? Persetan, kakak; bukankah tongkat ini berharga sebesar 100 ribu gold? Dari mana kau mendapatkan uangnya? Kamu menang lotre atau apa?” Feng Wu Qing – yang merupakan adik laki-lakiku di dunia nyata – bertanya, memelototi tongkat di tanganku.

“Suamiku memberikan ini buatku, jelas,” jawabku puas, masih memamerkannya.

“Hadiah lain dari kakak ipar… Pasti enak jadi wanita, perlengkapan sudah otomatis diantarkan ke depan rumah, tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkannya,” Feng Wu Qing menggerutu.

“Apa kamu bilang?!” Alisku berkerut sementara aku memfokuskan diri. Ledakan es – mantra level menengah – menuju ke arahnya.

Menjadi seorang Warrior, daya tahan magic Feng Wu Qing sangat lemah. HP nya langsung berkurang setengah. Mempertimbangkan kalau jumlah kesakitan yang dirasakan dalam game hanya 20% dari kenyataan, ledakan es ini mungkin hanya sesakit dipotong dengan pisau dapur. Tunggu dulu, bukankah itu… sangat sakit?! Aku menyadarinya.

“Hei, apa yang kau lakukan? Sakit, tahu! Hentikan!” Kehilangan separuh HP nya, Feng Wu Qing tidak punya pilihan lain selain minum Health Potions. “Wanita jalang…”

“Apa…”

Kamu berani mengataiku wanita jalang? Atau haruskah kukatakan : Kalau kamu – yang hanya seorang Warrior level 95 – berani mengata-ngataiku – seorang Mage level 115… Kau pasti cari MATI! Benar-benar marah, aku sampai lupa kalau orang itu adalah adik laki-lakiku dan melancarkan mantra tingkat tinggi, menyerangnya dengan Blizzard. Tiba-tiba, aku menyadari apa yang sudah kuperbuat. Duh, Wu Qing tidak mungkin mati sekarang, ‘kan?

“Urgh…” Dari suara menyedihkan adikku, itu pasti melukainya sangat parah… Sori, bro.

“Dasar wanita sialan, orang gila, kakak bodoh! Apa kamu mencoba untuk membunuhku?!” desah Feng Wu Qing, berbaring di atas tanah, hampir mati. Melihatnya masih hidup, kelegaan menguasaiku.

“Siapa suruh kamu mengataiku wanita jalang? Selain itu, level dan perlengkapanmu benar-benar sangat menyedihkan, jika kamu pingsan setelah ledakan es kecil dan Blizzard. Aku bisa menginjakmu saja dan kamu akan beruntung menjadi Warrior pertama yang pernah mati terinjak oleh seorang Mage.” Melihat Wu Qing masih hidup, aku tidak bisa menahan diri lebih lama untuk mengejeknya.

Berbaring di atas tanah, Feng Wu Qing kelihatan malu sekaligus marah, dan menjawab dengan dingin. “Siapa yang mau jadi seseorang yang tidak tahu malu sepertimu?! Selalu meminta dari laki-laki untuk memberimu perlengkapan atau untuk membantumu naik level, selalu sembunyi di belakang kelompok, selalu mengambil barang rampasan yang bagus… Akan jadi aneh kalau kamu masih level rendah dan memakai perlengkapan murahan!”

Marah, aku bisa merasakan panas di pipiku. “Aku… Aku…” merasa agak bersalah…

Melihat aku tidak bisa berkata-kata, Feng Wu Qing memutuskan menggosokkan garam di lukaku. Sungguh tidak peka, apakah ia benar-benar adikku? “Aku belum selesai bicara. Kalian wanita hanya tahu bagaimana cara memohon pada orang lain untuk memberimu perlengkapan dan naik level, selalu memilih kelas yang memberimu kesempatan untuk sembunyi dan mendapatkan Experience Points dari jauh.”

Aku menginjakkan kakiku di tanah. “Baik, bagaimana jika kita reroll[2] saja dan melihat siapa yang lebih cepat naik level?”

Feng Wu Qing menyeringai. “Lupakan saja. Buat apa kita reroll? Kakak ipar pasti masih membantumu, dan masih akan ada segerombolan pria yang mau untuk power-level[3] buatmu dan memberimu perlengkapan.”

“Itu hanya karena mereka menginginkannya, tidak ada hubungannya denganku!”

“Jadi jangan menerimanya begitu saja dan latih dirimu sendiri!”

“Tapi itu akan jadi sia-sia…” Aku berkata dengan suara kecil.

“Hmph!” Feng Wu Qing menatapku dengan dingin.

Aku merasa kemarahanku naik, tetapi ketika aku mulai membuka mulut dan mau melanjutkan bertengkar dengannnya, seekor bos monyet api yang sangat cepat tiba-tiba muncul di belakang adikku. Menyerang kami dengan kecepatan kilat, dia memukul kepala adikku dengan pukulan yang sangat hebat. Aku bertanya-tanya, apakah serangannya berpengaruh..

[ Sistem : Feng Wu Qing -135 HP, Feng Wu Qing HP=0, Status: Mati ]

Terpaku, aku hanya mampu melihat ketika adikku menjadi pilar cahaya dan menuju ke langit. Setelah mati, Player akan berubah menjadi pilar cahaya dan terbang kembali ke Rebirth Point.

Aduh, adikku mati.. Aku dalam kesulitan besar sekarang. Menurut peraturan di The World, jika terbunuh oleh mob[4], level seseorang akan kembali ke level 1. Aku berkeringat dingin, berpikir bahwa ia akan melindungiku, sampai aku sungguh-sungguh lupa kalau boss itu masih di depanku – kecuali sekarang aku hanya seorang Mage tanpa seorang Warrior untuk menjadi tamengku..

“Uhh..” Aku, yang sebelumnya tidak pernah mati, merasakan kematian untuk pertama kalinya. Jadi mati itu terasa seperti ini.. Aku cepat-cepat melepaskan helm game dan menggeliat.

“Kau mati juga?” Aku menengadahkan kepala dan melihat adikku melihat ke arahku dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Dia segera lari dari kamarnya menuju kamarku supaya bisa mencelaku karena menyebabkannya kembali ke level awal. Tapi sekarang… ah, dia pasti masih akan memarahiku. “Idiot! Kenapa kau tidak menggunakan Scroll of Recall[5] ketika melihatku mati?”

“Aku terlalu terkejut untuk bereaksi ketika melihatmu mati!”

Aku melihat ke arahnya putus asa. Bagaimana aku tahu bahwa dalam beberapa detik saat aku terpaku, monyet sialan itu akan mengubahku menjadi pilar cahaya dalam sekejap mata?

“Salahku sampai membuatmu mati…”

“Sudahlah; bagaimanapun juga aku tidak akan memainkan The World lagi.”

“Hah? Kau tidak akan main lagi? Kenapa?”

Adikku – kupikir aku harus mengatakan ini: namanya adalah Feng Yang Ming, dan aku Feng Lan – melihat ke arahku dengan ekspresi yang menyebalkan. “Apa kau tidak tahu kalau Second Life sudah keluar?”

“Second Life?” aku mengulang, bingung.

Adikku langsung melotot ke arahku, seakan aku ini orang idiot saja.

Second Life adalah virtual reality game terbaru, dengan tingkat kenyataan mencapai 99%. Bahkan dikatakan kalau kita bisa merasakan tiupan angin dan mendengar suarang serangga, sampai ke tahap di mana kita merasa seperti sedang berada di dunia nyata.”

Aku mengerut, alisku menyatu, “Jadi bukankah itu akan sangat menyakitkan? Kalau kau terluka…”

“Duh! Kalian wanita selalu takut sakit! Dengan tingkat kenyataan 99%, siapa yang peduli dengan sakit?” Adikku yang menjengkelkan ini melihatku dengan ekspresi super menyebalkan, dan menambahkan, “Jangan khawatir, sakit yang dirasakan hanya sampai 30% saja kok.”

Aku menjawab, “Oh,” tapi masih saja tidak dapat menahan diri berpikir, Hmph, baru saja kau bicara tentang sakit yang dirasakan. Jika mereka benar-benar menaikkannya sampai 99%, aku ragu kalau kau masih akan bilang tidak peduli dengan rasa sakit! Bagaimanapun juga, karena aku baru saja membuatnya mati, aku tidak berani untuk mencelanya. “Jadi kau tidak akan main The World lagi?”

“Tolong ya. Semua orang yang main The World dan Life sekarang cuma menunggu keluarnya Second Life. Kalau Second Life sudah keluar, The World dan Life mungkin akan langsung bangkrut!”

“Yah, kalau begitu, aku akan main Second Life juga.” Tingkat kenyataan sampai 99% kedengarannya menarik, dan karena aku juga harus latihan dari awal lagi, mungkin lebih baik kalau aku mulai di Second Life.

“Huh, kau paling akan menggunakan skill ‘beri aku peralatan dan bantu aku naik level’ lagi.”

Sekarang aku benar-benar tersinggung. “Feng. Yang. Ming. Kuperingatkan.. Kali ini aku tidak akan meminta bantuan dari orang lain atau untuk memberiku peralatan, jadi jangan mengeluh kalau kau nanti naik level lebih lambat daripada aku.”

“Seperti itu bakal terjadi saja.”

Kami bersaudara saling melotot.

 

Aku mengambil disk gamenya dan menggerutu pelan. Adik bodoh, aku akan dengan cepat naik level, meninggalkanmu jauh di belakang, dan kamu tidak akan bisa mengataiku lagi. Dengan marah, aku memasukkan disk gamenya ke helm game dan melirik ke arah jam. Melihat waktunya sudah tiba, aku memakai helm game nya dan berencana untuk langsung masuk ke dalam game, kemudian latihan dengan cepat sampai dia tidak akan bisa mengejar kenaikan level ku. Tapi, aku lupa kalau aku sudah memajukan jamku 5 menit lebih cepat, supaya aku tidak terlambat jika ada janji…

 

Kenapa tempat ini sangat gelap? Saat kepalaku mulai dipenuhi pertanyaan, cahaya yang sangat menyilaukan memenuhi mataku dan seorang wanita yang luar biasa cantik muncul di hadapanku. Hmph! Seorang lagi yang amat cantik! Benar-benar menyebalkan! Apakah para pengembang game ini tidak tahu kalau wanita juga memainkan game? Kenapa mereka tidak membuat seorang yang ganteng saja untuk menyambut para wanita?

“Halo, dan selamat datang di Second Life. Karena ini adalah pertama kali Anda memainkan game ini, tolong beri kami waktu sebentar untuk meng-scan tubuh Anda dan merekam frekuensi suara Anda. Dengan begitu, Anda bisa langsung masuk ke dalam game begitu Anda mengenakan helm game.”

Aku menunggu dengan diam sampai proses scanning nya selesai.

“Yak, sekarang Anda bisa mulai membuat karakter Anda. Sebelum Anda mulai, saya harus mengingatkan bahwa Anda hanya memiliki satu kesempatan untuk membuat sebuah karakter. Begitu selesai dibuat, ras, nama, dan penampilan Anda tidak akan bisa diubah.”

“Jadi aku tidak akan bisa membuat ulang karakterku?” Tidakkah mereka terlalu berlebihan dengan peraturan yang begini ketat?

“Untuk mempertahankan tingkat kenyataan dalam Second Life, setiap orang hanya akan mempunyai satu akun dan satu karakter, tanpa kecuali.”

“Lalu apa yang terjadi jika karakterku mati?” Jangan bilang kalau aku tidak akan bisa main lagi..?

“Jika karakter Anda meninggal, Anda akan kembali ke Rebirth Point. Sebagai penalti, level Anda akan dikurangi satu.”

Benar-benar peraturan yang aneh, aku tertegun.

“Apakah Anda berminat untuk membuat karakter Anda sekarang?”

“Oh, ya, tentu saja. Mulai!”

“Silahkan memilih ras yang Anda inginkan.” NPC[6] yang super-cantik itu baru saja menyelesaikan kalimatnya ketika tempat yang awalnya kosong itu tiba-tiba dipenuhi banyak karakter yang kelihatan hidup, semuanya berpose di depanku. Rasnya bervariasi, mulai dari manusia, elf, dark elf, kurcaci, demon, holymen, beastmen (subspesies termasuk serigala, burung, kucing liar, dll) sampai spirit (dengan 10 sub-kategori, dibagi menjadi spirit pohon, bunga, dll). Mataku mulai berputar-putar. Astaga, apa yang harus kulakukan! Dan kenapa ada begitu banyak pilihan ras?

Melihat ekspresiku yang kebingungan, NPC yang anggun itu dengan baik hati menawarkan, “Pilih saja dulu ras yang Anda sukai; saya akan menjelaskannya. Tidak usah buru-buru, sebab Anda tidak akan mendapat kesempatan untuk reroll!”

Aku melihat ke arah si cantik itu dengan penuh terima kasih; tiba-tiba dia kelihatan lebih menyenangkan dari sebelumnya.

“Apa saja karateristik dari ras manusia?”

“Karakteristik dari ras manusia adalah keseimbangan mereka. Contohnya, fisik manusia tidak dapat dibandingkan dengan fisik para beastmen, dan kecepatan manusia tidak bisa dibandingkan dengan kecepatan para elf. Tetapi kecepatan mereka lebih tinggi daripada kecepatan para beastmen, dan fisik mereka lebih kuat daripada fisik para elf.”

“Oh..”

Melihat bahwa hal itu sama dengan game yang lain, aku mulai khawatir. Karena ras tidak bisa diubah, ras apa yang harus aku ambil?

Kali ini aku akan menjadi seorang Warrior, pikirku, masih terprovokasi oleh kata-kata adikku… Dasar adik bodoh, mengataiku takut sakit dan hanya tahu bagaimana caranya sembunyi! Tunggu dan lihat saja; aku akan menjadi seorang Warrior.

Dari yang aku dengar, manusia dan beastmen adalah yang terbaik untuk kelas ini… “Dalam hal itu, bisakah aku melihat diriku jika menjadi seorang manusia dan seorang beast?” Sebenarnya tidak pernah bagus menilai seseorang dari penampilan saja, tapi seorang wanita tidak bisa tidak ingin kelihatan cantik…

“Tentu saja,” kata si cantik, dan dua versi “diriku” muncul. Sesuai perkiraan, versi manusia “diriku” kelihatan lebih cantik, tapi tepat saat aku aka bilang kalau aku ingin bermain sebagai ras manusia, kata-kata adikku yang terkutuk itu kembali terngiang-ngiang di kepalaku.

“Lupakan saja. Buat apa kita reroll? Kakak ipar pasti masih membantumu, dan masih akan ada segerombolan pria yang mau untuk power-level[3] buatmu dan memberimu perlengkapan…”

Huh, jika aku muncul di depannya kelihatan bagus dan cantik, dia pasti tidak akan percaya kalau aku kerja keras untuk mendapatkannya. Dengan pikiran itu, aku berkata, “Bisakah kamu menjadikanku lebih maskulin?”

“Anda ingin menjadi seorang laki-laki?” Si cantik tampak terkejut dan berusaha untuk membuatku menarik kata-kataku. “Anda sebaiknya memikirkan hal ini dengan hati-hati. Anda tidak akan bisa mengubah penampilan Anda nanti.”

Aku mulai ragu-ragu…

“Ditambah lagi, wanita akan lebih mudah naik level, dengan para pria yang mau membantu dan melindungi mereka.”

Mendengar itu, aku malah semakin tersinggung. “Aku tidak peduli.”

“Beri saya waktu sebentar, saya akan membicarakan hal ini dengan para petinggi.” Dengan itu, dia tiba-tiba bergeming, tidak bergerak sedikitpun.

Jadi dia sebenarnya seorang GM[7]… Ekspresinya benar-benar sangat kaku sampai aku salah mengiranya sebagai seorang NPC!

Setelah sejenak, si cantik itu kembali bergerak, dan ekspresinya ragu-ragu. “Walaupun perubahan gender itu sebenarnya dilarang, tetapi Anda adalah Player pertama yang log on. Awalnya kami sudah memutuskan akan mengabulkan permintaan apa pun oleh Player pertama yang log on, selama hal itu masih masuk akal, sebagai hadiah. Lalu mengenai permintaan Anda… Setelah mendiskusikannya, kami telah memutuskan, karena Anda akan menjadi satu-satunya perkecualian, hal ini tidak akan mempengaruhi game. Kami akan mengabulkan permintaan Anda.”

Dan tepat saat dia selesai berbicara, seorang laki-laki muda yang tampan dan tampak seperti bangsawan muncul di depan mataku. Wow, ganteng sekali! Tampaknya aku kelihatan lebih cocok jadi seorang laki-laki daripada seorang wanita…

“Anda bisa memilih untuk menjadi lebih cantik atau lebih jelek sebanyak 30%.”

Aku bahkan tidak perlu berpikir untuk menjawab. “Lebih cantik 30%.”

Seorang laku-laki muda yang sangat memikat langsung muncul di depan mataku. Ini benar-benar aku? Oh, Tuhan yang Baik, dia benar-benar sangat ganteng… Sambil berliur menatap versi diriku sebagai seorang pria, aku berpikir, jika aku kelihatan sangat ganteng sebagai manusia, maka…

“Aku ingin melihat diriku sebagai seorang elf.”

Seorang elf yang anggun, dengan telinga yang panjang, muncul di depan mataku. Melihat sosok yang begitu anggun, bersamaan dengan wajah yang sangat lembut dan tampan…

“Ganteng sekali…” GM yang cantik itu dan aku mendesah berbarengan dengan penuh nafsu.

“Hei, maukah kamu mempertimbangkan untuk operasi pengubah gender? Kalau kamu menjadi seorang laki-laki aku pasti akan menjadi pacarmu,” GM itu tidak bisa tahan untuk tidak mengatakannya.

Apa yang bisa kukatakan terhadap hal seperti itu?

“Ok, sudah diputuskan! Ras nya adalah elf!” Itu bukan aku – itu adalah GM yang cantik itu.

“Ini…” aku berkata sambil melongo. “Tapi aku ingin menjadi seorang Warrior…”

“Ha! Tolong deh, lihat betapa gantengnya kamu. Ini akan langsung menjadi dosa jika kamu tidak memilih elf. Tidak peduli, pokoknya kamu harus menjadi seorang elf.” GM yang cantik itu sebenarnya sedang merayuku… Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri.

Kelihatannya dia tidak memikirkanku sebagai seorang wanita lagi, pikirku. Tapi… melihat versi-cowok diriku berdiri di hadapanku, dia benar-benar ganteng sekali… Oh tidak, bagaimana jika setelah aku login ke dalam game aku hanya ingin memelototi pantulan diriku sendiri?

“Jadi, sudah diputuskan. Apakah kamu mau mengubah model rambut atau tinggi badanmu?” Tunggu dulu, apakah kamu ini benar-benar seorang GM? Kamu memutuskan semuanya sendiri!

“Coba ubah warna rambutnya menjadi pirang,” aku berkata pasrah.

Setelah dua jam berdebat maju mundur, kami akhirnya memutuskan tentang… penampilannya. GM yang cantik itu bahkan berhasil menaikkan tingkat kecantikannya menjadi 40%, yang membuatku benar-benar berpikir, apakah dia benar-benar seorang GM? Melihat ke arah elf super-duper-ganteng dengan rambut pendek berwarna putih, aku merasa bahwa di dalam game, kesempatanku untuk menolehkan kepala masih bisa dipastikan mencapai 200%. Memelototinya non-stop, hatiku kembali terbelah dua. Tuhan yang baik, apakah ini termasuk menjadi seorang yang narsis?

“Selesai. Benar-benar sempurna,” Lolidragon berkata dengan puas. Lolidragon adalah nama GM cantik itu… Dia bahkan menyuruhku untuk me-PM[8] nya kapan saja aku mau.

“Tolong.. bisakah kita lanjut saja? Aku mungkin orang pertama dalam sejarah yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam dan masih belum selesai membuat karakter.”

“Jadi kamu mau dipanggil apa? Kuperingatkan, kamu tidak boleh menggunakan nama yang terdengar jelek!”

… Dia sedang memperingatkanku? Aku tidak bsia berkata apa-apa. Ini benar-benar buruk. Aku selalu memakai Feng Xiao Xiao sebagai namaku dalam setiap game, tapi sepertinya itu tidak bisa dipakai kali ini. “Kurasa aku akan menjadi ‘Pangeran Tampan’.”

Lolidragon melotot ke arahku. “Terlalu jelek. Benar-benar tidak boleh.”

“Kalau begitu cobalah kau mengusulkan nama yang bagus.” Aku memutar mataku; sebenarnya siapa sih yang bakal main?

“Kita akan membuang bagian ‘Tampan’ dan memanggilmu ‘Prince’ saja! Ok, begitu saja namanya.”

Melihat kata ‘Prince’ sudah melayang-layang di atas versi-cowok “diriku”, aku kembali kehilangan kata-kata.

“Di benua mana kamu ingin dilahirkan? Ada bagian Timur, Barat, Utara, Selatan, dan bagian Tengah,” kata Lolidragon sambil melihat ke arahku.

“Yang mana saja boleh…”

“Ok, kamu sudah siap untuk dilahirkan.” Sambil ia menyelesaikan kata-katanya, laki-laki muda di hadapanku tiba-tiba bergerak ke arahku. Begitu kami bersatu, aku merasakan diriku jatuh…

“Hei, tunggu dulu! Bukankah kita harus mendistribusikan Skill Points yang kita punya?” teriakku.

“Kau pasti belum mengunjungi website kami. Skill Points yang ada didistribusikan secara acak. Oh ya, jangan luma PM aku, kau makhluk ganteng! Kalau kau PM aku, aku akan memberimu hadiah!”

*Pingsan*

Setelah mendarat yang terasa sangat lama, aku mengambil napas dalam-dalam dan teringat satu misi yang sangat penting dan mendesak – Cermin, di mana ada cermin? Aku perlu mengecek apakah aku benar-benar terlihat sangat ganteng.

“Seorang yang ganteng, dia benar-benar sangat anggun!” Mendengar itu, aku langsung menoleh, hanya untuk melihat seorang wanita – yang matanya sudah berubah menjadi hati – melihat ke arahku. Mana? Di mana ada orang ganteng? Aku ingin melihatnya juga!

Tepat saat aku sedang mengecek ke kiri dan kananku, tiba-tiba seseorang memegang tanganku. Siapa laki-laki yang kasar ini? Apakah dia tidak tahu memegang tangan seorang wanita kapanpun ia mau itu dilarang? Aku menoleh, dengan tatapan mata setajam pisau, melotot ke arah siapapun yang lagi cari mati… Oops, ia ternyata seorang wanita yang sangat imut. Salahku, aku hampir salah mengira dia seorang mata keranjang!

“Um, aku baru saja main game ini. Bisakah kamu membantuku?” dia bertanya dengan mata penuh pengharapan.

“Aku juga baru saja main, aku rasa aku juga tidak bisa banyak membantu.” Gamenya baru saja “hidup” hanya sekitar dua jam. Jadi bagaimana mungkin ada orang yang bisa membantumu? Skill tiket-memancing-dengan-makanan wanita ini masih belum cukup. Harusnya sekarang kamu cepat-cepat naik level; untuk mendapatkan suami yang baik, kamu harus kelihatan cute, level cukup tinggi, dan berbicara dengan manis seperti seorang juara, wahahaha!

(Feng Wu Qing: Percayalah, semua pria di dunia ini harus menjauh dari kakakku. Dia bahkan tidak akan meludahkan tulang-tulangmu jika dia memakanmu hidup-hidup!)

“Kalau begitu, mari kita latihan sama-sama,” kata wanita itu, berusaha kelihatan tidak berdaya sebisa mungkin.

“Aku juga mau latihan bersama!”

“Aku juga!”

A-ada apa dengan pemandangan ini?! Aku melihat ke arah segerombolan wanita. Mereka semua memiliki pancaran mata seorang predator, melihat ke arahku seperti para serigala kelaparan melihat ke arah sepotong daging. Akhirnya aku mengerti bagaimana perasaan steak – Tenanglah, tenanglah! Wanita pasti mau mempertahankan bagaimana penampilan mereka; mereka tidak mungkin bertingkah seperti sekumpulan serigala buas menginginkan sepotong steak. Bagaimanapun juga, melihat hal seperti ini, aku tidak perlu mencari-cari cermin lagi. Aku sudah tahu aku pasti kelihatan sangat ganteng.

Menarik napas dalam-dalam, aku berkata kepada diriku sendiri, Sekarang aku adalah seorang laki-laki (Feng Wu Qing: Kamu itu seorang tranny…). Aku harus bersikap seperti seorang laki-laki, walaupun aku tidak tahu bagaimana seorang laki-laki bereaksi kalau dia dipelototi segerombolan wanita seakan dia itu sepotong daging.

Saat itu juga, aku baru ingat namaku – Prince. Karena aku dipanggil “Prince”, aku harus bertingkah sebagai seorang gentleman, kalau tidak itu akan merusak nama dan penampilanku… Jadi, memasang senyumku yang paling memesona serta menggunakan nada bicara yang sangat hangat dan gentle, aku berkata, “Maaf, ladies, tapi aku juga baru saja mulai memainkan game ini. Aku baru saja berpikir untuk pergi berburu monster level rendahan, seperti slimes..”

“Oh Tuhan, dia benar-benar sangat ganteng!” Dan ketika gumam persetujuan dengan senang hati membenarkan ucapan itu, tiba-tiba ada gerakan terjadi dan seorang wanita berlari menuju ke steak-nya – bukan, ke arahku – dan menimbulkan reaksi yang sama terhadap wanita yang lain. Tuhan yang Baik, ketika ada berlusin-lusin wanita berlari ke arahmu! Apa yang biasanya dilakukan seorang pria? Aku tidak tahu, tapi aku… Aku ingin LARI!

“To-to-loong!” teriakku sambil berbalik arah dan lari.

Sekitar satu jam kemudian, aku bersembunyi di sebuah toko kecil. Ketakutan, aku mengintip hati-hati ke luar pintu, hanya untuk melihat bahwa desa kecil untuk para pemula itu sudah dipenuhi oleh banyak wanita yang mencariku. Mengapa ada begitu banyak wanita? Aku mengetahui jawabannya bahkan ketika aku berlari mengelilingi desa itu: Ini adalah desa untuk para elf pemula, dan wanita kebanyakan lebih suka memilih untuk bermain sebagai elf daripada para pria.

“Bolehkah saya bertanya, apakah yang dibutuhkan oleh pelanggan ini?” Suatu suara tiba-tiba muncul dari belakangku.

Aku melihat ke belakang. Oh, Tuhan! Seorang wanita! Aku benar-benar ketakutan sambil menempel ke dinding, tetapi wanita di depanku ini hanya melihat ke arahku dengan ingin tahu, wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun kekaguman. Menurut apa yang sudah kuperhatikan barusan, sepuluh dari sepuluh wanita akan tertarik padaku, jadi orang yang berada di depanku ini pastilah seorang NPC. Aku mendesah dengan lega. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan!

Aku melihat ke sekelilingku dan baru menyadari bahwa ini adalah toko obat-obatan. Pantas saja tidak ada orang di sini; tidak mungkin ada yang sudah butuh Health Potions, ‘kan? Hmm, sudah tiga jam berlalu, dan aku masih belum mulai latihan. Adikku akan menertawaiku waktu aku log off nanti.. Merasa terganggu, aku memutuskan untuk mulai latihan…tapi aku perlu tahu di mana aku harus berlatih.

“Nona, bisakah kamu memberitahuku di mana tempat berlatih yang paling bagus?”

Mendengar itu, NPC wanita itu menyadari kalau aku bukan pelanggan. Wajahnya menggelap dan ia menjawab dengan nada bosan terang-terangan, “Tepat di depan jalan masuk desa kamu akan menemukan slimes pemakan-manusia dan kurcaci hijau untuk dilawan. Kamu tidak akan mampu melawan apapun yang lebih kuat dari itu.”

Melihat ekspresi “jangan ganggu aku” di wajahnya, aku hampir saja berbalik dan langsung pergi dari sana, tapi aku berpikir, Akan jauh lebih bijak kalau aku tidak terang-terangan keluar dari toko ini, tidak dengan para wanita itu masih berkeliaran di luar. Aku tidak punya pilihan lain selain menghadap ke teman baruku ini dengan wajah ramah dan senyum sopan.

“Kalau begitu, bolehkah aku tanya bagaimana caranya melihat ke sistem menu?” Aku ingin melihat statusku.

“Katakan saja ‘sistem’. Apakah kamu tidak bisa menyadari hal yang sangat jelas seperti itu?”

Dasar NPC sialan, aku berpikir, diam-diam mengutuk orang tuanya (para desainer game?), tapi ekspresiku tidak bergeming dan tetap tersenyum sopan. “Terima kasih banyak.” Kemudian aku mengatakan, “Sistem,” dan status awalku mulai kelihatan terhadap mata kiriku.

[ Nama: Prince | Gender: Pria ]

[ Level: 1 | Ras: Elf | Kelas: Tidak ada | Reputasi: 0 | Health: 60 | Mana: 20 | Skill Points tersisa: 0 | Kekuatan: 10 ]

Seorang elf dengan kekuatan 10? Bahkan surga tampaknya memihakku untuk menjadi Warrior, dan seorang Warrior yang keras tampaknya.

[ Fisik: 6 | Kecepatan: 9 | Kepintaran: 6 | Tekad: 4 | Kebijaksanaan: 5 | Karisma: 10 ]

Karismaku benar-benar tinggi, apakah itu ada hubungannya dengan tampangku? Kelihatannya iya…

[ Keberuntungan: Tidak diketahui | Kemampuan: Tidak ada ]

Aku mendesah lega. Karena kemampuan maksimal tiap skill hanya 10, sepertinya statusku lumayan bagus, terutama untuk seorang yang akan menjadi Warrior.

Aku membuka tas kecilku. Biasanya para pemula diberikan peralatan dasar. Seperti diduga, di dalam ada celana (defense +2) dan baju (defense +1), juga pisau kecil dengan kekuatan attack sebesar 1… Ini benar-benar pisau yang sangat kecil, dengan panjang mata pisaunya bahkan tidak sampai 15 sentimeter.

“Hei, kalau kamu tidak membeli apapun, lebih baik cepat keluar; kamu memblokir jalan masuknya.”

Grr, kasar sekali NPC ini! Aku menahan diri untuk tidak memaki moyangnya. Hmph, wanita yang baik tidak akan berdebat dengan NPC. Kemudian, aku tetap memasang penampilan seperti seorang lady – Salah! Maksudku, penampilan seorang gentleman. Dengan ujung-ujung mulutku masih naik mencapai 30 derajat, aku mengucapkan seramah mungkin, “Terima kasih atas panduannya.”

[ Sistem: Prince baru mempelajari kemampuan baru – Muka Tebal ]

Aku hampir saja jatuh melihat itu. Kemampuan aneh apa lagi ini?! Aku cepat-cepat melihat penjelasannya.

[ Muka Tebal: Kemampuan level 1, Karisma +5% ]

Aku benar-benar ingin pingsan. Lupakan saja, pikirku. Aku akan pergi dan naik level dulu, kalau tidak adikku itu akan tertawa sampai mati.

Aku mengendap-endap di sepanjang desa, dan tidak berani terang-terangan keluar dari gerbang utama, meloncati pagar desa, yang sebenarnya sangat pendek hampir-hampir tidak ada. Setelah bebas, aku cepat-cepat pergi ke bukit di atas desa.

Slimes pemakan manusia, aku dataaang! Hal pertama yang aku lihat adalah lusinan slimes pemakan manusia memenuhi pemandangan. Benar-benar hal bagus karena mereka tidak akan aggro[9], kalau tidak aku sudah mati karena kaget ketika mereka menyerang ke arahku, pikirku. Melihat ke arah pisau kecil di tanganku, aku menyadari kalau aku tidak ada pengalaman sama sekali tentang pertarungan langsung. Dengan perlahan aku berputar mengelilingi slime itu, menaikkan pisauku, dan menusuknya dengan sekuat-kuatnya.

[ Serangan berhasil, Slime pemakan manusia HP -5 ]

Yaaaaay! Seranganku berhasil! Oh Tuhan, aku benar-benar tersentuh, aku ternyata sangat pro dalam hal ini. Sepertinya aku punya potensi untuk menjadi Warrior! Dalam kepalaku aku melihat diriku sendiri, memakai baju putih tanpa lengan, dan pedang suci putih di tangan yang lain, dengan satu kaki di atas badan adik laki-lakiku.

Wahahaha – Aduh! Tiba-tiba sesuatu menggigit tanganku, membuatku berteriak karena sakit dan kaget.

[ Serangan Slime pemakan manusia berhasil, Prince HP -3 ]

Saat sakitnya membuatku menangis, aku mengangkat tanganku dan melihat. Oh Tuhan, banyak sekali liurnya; benar-benar menjijikkan! Kau slime sialan, tidak hanya menggigitku, kau juga berani berliur di atas tangan seorang wanita! Aku.. aku benar-benar marah! Membiarkan pisau di tanganku, aku mengangkat kakiku dan mulai menginjak-injaknya dengan penuh tekad. Injak! Injak! Injak, injak, injak!

“Siapa suruh kau berliur?! Berani-beraninya kau berliur di tanganku… Kau pasti sudah bosan hidup!” kataku dengan sangar sambil terus menginjaknya.

[ Serangan berhasil, Slime pemakan manusia HP -3 ]

[ Critical hit berhasil, Slime pemakan manusia HP -10 ]

[ Slime pemakan manusia sudah mati, Experience Points Prince naik menjadi 10/20, Prince mempelajari kemampuan baru – Tendangan Bayangan Buddha ]

Masih belum selesai menyalurkan semua kemarahanku, aku tidak membuang waktu untuk melihat kemampuan baruku. Daripada itu, melihat Slime pemakan manusia memenuhi pemandanganku dengan pisau di tangan, aku tersenyum sadis. Dasar slime sialan, aku akan mendemonstrasikan kemampuan menyiapkan makanan yang bahkan membuat mamaku takjub! Slime pemakan manusia? Wahahaha, tidak, di mataku kau bukan lagi monster, hanya setumpuk wortel!

Aku mengiris, dan mengiris, dan –

[ Serangan berhasil… Serangan berhasil… Serangan berhasil… ]

[ Prince mencapai level 2.. 3.. 4.. 5.. ]

[ Prince mempelajari kemampuan baru: Potong ]

Bukankah itu seharusnya “Iris”…? Hmm, mungkin kalau kau melebih-lebihkan gerakan mengirismu, kurasa itu memang disebut “Potong”!

[ Prince mempelajari kemampuan baru: Serangan Berkelanjutan ]

Serangan berkelanjutan? Whoa.. itu mungkin karena aku mengiris para “sayuran” ini dengan cepat!

“Wahaha! Sekarang kamu tahu rasanya takut! Kita lihat apakah kau masih berani berliur terhadapku!” teriakku sambil mengejar para slime.

[ Prince mempelajari kemampuan baru: Teriakan Menakutkan ]

Whew, capek sekali! Akhirnya merasa capek dari iris-mengiris tadi, aku duduk di atas tanah. Sambil memperhatikan tanah yang tandus dan bukit yang bebas-slime, tiba-tiba suatu pikiran melintas di benakku.

Mungkinkah aku… condong ke arah kekerasan? Oh, sudahlah, lupakan saja; toh aku sekarang seorang laki-laki. (Feng Wu Qing: Kau ini seorang tranny!)

Saat itu juga, aku menyadari bahwa banyak harta bertebaran di atas tanah dan dengan segera aku mengambilinya. Jangan bercanda untuk tidak mengambilnya! Semua barang ini bisa dijual untuk lumayan banyak uang! Melihat ke arah harta yang sudah kukumpulkan, aku melihat bahwa banyak di antaranya hanya sampah, tapi tentu saja masih ok untuk pemula sepertiku. Aku mengganti pisauku dengan yang berkekuatan attack +3, memakai sandal (defense +1), pelindung pergelangan tangan (kekuatan attack +5%), topi (defense +1), ganti memakai celana panjang dengan defense +3 (celana yang biasa elf pakai, seperti Legolas dalam The Lord of The Rings), juga memakai tambahan dua cincin dengan pertahanan magic masing-masing sebanyak +1.

Aku juga mengambil lebih dari ratusan coppers. Dari yang kudengar, makanan yang paling sederhana pun – mantou[10] – harganya mencapai 5 coppers.. Para slime pemakan manusia ini benar-benar miskin.

Berkeringat sangat banyak sambil menikmati angin sepoi-sepoi, aku menyadari bahwa aku menyukai rasanya menjadi seorang Warrior. Rasanya saaangat enak. Aku juga mulai menghargai bagusnya level kenyataan yang mencapai 99%, yang menyebabkan matahari terbenamnya tampak sangat indah. Bagaimanapun juga, level kenyataan mencapai 99% juga mempunyai sisi buruk… Seperti perutku yang berbunyi ini. Aku hanya bisa mengambil dua mantou dari paket untuk para pemula dan, sambil makan, aku bertanya-tanya apakah slime pemakan manusia itu rasanya enak…

Aku mengaktifkan menu sistem, ingin tahu apa buah dari kerja kerasku barusan.

[ Nama: Prince | Gender: Pria ]

[ Level: 8 | Ras: Elf | Kelas: Tidak ada | Reputasi: 0 | Health: 140 | Mana: 45 | Skill Points tersisa: 21 | Kekuatan: 10 | Fisik: 6 | Kecepatan: 9 | Kepintaran: 6 | Tekad: 4 | Kebijaksanaan: 5 | Karisma: 10 | Keberuntungan: Tidak diketahui | Kemampuan: Muka Tebal – Level 1, Karisma +5% / Tendangan Bayangan Buddha – Level 1, 10% kesempatan untuk melipat-tigakan kekuatan attack ketika menyerang dengan kaki (kelipatan serangan tidak termasuk kekuatan attack senjata) / Potong – Level 3, kekuatan attack +10% ketika menggunakan Potong / Serangan Berkelanjutan – Level 3, bisa menyerang berkelanjutan sampai 4 kali / Teriakan Menakutkan – Level 1, mengurangi defense musuh sebanyak 3% ]

Setelah banyak berpikir, aku menetapkan Skill Points yang ada, dan akhirnya statusku menjadi…

[ Nama: Prince | Gender: Pria ]

[ Level: 8 | Ras: Elf | Kelas: Tidak ada | Reputasi: 0 | Health: 180 | Mana: 45 | Skill Points tersisa: 0 | Kekuatan: 20 | Fisik: 10 | Kecepatan: 16 | Kepintaran: 6 | Tekad: 4 | Kebijaksanaan: 5 | Karisma: 10 | Keberuntungan: Tidak diketahui ]

Hehehe, aku akan menjadi Warrior Elf dengan banyak kekuatan dan kecepatan. Walaupun aku sudah memutuskan tidak akan takut dengan rasa sakit, tetap saja lebih baik menghindarinya, kalau mungkin. Dua level lagi sampai aku bisa memilih kelas, pikirku. Melihat ke arah slime-slime baru yang bermunculan, senyum kecil melintasi bibirku.

Tidak lama kemudian… Hehe, aku sudah mencapai level 10! Sekarang ketika akhirnya aku sudah mencapai level 10, aku merasa sangat bahagia; bisa memilih kelas dengan usahaku sendiri rasanya sangat bangga. Tidak buruk. Dengan awal seperti ini tidak akan lama sebelum aku bisa mengalahkan adik idiot itu.

Menggumamkan lagu sambil memasuki desa elf pemula melalui gerbang utama, aku hampir saja berkeliling untuk bertanya tentang pemilihan kelas ketika aku menyadari bahwa aku sudah membuat kesalahan besar… Aku memasuki desa pemula lewat gerbang utama! Oh, Tuhan…! Sekali lagi aku menemukan diriku diliputi perasaan menjadi sebuah steak, melihat lusinan serigala lapar memelototiku…

Kabur sekali lagi menuju toko obat-obatan, aku berpikir dengan sedih, Kalau saja waktu yang kuhabiskan untuk menjadi steak bisa kuhabiskan untuk menghabisi para mob, aku mungkin saja sudah menjadi salah satu dari pemain yang unggul sekarang…

“Apa yang kau lakukan?” suara seorang laki-laki datang dari belakangku. Karena saat itu aku sedang jongkok di dekat pintu, mengintip situasi di luar, aku tidak bisa melihatnya.

“Heehee! Laki-laki ini sangat lucu,” terdengar suara manis seorang wanita.. Wanita? Waah! Aku tidak mau melihat ke belakang!

“Bolehkah saya tanya obat apa yang Anda butuhkan?” suara ini adalah suara NPC yang sangat XX itu. Sepertinya aku tidak bisa bersembunyi lebih lama… Lalu, dengan kepala menunduk sangat rendah – hampir selevel dengan tanah – aku berputar balik ke arah NPC itu. “Bisakah kamu memberitahuku ke mana aku harus pergi untuk mengganti kelasku?”

“Kenapa kamu lagi? Ini adalah toko obat-obatan, bukan petunjuk buat para pemula.” Apa sih yang terjadi padamu, pikirku, sambil menyumpah-nyumpah dalam hati. Tunggu saja; kalau level ku sudah lebih tinggi, aku pasti bakal kembali dan membunuhmu sekali, dasar NPC sialan!

“Kau ingin mengganti kelasmu?” suara manis wanita itu kembali terdengar. “Kelas apa yang kau inginkan? Mungkin kami bisa membantumu!”

“Oh… Aku ingin menjadi seorang Warrior.” Dengan kepalaku masih tertunduk, aku melirik ke arah lantai. Minus NPC nya, total ada 8 pasang kaki, jadi ada 4 orang, mungkin 3 laki-laki dan 1 wanita.

“Orang aneh…” laki-laki lain berkata,

Wanita itu hanya tersenyum simpul, kelihatannya sedikit tertarik. “Apakah kamu merasa malu? Kenapa kamu menunduk begitu rendah?”

Dan bagaimana caranya aku menjelaskan kepadamu? Argh… Sebaiknya aku bertanya ke mana aku harus pergi untuk mengganti kelas, kemudian cepat-cepat kabur – Err, bukan, maksudku cepat-cepat pergi mengganti kelas. “Bisakah kau memberitahuku ke mana aku harus pergi kalau aku ingin menjadi seorang Warrior?”

“Untuk menjadi seorang Warrior, kamu harus pergi ke arah selatan alun-alun kota dan menemukan NPC yang membawa pedang dan seragam tentara,” laki-laki pertama menjawab dengan ramah. “Dia akan menyuruhmu membunuh sepuluh serigala, jadi sebaiknya kamu membawa beberapa Health Potions atau kamu harus beristirahat setelah membunuh satu serigala saja.”

“Terima kasih…” kataku sebelum cepat-cepat membeli sepuluh Health Potions dari NPC XX itu. Waaah! Hilang sudah ratusan coppers-ku, pikirku sambil memasukkan Health Potions ku ke dalam tas. Aku sudah hampir kabur ketika salah satu dari Players itu bicara lagi.

“Apakah kau tahu di mana kau bisa menemukan serigalanya? ” tanya wanita itu, terdengar prihatin. Sebelum aku sempat menjawab apapun, dia melanjutkan, “Kami baru saja akan pergi berlatih dan membunuh serigala; kenapa kamu tidak bergabung dengan kami saja? Kamu harus mengambil misinya dulu. Kami akan menunggumu di gerbang bagian barat. Jangan terlalu lama, ya!”

Aku benar-benar terharu… Dia benar-benar wanita yang sangat baik, pikirku, menanggukkan kepala dengan semangat. “Baiklah.”

Aku berjalan dengan santai ke arah alun-alun kota, menemukan NPC yang berseragam tentara, dan menerima misi untuk menjadi Warrior… Huh? Kau bertanya mengapa aku berani berjalan dengan santai ke alun-alun kota? Kenapa aku tidak takut menjadi steak? Wahahaha! Itu karena aku pergi ke penjual armor dan menjual semua sampah yang sudah kukumpulkan, dan aku menyadari mereka menjual topeng – sebenarnya topeng masquerade, yang menutupi separuh bagian atas wajahmu. Bahkan ia memilki +1 defense! Takut dikejar lagi, aku membeli satu tanpa ragu-ragu. Terima kasih Tuhan! Sekarang aku bisa bergerak dengan bebas!

Berjalan ke arah gerbang bagian barat, aku melihat 3 laki-laki dan seorang wanita menunggu di sana, jadi aku cepat-cepat melangkahkan kakiku. “Maaf, lama.”

“Tidak apa-apa. Ayo perkenalkan diri masing-masing. Aku Snow White Rose; kamu bisa memanggilku Rose saja. Aku seorang Mage,” kata Rose dengan nada yang menyenangkan.

Mempersiapkan diri, aku melihat kepadanya… Cantik! Cantik sekali! Aku sendiri sebenarnya juga cantik, tapi aku tidak bisa menyangkal kalau wajahya lebih cantik, dadanya lebih besar, pinggangnya lebih ramping, kakinya lebih panjang, dan kulitnya lebih halus… Waaah! Aku merasa seperti sebuah jamur yang tumbuh di pojokan…

Tidak apa-apa; Feng Lan, kamu sekarang seorang laki-laki (Feng Wu Qing: Berapa kali lagi aku harus mengingatkanmu: kamu ini seorang TRANNY!), jadi sebenarnya tidak ada artinya aku beresaing dengan seorang wanita.

“Legolas, Archer,” sahut pria yang paling kurus.

“Aku Strongest Elf, Kamu bisa memanggilku Li’l Strong saja.” Kamu ini apa? Kecoak? pikirku[11]. “Aku seorang Warrior; Warrior benar-benar kelas yang bagus!” kata si Strongest Elf, ekspresinya jujur dan terbuka.

“Aku For Healing Only, seorang Priest,” kata seorang cowok yang cantik dengan nada sopan.

“Aku Prince, sementara masih belum punya kelas…” jawabku dengan suara kecil.

Rose melihat ke arah topengku dengan cermat. Aku menelan ludah dengan gugup di bawah tatapannya. “Prince, kenapa kamu ingin menggunakan topeng?”

“To-topeng memberikan poin ekstra untuk defense, ‘kan?” jawabku sambil pura-pura kelihatan bingung. Heh heh! Pura-pura naif memang salah satu keahlianku… “Karena itu aku beli satu.”

“Kurasa dia hanya berusaha supaya kelihatan lebih keren,” kata Legolas, tidak puas dengan jawabanku.

Mendengar itu, aku menjaga supaya wajahku tetap kelihatan kosong dan tetap tersenyum seperti biasa. Tapi, dalam hati aku berpikir, Biasa saja aku sudah kelihatan keren, kenapa juga aku harus berusaha supaya kelihatan lebih keren?

“Ok, sekarang karena kita sudah sampai ke sarang serigala: Healing, lakukan buff[12] kepada Prince! Kita akan membantu Prince menghabisi 10 serigala itu dengan cepat supaya dia bisa cepat-cepat mengubah kelasnya,” kata Rose baik hati. Oh Tuhan, aku benar-benar terharu, waaah…! Rose, aku mau jadi adik perempuanmu. (Feng Wu Qing: …Berubah jadi wanita? Lagi?)

Setelah cowok-cantik itu menyelesaikan mantranya, aku bisa merasakan defenseku bertambah dan berkata dengan tulus, “Terima kasih.”

“Sama-sama. Ayo, pergilah dan habisi mereka!” kata cowok-cantik itu dengan sopan.

Aku mengunci tatapanku ke arah serigala yang sendirian dan merangkak mendekat, masih menghadap ke arahnya… Waaah! Serigalanya benar-benar besar dan kelihatan sangat menakutkan. Matanya yang semerah darah sudah tertancap padaku dan bibirnya melengkung ke belankang, menunjukkan taring-taringnya yang tajam. Tapi yang paling menakutkan adalah, dia berliur

Habis sudah, pikirku, otakku mati. Aku lebih baik mengiris para slime – bagaimanapun juga mereka masih kelihatan seperti buah yang didinginkan – tapi serigala ini… Aku tidak pernah menggunakan pisau dapur untuk mengiris sesuatu yang masih hidup, apa yang harus kulakukan sekarang? Aaaaah!

Serigala itu melompat ke arahku, bersamaan dengan itu datang juga mulut penuh liur dan taring-taring yang tajam.

Tidaaaaak! Aku berbalik arah… dan lari!

“Prince, apa yang kau lakukan? Cepatlah berbalik dan lawan dia. Jangan khawatir, For Healing Only cukup hebat, dia akan menyembuhkanmu,” teriak Rose.

Bukan itu masalahnya, teriakku dalam hati, a-aku tidak mau – aku tidak mau digigit oleh mulut serigala yang menakutkan dan menjijikkan itu!

“Apa sih yang sedang dia lakukan…?” tanya Legolas, ekspresinya dingin.

“Itu… aku juga tidak terlalu mengerti!” jawab Li’l Strong, jelas-jelas terkejut ketika dia melihatku kabur dengan kecepatan tinggi. “Tapi kecepatannya benar-benar tinggi, sampai-sampai dia bisa melebihi kecepatan seekor serigala walaupun dia baru level sepuluh.”

“Aaaah…” Berlari terlalu cepat, dengan ceroboh aku tersandung batu dan jatuh. Tingkat kenyataan 99% sialan itu… Dan saat pikiran itu melintas, serigala itu melompat ke arahku dan dengan kejam menggigit tangan kiriku.

[ Sistem: Prince HP -30 ]

Owww! Waaah! Banyak, banyak sekali liurnya, menjijikkan! Setelah itu, si serigala tiba-tiba membuka rahangnya dan sudah berniat menggigit putus kepalaku ketika liurnya… Liurnya menetes di atas wajahku

TIDAK BISA DIMAAFKAN!

Twak! Sepertinya ada suara benang yang putus di kepalaku – benang yang disebut akal sehat.

Aku marah! Aku marah! Aku BENAR-BENAR marah! Tepat saat itu, aku ingat kapanpun mama membunuh seekor ayam, dia pasti memegang bagian leher, kemudian… Heh heh heh!

“Prince, cepat lari! Kalau kamu menerima serangannya yang ini, kamu pasti mati!” Rose dan yang lain sudah menjadi pucat dan sedang buru-buru lari ke arahku. Sayangnya, jarak di antara kita terlalu jauh.

Tanpa ragu-ragu, aku menggenggam pisau di tanganku dengan erat dan mengayunkannya dari kanan ke kiri kuat-kuat, dengan brutal memotong setengah bagian atas tengkoraknya, memisahkan otak dengan badannya.

[ Sistem: Critical hit, Serigala sudah mati, Experience Points Prince naik menjadi 100/2000, Prince mendapatkan barang untuk misi: Taring Serigala x1 ]

Terjebak di antara tubuh serigala yang baru saja kupotong, aku ternoda oleh darah serigala dari atas sampai bawah… Darah hangat – dengan bau seperti tembaga – mengalir di mana-mana, menodai bajuku dan mengering di atas kulitku.

Menakutkan sekali! Berusaha supaya tidak menangis, pikiranku hanya dipenuhi dua kata ini saja.

Pertanyaan: Pikirmu, apa yang akan terjadi terhadap orang yang ketakutan setengah mati? Jawaban: Akal sehat mereka akan hilang!

Perlahan, aku bangkit kembali, menggenggam pisauku lebih erat, dan melihat para serigala di sepanjang sungai.

Jangan takut, pikirku, mereka tidak terlalu berbeda dari ayam, bebek, ikan, atau macam daging yang lain, jadi mereka bukan masalah bagi seseorang dengan pengalaman memasak yang cukup. Ayo! Saatnya memasak… Dengan sorot mata buas, aku bergerak menuju serigala terdekat.

Dan ketika aku berpikir bagaimana caranya membunuh serigala ini, aku kepikiran tentang skill ‘Tendangan Bayangan Buddha’ dan ‘Serangan Berkelanjutan’, juga game fighting PS13 yang baru-baru ini aku mainkan dengan adikku. Kombinasikan tiga hal ini, apa yang akan kau dapatkan?

Memasang target pada tenggorokan serigala itu, aku ingat, tendang ke atas, kemudian tendang dari samping. Setelah itu, tendangan berputar, dan akhirnya tendang lagi ke arah tanah dengan tumitku. Aneh, kenapa tiba-tiba aku merasa seperti Chun Li[13]…?

[ Sistem: Serangan Tendangan Bayangan Buddha berhasil ]

[ Serangan berkelanjutan berhasil ]

[ Serigala HP -30 ]

Masih belum mati juga? Aku mengangkat pisauku dan, menggenggamnya dengan kedua tangan, menusukkannya tepat ke kepala serigala yang mati itu.

[ Serigala sudah mati, Experience Points Prince naik menjadi 200/2000, Prince mendapatkan barang untuk misi: Taring Serigala x1 ]

[ Kemampuan: Tendangan Bayangan Buddha naik level – Level 2, 10% kesempatan untuk melipat-tigakan kekuatan attack ketika menyerang dengan kaki (kelipatan serangan tidak termasuk kekuatan attack senjata), kekuatan attack +20 / Serangan Berkelanjutan naik level – Level 4, bisa menyerang berkelanjutan sampai 5 kali ]

“Ya Tuhan, hanya dengan kakinya saja…” Li’l Strong melihatku lagi dengan terkejut, kekaguman tampak di matanya.

“Tidak bisa dipercaya…” Legolas bergumam dengan sudut bibirnya melengkung agak aneh.

“Kenapa rasanya aku teringat oleh gerakan suatu karakter dari game fighting…” Si cowok-cantik, For Healing Only, berkata dengan senyum orang yang tahu.

“Keren sekali…” gumam Rose, yang membuatku bergidik saat dia bicara.

Semua tendangan tadi sudah membuatku sangat capek, dan kemudian aku teringat dengan caraku memotong ikan: Yang harus kulakukan hanyalah memotong perutnya dan organ dalam mereka akan berkeliaran keluar. Dengan itu, aku tersenyum kecil dan bergerak menuju serigala berikutnya.

Seperti sebelumnya, aku menendangnya ke atas, dan menebas ke atas dengan mulus, menggambar sebuah busur di udara dengan pisauku. Aku melihat bahwa tanahnya ternoda oleh benda-benda berwarna merah dan putih, dan aku berpikir, Mungkinkah usus serigala lebih enak daripada usus babi?[14] Masih penasaran, aku bergerak menuju serigala berikutnya.

(Ketika nantinya aku melihat ke sejarah pertarunganku, aku juga terkagum-kagum. Second Life, game dengan tingkat kenyataan 99%, memungkinkan semua orang – dengan kecepatan dan prediksi yang tepat – untuk menghabisi lawan mereka tanpa menitikkan setitik darah pun. Cara ini berpengaruh besar terhadap cara bertarungku nantinya.)

Ketika sampai di tahap ini, Rose sudah tidak berani untuk melihat ke arahku. Sebenarnya, dia sudah menutup matanya sejak aku berhasil membunuh serigala pertamaku. Sementara itu, wajah yang lain sudah sepucat kertas sambil melihatku menyiapkan makanan – uh, bukan, maksudku membunuh para mob itu.

(Feng Wu Qing: Moral dari pelajaran ini adalah, jangan, jangan pernah membuat seorang wanita marah, terutama wanita yang punya banyak pengalaman di dapur, atau kau akan mengalami nasib yang sama dengan sayuran yang tidak berdosa itu…)

[ Ding! Sistem: Prince sudah mencapai level 11! ]

Aku sudah naik level? Kenapa cepat sekali? Aku melihat ke dalam tasku dan melihat kalau aku sudah mendapatkan 10 taring serigala. Wahaha, akhirnya aku bisa mengganti kelasku, yipii! Aku berjalan kembali ke arah Rose dan teman-temannya dengan senang hati.

Whew, memasak benar-benar tugas yang sangat melelahkan! Rasanya capek sekali sampai-sampai langkahku terasa tidak mantap. Kemudian, aku berteriak ke arah Rose, “Rose, misiku sudah selesai.”

Dengan perlahan, Rose menurunkan tangan yang menutupi matanya. Dia menatapku, lidahnya terkunci, melihat ke arah tubuh-tubuh yang tercabik di mana-mana, sungai yang ternoda oleh darah, tanah yang tertutup benda-benda berwarna merah dan putih, dan seorang elf yang tertutup darah dari atas sampai bawah – aku – memegang pisau di tangan kanan dan perlahan bergerak ke arah mereka.

Blood…Elf!” Rose setengah berteriak dengan suara bergetar.

Nantinya, ketika namaku sudah terkenal, aku mempunyai banyak nama panggilan, tapi hanya ada dua nama yang diketahui sangat luas. Mereka adalah ‘Prince yang super-duper tampan’ dan…. ‘Blood Elf’.

Setelah mengucapkan selamat tinggal ke arah Rose dan teman-temannya, aku berjalan kembali ke arah desa untuk mengganti kelasku. Begitu masuk desa, aku buru-buru mencari NPC untuk mengganti kelas Warrior itu. “Paman, aku sudah mendapatkan 10 taring serigala. Bisakah aku mengganti kelasku sekarang?”

“Wah, cepat sekali! Seperti yang mereka bilang, Yangtze berdiam di tiap ombak baru, pantai menjadi kuburan bagi para ombak…[15] Melihat Paman akan mulai berceramah, aku cepat-cepat memotongnya.

“Ya, Ya, Ya, Paman benar seperti biasa. Tapi bisakah Paman membantu mengubah kelasku sekarang?”

“Baiklah, baiklah! Dasar anak muda jaman sekarang…” Sambil menggerutu terus, Paman NPC itu mengambil taring-taring serigala yang sudah kukumpulkan.

Tiba-tiba, sinar putih melingkupiku dan aku mendengar suara sistem berbicara.

[ Ding! Sistem: Prince berhasil mengganti kelasnya menjadi Warrior ]

Aku cepat-cepat memanggil, “Sistem.”

[ Nama: Prince | Gender: Pria ]

[ Level: 11 | Ras: Elf | Kelas: Warrior | Reputasi: 0 | Health: 450 | Mana: 100 | Skill Points tersisa: 0 | Kekuatan: 25 | Fisik: 12 | Kecepatan: 21 | Kepintaran: 6 | Tekad: 4 | Kebijaksanaan: 5 | Karisma: 10 | Keberuntungan: Tidak diketahui ]

“Teman kecil, seperti peraturan yang ada, kamu mendapatkan senjata gratis dan juga tiga kemampuan secara gratis!” kata Paman NPC itu melanjutkan. “Untuk senjatanya, kamu bisa memilih antara dagger, dao[16], rapier, pedang, kapak, dll. Hanya takdir yang memutuskan apakah kamu akan mendapat barang yang bagus atau tidak.

“Ada 10 kemampuan yang bisa kamu pilih. Skill pasif meliputi Serangan Berkelanjutan, Kekuatan Tambahan, Peningkatan Defense, Kegesitan, dan Perpanjangan HP. Skill ofensif meliputi Dentuman Berat (untuk senjata yang dipegang dengan kedua tangan saja, memakan 20 mana), Inferno Slash (untuk senjata yang dipegang dengan satu tangan saja, memakan 20 mana), Dentuman Fatal (untuk senjata-senjata yang kecil saja, memakan 20 mana), Tekad yang Membara (memakan 80 mana, kekuatan attack +100%, bertahan sampai 20 menit), dan Dinding Tak Tertembus (memakan 80 mana, defense +100%, bertahan sampai 20 menit).”

“Senjata… Pisau dapur?” kataku dengan suara kecil.

“Hah?” tanya Paman NPC itu kebingungan.

“Uh, dao.” Walaupun aku merasa lebih nyaman dengan pisau dapur… Demi menjaga imageku yang sempurna, aku memutuskan untuk mengorbankan keinginanku dan memilih dao.

“Seorang elf yang memgang sebuah dao benar-benar pemandangan yang langka. Sudah; dao nya sudah ada di Inventory mu.”

Mendengar itu, aku cepat-cepat membuka tasku, dan dengan perlahan mengeluarkan dao hitam. Mengapa aku menyebutnya dao hitam? Apakah karena sarung dan pegangannya juga berwarna hitam? Bukan, alasan sebenarnya adalah karena di sarung pedangnya tertulis dua kata dalam warna emas: Dao Hitam.

Aku berpikir tentang para pejuang di masa lalu, yang dalam waktu-waktu tertentu dengan perlahan mengeluarkan pedang mereka dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Di bawah sinar matahari, mata pedang yang berkilauan akan memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Keren sekali! Dengan pikiran itu, aku juga, dengan perlahan melepaskan sarung pedang, tetapi setelah aku mengeluarkan mata pedangnya, aku menemukan bahwa dao ini…yang sebenarnya tidak bisa dipercaya…hitam. Bahkan mata pedangnya juga hitam!

Dasar *****, bagaimana mungkin aku bisa memantulkan cahaya matahari dengan ini? GAAAH, ini benar-benar menghilangkan kesempatanku untuk kelihatan keren, sialan! Aku menyimpan kembali dao ku, jengkel.

“Hei, teman kecil, sudahkah kau putuskan mau memiliki kemampuan apa?”

“Tunggu, tunggu, biarkan aku berpikir!” Aku ingin mempelajari Kekuatan Tambahan, Kegesitan, Perpanjangan HP, dan Inferno Slash, tapi aku hanya bisa memilih tiga! Benar-benar merepotkan, pikirku, mengerutkan alisku. “Kurasa aku akan memilih Kekuatan Tambahan, Kegesitan, dan Inferno Slash.” Bagaimanapun juga aku belum pernah mati ketika melawan serigala-serigala itu bersama Rose dan teman-temannya. Dengan kecepatanku menghabisi para mob ini sekarang, HP ku seharusnya cukup untuk sekarang ini.

[ Ding! Sistem: Prince mempelajari 3 kemampuan baru: Kekuatan Tambahan – Level 1, Kekuatan +5% / Kegesitan – Level 1, Kecepatan +5% – Inferno Slash – Level 1 ]

[ Sistem: Game mendapatkan gangguan dari luar; membutuhkan konfirmasi dari Player untuk log off ]

Ada apa ini? pikirku penasaran. Lebih baik aku log off dan melihat apa masalahnya.

Tepat saat aku melepaskan helm game ku, aku mendengar teriakan kesal adik laki-lakiku. “GAAAH! Kakak, kapan kau akan mulai memasak? Ini sudah jam 9 malam. Apakah kamu mau aku meninggal karena kelaparan?!”

Aku harus menjelaskan kalau saat ini kami sedang liburan musim panas. Orang tuaku sudah pergi untuk berlibur, meninggalkan aku dan adikku untuk mengurus diri kami sendiri. Dan, kalau-kalau pertanyaan ini bakal muncul, aku lebih memilih untuk makan Slime pemakan manusia daripada apapun yang dimasak oleh adikku itu, dan kurasa dia berpendapat sama. Jadi, tentu saja urusan masak-memasak tiga kali sehari jatuh ke pundakku.

“Ok, aku akan mulai memasak mie!”

Dua puluh menit kemudian, aku duduk berseberangan dengan adikku dan sambil makan kami mulai mendiskusikan game itu.

“Kakak, aku sudah level 15! Kamu sudah level berapa?” Dasar Yang Ming sialan, beraninya memprovokasiku setelah mendapatkan mienya…

Dengan enggan, aku menjawab, “Aku sudah level 11, tapi aku berlatih seorang diri selama ini…”

Dia tertawa. “Seperti sudah kubilang, mustahil bagimu untuk lebih cepat naik level daripada diriku!”

“Cih, kalau bukan karena aku terlalu ganteng, kamu tidak mungkin bisa lebih cepat naik level daripadaku!”

“Hah? Terlalu ganteng? Kau ini ngomongin apa sih?” tanya adikku bingung.

Lalu, aku menceritakannya seluruh kejadian… dan kena marah lagi! Waaah!

“Apa kau ini idiot? Kau punya satu kesempatan, dan kau menggunakannya hanya untuk mengubah gender? Sejujurnya, kau bisa minta senjata dewa, atau mungkin peliharaan dewa, atau Skill Points lebih, tapi tidaaak, kamu menggunakannya untuk menjadi seorang tranny!” sembur adikku, ekspresinya kecewa.

“Hei, kau seharusnya melihat dari sisi seperti ini: cepat atau lambat akan ada seseorang yang mempunyai senjata dewa atau peliharaan dewa, dan siapa pun bisa dapat Skill Points kalau mereka naik level, tapi tidak akan ada tranny lain selain diriku!” jawabku sambil tertawa.

“…Huh, aku tidak bisa berdebat denganmu.” Wajah adikku masih seperti wajah orang sedih. Aku bertaruh, pasti dia berharap dia yang mendapatkan satu kesempatan itu…

“Siapa namamu? Aku akan PM kamu begitu aku log on.”

“Tidak akan kuberitahu.”

“Kenapa tidak?”

“Karena kau akan menggunakannya untuk menerorku… Misalnya, kalau aku menolak memasak untukmu, kau mungkin akan menakutiku untuk mengumbar identitasku sebagai trans-gender, dan seterusnya, dan seterusnya.” Aku mengenalmu terlalu baik, bro.

“Bagaimana kau bisa menebak – Ah, bukan, bagaimana mungkin kau bisa tidak mempercayai adikmu sampai seperti itu?!”

Adik bodoh, memasang tampang sedih seperti itu, cih! Kau mungkin bisa menipu para cewek naif itu untuk jatuh cinta padamu, tapi berusaha untuk menipu kakak yang sudah mengetahuimu selama 19 tahun? Lupakan saja!

“Hmph!”

“Ok! Lupakan saja kalau aku bertanya.” Feng Yang Ming membuat hidung babi ke arahku; sepertinya rencananya untuk menerorku sudah gagal.

“Cuci mangkok-mangkoknya begitu kau selesai, atau kau tidak akan mendapatkan sarapan besok!”

“Apa kau mau main Second Life lagi?”

“Tidak, aku akan main ’King of Fighters 100’ di PS13 milikmu.” Aku akan melakukan penelitian, supaya aku bisa mengembangkan lebih banyak jurus dan menjadi Chun Li sejati.

Adikku menatap ke arahku tidak percaya. Dia hanya melongo saat aku benar-benar mengeluarkan PS13nya dan mulai bermain, dan bergumam, “Aneh… Sejak kapan kakak suka main game fighting? Biasanya dia main hanya karena aku tidak bisa menemukan orang lain untuk main bersama, jadi dia terpaksa main juga.”

Setelah bereksperimen selama 2 jam sebagai “Chun Li”, dengan PD aku kembali ke dalam Second Life, berencana untuk naik level seperti orang gila. Heh heh, tunggu saja adik bodoh. Aku akan dengan cepat menyusul levelmu dan kta lihat nanti, apa kau masih berani menertawaiku! Saatnya pergi dan memasak beberapa serigala – ah, bukan, membunuh beberapa serigala maksudku…

Tapi, begitu aku berniat keluar dari gerbang barat, tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa dari kepalaku dan aku mulai melihat bintang-bintang.

[ Sistem: Prince berhasil diserang oleh Player Lolidragon, Prince HP -5 ]

Huh? Lolidragon… Gila, GM itu sedang menghajar orang-orang! Aku akan komplain! Sialnya, sebelum aku sempat berbicara apapun, Lolidragon sudah berteriak kencang-kencang ke arahku.

“Aku sudah bilang padamu untuk PM aku, tapi tidaaak, kau kelupaan, akhirnya memaksaku untuk mencarimu ke mana-mana – dan kenapa juga kau menggunakan topeng bodoh itu? Kalau bukan karena kita sudah berdebat selama dua jam, memutuskan rambutmu dan tinggi badanmu, aku tidak akan pernah mengenalimu!”

Aku berputar untuk melihat ke arah Lolidragon, dan mendapati diriku melihat ke arah seorang super-duper cantik memakai pakaian untuk pemula dan sama sekali tidak kelihatan seperti seorang GM. Aku pun penasaran, Kenapa para GM kelihatan biasa-biasa saja? Kalau mereka kelihatan biasa seperti ini, bagaimana caranya membedakan mereka dengan para Player?

“Lolidragon, kenapa kau berpakaian seperti ini? Bukankah kau ini seorang G–” Tanpa menungguku menyelesaikan kata-kataku, Lolidragon cepat-cepat menutup mulutku dan menyeretku ke hutan terdekat. Oh Tuhan, apa yang mau kau lakukan?!

“Shh! Apa kau ini berusaha untuk memberitahu seluruh dunia kalau aku ini GM?” sembur Lolidragon.

Seorang GM yang takut dikenali sebagai GM? Situasi macam apa ini? Kepalaku dipenuhi berbagai macam pertanyaan.

“Dengarkan. Aku ini sebenarnya GM tersembunyi!” Lolidragon, tahu kalau aku pasti belum liat ke website mereka, mulai menjelaskan dengan detail.

“GM tersembunyi biasanya tidak jauh berbeda dengan para Player biasa, kecuali kami punya tugas penting: Kami harus melaporkan semua kelemahan dalam game – komplain para player, bugs, dll. – waktu kami bermain. Lagipula, karena kami akan bergabung dengan para player, biasanya kami bisa menemukan berbagai macam hal yang tidak bisa ditemukan GM biasa.”

“Tapi bukankah itu sangat tidak adil?” protesku. Kalau begitu, bukankah para pemain kelas atas semuanya adalah GM tersembunyi?

“Andai saja. Kami memang GM tersembunyi, tapi perusahaan tidak memberikan kami perlakuan spesial, jadi kami hanya seperti Player normal saja.” kata Lolidragon sambil memukul kepalaku lagi.

“Oh…” Aku mengerti. Jadi, Lolidragon tidak jauh berbeda dari Player lainnya, hahaha. Kalau begitu aku tidak perlu takut untuk tidak menyinggungnya, heh heh heh!

“Kalau begitu apa urusanmu denganku?”

Nada bicara Lolidragon tiba-tiba menjadi genit. “Tentu saja – untuk meminta orang ganteng sepertimu pergi berlatih denganku!” Berjalan mendekatiku sambil berbicara, dia bahkan dengan ringan menggambar lingkaran di atas dadaku.

Waaah, aku diganggu secara seksual oleh seorang GM! Aku cepat-cepat mundur beberapa langkah dan bersembunyi di belakang pohon.

Lolidragon mendecakkan lidah. “Ok, ok. Melihat bagaimana kau diliputi trauma, kurasa kau begitu ketakutan setelah dikejar para wanita… sampai-sampai kau memakai topeng!”

Mendengar itu, kepalaku maju ke depan dan aku langsung menceritakan seluruh ceritaku yang menyedihkan tentang pertemuan sebagai sebuah steak. Lolidragon hanya tertawa tanpa belas kasihan dari awal sampai akhir. Kelakuan macam apa ini? tanyaku pahit.

Melihat betapa stresnya diriku, Lolidragon cepat-cepat berkata, “Tidak usah khawatir. Sekarang karena aku ada di sampingmu, aku akan membantu melindungimu dari para kupu-kupu gila itu dan melindungi masa depanmu!”

… Lalu kenapa aku merasa bahwa bersamamu lebih membahayakan masa depanku daripada apapun?

“Ditambah lagi, walaupun aku tidak punya otoritas spesial apapun, aku saaangat familier dengan game ini. Kamu bisa bertanya apa saja kepadaku,” tambah Lolidragon dengan ekspresi bangga.

Aku memutar mataku. Lagipula, aku juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyingkirkannya. “Baiklah, ayo latihan bersama.”

“Yaaay!” Lolidragon teriak-teriak kegirangan. Apakah ini sesuatu yang perlu disoraki? pikirku.

“Ayo! Ayo!” kata Lolidragon bersemangat. Dia memegang lenganku dan menarikku berjalan bersamanya.

“Jalan saja, jangan memegang lenganku!” Wajahku sudah berubah pucat.

“H-hei! Jangan menggambar lingkaran di atas dadaku dengan jarimu!”

“Ah! Stop menghembuskan napasmu ke telingaku!”

“Kalau kau menyentuh pantatku lagi, aku akan membunuhmu!”

Waah! Masa depanku dalam bahaya besar! Bisakah seseorang datang dan membebaskanku dari wanita mesum ini?!

Catatan Kaki

[1] MMO: MMO merupakan singkatan dari “Massively Multiplayer Online” dan merujuk ke arah video games yang mampu menangani jumlah banyak player dalam satu waktu. Biasanya game macam ini dimainkan melalui internet. Salah satu sub-kategori dari MMO adalah MMORPG (Massively Multiplayer Online Role-Playing Game). Second Life adalah MMORPG.

[2] Reroll: Bahasa para gamer yang berarti mulai memainkan sebuah karakter dari awal; kadang-kadang bisa terjadi pengubahan kelas (contoh: dari seorang Mage menjadi seorang Priest) atau perubahan elemen (contoh: dari Mage dengan elemen Fire/Api menjadi Mage dengan elemen Frost/Es).

[3] Power-level: Bahasa para gamer yang berarti karakter dengan level lebih tinggi membantu para karakter dengan level lebih rendah untuk naik level berkali-kali dengan membantu mereka melewati misi, area, pertarungan, gua, dll.

[4] Mob: Kependekan dari “mobile object”, yang merupakan bahasa gamer untuk barang-barang yang bukan Player dan bisa dibunuh untuk mendapatkan Experience Points, menyelesaikan misi, dll. Biasanya bisa digunakan untuk menyebut kata “monster”.

[5] Scroll of Recall: Dalam hal ini, merupakan suatu benda (scroll) yang bisa digunakan oleh Player untuk pindah ke suatu kota atau tempat yang aman. Dalam WoW (World od Warcraft) bisa disamakan dengan Hearthstone atau mantra teleportasi milik seorang Mage/Shaman.

[6] Non-player Character (NPC): Dalam MMO, NPC biasanya merujuk kepada karakter-karakter yang tidak dikendalikan oleh Player, yang biasanya bersikap netral atau merupakan sekutu dari para Player.

[7] Game Master (GM): Sebutan lama, biasanya digunakan dalam RPG seperti DD, juga dalam MMORPG seperti WoW. Dalam skenario pertama, GM merujuk kepada orang-orang yang mengatur skenario game sehingga semua skenario para Player juga menyambung dengan harmonis (di antara banyak hal lain). Dalam skenario akhir, GM juga memainkan peran yang sama, hanya dalam kapasitas berbeda; mereka hanya berperan dalam penanganan bugs/error, komplain para Player, mengatasi spam dalam perdagangangan dan channel yang lain, dll. GM juga dikatakan mempunyai akses menuju senjata-senjata rahasia, tempat-tempat rahasia, dll.

[8] PM: Ini merupakan singkatan dari “Private Message” dalam MMO; me-“PM” seseorang berarti mengirimi mereka pesan dari channel pesan pribadi.

[9] Aggro: Hampir dalam tiap RPG, mob (monster) biasanya menyerang Player jika Player berada dalam jarak pandang atau dalam jarak tertentu (kecuali level Player nya jauh di atas level mob); “melakukan aggro” merujuk ke gerakan mendekati para mob cukup dekat untuk menyebabkan mob menyerang lebih dulu. Tapi, untuk melindungi para pemula, mob-mob paling awal (dalam kasus Prince, Slime pemakan manusia) tidak akan menyerang Player kecuali mereka diserang lebih dulu.

[10] Mantou: Bakpau China yang tidak ada isinya.

[11] Li’l Strong: Dalam bahasa Mandarin, nama ini ditulis “小強” (baca: xiǎo qiǎng) – yang juga bisa diartikan sebagai kecoak.

[12] Buff: Sebuah Skill atau mantra yang meningkatkan status karakter atau mempunyai efek yang menguntungkan bagi karakter dan biasanya hanya bertahan beberapa lama. “Melakukan buff” berarti seorang karakter akan menggunakan skill atau mantra tersebut kepada diri mereka dan anggota tim yang lain, biasanya sebagai persiapan sebelum memulai pertarungan.

[13] Chun Li: Karakter perempuan yang terkenal dalam serial game fighting “Tendangan Bayangan Buddha”. Dia memakai pakaian seperti cheong sam (atau qi pao) dan menguncir rambutnya menjadi dua bulatan. Dia sangat lemah dalam pertarungan menggunakan tangan, tetapi serangan kakinya (atau tendangannya) cukup kuat, dan serangan khasnya adalah Lightning Kick. Dia juga merupakan karakter wanita pertama yang bisa dimainkan dalam game fighting (karena itu biasanya wanita memilihnya waktu memainkan Tendangan Bayangan Buddha).

[14] Usus babi: Merasa jijik? Jangan. Usus babi merupakan salah satu makan yang populer di China – yang mereka lakukan, tentu saja, adalah membersihkan semua benda yang lengket-lengket itu dan merebusnya (seperti bebek rebus), biasanya dengan banyak kecap, irisan daging babi, tahu, irisan perut babi, liver babi, dan dalam beberapa masakan, kulit babi… Kedengarannya sangat menjijikkan, tetapi kamu akan mengerti kalau kamu mendapatkan kesempatan untuk memakannya.

[15] Yangtze berdiam di tiap ombak baru, pantai menjadi kuburan bagi ombak: dalam bahasa Mandarin, “长江后浪推前浪,前朗斯在沙滩上” (baca: cháng jiāng hòu làng tuī qián làng, qián làng sǐ zài shā tān shàng) dan kalau diterjemahkan sebenarnya artinya menjadi “Dalam Yangtze, ombak di belakang biasanya mendorong ombak di depan, sehingga ombak yang di depan mati di tepi pantai”. Peribahasa ini berarti generasi berikutnya akan melebihi generasi sebelumnya/nenek moyang mereka. Catatan: peribahasa dalam buku ini bukanlah versi aslinya. Separuh dari peribahasa aslinya telah diubah untuk memberikan kesan komikal dan nada yang lebih pas dalam buku.

[16] Dao: Dao merupakan tipe pedang yang muncul dominan dalam kebudayaan China. Mereka merupakan pedang bermata satu dan mempunyai mata pedang yang agak lebar, sehingga kadang-kadang mirip dengan pisau dapur (jadi kamu bisa mengetahui alasan Prince memilih senjata ini). Walaupun mereka mirip dengan pedang saber, pangkal pedang mereka agak berbeda (dari sekian banyak perbedaan). Untuk contoh manga tentang dao, silahkan melihat ke dao milik Ling Yao dalam Fullmetal Alchemist. Untuk informasi lebih lanjut tentang dao, silahkan mengecek Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Dao

The Legend of Sun Knight V1C1: “Tersenyumlah Setiap Saat”

Legenda Kesatria Surya Volume 1: Sebuah Perkenalan Teori Kesatria Surya

Novel asli oleh: 御我 (Yu Wo)


Peraturan Pertama Kesatria Surya: “Tersenyumlah Setiap Saat” – diterjemahkan oleh amusement

Aku adalah seorang kesatria. Tepatnya, aku adalah Sun Knight1 dari Kuil Dewa Cahaya.

Kuil Dewa Cahaya memuja dan melayani Dewa Cahaya, dan merupakan satu dari tiga kepercayaan utama di benua ini. Meskipun hanya menempati peringkat ketiga dalam hal ukuran, namun jika dilihat dari segi sejarahnya, tidak ada organisasi religius lain yang dapat menyamai Kuil Dewa Cahaya.

Seperti yang diketahui semua orang, Kuil Dewa Cahaya terdiri dari Kuil Suci dan Benteng Cahaya, yang tersusun atas cabang militer bersamaan dengan kependetaan.

Secara otomatis, aku adalah kesatria dari Kuil Suci, yang didalamnya termasuk keduabelas kapten Holy Knight2, yang posisinya diwariskan dari generasi ke generasi. Sejak zaman dahulu, setiap kapten Holy Knight telah memimpin sebuah kompi. Contohnya, karena aku adalah Sun Knight, jadi aku harus memimpin kompi Sun Knight.

Tetapi kemungkinan adanya perang sangat kecil pada masa-masa damai seperti sekarang ini. Tanpa perang, kompi-kompi ini tidak dapat bergerak; jika kompi kesatria tidak dapat dikerahkan, mereka tidak dapat menjarah, merampok, atau merampas dengan kedok perang…! Yang pasti, sekarang ini Kuil Suci tidak dapat membiayai biaya pemeliharaan kedua belas kompi. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk hanya mengumpulkan semua kesatria dan mendirikan kompi Kuil Suci, yang terbagi atas duabelas peleton. Tentang peleton mana yang bertanggung jawab kepadaku, tentu saja itu adalah peleton Sun Knight.

Kompi Sun Knight yang asli mungkin telah menciut menjadi peleton Sun Knight, namun dari semua kapten Holy Knight, perubahan ini berdampak paling kecil bagiku. Itu karena sebagai pemimpin dari Dua belas Holy Knight, aku adalah komandan dari seluruh Kompi Kuil Suci. Selama aku adalah komandan dari kompi, siapa yang peduli jika itu adalah Kompi Sun Knight atau Kompi Kuil Suci, iya kan?

Jadi, siapakah dua belas kapten dari para Holy Knight?

Whoa, aku sebaiknya memperkenalkannya pelan-pelan. Jika aku hanya membeberkan sebuah daftar nama, sepuluh dari sepuluh orang tidak akan mengingat mereka.

Mari kita mulai dari orang yang sedang berjalan disampingku ini. Benar, aku sedang membicarakan pria berambut biru dan panjang yang sedang sibuk mengedipkan mata dengan genit kepada semua gadis didekatnya. Itu adalah dia, sang Storm Knight3.

Setiap Holy Knight mempunyai kepribadian yang diharapkan – iya, kau tidak salah dengar, kepribadian yang “diharapkan”.

Misalnya, Sun Knight terlahir sebagai wakil dari Dewa Cahaya.

Tepat sekali; akulah wakil dari Dewa Cahaya yang penuh kebaikan.

Karena itu, dalam situasi apapun, aku harus menyunggingkan senyuman secerah cahaya mentari. Bahkan jika orang yang akan kutemui adalah seseorang yang disebut-sebut sebagai raja paling menjengkelkan dari seluruh lima kerajaan di seluruh kontinen, si raja gendut yang memerintah atas Kerajaan Kejayaan yang Terlupakan, aku tetap harus tersenyum seperti sedang berhadapan dengan seorang gadis cantik.

Untuk memaksakan diri memperlakukan pria gendut itu seperti seorang gadis cantik – oh, kawan! Tentu saja kau mengetahui tingkat kesulitan dari hal ini?

“Dewa Cahaya yang pemurah akan mengampuni dosamu.”

Kalimat inilah yang harus kukatakan lebih dari seratus kali dalam sehari, ditambah lagi, aku harus memasang senyum sempurna saat mengatakannya. Ini adalah kehidupan seorang Sun Knight, untuk tersenyum dan mengampuni selamanya.

Ini karena, seperti yang diketahui semua orang, Sun Knight adalah wakil dari Dewa Cahaya yang pemurah dan dia tidak akan pernah menyerah atas penyelamatan dari individu manapun!

Maka dari itu, meskipun aku benar-benar ingin membunuh si raja gendut itu dengan satu tikaman pedang dan membuat si tua bangka yang menolak untuk mati lebih awal itu menyerahkan takhta kepada anaknya yang jauh lebih menyenangkan, aku tidak bisa. Aku hanya dapat terus tersenyum, berjalan kesana, dan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan si raja gendut supaya berhenti menaikan pajak.

Ah, tapi kita telah menyimpang dari topik semula.

Kembali ke topik awal, seperti Sun Knight yang merupakan juru bicara Dewa Cahaya yang baik hati, Storm Knight adalah simbol dari “kebebasan”. Jadi, dia bersifat “cuek” dan merupakan seorang “perayu ulung”.

Selama dia dapat membolos dari sebuah pertemuan, dia akan membolos!

Selama itu adalah seorang perempuan yang lebih cantik daripada seekor naga, dia harus mengedipkan mata dengan genit kepadanya.

Selama itu adalah sesuatu yang masih berhubungan dengan “kebebasan”, dia harus melibatkan diri. Contohnya, jika ada sebuah pemberontakan, dia harus setidaknya memberikan sebuah pidato provokatif. Bahkan kadang-kadang dia tidak bisa pergi setelah berpidato dan akhirnya dipaksa untuk memimpin sebuah kelompok pemberontakan.

Namun, hal yang masih misterius adalah fakta bahwa meskipun dia membolos dari setiap pertemuan, dia tetap mengetahui setiap hal yang didiskusikan dalam setiap pertemuan dan bahkan berhasil menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan kepadanya. (Terkadang kami punya banyak sekali pekerjaan. Apa boleh buat; siapa suruh dia tidak hadir di pertemuan? Tentu saja kami akan mengambil keuntungan dari ketidakhadirannya dan menyerahkan seluruh pekerjaan kepadanya!) Dia bahkan mengetahui apakah pertemuan selanjutnya dapat dilewatkan atau tidak, dan dalam hal itu dia akan tiba tepat pada waktunya.

Intinya, kau mungkin saja disebut sebagai Storm Knight yang cuek, dan di permukaan kau boleh membolos, tapi kau tetap harus menyelesaikan pekerjaanmu!

Dan untuk pernyataan tentang dia adalah seorang “Perayu ulung”… Sepanjang perjalanan kesini, tidak peduli apakah mereka adalah seorang putri, gadis, pembantu, atau ibu rumah tangga yang sedang memegang penyedot toilet, dia tetap mengedipkan mata kepada setiap wanita yang kita temui sambil memasang senyum nakal.

Meski begitu, aku curiga bahwa selama ini orang itu sebenarnya masih seorang perjaka lugu. Habisnya, meskipun dia memiliki reputasi sebagai seorang “perayu ulung”, setelah mengenalnya selama bertahun-tahun, aku tidak pernah melihat seorang wanita hamil yang meminta pertanggungjawabannya.
Mungkin senyum nakal itu hanyalah sebuah senyum palsu, sepalsu warna biru rambutnya.

Benar sekali; rambutnya disemir!

Kenapa?

Seperti yang diketahui semua orang, Storm Knight pasti berambut biru!

Aku tidak tahu jika Storm Knight pertama benar-benar berambut biru atau dia hanya ingin terlihat keren. Yang jelas, dia sudah menimbulkan masalah untuk para Storm Knight setelahnya. Coba pikir, apakah diluar sana benar-benar ada begitu banyak anak berambut biru?

Tentu saja tidak ada!

Karena itu, semua Strorm Knight harus mengecat rambut mereka menjadi biru seumur hidup. Penyebab kematian untuk delapan dari sepuluh Storm Knight adalah gagal ginjal yang disebabkan karena terlalu sering memakai cat rambut… Hhh! Untuk sekarang, aku hanya akan mengawasimu dari jauh, Storm.

“Sun, apakah kau bilang sesuatu?” Di sebelahku, Storm Knight menaikan alisnya. Ekspresi di wajahnya seakan-akan menyuruhku untuk tidak mengganggunya saat dia sedang sibuk bermain mata dengan para wanita.
“Saya tidak menuturkan sepatah kata pun padamu, Saudaraku. Mungkin yang kau dengar itu adalah gumaman lembut dari Dewa Cahaya yang pemurah,” aku menjawabnya dengan senyuman penuh damai.

Ekspresi tersiksa berkelebat di wajah Storm. Sepertinya dia benar-benar tidak tahan dengan caraku berbicara, karena aku sendiri juga tidak tahan dengan cara bicaraku sendiri. Meski begitu, aku tidak punya pilihan lain, sama seperti Badai tidak mempunyai pilihan lain selain mengedipkan mata kepada setiap wanita yang ia temui, meskipun wanita itu tidak kalah buruk rupa dari seekor naga.

Aku sendiri tidak punya pilihan lain selain, bagaimanapun caranya, menghubungkan setiap kalimat dengan Dewa Cahaya, meskipun percakapan itu berhubungan dengan toilet yang tersumbat – dalam kasus itu, tidak salah lagi, jamban tersebut pasti tersumbat atas kehendak Dewa Cahaya.

Makanya aku tidak suka berbicara. Bagaimanapun, tidak ada yang bilang kalau Sun Knight suka mengobrol.

(Terpujilah Dewa Cahaya; untungnya Sun Knight pertama tidak meninggalkan kesan sebagai seorang yang bawel.)

Kembali ke topik rambut, sama seperti Storm Knight yang harus berambut biru, aku, sang Sun Knight, harus berambut keemasan dan bermata biru.

Rambut pirang keemasan inilah yang membuatku terpilih dalam seleksi Dua belas Holy Knight, mengalahkan anak lain yang rambutnya lebih kecoklatan tetapi tiga kali lebih jago dariku dalam bermain pedang.

Saat itu, guruku – Sun Knight yang sebelumnya – sepertinya terlihat patah hati saat dia mengumumkan kemenanganku dalam seleksi tersebut.

Dia melihat ke arah anak berambut coklat itu sepanjang waktu.

Untungnya, walaupun kemampuan bermain pedangku jauh lebih buruk dari anak jenius itu, aku tetap memiliki bakat luar biasa di bidang-bidang lainnya, sebuah fakta yang menghibur guruku.

Meski begitu, kadang-kadang aku dapat mendengar guruku berbicara kepada seorang detektif swasta, “Apakah kau sudah menemukan anak berambut coklat itu? Aku sudah membeli semir rambut dari si penyihir… “

 

 

Setelah berjalan selama lebih dari sepuluh menit dalam koridor panjang yang merupakan sebuah pemborosan uang rakyat, akhirnya kami sampai di ruang takhta. Seperti yang telah kukatakan, tujuan kedatangan kami kali ini adalah untuk meyakinkannya untuk mengurangi pajak… meskipun menurutku jika kita berhasil membuatnya berhenti menaikan pajak saja sudah merupakan sebuah keberhasilan.

“Salam, saya adalah Sun Knight sari Kuil Dewa Cahaya. Karena kebajikan Dewa Cahaya, saya telah datang untuk berbicara kepada baginda raja demi menyebarkan kasih dari Dewa Cahaya,” ucapku sambil tersenyum tentram kepada pengawal istana.
Pengawal itu tampak bersemangat, dan dia sempat memandangku dengan tatapan memuja sebelum berbalik untuk menyampaikan pesan kedatangan kami. Sesaat kemudian, pintu ruang takhta terbuka dengan perlahan.

Aku memberikan sebuah senyum sempurna kepada pengawal itu sebagai ucapan terima kasih, dan dia sepertinya sangat terharu hingga hampir menangis karenanya. Melihat bintang-bintang berkilauan dimatanya, aku berpikir, Ha! Sepertinya nama di daftar penggemarku baru saja bertambah satu.

Pengawal itu tampak terkejut karena kebaikan yang diterimanya secara tak terduga, seakan-akan sulit baginya untuk percaya bahwa aku akan bersikap sebaik dan sesopan itu bahkan kepada seorang pengawal rendahan. Sebenarnya, dia hanya berpikir terlalu jauh tentang tindakanku. Tidak peduli apakah dia adalah seorang raja atau pengemis di pinggir jalan, akan selalu ada senyum sempurna khas Sun Knight di wajahku, karena aku adalah seorang kesatria.

Ya, seorang kesatria – Sun Knight dengan senyum berseri-seri.

 

 

Kami memasuki ruang takhta yang luas dan, tentu saja, gumpalan lemak itu sedang duduk di atas singgasananya dan ia bahkan telah menjadi lebih gemuk semenjak terakhir kali aku melihatnya! Tubuhnya itu benar-benar menjadi sebesar tubuh tiga orang pria besar dijadikan satu. Oh Dewa, pikirku, bagaimana mungkin dia belum mati karena sakit jantung atau penyakit akibat obesitas lainnya?

Sambil tersenyum, aku berlutut, menahan godaan untuk muntah karena melihat gumpalan lemak yang terlampau banyak itu. Dengan mulus aku mengangkat tangan gemuk raja dan dengan cepat mencium punggung tangannya sebelum mengangkat kepalaku. Masih tersenyum, aku berkata, “Baginda Raja, Sun Knight dari Kuil Dewa Cahaya memberikan kebajikan sang Dewa Cahaya kepada raja.”

“Ah, sudah, sudah! Kau selalu bilang ‘memberikan kebajikan’, tapi pada akhirnya kau selalu membuat masalah!” Raja gemuk itu mengangkat tangannya dengan sikap mengusir.

Jika bukan kau yang menyebabkan masalah pada awalnya, kau kira aku mau datang hanya untuk melihat segendut apa kau sekarang?

Dengan senyumanku yang terlihat paling tulus dan tak berdosa, aku melanjutkan penjelasanku, “Baginda Raja, kebajikan Dewa Cahaya menyebar di atas seluruh bumi untuk menolong umatNya dalam memahami ajaran dari keadilan dan kasih; tujuan dari hal itu bukanlah untuk menimbulkan masalah bagi rajaku. Saya benar-benar bersusah hati karena kesalahpahaman ini dan saya harap raja akan memberikan kesempatan kepada saya untuk meluruskannya.”

“CUKUP!” kelelahan tampak di wajah raja saat dia mendengarkan perkataanku, lalu dia berkata, “Cepat katakan saja; apa maksud kedatanganmu kali ini?”

“Saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita dan merasa sangat tersentuh karena kemurahan dan kasih raja,” kataku, lalu bangkit dengan sikap sopan dan sempurna. Dalam hati, aku menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan pidatoku, yang bahkan aku sendiri berganggapan bahwa itu adalah pidato yang sangat panjang.

“Sejak zaman dahulu kala kebajikan dari Dewa Cahaya telah menyelimuti Bumi, dan setiap anak manusia di Bumi adalah anak yang dikasihiNya. Apakah ada orang tua yang tidak peduli atas kebaikan anak-anaknya? Karena tidak ada orang tua yang seperti itu, maka Dewa Cahaya pasti berkehendak agar penduduk Bumi hidup berkelimpahan, bukan kesusahan. Namun, meskipun Dewa Cahaya adalah dewa yang mahakuasa, Dia tidak dapat melanggar perjanjian yang melarang para dewa untuk datang ke Bumi. Maka dari itu, Dia telah mempercayakan Kuil Dewa Cahaya sebuah tugas untuk menyebarkan filosofi tentang kasih yang pemurah dan mempercayakan anak-anakNya kepada penguasa-penguasa yang dipilihNya…”

Raja itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menguap, sama sekali tidak memperdulikan perasaanku.

Dasar kau tua bangka, kau hanya perlu mendengarkan! Tahukah kau betapa sulitnya posisiku, saat aku harus berbicara?!

“…Tetapi, beberapa tahun belakangan ini, musibah gagal panen telah membuat umatNya hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Aku hanyalah seorang Sun Knight yang rendah, maka aku tidak dapat mengerti pemikiran Dewa Cahaya, tapi aku mengerti satu hal: bagaimana mungkin Dewa Cahaya membiarkan anak-anakNya menderita seperti ini? Saat hidup orang-orang memasuki masa-masa sulit – Oh, surga! Dewa Cahaya pasti merasa sangat sedih. Kesedihannya membuat saya, sebagai Sun Knight, merasa sangat bersalah, karena telah gagal dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepada saya, karena telah membiarkan anak-anakNya hidup berkesusahan…”

Si raja sudah mulai ketiduran. Di sampingnya, dua penasihat utamanya sedang mengeluarkan dokumen-dokumen dan tengah mendiskusikannya dengan putra mahkota yang duduk di dekatnya… Si pangeran, yang sebenarnya mengelola pemerintahan, mulai memeriksa dan mengoreksi dokumen-dokumen tersebut.

Di sebelahku, Storm Knight telah selesai mengedipkan mata kepada semua wanita yang ada disini, dan hendak mengulangnya dari awal lagi.

“… Meskipun hidup dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan menyakitkan, para penduduk yang tetap menghormati raja dengan hati seorang patriot, membayar penuh pajak mereka. Perbuatan mereka sangat terpuji, namun penuh pengorbanan! Sudah sepatutnya pengorbanan diri mereka dihargai dan diberikan imbalan setimpal, baginda. Walaupun kenaikan pajak adalah suatu tindakan yang diperlukan, Anda harus, dengan pertimbangan tindakan pengorbanan diri mulia para penduduk negeri ini, membalas niat baik mereka; hanya dengan cara itulah ajaran kasih Dewa Cahaya dapat ditegakkan.”

Aku terharu! Akhirnya aku sampai di tujuan intinya – itu benar, mengurangi pajak! Wahai kau gendut idiot, panen sudah sesedikit ini dank au masih saja menaikan pajak. Apakah kau sedang berusaha membuat para penduduk memberontak?!

“Apa?” raja tiba-tiba terbangun dari kantuknya dan dia memukul meja dengan sebelah tangannya seraya berteriak, “Jika kita tidak menaikan pajak, dari mana lagi kita mendapatkan biaya perluasan istana?!”

Tidaaaak… Jangan paksa aku untuk berbicara lagi! Pikirku, tersiksa.

“Yang mulia.” Dengan santai, Storm Knight berkata, “Dua puluh persen dari hasil panen adalah jumlah yang telah disepakati oleh seluruh kerajaan di benua ini. Jika kau tetap bersikeras menaikan pajak, Kuil Dewa Cahaya tidak akan menyediakan bantuan apapun jika timbul masalah dari persoalan ini.”

Sebuah ancaman yang sederhana dan tepat sasaran! Bagus sekali, Storm! Aku sangaaaaat berterimakasih kepadamu! Pikirku. Tetapi di permukaan, aku tetap menegurnya dengan keras, “Badai, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu kepada yang mulia raja? Ini bertentangan dengan prinsip Dewa Cahaya untuk tidak berbicara dengan sembarangan.”

Storm mengangkat bahu. Secara teoritis, dia harus menaati perintah dariku, pemimpin dari Dua belas Holy Knight, jadi dia tidak berbicara lebih lanjut, tapi apa yang tidak boleh diucapkan telah diucapkan, jadi tidak ada bedanya antara dia berbicara lagi atau tidak.

Kecuali, tentu saja, ini bukan sesuatu yang serius karena seperti yang diketahui semua orang, ketidak acuhan sang Storm Knight mengenai aturan dan formalitas adalah bagian dari kepribadiannya yang santai, jadi tidak ada yang menyalahkannya.

“Ini, ini adalah sebuah ancaman!” sang raja berseru, bergetar oleh amarah.

“Oh! Yang mulia,” aku mennjelaskan dengan tergesa-gesa, “Tolong jangan salah paham; Dewa Cahaya tidak akan pernah memakai metode rendahan seperti mengancam seseorang…”

…Tapi Kuil Dewa Cahaya akan melakukannya.

“Kami hanya membawa kasih dan penyesalan bersama kami, dan kami hanya tidak tahan melihat penduduk dalam keadaan yang mengenaskan seperti ini…”

Dasar kau gumpalan lemak! Tidak ada yang menguntungkan bagiku jika penduduk melakukan pemberontakan! Tidak ada keuntungan bagi kuil, yang tidak mendapatkan penghasilan apa-apa dari pajak tetapi harus mengerahkan pasukan untuk membantumu melawan pemberontakan! Hadapilah kenyataan dan tariklah perintah untuk menaikan pajak, atau kami hanya akan menonton saat kau dicincang dan diubah menjadi isian bakpau, lalu membantu putra mahkota naik takhta!

“Putra mahkota, sang Paus memberitahuku bahwa ia sangat mengagumimu. Kapan aku dapat memanggilmu ‘yang mulia’?” Storm Knight bertanya dengan santai kepada sang putra mahkota.

“Kami menerima niat baik sang Paus dengan rasa terima kasih,” putra mahkota menjawab dengan sopan.

Hahaha! Storm, kaulah yang terbaik! Satu lagi ancaman sederhana yang efektif kepada si raja gendut!

Kepada raja, aku berpikir, Jika kau tidak menarik perintah untuk menaikan pajak, kami hanya akan memaksamu mengundurkan diri sebagai raja! Bagaimanapun, kau tidak akan berani melawan anak sulungmu yang kompeten ini.

Wajah raja menjadi kelabu seperti abu, dan setelah ragu-ragu selama beberapa saat, akhirnya dia melambaikan tangannya dengan lemah dan berkata, “Karena panen yang sedikit, kita akan memperlambat ekspansi istana dan tidak menaikan pajak.”

Bagus sekali! Sekarang aku bisa kembali ke kuil suci. Tidak ada banyak orang di kuil yang berpikir untuk memaksaku berbicara! Akhirnya aku bisa kembali menjadi Sun Knight yang pendiam!

“Tetapi, Sun Knight, berhubung kau jarang berkunjung ke istana, maka malam ini kita akan mengadakan sebuah pesta untuk melepas rasa lelahmu. Kau harus minum beberapa ronde denganku, kalau tidak aku akan dianggap tidak sopan!” Saat raja berbicara, ia tersenyum sangat lebar sampai matanya terlihat seperti dua garis tipis.

Mendengar itu, Storm menatapku dengan cemas.

Seperti yang diketahui semua orang, Sun Knight sama sekali tidak dapat menyentuh minuman beralkohol. Segelas dapat membuat wajahnya merah padam, dua gelas dapat membuatnya sakit kepala, dan setelah tiga gelas dia akan jatuh pingsan, tidak sadarkan diri.

Aku memberikan senyum kecil dan memasang ekspresi kewalahan, tetapi sebenarnya, itu hanyalah sebuah sandiwara untuk dilihat raja. Setelah diancam dua kali berturut-turut, jika raja tidak diberi sedikit pun rasa menang, mungkin di masa yang akan datang dia akan menimbulkan masalah bagi kuil, dan itu adalah hal yang…buruk.

“Saya…akan berusaha semampu saya,” aku menjawab dengan formal, lalu menunjukan gestur hormat kepada raja seraya berlutut dan menunjukan ekspresi tidak berdaya.

“Hahaha! Pelayan! Cepat siapkan pesta, dan keluarkan anggur terbaik dan terkuat yang ada!”

Saat sang raja memerintahkan pesuruh-pesuruhnya menyiapkan pesta dengan gaya menyebalkannya itu, putra mahkota memberikanku sebuah tatapan meminta maaf. Bagaimanapun juga, dialah yang menghubungi kuil dengan diam-diam dan meminta kepada kami untuk turun tangan saat dia menyadari bahwa dirinya tidak dapat menghentikan raja menaikan pajak.

Meskipun Storm masih bermain mata dengan wanita-wanita yang hadir, kini dia juga menatapku cemas dari waktu ke waktu.

Apa yang harus dikhawatirkan? Aku akan meluruskan satu hal: aku adalah seorang peminum nomor satu!

Itu benar, aku, sang Sun Knight yang seharusnya tidak dapat minum lebih dari tiga gelas anggur, sebenarnya adalah pemabuk nomor satu dalam sejarah!

Aku mengingat masa lalu, saat guruku membawaku ke sebuah gudang rahasia yang misterius…

 

 

“Nak, pelajaran hari ini adalah tentang cara meminum anggur.”

“Lho? Tapi guru, bukanya Sun Knight tidak bisa minum-minum?”

“Sang Sun Knight selalu mengampuni sesamanya, tapi pernahkah kamu benar-benar mengampuni seseorang?”

“Tidak.”

“Sun Knight selalu tersenyum, tapi berapa kali kau sungguh-sungguh tersenyum dari lubuk hatimu yang paling dalam?”

“Hanya beberapa kali…”

“Sun Knight adalah orang yang penuh kebaikan, tapi apakah kau benar-benar baik?”

“…”

“Nak, kalau kamu benar-benar gampang mabuk, bagaimana caranya kamu memastikan kalau setelah kamu minum, kamu masih bisa menjaga gambaran Sun Knight yang wajahnya memerah karena gelas pertama, sakit kepala setelah yang kedua, dan pingsan setelah gelas ketiga?

“Jadi seperti yang kau lihat, pemikiran bahwa Sun Knight tidak bisa minum sebenarnya didasari oleh kenyataan bahwa Sun Knight tidak dapat dikalahkan oleh minuman.”

Argumentasi ini mungkin terdengar sangat logis, namun saat aku memikirkannya, sepertinya juga penuh kontradiksi!

“Minumlah, Nak. Kau harus minum anggur setiap malam sampai bulan depan, sampai kau bisa minum anggur seperti minum air.”

“…”

Pada tahun keduabelas dari umurku, aku menjadi seseorang yang dapat minum anggur semudah minum air, seorang peminum ulung, hanya untuk menjaga gambaran Sun Knight sebagai orang yang tidak bisa mabuk-mabukan.

 

 

Kembali ke masa kini, sepuluh menit setelah perjamuan dimulai, dengan sang raja yang memaksaku minum anggur, aku “pingsan” setelah gelas ketigaku.

Bagus sekali! Akhirnya aku dapat kembali ke kamar dan tidur.

Storm kasihan, sih. Untuk menjaga gambarannya sebagai Storm Knight, dia masih tetap hadir di pesta dansa dan mengedipkan mata kepada semua wanita yang ada. Dari jumlah bangsawan wanita yang hadir… dia tidak akan bisa tidur sampai subuh, saat otot-otot wajahnya kaku karena kebanyakan bermain mata.

 
 
[Akhir dari bab 1 volume 1 Legenda kesatria Surya]

Catatan Kaki

1 Sun Knight: arti harafiahnya adalah Kesatria Surya.
 
2 Holy Knight: Kesatria Suci
 
3 Storm Knight: Dalam bahasa mandarin, nama Storm aslinya adalah “暴风” (bào fēng), yang bisa berarti badai. karakter kedua adalah karakter untuk “angin”, yang dapat menjelaskan sedikit tentang “kepribadian” Storm Knight (arti harafiah:Kesatria Badai).

1 2